
Tak terasa waktu cepat berlalu, kini baby twins telah berumur tiga bulan. Baby Avaro dan baby Alesha tumbuh sehat dengan pipinya yang chubby. Siapa pun pasti ingin menggendong dan mencium kedua bayi montok yang sangat menggemaskan itu.
"Ma, apa untuk acara nanti malam sudah siap?" Faiha menghampiri sang ibu mertua yang tengah duduk di sofa sambil memangku baby Avaro. Sedangkan baby Alesha di tidurkankan di atas kasur bayi yang diletakkan diatas karpet diruang kelauarga.
Rencananya keluarga Jayendra akan mengadakan acara syukuran kecil-kecilan. Ya, sekedar makan malam bersama dengan para kerabat dan sahabat dekat dan berbagi rezeki kepada anak-anak dari sebuah panti asuhan.
"Semua oke, sayang. Tidak usah khawatir. Tugasmu itu hanya mengurusi si kembar saja, urusan ***** bengek lainnya biar mama dan bi Romlah yang handle.
"Bap pap pap papp..." Suara celoteh baby Alesha mengalihkan perbincangan mereka.
"Wah, cantiknya mommy pintar sekali. dek Alesha mau apa sayang?" Faiha langsung mengangkat putrinya dan mengajaknya berinteraksi.
"Ba ba pa paa haa..." Bahkan sepertinya sang kakak tidak mau kalah dengan adiknya. Baby Avaro ikut berceloteh seakan membalas ucapan baby Alesha.
"Hei, mas Avaro juga mau apa ganteng? Aduh, cucu-cucunya uti pintar-pintar semuanya, ya. Sini sini...uti mau cium kalian dulu. Muachh...muachh!" Mama Malika begitu gemas pada kedua cucunya.
Drrtt ddrrtt
"Assalamuallaikum, ya Han.Ada apa?"
"Wa'allaikumsalam. Mbak, apa nanti malam aku boleh membawa temanku? Cuma satu orang kok, mbak. Dia teman kuliahku si Asri. Mbak juga kenal,kan?"
"Oh, Asri. Ya sudah...ajak saja." Faiha memang mengenal baik Asri salah satu teman adiknya, Hani. Kedua gadis itu bahkan bersahabat sudah sejak dibangku SMP.
"Oke, terima kasih ya mbak. Kalau begitu aku tutup dulu ya mbak, aku masih ada kelas ini. Assalamuallaikum."
"Wa'allaikumsalam."
"Ada apa dengan Hani?"
"Oh, bukan apa-apa ma. Itu...nanti malam Hani mau mengajak sahabatnya. boleh kan,ma?"
"Tentu saja boleh dong,sayang. Malah akan tambah ramai. Eh, ngomong-ngomong temannya Hani itu sudah punya pacar belum?"
Faiha mengernyitlan keningnya penuh tanya. Apa maksudnya menanyakan Asri sudah punya kekasih atau belum. "Maksud mama, Asri?"
"O–jadi namanya Asri. Iya, gadis itu sudah ada yang punya atau belum?" Entah apa yang sedang di rencanakan oleh mama Malika sampai sebegitu ingin tahu tentang gadis yang bernama Asri tersebut.
"Kalau soal itu aku tidak tahu, ma. Coba tanyakan saja pada Hani. Dia yang pastinya lebih tahu tentang Asri." Faiha memang tidak terlalu mengenal Asri sahabat Hani.
Ia hanya tahu bahwa gadis itu hidup di ibukota hanya seorang diri yaitu tinggal di sebuah kos-kosan. Sedangkan orang tuanya tinggal di kampung halamannya.
"Memangnya ada apa sih, ma?" Tanya Faiha lagi, ia sungguh penasaran.
__ADS_1
"Ada deh, sudahlah. Nanti semua juga akan tahu." Mama Malika tersenyum penuh misteri.
Siang ini terik matahari terasa begitu panas. Dua orang mahasiswi tengah duduk di sebuah kursi taman yang masih berada diwilayah kampus.Ya, kedua gadis itu adalah Hani dan Asri. Sambil menikmati makan siang dan mengobrol santai.
"Han, kamu yakin nih...beneran ngak apa-apa aku ikutan hadir diacara keluargamu?"
"Iya, mbak Faiha ngak keberatan kok kalau kamu datang. Sudah ah, ngak usah khawatir. Keluarganya mbak Fai baik-baik kok orangnya. Jadi santai saja lah, Astri!' Hani kembali meyakinkan sahabatnya jika semua baik-baik saja.
"Syukurlah kalau begitu." Jawab Hani mengsngguk mengerti.
Hening sejenak, kedua gadis muda itu kembali menikmati makanan dan minumannya. Sejak tadi Asri memperhatikan tingkah laku aneh Hani yang tidak seperti biasanya. Hani yang tidak terlalu suka rasa pedas,kini.tampak begitu lahap menyantap semangkok bakso dengan kuah yang terlihat sangat merah karena banyaknya sambal yang di tuangkan ke dalamnya.Hani yang makan tapi, Asri yang bergidik ngeri melihatnya.
"Seshhh–Han, kamu sadar tidak berapa sedok sambal yang kamu bubuhi di mangkokmu itu.Nanti kamu bisa sakit perut loh." Hani yang makan tapi Asri yang merasa kepedasan.
"Huhh, biasa saja lah As. Rasanya tidak terlalu pesas kok.Cobain deh kalau tidak percaya!' Hani menggeser mangkuknya kearah Asri agar temannya itu bisa mencobanya.Dan–.
"Huahhh–hah hah, ya ampun Han. Ini sih bukannya makan bakso tapi, bakso kuah sambal. Beneran ini sih perutmu bakal melilit karena kepanasan.ck...tumben banget sih kamu doyan sambal? Aneh deh?"
"Aneh apa? Cuma perasaan kamu saja kali As. Memangnya orang ngak boleh berubah selera, apa?" Jawab Hani cuek.
"Eum, Han.aku perhatikan kamu sekarang badanmu agak berisi ya. Tuh...lihat saja pipimu yang tampak semakin chubby." Asri sampai menoel pipi Hani karena gemas seperti bakpau.
Hani menepis tangan Asri dan mencebik kesal karena dikatakan chubby. Padahal sih memang benar, vukan hanya pipi yang mengembang akan tetapi beberapa bagian tubuh Hani pun semakin berisi alias montok.
"Ish–apa sih kamu As, dari dulu juga badanku rasanya segini-gini aja deh. Ngarang aja kamu. Sudah, cepat habiskan lima belas menit lagi kelasnya pak Hamdan loh." Hani mengelak tapi, didalam benaknya tiba-tiba saja muncul pikiran seperti itu juga.
Bagaimana pun ia adalah seorang istri yang pastinya selalu melayani kebutuhan biologis sang suami. Ya walaupun mereka melakukannya secara diam-diam dikarenakan perjanjian tak masuk akal tersebut yang melarang Andre dan Hani untuk berhubungan intim layaknya pasangan.suami istri normal lainnya.
"Ah, iya ya. Cusslah–."
Sepuluh menit kemudian mereka telah selesai makan siangnya. Dan saat ini kedua gadis bertubuh mungil itu berlari-lari menuju ke kelas mereka. Namun, tiba-tiba saja–"
BRUKKK
Asri yang kaget mendengar suara sesuatu yang terjatuh, sontak menoleh kebelakang dan ternyata Hani sudah tergeletak diatas lantai koridor kelas.
"Astaqfirullah, Hani...kamu kenapa?" Asri langsung mendekati Hani dan menepuk-nepuk pipinya agar segera siuman karena pingsan.Asri meletakkan kepala Hani di pangkuannya.
"Hani‐sadarlah Han! Aduh, bagaimana ini? Telepon...ya, aku akan memberitahu suami Hani." Kemudian, Asri mengambil ponsel milik Hani.dari dalam tas nya lalu, segera menghubungi Andre.
"Iya, hallo honey...ada apa hem, apa sudah kangen sama mas?"
"Eh, ma–maaf om, ini saya Asri temannya Hani."
__ADS_1
"Teman Hani? Kenapa ponsel istriku ada padamu. Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Hani?"
"Iya om, itu...Hani jatuh pingsan."
"*APAA?"
"Sekarang Hani nya ada dimana? Tolong share lok* !"
"Kami masih berada dikampus. Om, bisa tolong kesini sekarang untuk menjemput Hani?"
"Oke, tolong kamu jaga istriku ya!"
"Baik–"
Klekk
Belum juga menjawab, sambungan langsung di putus oleh Andre.
"Yah, di putus lagi."
Asri meninta tolong pada dua orang mahasiswa yang melintas didekat mereka untuk membopong Hani dan membawanya keruang kesehatan kampus.
"Terima kasih ya, kak." Asri mengucapkan terima kasih pada kedua laki-laki muda yang telah membantunya.
"Oke, sama-sama." Jawab salah satu pemuda yang telah membantunya.
Kebetulan sekali di ruang kesehatan saat ini.ada petugas yang berjaga, yaitu salah satu mahasiswa jurusan kedokteran. Mereka mendapatkan jadwal piket secara bergantian.Dan Hani pun langsung mendapatkan penanganan. Seorang mahasiswi yang memeriksanya. Sejenak wanita muda itu tertegun dan memeriksa sekali lagi apakah diaknosisnya benar.
"Maaf ya, dek. Apa aku boleh bertanya sesuatu yang agak pribadi tebtang temanmu ini?"
"Boleh kak, memangnya teman saya ini kenapa ya?" Jawab Asri.
"Em, Apa dia sudah menikah?"
"Eh–iya kak, Hani memang sudah menikah. Ada apa ya kak?"
"Sepertinya saat ini temanmu sedang hamil muda. Itu dari hasil pemeriksaanku barusan. Untuk lebih jelasnya tolong bilang ke suaminya untuk memeriksakan Hani ke dokter kandungan..benar kan namanya Hani?"
Asri mengangguk wajah gadis itu jadi semakin bingung, jadi apa selama ini Hani sudah tinggal bersama dalam satu rumah dengan suaminya.
Brakkk
"HONEYY–!"
__ADS_1
Bersambung