Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
83. OTW sidang dadakan


__ADS_3

Canda dan tawa memenuhi ruangan acara yang sebenarnya telah usai sejak beberapa menit yang lalu.Hanya tinggal beberapa tamu dari kalangan keluarga dekat dan para sahabat yang masih tetap tinggal dan mengobrol santai.


Para wanita berkumpul dan ngerumpi bareng di ruang keluarga yang lebih nyaman.Sedangkan yang pria sedang berbincang di pendopo yang terletak di samping rumah.


"Fai, bagaimana rasanya mengandung bayi kembar?" Mommy Diandra yang selalu kepo itu tak bosan-bosannya bertanya ini dan itu. Terutama tentang kehamilan dan juga si kembar. Rupanya wanita paruh baya itu benar-benar terobsesi ingin segera menimang cucu.


Faiha tersenyum menanggapi mommy Diandra yang sifat dan tingkah lakunya 11-12 dari sang mertua." Alhamdulillah, rasanya sangat nikmat dan membahagiakan, tante. Ya, walaupun kadang ada saja yang diinginkan si kembar tapi, mas Abi akan selalu siap menuruti apapun itu."


"Ah, tante jadi kepingin deh cepat punya cucu. Sudah lama sekali tidak merasakan senangnya mengurus bayi, terakhir ya saat Andre masih bayi dulu."


"Sabar ya, tante. Semoga kak Andre cepat mendapat jodoh yang terbaik dan tante akan segera dapat menimang cucu." Faiha menghibur mommy Diandra yang selalu iri dengan mama Malika yang akan mempunyai cucu lebih dulu dari dia. Sangat beruntung sekali, itulah yang ada di pikirannya.


Mama Malika kadang juga merasa kasihan melihat raut wajah sedih mommy Diandra saat menatap Faiha dengan perut besarnya. Wanita itu begitu frustasi karena putranya belum juga menikah.


"Yang sabar ya jeng, eh...ngomong-ngomong dek Hani dimana ya jeng Lastri. Sepertinya sejak tadi aku tidak melihatnya." Mama Malika mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Hani.


"Paling juga ndelik (bersembunyi) dia, biasalah anak muda. Chattingan dan dolanan hp. Ya begitulah, jeng." Bulek Lastri menerka-nerka apa yang sedang dilakukan putri bungsunya itu. Dia tidak tahu saja apa yang sedang dilakukan anak gadisnya itu.


Kita tinggalkan para ibu-ibu yang asik ngerumpi ngalor ngidul itu. Kini kita lihat apa yang tengah di obrolkan oleh para bapak-bapak tua dan muda. Maksudnya papa Aryan, daddy Nicko ayah dari Andre, Abiseka dan juga Ferdy. Apalagi kalau bukan tentang bisnis, topik utama yang mereka bahas. Sedangkan Anwar, pemuda itu asik berselancar di dunia maya dengan ponselnya.


"Abi, bagaimana mega proyekmu yang di surabaya, apakah sukses?" Itu papa Aryan yang bertanya pada sang putra.


"Alhamdulillah berjalan dengan baik, Pa. Lancar, ya walaupun pastinya ada beberapa kendala yang tidak terlalu berarti dan kami bisa menanganinya."


"Good son, kamu memang selalu bisa.diandalkan. Papa bangga padamu." Menepuk puñggung Abiseka.


Kemudian Papa Aryan beralih pada daddy Nicko dan dua pria paruh baya yang masih terlihat tampan.dan berwibawa itu pun terlibat dalam percakapan serius namun tetap santai.


"Bi, ada yang mau gue omongin sama elo." Ferdy sejak tadi menunggu Abiseka dan papa Aryan selesai berbicara.Karena ia pun mempunyai keperluan dengan sahabatnya itu.


"Mau ngomongin soal apa?" Tanya Abiseka santai.


"Biasalah, gue rencananya mau ngajak lo kerjasama bisnis."


"Wow, kalau lo yang menawarkan pastinya ini bukanlah proyek yang kecil. Oke, kita bicarakan ditempat lain saja." Abiseka begitu antusias ketika Ferdy hendak mengajaknya berbisnis. Abiseka sebagai pengusaha muda yang sukses dan berambisi tentu saja.tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Boleh, dimana?"

__ADS_1


"Di ruang kerja gue aja. Ayok!" Abiseka beranjak lebih dulu, kemudian disusul oleh Ferdy yang mengikutinya dari belakang. Mereka masuk kembali kedalam rumah berjalan menuju ke ruang kerja.


"Mau kemana, mas?" Faiha yang melihat sang suami melintas bersama Ferdy menegurnya.


"Mau keruang kerja sebentar, ada yang ingin mas dan Ferdy bicarakan. Kenapa? apa sayang-sayangnya daddy sudah mengatuk?"


"Huh–dasar si bucin lebay." Ferdy menyeletuk menyindir Abiseka yang sikapnya berlebihan dengan kebucinannya pada sang istri.


"Diem lo, Fer! Gue ngak butuh komen lo." Abiseka mengomel sambil melangkah menghampiri istri tercintanya.


"Mas, jangan gitu ah. Nanti tidur diluar mau?" Ancam Faiha karena tak suka dengan sikap berlebihan Abiseka pada Ferdy. Ucapan istrinya sontak saja membuatnya jadi kelimpungan. Tidur terpisah dengan sayang-sayangnya ( ngikutin kata daddy Abi). Oh, no...bisa melek sampai pagi dia kalau sampai itu terjadi. Abiseka tak akan bisa terlelap jika tak memeluk guling besarnya yang empuk.


"Iya iya‐ampun sayang. Jangan gitu dong ah. Oke, mas tinggal dulu sebentar ya. Cup–." Mengecup lembut kening sang istri.


"Sial–bikin iri aja tu si Abi. Jadi kepingin cepat kawin juga deh." Ferdy merasa isri dengan Abiseka yang begitu romantis dengan Faiha.


"Nikah bukan kawin, woi. Makannya cepet cari daun muda sana! Biar bisa romantis romantisan kayak gue! Sindir Abiseka.


"An*** lo, Bi. Lo ngasih nasehat apa ngece ( meledek)?"


"Dua duanya sih. Hehehe–" Abiseka malah terkekeh geli melihat wajah cemberut Ferdy.


"Sstt–itu siapa yang beraninya berbuat mesum di ruang kerja lo?" Tanya Ferdy dengan mode berbisik-bisik.


"Gue juga ngak tahu, kali. Ayo, kita tangkap basah mereka! Tapi, siapa ya? Kok gue tiba-tiba bergidik ngeri gini deh, Fer." Masih dalam mode saling berbisik.


"LEBAYYYY–!" Jawab Ferdy dengan hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara. Namun, Abiseka masih bisa membacanya.


Plakk


"Si*** lo, Fer. Ayo...cuss!1,2,3–." Handle pintu dibuka dengan perlahan dan berhati-hati jangan sampai si pelaku tahu akan kehadiran mereka.


Saking asiknya, tanpa sejoli itu sadari ada dua orang yang sedang menyaksikan adegan 17 + yang terpampang di depan mata.


"Oh my god!"


"Astaqfirullah!"

__ADS_1


"Woyy–apa yang sedang kalian lakukan? Ya, ampun kalau mau nyetak anak jangan disini kali." Itu Ferdy yang menegur pasangan yang tengah berbuat tak senonoh itu.


"ANDRE...HANI–?" Abiseka terbelalak kaget melihat siapa gerangan pasangan tersebut dan tanpa ba bi bu...Abiseka langsung menyergap tubuh besar Andre dan menggeretnya menjauh dari atas tubuh mungil Hani.


Hani juga tak kalah terkejutnya melihat kemunculan Abiseka dan Ferdy secara tiba-tiba dan parahnya lagi disaat ia dan Andre sedang bercumbu ria.Ah...betapa malu nya, rasanya ia ingin mati saja karena tertangkap basah untuk yang kedua kalinya.


Yang pertama pada saat diapartemen sang kekasih dan di pergoki oleh mommy Diandra langsung lagi. Hani buru-buru mengancingkan bajunya yang sudah hampir terbuka semua kancingnya.Wajahnya memerah sampai ke daun telinganya saking malunya. Ferdy sampai melotot melihat pemandangan membagongkan itu.


"Woww‐amazing!"


Celetuk Ferdy tanpa sadar sambil menatap Hani.yang sedang sibuk merapikan pakaiannya yang berantakan akibat dari perbuatan Andre.


"Amazing amazing– alihkan pandangan lo!" Abiseka mendengarnya dan beralih mendekati Ferdy lalu mengeplak kepala sahabatnya itu.


Plakk


"Aduh‐sakit, Bi. Ngapain sih lo malah mukul kepala gue? gini-gini udah di fitrah-in tahu." Kesalnya.


Sedangkan Andre yang jatuh tersungkur setelah di tarik dan dihempaskan oleh Abiseka dengan begitu mudahnya. Ya, tentu saja karena postur tubuh mereka sama-sama tinggi kekar. Tentu saja Abiseka kuat melakukannya.


"Bre***** lo, Ndre! Bukan gini caranya lo ngedapetin Hani. Bisa-bisanya lo ya berbuat kayak gini sama adik gue. Pokoknya lo mesti tanggung jawab. Enak aja lo mau ngedepin adek gue." Abiseka kembali meraih kerah baju Andre dan memaksanya untuk berdiri.


"Oke oke, calm down bro! Gue pasti akan bertanggung jawab jangan khawatir." Andre mengangkat kedua tangannya menyerah dan akan mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Hani.


"Bahasa lo, Bi. Ngedepein...emangnya si Hani barang apa? Ck...dasar error." Ferdy geleng-geleng kepala sambil menonton pertunjukkan ala-ala drama action di televisi.


Pada saat suasana agak dingin, tiba-tiba saja datang berbondong-bondong semua anggota keluarga dan langsung menerobos masuk begitu saja dan akhirnya ikut menyaksikan kejadian horor tersebut.


"Ada apa ini? Apa yang telah terjadi? Abi...kamu mau apakan si Andre?" Papa Aryan melihat Abiseka tengah mencengkeram kerah kemeja Andre.


Dan mommy Diandra yang tak kalah terkejutnya melihat pemandangan tersebut. Apalagi ia menangkap sosok Hani yang tengah tertunduk malu sambil memegang baju bagian dadanya. mommy Diandra merasa bagai dejavu.


"Astaqfirullah. Andre Mendoza...apa yang telah kamu lakukan pada anak perawan orang? Eh, kamu masih perawan atau tidak ya nak? Si Andre belum ngapa-apain kamu, kan?"


"MOMMY–!"


Pertanyaan Mommy Diandra sungguh ansurd dan to the point seperti biasanya. Membuat semua orang sampai cengo tak tahu harus berkomentar apa.Hanya si Ferdy yang berani berucap tak kalah blak-blakkan.

__ADS_1


"Fix, OTW sidang dadakan ini, mah."


Bersambung


__ADS_2