
Wajah Abiseka sudah di tekuk sedemikian rupa namun, entah kenapa masih terlihat tampan. Ya, orang cakep.sih mau nangis, mau ketawa jungkir balik tetap saja akan selalu tampak mempesona.
Ya, bagaimana ia tidak sewot. Mama Malika datang bukan hanya dengan si tukang urut. Akan tetapi wanita paru baya yang masih terlihat awet muda.dan cantik itu muncul dengan mengajak dua cowok jomblo yang tak lain dan tak bukan adalah Ferdy Wirakusuma dan Andre Mendoza si cowok bule tampan nan rupawan.
"Kalian ngapai juga ikut nyokap gue ke sini,sih?" Abiseka menatap kedua sahabatnya itu penuh kekesalan. Untuk apa Frrdy dan Andre mengikuti kemauan Mama Malika dengan patuh dan sukrela begitu saja. Abiseka tak habis pikir dengan kepatuhan keduanya pada sang mama.
"Slow dong,bro. Kita sebenarnya juga merasa tak enak untuk ikut dan datang ke sini. Ya masa' iya kita di suruh melihat dua sejoli sedang memadu kasih di malam pertama mereka.Sudah tidak waras apa, kita."
"Terus–apa alasan kalian akhirnya saat ini berada di tempat ini. Kalian ini ya, sudah seperti kerbau yang di cucuki hidungnya. Nurut banget sama Mama.Ck–"
Saat ini mereka tengah duduk manis di kamar sebelah tempat di mana Abiseka dan Faiha di rias sebeljm acara resepsi sore tadi.
Sebelumnya mereka telah di usir keluar oleh Mama Malika karena Faiha akan berganti baju.Ya, akhirnya yang membantu Faiha untuk menanggalkan gaun pengantinnya adalah sang ibu mertua dan di bantu oleh si tukang pijit yang berjenis kelamin perempuan.Seorang wanita paru baya. Bukan laki-laki seperti yang abiseka terka dan sempat membuat Faiha ketar ketir.
Tubuhnya saja bahkan belum pernah tersentuh oleh pria manapun. Lah, ini si tukang pijit yang akan menyentuh tubuhnya untuk pertama kali. walaupun cuma di urut karena keseleo. Kan, tetap saja rasanya risih.
"Lalu–lanjutkan cerita kalian!"
"Begini–kami tadi sedang berada di cafe seperti biasa. Tiba-tiba tante malika menelpon Andre dan meminta tolong untuk menemaninya ke hotel tempat lo dan istri menginap. Nah, kami juga bingung dan sempat menolaknya.Tapi, kemudian tante Malika cerita kalau elo memaksa Faiha untuk iya iya dengan cara kasar sampai istri lo itu kesakitan."
"Tentu saja kami sangat terkejut. Apa iya lo bisa setega itu sama istri imut lo itu. Kalau gue jadi elo, pasti ngak bakal tega main kasar. Harusnya lo tu jangan main terjang aja, Bi. Istri lo itu kan masih muda dan polos. Jadi, mungkin karena terlalu tegang jadi malah kesakitan gitu. Benar ngak tebakan gue?" Ferdy berceloteh panjang lebar kali tinggi mengarang bebas dan sok tahu seperti biasnya.
"Sotoy lo, Fer. Boro-boro main kasar. Nyentuh sedikitpun juga belum, kali. Huh...sok detektif."
"Lalu–apa yang sebenarnya terjadi pada Faiha?kenapa.dia bisa sampai keseleo?"Kini Andre pun mulai bertanya karena jujur, ia juga di buat penasaran.akan hal itu.
Abiseka menepuk jidatnya dan menghembuskan nafasnya dalam lalu, menceritakan masalah yang sebenarnya. Dan sontak membuat Ferdy dan Andre tergelak menahan tawa mereka.
"Sumpah lo, jadi benaran lo gagal first night gara-gara istri lo jatuh terpeleset di kamar mandi dan pinggangnya keseleo.Hahaha...gue bisa ngebayangin gimana perasaan lo sekarang. Pasti sangat Frustasi,kan?"
"Nah, sotoy lagi kan lo. Ya, enggaklah. Ngapain fruatasi segala. Kita memang sudah sepakat tak akan pernah ada.hubungan sein–"
"Uhuk uhuk–"
__ADS_1
"Elo kenapa, Ndre mendadak bengek gitu? Perasaan si Abi ngak kentut deh."
"An*** lo, Fer. Gue beri juga mulut lo enteng banget kalau ngoceh ya." Andre melakukan gerakan seakan ingin membogem mentah si mulut lemes Ferdy.
Dan Abiseka pun merasa dongkol dengan sahabatnya yang tengil itu. Masa' iya kentutnya bisa bikin.orang sampe terbengek-bengek. Imposibble,kan?
"Memang mulut lo itu ya, Fer. Perlu di obras biar ngak kebanyakan bacot." Kesal Abiseka.
Jika sedang berkumpul seperti sekarang ini. Bahasa mereka bertiga memang ya begitulah. Agak kasar dan sedikit vulgar. Ya, namanya juga laki-laki, sudah menjadi rahasia umum. Bukan kaum adam saja, kaum hawa juga demikian 11-12. Ngak jauh dari hal-hal yang berbau ke sana? Kemana thor? Itu, pokoknya ke arah sana lah. Readers pasti sudah mengerti.
Dan mereka pun malah tertawa terbahak-bahak geli dengan obrolan mereka yang sama sekali tak berfaedah itu.
Mari kita tinggalkan ketiga om-om ganteng, dan sekarang kita beralih ke kamar sebelah. Dimana saat ini Faiha tengah di urut dengan seksama dan di awasi oleh Mama Malika. Faiha akan menjerit histeris ketika bagian yang sakit di sentuh oleh si tukang urut. Lah iya lah, kalau yang nyentuh si kanebo garing. Yang ada bukannya teriakan kesakitan akan tetapi teriakan yang lain? Apa hayo tebak?
"Aaaaaw–aduh, stop stop.sudah bu, saya ngak kuat.sakit banget ini."
"Ngak apa-apa neng, nanti akan segera hilang penyakitnya dan nanti ngak bakal terasa sakit lagi.Wah tubuh si eneng mulus banget ya, anak nyonya sangat beruntung sekali ya." Apa hubungannya coba antara memijit sama bentuk tubuh? Ada-ada saja si ibu tukang urut.
"Ya pastilah,bu. Anak saya itu kan pintar dalam mencari jodoh.Lihatlah buktinya, masih sekel dan kencang semua kan,bu?" Lah ini Mama Malika malah tambah ngawur omongannya. Membuat Faiha jadi malu sendiri.
Dan Mama Malika malah mengaamiin-kan ucapan wanita paru baya tersebut. "Aamiin.Terima kasih ya,bu. Jadi, menantu saya tidak terlalu parah,kan keseleo-nya?"
"Alhamdulillah, tidak Nyonya. Jangan khawatir. Dalam beberapa hari, ya tidak sampai seminggu juga sudah bisa dinpakai untuk bertempur lagi."
Mama Malika dan ibu tukang urut itu pun tertawa cekikikan menatap wajah cengo Faiha yang sudah tak bisa berkutik untuk ikut andil dalam pembicaraan yang bagi Faiha begitu mengerikan itu.
"Hii–Mama Malika suwe-suwe kok, medeni tenan yo?omongane to the point banget.Merinding disko iki ." monolog Faiha merasa ngeri.
Sementara itu dikamar sebelah, tiga om-om ganteng malah sudah tepar. Mereka tertidur pulas dalam satu ranjang. Berjejer rapi di atas tempat tidur king size yang cukup untuk menampung tiga tubuh besar mereka.
Kring"
Abiseka meraba-raba saku celananya untuk mengambil ponselnya. Jemarinya cekatan langsung mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari Mama Malika.
__ADS_1
"Abi, ini Faiha sudah selesai di urut.Cepat ke sini,kamu! ajak juga Ferdy dan Andre."
"Ngapain sih,Ma pake ngajak mereka segala. Biarlah mereka pulang saja. Lagian mau apa mereka ke kamar itu?"
"Ya, barangkali saja Mama akan membutuhkan tenaga mereka?"
"Maksud Mama apa?"
"Untuk menggendong Faiha lah, apa lagi. Barang kali saja kamu nanti tidak mau karena tak kuat membopongnya sampai ke mobil. Faiha kita bawa pulang saja."
"Kok gitu sih,Ma. Meremehkan putramu sendiri?"
"Terus ngapain coba kalian di sini, belum bisa bikin anak juga. Faiha masih sakit. Kamu harus bisa mengerti akan hal itu, bersabarlah!"
"Ya sudah–abi kesana sekarang."
Kening Mama Malika mengkerut, ia tidak melihat Andre dan Ferdy bersama dengan Abiseka. Kemana gerangan dua jomblo ganteng itu.
"Loh, Bi. Si Ferdy sama Andre mana?"
"Mereka sudah Abi suruh untuk pulang, Ma. Lagian nggak penting juga kan mereka ada di sini."
Mama Malika pun akhirnya mengalah, percuma berdebat dengan putranya yang super ngeyel itu.
"ya sudah, ayo kamu gendong Faiha. Kita ceck out sekarang juga."
"Maaf Ma, Faiha ngak perlu di gendong segala. Faiha bisa jalan sendiri kok,Ma." Faiha menolak dengan halus perintah Mama Malika yang membuat Faiha canggung, tepatnya malas dan tak ingin di sentuh Abiseka.
"Yakin bisa jalan sendiri? Okelah kalau begitu, kebenaran. Ma, Abi turun duluan ya."
"ABISEKA JAYENDRA...kesini kamu!"
Bersambung
__ADS_1
Sesuai janji, hari ini aku up lebih awal. Selamat membaca semoga kalian suka. Terima kasih atas dukungannya. 😊