
Sinar mentari telah hadir menghiasi pagi yang cerah. Pasangan penganti baru yang baru saja menikmati malam pertama, keduanya masih bergelung manja di balik selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka. Abiseka memeluk erat istri mungilnya.Sungguh pemandangan yang manis di pagi hari.
"Euhh–" Lengguhan pelan terdengar dari bibir cherry seorang gadis yang sejak semalam sudah bukan gadis lagi. Ya, Faiha telah menyerahkan kesuciannya untuk pertama kalinya pada sang suami. Walaupun mereka melakukannya dalam pengaruh ramuan jamu tradisional penambah gairah suami istri pemberian dari mama Malika.
"Tuan Abiseka?mengapa–?" Saat membuka mata, pertama kali yang di tangkap di penglihatannya ialah wajah tampan Abiseka, suaminya.Sontak mata bulatnya terbelalak menyadari bahwa dirinya dan sang suamii tidur dalam satu ranjang.Faiha mengerjap-ngerjapkan sampai dengan mengucek matanya.
"Ini mimpi atau bukan,sih?"
"Aww–" Penasaran, Faiha pun memastikan.dengan mencubit pipi chubbynya dan–"
"Awww–ternyata ini beneran bukan mimpi.Bagaimana ini?jadi, semalam kami telah melakukannya." Faiha merasakan sakit akibat cubitannya sendiri.
Dan yang membuat Faiha bertambah shock adalah menyadari dan merasakan sentuhan hangat di tubuhnya.Refleks ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka dan penampakan tubuh mereka sama-sama polos tanpa mengenaka pakaian.
"Aaaahh– apa itu?" Membekap mulutnya dengan telapak tangan.Namun, suara jeritannnya mengusik sang pangeran yang masih terlelap.Abiseka membuka matanya, " Apa sih, pagi-pagi sudah berisik mengganggu tidur orang saja?" dan sedetik kemudian–
"Hei–ngapain kamu dekat-dekat denganku?" Sama-sama terjengkit kaget dan dikarena pergerakan yang begitu tiba-tiba, pasangan suami istri itu pun bangkit duduk saling berhadapan dan otomatis selimut yang menutupi tubuh keduanya merosot kebawah maka, mereka bisa saling melihat tubuh satu sama lain.
BLUSH
Wajah mereka memerah sempurna dan Faiha bergerak cepat meraih ujung selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri, begitupun Abiseka melakukan hal yang sama.
"Apa kita semalam telah melakukan sesuatu?" Faiha mencoba mengumpulkan kepingan ingatannya mengenai apa yang telah terjadi semalam antara dirinya dengan Abiseka.Dan sedetik kemudian tubuh Faiha menegang mengingat apa yang mereka lakukan tadi malam.
"Kenapa Tuan melakukannya? seharusnya kita tidak boleh–"
"Mengapa tidak boleh? Siapa yang melarangnya? tidak masalah bukan jika, suami istri melakukan hal intim seperti itu. Bahkan melakukan S*** berkali-kali pun tidak akan berdosa."
"APA?jadi, aku sudah tidak perawan lagi?" Tertunduk dan menatap nanar tubuhnya.
"Ya pastilah. Bahkan aku masih bisa mengingatnya, betapa kamu sangat menggairahkan dan...ternyata tubuh mungil istriku ini terasa begitu nikmat." Menatap penuh damba istri mungilnya.
"Kyaa–minggir!" Faiha mendorong dada Abiseka sampai pria itu terjungkal jatuh terlentang. Dengan gerakan cepat Faiha segera beranjak turun dari atas tempat tidur. Namun, baru saja akan menapakkan kakinya diatas lantai–.
"Aduhh–!"
"Kenapa? apakah itu-mu sakit?" Abiseka dengan tanpa rasa berdosa menunjuk kebawah tepat diwilayah terlarang pada salah satu bagian tubuh Faiha dan langsung mendapatkan pelototan tajam dari mata bulat sang istri.
"Sakit? Ya pastilah sakit, wong punya Tuan sebesar itu. Gimana ngak–upss." Menutup mulutnya karena ucapannya kebablasan.
"Iya kah? berarti semalam kamu puas dong. Apa mau kita mengulanginya lagi? Aku sama sekali tidak berkeberatan,kok."
"No way, ngak sudi–" Melangkahkan kaki dengan tertatih-tatih dan sedikit mengangkang terliihat lucu di penglihatan Abiseka. Laki-laki itu sekuat tenaga menahan tawanya.
"Apa kamu perlu bantuanku untuk mandi? Oh sorry, maksudku ke kamar mandi.Lihatlah cara berjalanmu seperti keong itu, trus kapan sampainya ke dalam kamar mandi." Cengengesan, lagi-lagi menampakkan sisi lain seorang Abiseka Jayendra yang terkenal dingin dan kaku. Saat ini berubah 180 derajat me jadi laki-laki usil dan super menyebalkan.
Mimik wajah Faiha sudah cemberut dan ditekuk sedemikian rupa. Kesal dengan mulut suaminya yang secara langsung mengejeknya dan membuatnya malu.
"Enak saja mengatai orang sembarangan. Saya seperti ini akibat dari perbuatan siapa, coba?Tuan, kan. Malah senengane ngece wae.Njontongi (nyebelin- bahasa jawa)."
Tak ingin mempanjang perdebatan.diantara mereka. Dengan sigap Abiseka langsung menggendong Faiha san membawanya masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
"Sudah–hayo, jangan banyak omong! Mau, aku cium atau kumakan kamu sekarang juga, di sini. Melanjutkan yang semalam, gimana...kamu mau pilih yang mana? duduklah dulu, akan aku siapkan air hangatnya." Mendudukkan tubuh kecil Faiha yang masiih berbalut selembar selimut. Memperhatikan sang suami yang tengah mengisi bathup untuknya berendam.
"Oke, air hangatnya sudah siap. Ayo, aku bantu masuk kedalam bathup."
"Ti-tidak usah, saya bisa sendiri.Tuan tidak usah repot men gurusi saya."
Tentu saja Faiha akan merasa canggung dan malu apabila Abiseka membantunya untuk mandi...salah, maksudnya untuk masuk kedalam bathup yang pastinya Faiha harus melepas selimut yang sejak tadi setia menutupi tubuh polosnya.
Tak mengindahkan ucapan sang istri. Abiseka membopong kembali tubuh Faiha dan seperti apa yang di takuti oleh sang istri, yaitu suaminya itu akan mencari kesempatan dalam kesempitan demi menjamah tubuhnya kembali.
"Ayo, jangan takut. Lepas saja! Aku ngak akan melakukan apa pun padamu.Sini, aku bantu."
Menarik ujung selimut dan mencoba melepaskannya namun, tangan Faiha dengan sekuat tenaga mempertahankannya agar selimut itu tetap melekat di tubuhnya.
"Tidak Tuan, saya bisa sendiri. Tolong anda keluar saja saya malu." wajah Faiha bersemu merah, ia jadi membayangkan malam panas yang telah mereka habiskan bersama.
"Nanti kalau selimutnya basah gimana? Apa tidak lebih memalukan jika, petugas hotel mengetahuinya. Kesini ngak,Lepaskan tanganmu itu!"
Srettt
"Tuaan–!" Abiseka berhasil melepaskan selimut itu dan.menariknya dengan kencang agar Faiha tidak bisa merebutnya kembali.
"Sudah tidak usah di tutupi, semalam aku juga sudah melihat semuanya sampai ke dalam-dalamnya." Mengesipkan sebelah matanya dan tersenyum penuh arti.
Akhirnya Faiha pun hanya bisa pasrah mendapatkan perlakuan lembut dari suaminya.Mereka telah saling memiliki seutuhnya.
Usai mandi dan telah rapi berpakaian, Faiha masih saja memasang wajah cemberutnya. Bagaimana tidak, si suami usilnya itu kembali meminta jatah lagi. Katanya mau mencoba bagaimana rasanya morning s** itu yang katanya begitu dahsyat rasanya dan memang benar, Faiha pun sama, begitu menikmatinya.Hingga ia tak dapat mengontrol suaranya yang merdu mendayu.
"Jangan cemberut gitu, ah. Nanti manisnya jadi hilang loh. Apa masih kurang? Mau dilanjut lagi, ayo–!"
"Benarkah? Oke, deal."
"Eh, bukan- bukan itu. Maksud saya kita sebaiknya tidak melakukannya lagi. Itu melanggar perjanjian yang telah kita sepakati, bukan."
Abiseka terdiam, mencerna perkataan istrinya. Namun, ia sudah tidak perduli lagi tentang perjanjian itu.
"Mari kita batalkan dan mengakhirinya!"
"Baik, itulah yang terbaik.Kita anggap saja apa yang telah kita lakukan tidak pernah terjadi. Saya akan menerima apa pun yang Tuan putuskan." Menundukkan kepalanya sambil meremas ujung dress yang dikenakannya.
"Iya, keputusanku adalah membatalkan semua perjanjian pernikahan sandiwara ini. Dan mulai hari ini kita akan menjalani kehidupan pernikahan yang sesungguhnya. Menjadi suami istri yang sebenarnya. Kamu mau, kan?" Menatap lekat wajah merona Faiha yang semakin terlihat menggemaskan.
"I–iya, saya mau." Mengangguk.
Krukkk
"Suara apa itu?Sepertinya cacing-cacing di perutmu sudah meminta jatah makan. Lapar sekali ya?" Lagi-lagi Faiha hanya mengangguk.
"Baiklah, ayo kita kebawah dan sarapan!"
"Tuan–apa boleh saya tidak ikut? Itu...anu, saya itu...masih sakit. Rasanya nyeri kalau berjalan."
__ADS_1
"Kalau begitu kita sarapan di kamar saja, Aku akan memesannya." Meraih gagang telepon lalu memesan makanannya.
Pesanan pun telah datang dan mereka langsung menyantapnya. Faiha makan dengan lahapnya sepertinya ia begitu kelaparan. Bagaimana tidak, bahkan hari sudah menjelang siang dan perut mereka baru bisa teriisi. Terlalu sibuk dengan kegiatan suami istri yang menyita banyak waktu sampai melupakan segalanya. Saking menikmatinya.
"Makan yang banyak, biar kuat untuk–"
"Uhuk uhuk."
"ini, minumlah...kalau makan tu pelan-pelan!" Memberikan segelas air putih dan Faiha meneguknya langsung.
"Habis Tuan bicaranya ngelantur, sih."
"Itu bukan melantur taoi, memang kenyataan. Kita harus mempersiapkan diri jika ingin bercinta."
"Tuan–cukup! Jangan di bahas lagi, saya malu."
"Jangan panggil Tuan lagi, panggil Mas.Aku ini.suamimu bukan majikanmu!"
"Tapi, kenyataannya saya ini bawahan anda, kan? Faiha tetap saja terus menhanggah perkataan Abiseka. Membuat Abiseka semakin gemas dengan istri mungilnya itu.
"Iya, benar.Kamu adalah bawahan ku, saat di bawah tubuhku. Mengerti ?"
"Ih–Mas Abii mesum!" Mencubit gemas perut Abiseka.
"Aww, sakit sayang. Coba ulangi, tadi kamu panggil aku apa?"
"Mas Abi." Berucap malu-malu meong.
"Good, pokoknya jangan pernah memanggil Tuan lagi, jika melanggar maka akan mendapatkan hukuman dariku."
"Hukuman apa?"
"Hukuman nikmat–." Langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.
Ting tong 2x
"Siapa sih,?mengganggu kesenangan orang saja."
Ceklekk
"Oh, elo Ndre. Ada apa? Ngapain kesini, mengganggu ketentraman orang saja."
Kedua sahabat itu saling menatap dan Abiseka mengerti apa yang diinginkan Andre.
"Kita bicara di tempat lain!"
"Sayang, Mas keluar sebentar ya.Istirahatlah...jangan pergi kemana-mana, oke!"
Faiha menjawab dengan tersenyum manis. Kemudian Abiseka menutup pintunya tak memberi kesempatan Andre untuk menyapa Istri nya.Melihat pun tak boleh apa lagi mengajaknya berbincang. Abiseka tak akan pernah membiarkan itu terjadi. Sepertinya Abiseka telah menjelma menjadi suami posesif.
"Sayang?" Andre bergumam pelan menirukan ucapan Abiseka.
__ADS_1
"Iya, SAYANG...kenapa, keberatan?
Bersambung