
Ferdy meraih gagang pintu dan memutarnya. Akan tetapi pintu itu tidak bisa dibuka. Apakah ini dejavu. Asri jadi merasakan terkunci untuk kedua kalinya. Bedanya saat ini Asri tidak sendiri. Melainkan terkurung bersama dengan seorang pria dewasa.Tiba-tiba pikiran negatif muncul di benaknya.
"Aduh, bagaimana ini. Aku takut sekali."
"Jangan takut, ada aku disini."
DEG
"Ada aku disini. apa maksud dibalik perkatakaannya itu? Kok, aku jadi merinding ya. Om Ferdy tampan dan terlihat baik tapi, walau bagaimana pun dia tetaplah seorang pria dewasa yang normal tentunya."
Melihat wajah pucat Asri serta tubuh yang gemetaran, membuat Ferdy iba. Ia mendekati sang gadis ingin menenangkannya namun, yang ada di pikiran Asri beda. Gadis muda itu langsung memasang gerakan waspada dengan merangsek mundur sambil mengambil ancang-ancang seandainya Ferdy menyerangnya.
"Mau apa dia? Awas saja kalau berani macam-macam ya. Akan aku buat dua telurmu pecah dan tak berfungsi lagi."
Langkah Ferdy semakin mendekat dengan tangan yang terulur ingin menyentuh pundak Asri lalu tiba-tiba dengan gerakan cepat Asri menggerakkan kakinya seperti gerakan menendang dan mendarat tepat di tengah-tengah mengenai senjata pamungkas milik Ferdy. Sontak saja laki-laki itu langsung memekik kesakitan, bahkan.suara teriakkannya sampaii keluar kamar.
"Hiaa–bugh!"
"Arghh– ADUHHH, A–apa yang kau lakukan Hah? OMG masa depanku." Memegang miliknya sambil meringis menahan rasa nyeri akibat tendangan maut Asri.
Tubuh besar Ferdy pun tumbang seketika. Asri baru tersadar akan apa yang baru saja dilakukannya. Menyakiti organ tubuh yang paling vital dan masa depan Ferdy terancam.
Asri seketika panik dan tak tahu harus berbuat apa. Ingin menolong Ferdy tapi, bagaimana caranya? Tidak mungkin kan dia melihat apalagi memegang milik laki-laki itu. Mereka bahkan baru saja saling mengenal.
"O–om, apakah kamu baik-baik saja?" Asri ingin mendekat namun ragu dan melangkah mundur kembali.
"Tidak apa-apa bagaimana, lihat hasil perbuatanmu ini. Oh, hancurlah masa depanku. Aku mungkin telah kehilangan calon anak-anakku kelak. Sialnya nasibku." Ferdy terus saja mengoceh dan meratapi akan nasib masa depannya. Membuat Asri semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku, om. Aku tadi tidak sengaja dan sungguh sama sekali tidak ada niat untuk melukai om.Aku mohon maaf." Menanglupkan kedua telapak tangannya memohon agar Ferdy memaafkannya.
Ferdy sama sekali tak merespon ungkapan maaf dari.Asri. Laki-laki itu melengos tak ingin menatap sang gadis.
"Sebentar ya om, aku akan meminta pertolongan!" Melangkah menuju ke pintu lalu menggedor-gedornya.
Dugh dugh dugh
"Tolong, tolong bukakan pintunya. Tante Malika, mbak Faiha, om Abiseka...tolong kami, ada yang terluka didalam kamar ini"
Ceklek
"Apa yang telah terjadi, Ferdy...kamu kenapa?" Mama Malika, Papa Aryan dan Abiseka bergegas masuk lalu segera menolong Ferdy yang masih tergeletak di lantai.
"Asri, sebenarnya apa yang telah terjadi pada Ferdy. Apa dia terjatuh?" Tanya Abiseka.
__ADS_1
Ditanya seperti itu sontak membuat Asri gugup karena apa yang telah terjadi dengan Ferdy dialah pelakunya sampai membuat laki-laki tampan itu begitu kesakitan.
"I–itu, tadi saya tidak sengaja om."
"Tidak sengaja? Memangnya apa yang kamu lakukan terhadap Ferdy sampai seperti itu."
"Fer, apamu yang sakit dan apa sih yang sebenarnya terjadi diantara kalian?" Abiseka menelisik tubuh Ferdy yang sekiranya terasa sakit.
'Ini loh– si joni, Bi.Di tendang sama tu cewek. Panas bro." Adunya pada sang sahabat. Abiseka meringis membayangkan bagaimana rasanya dan juga keadaan si joni nya Ferdy saat ini. Antara kasihan dan juga ingin tertawa.
"Waduh, berat bro...kira-kira itu lo masih bisa aktif ngak ya? Tapi, tunggu gue penasaran bagaimana si Asri sampe nendang itu lo. Jangan-jangan lo mau berbuat tak senonoh ya sama dia? Wah, ngak nyangka gue ternyata lo sama si Andre sama aja ya. Gampang khilaf eh, bukan...tapi, modal nekat lewat jalur cepat ya kan?" Abiseka memicingkan matanya menaruh curiga pada Ferdy.
Plakk
"Enak aja lo kalau ngomong. Ya enggak lah. Gini-gini iman gue masih kuat ngak akan tergoda melakukan kemaksiatan. Memangnya si Andre. Imannya setipis tisu basah." Ferdy malah ngedumel dan menjelek-jelekkan Andre. Ya memang sih Andre tu ibaratnya nikah lewat jalir cepat. Grebek, sidang dan langsung ijab. Ferdy tidak akan melakukan hal seperti itu.
Abiseka mengulum senyumannya, Ferdy memang si mulut lemes akan tetapi jika melakukan hal-hal yang melewati norma agama ia tak akan pernah melakukannya.
"Iya iya, gue percaya kalau iman lo kuat tapi, kalau si imin gimana? Apakah juga akan kuat jika berhadapan dengan makhluk indah macam si Asri yang ibarat bunga yang sedang mekar-mekarnya. Amat menggoda untuk di nikmati. Ya ngak...ya iya dong ya, kan Fer?" Abiseka mengedipkan matanya. Menggoda sang sahabat.
Mama Malika menginterupsi keduanya dengan menyuruh Abiseka memapah Ferdy keatas tempat tidur.
"Bi, tolong kamu telepon dokter Hasan, kita harus mengetahui separah apa.keadaan itu nya Ferdy!"
"Tidak usah Tante, lagi pula aku sudah baik-baik saja, kok." Tentu saja Ferdy menolak, betapa malunya ia nanti jika si joni di periksa oleh dokter Hasan. Ia sudah tidak begitu merasakan kesakitan lagi. Jadi, untuk apa memanggil dokter segala.
Sementara itu wajah Asri semakin tampak tegang. Ia khawatir akibat dari perbuatannya itu akan menyebabkan sesuatu yang bisa merusak masa depan Ferdy. Sungguh saat ini Asri begitu takut. Dan lagi-lagi Mama Malika tersenyum menyeringai melihat kegalauan gadis muda tersebut.
"Perfect, ternyata rencana yang meleset sekarang malah lebih mendekati keberhasilan. Inilah moment yang ditunggu-tunggu. Ferdy sebentar lagi kamu akan segera mendapatkannya sebagai pendamping hidupmu, nak." Mama Malika begitu bahagia dan tak menyangka jika misinya akan sesukses ini.
ting tong ting tong
"Nah, itu pasti dokter Hasan, sebentar...mama akan menemuinya."
Beberapa menit kemudian Mama Malika dan dokter Hasan pun datang dan langsung memeriksa keadaan Ferdy. Sebelumnya semua orang keluar karena Ferdy malu .
"Ma, kira-kira itu nya si Ferdy masih berfungsi tidak ya? Kasihan banget, bisa ngak punya anak dia nanti." Dengan entengnya Abiseka bertanya pada mama Malika.
PLAKK
"Aduh Ma, kok aku malah di pukul sih." Abiseka mengusap lengannya yang baru saja dikeplak dengan cukup keras.
"Kalau bicara itu jangan sembarangan, kita berdo'a saja semoga semuanya akan baik-baik saja." Asri semakin resah mendengar percakapan mama Malika dan Abiseka.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian dokter pun telah selesai memeriksa keadaan Ferdy. Senua kembali masuk kedalam.
"Bagaimana dok keadaan Ferdy?"
"Hmm–bagaimanapun juga, saya akan mengatakan yang sebenarnya. Kondisi alat vital nya cukup parah dan akan butuh perawatan yang intensif sampai pulih kembali."
"Syukurlah, gue kira joni lo bakal pensiun dini Fer."
Srett
"Aww, sakit Ma." Mama Malika mencubit pinggang Abiseka.
"Kalau bicara tuh yang benar, sembarangan saja kamu." Kesalnya.
Setelah memberikan resep, dokter Hasan pun pamit undur diri.Kini semua mata tertuju pada sosok Asri yang sejak.tadi hanya diam tanpa suara.
" Nah, nak Asri. Mama rasa kamu harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Ferdy."
"Ta–tabggung jawab apa, tante?" Asri tampak semakin gugup dan tegang.
"Sudah, tidak apa-apa Tan. Itu tidak perlu, lagi pula aku sudah lebih baik, kok."
"Eh, ya tidak bisa dong Fer. Asri yang telah berbuat dan dia juga harus bertanggung jawab. Pokoknya dia harus merawatmu sampai sembuh." Putus mama Malika tanpa penolakan.
Asri semakin bingung, harus merawat Ferdy sampai sembuh. Masa' iya dia harus melihat apalagi menyentuh milik laki-laki itu. Itulah kegundahan yang kini menderanya.
"Maksud tante gimana ya? Kalau harus merawat itu....maaf, saya tidak bisa." Asri menunduk malu.
Tawa Mama Malika sudah ingin meledak melihat wajah Asri yang memerah karena malu. " Siapa yang menyuruhmu untuk melihat apalagi menyentuhnya, belum muhrim juga."
"Hah, maksud mama apa?"
"Ya nanti kalau sudah sah baru boleh, jangankan melihat...di pegang pun tidak jadi masalah, kan."
Semua orang jadi semakin bingung dengan perkataan ambigu Mama Malika.
"Kenapa kalian? Bingung? Ya benar kan apa yang Mama katakan. Jadi, Asri harus bertanggung jawab dengan menikahi Ferdy. Sepertinya ada yang mengganjal dari perkataan Mama Malika.
"Me–menikah, sama om ferdy?"
"Tentu saja, kamu mau kan meenjadi istrinya?"
Bersambung
__ADS_1