
Faiha sudah siap mendengarkan titah dari sang boss merangkap sebagai suaminya itu. Ia duduk diseberang meja tepat berhadapan dengan Abiseka.
"Begini. Lusa aku akan berangkat ke Bali untuk urusan pekerjaan. Jadi, selama aku tidak ada Papa yang akan menggantikan sementara posisiku. Sebenarnya tidak akan setiap hari papa akan datang namun, aku harap kamu harus lebih waspada jangan sampai bertemu muka apalagi sampai tahu kalau kamu salah satu karyawan di sini.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan jika, Pa–maksud saya Tuan Aryan menyuruh saya melakukan seauatu. Secara saya adalah OG yang bertugas di lantai 15 ini."
"Kalau soal itu bisa di atur. Untuk sementara selama satu minggu ini kamu akan di pindah tugaskan dari lantai ini dan akan di gantikan dengan OG atau OB yang lainnya."
"Baik, Tuan." mengangguk mengerti.
"Apa hanya itu saja, Tuan yang ingin anda.sampaikan kepada saya?"
"Sudah. Kamu bisa keluar sekarang!"
"Kalau begitu saya permisi, Tuan." Faiha membungkuk hormat lalu, berbalik badan melangkah menuju pintu untuk segera keluar dari ruangan suaminya.
"Hh–betapa lega hatiku, selama seminggu ini aku akan merasakan nikmatnya udara kebebasan. Bebas dari segala tekanan."
"Satu lagi, jangan terlalu dekat berhubungan dengan Ferdy dan Andre!"
"Memangnya kenapa, Tuan?" Faiha tidak mengerti mengapa ia tidak boleh berteman dengan kedua pria tampan itu.
Kali ini Abiseka menatap tajam Faiha."Kau bilang kenapa?"
"Apa kamu sadar kamu itu siapa?...ah, sudahlah.Kau tidak akan pernah mengerti. Lebih baik sekarang kamu keluar dan lanjutkan pekerjaanmu!"
Faiha tak menjawab, ia bergegas keluar dengan berbagai macam pertanyaan yang hinggap di pikirannya.Apa maksudnya ia tidak boleh berhubungan dengan kedua pria tampan itu. Ah, pasti dia pikir karena ia hanyalah seorang gadis miskin yang tak pantas bergaul dengan kalangan atas seperti mereka.
"Permisi mbak Dina." Sapa Faiha sopan pada sekretaris suaminya.
"Hei, tunggu!" Suara panggilan Dina menghentikan langkah Faiha dan membuatnya menoleh kebelakang lalu menghampiri wanita tersebut.
"Iya mbak, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Bukan, aku cuma mau tanya. Ada urusan apa kamu sama boss? kenapa kelihatannya begitu serius, apa kamu telah melakukan suatu kesalahan atau ada yang lainnya.Kamu tidak berbuat macam-macam kan?" Selidiknya.
"Berbuat macam-macam?" Kening Faiha mengernyit penuh tanya.
"Halah–pake pura-pura kamu.Ya, apalagi coba kalau bukan mencoba menggoda si boss. Apakah kamu–"
"Maaf mbak, saya rasa saya tidak berkewajiban untuk memberitahukan apa pun pada mbak.Dan asal mbak tahu, saya bukanlah perempuan seperti apa yang mbak pikirkan terhadap saya. Permisi."
"Dasar kurang ajar. Sekretaris sama boss nya sama saja, suka berpikiran negatif pada orang lain.menyebalkan." melangkah sambil menggerutu kesal atas perlakuan wanita itu pada dirinya yang sangat tidak berperasaan.
Sesampainya di pantry. " Loh, kok lama bener Fai cuma nganter kopi aja?"
__ADS_1
"O–itu, si boss menyuruh aku untuk membersihkan toilet yang ada di ruangannya."
"Begitu, aku kira kamu diapa-apain sama si boss. Secara kan boss kita itu juteknya ngelebihin emak-emak komplek.Untung ganteng jadi, ya ngak masalah."
"Bisa aja kamu Lia. Sudah ah ngak usah ngomongin dia lagi. By the way,mau makan siang apa nanti kita?" Mengalihkan topik pembicaraan.
"Gimana kalau soto daging pak kumis, mantap itu."
"Hemm–oke, boleh juga." Mengacungkan jempolnya.
Malam hari di kediaman Jayendra.
"Pa, Ma.Lusa Abi jadi berangkat ke Bali, titip Faiha ya!" Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam.
"Memangnya Faiha barang pake di titipin segala.Sudah pasti kami akan selalu menjaganya karena Faiha sudah kami anggap seperti putri kami sendiri. Abi, Abi...aneh kamu itu." Ucap Mama Malika.
"Ya, bukan gitu Ma maksud Abi."
Tak berapa lama datang Faiha dengan membawa sebuah nampan yang berisi dua cangkir kopi dan dua cangkir teh serta sepiring camilan.
"Ini Pa, Ma...silahkan di cicipi!"
"Terima kasih ya,sayang."
"Iya, sama-sama Ma." Faiha mengangguk dan tersenyum sopan.
"Tidak ada kendala apapun kan dalam proyek terbaru mu ini?" Itu Tuan Aryan yang berbicara pada Abiseka.
"Alhamdulillah tidak ada, Pa. Dan semoga berjalan lancar tanpa hambatan apa pun."
Dan Tuan Aryan hanya mengangguk mengerti."Baguslah, semiga sukses, Son."
"Thanks Pa."
"Oh ya, Mama punya usul, gimana kalau Faiha ikut kamu saja ke Bali.Ya itung-itung sekalian berbulan madu,kan.Gimana?"
"Ma, Abi itu kesana untuk bekerja. Jangan ampur adukkan dengan urusan yang tidak penting yang ada nanti malah bisa kacau pekerjaan Abi.Mama ini ada-ada saja." Kesalnya.
"Ya sekali mendayung dua tiga pulau terlamoaui, kan. Siapa tahu habis pulang dari sana mama dan papa bisa langsung dapat cucu.Ya kan, Pa?"
Tuan Aryan tak menanggapi pwrkataan sang iatri yang selalu saja banyak maunya dan sudah sangat tidak sabaran ingin segera menimang cucu.
"Tuh, Papa aja ngak setuju.Mama ini ada-ada saja sih. Urusan mau berbulan madu atau tidak itu urusan kami dan mau kemanapun jika, kami ingin berbulan madu itu ya terserah kami lah, Ma." Abiseka menanggapi celotehan sang mama yang selalu membuatnya pusing.
"Ya kan Mama cuma kaaih usul saja, Bi. Siapa tahu rezeki kan kapan pun dan dimanapun ngak di sangka-sangka. Ya kan Faiha sayang." Mengelus lembut pipi sang menantu dan Faiha hanya tersenyum meringis.
__ADS_1
Abiseka langsung bangkit dari duduknya dan beranjak ingin pergi ke kamarnya. Ia jadi pusing mendengar segala keinginan sang mama yang aneh itu.
"Mau kemana kamu,Bi. Mama belum selesai bicara."
"Mau ke kamar, ngantuk mau tidur."
"Ajak istrimu dong, main kabur gitu aja."
"Ya ayo! dianya saja malah diam gitu,kok."
"Ya ampun, sama istri ngak ada kalem-kalemnya sedikitpun. Ayo sayang, sana ikut suamimu ke kamar. Jangan lupa berdo'a sebelum mem–"
"Faiha istriku tercinta, ayo sayang!" Abiseka segera memotong ucapan mama Malika. Ia tahu apa kelanjutan dari perkataan tersebut.
"I–iya mas, Ma, Pa. Faiha ke kamar duluan ya. Selamat malam." Pamitnya dengan wajah yang sudah merona malu karena ucapan Abiseka barusan.
Sesangkan Mama Malika tersenyum penuh arti. " Nah, gitu dong sama istri yang romantis. Itu baru anaknya Papa Aryan."
"Apa hubungannya Ma sama Papa?" Tuan Aryan mengernyit bingung.
"Ya, masa' Papa nya aja super romantis anaknya malah kayak kanebo garing." Julukan Faiha yang diberikan untuk suaminya. Mama Malika terkekeh geli jika mengingat perkataan sang menantu.
Sesampainya di dalam kamar, Faiha langsung mengambil satu bantal dan membawanya menuju ke sofa. Dan Abiseka memperhatikannya.
"Mau apa kamu dengan bantal itu?"
"Eh, ya mau tidurlah Tuan.Saya boleh kan pinjam bantalnya. Saya akan tidur di sofa dan Tuan juga pasti tidak akan mengizinkan saya untuk tidur di ranjang anda, bukan."
"Siapa yang bilang begitu?"
"Ya walaupun anda tak bilang, saya sudah mengerti dan tahu diri,kom.Saya ini siapa. Selamat tidur, Tuan!"
"Hei–selalu saja sok tahu kamu itu,ya. Kapan aku pernah mengatakannya? Sudah, tidur di sini saja. Aku tidak mau ambil resiko kalau Mama sampai tahu kita tidur terpisah."
"Apa anda yakin cuma karena alasan itu? Tuan tidak sedang mencari kesempatan dalam kesempitan, kan?"
"Kamu itu selalu saja membantah ya. Sudahlah jangan banyak omong.Cepat tidur di sini!"
Faiha masih berdiri mematung. Gadis itu masih ragu apakah ia harus menuruti perintah suaminya itu.Ia takut kalau akan terjadi sesuatu, ya walau bagaimanapun mereka adalah pasangan suami istri yang sah dan tidak masalah mau melakukan apa pun. Faiha jadi bergidik ngeri membayangkan yang iya iya. Pikiran Faiha mulai terkontaminasi oleh ucapan absurd mama Malika.
"Ee—malah bengong dia."
"Aaaahhh–"
Bersambung
__ADS_1
.