Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
07. Anak Abiseka Jayendra


__ADS_3

"Malam ini kamu akan mulai bekerja menjadi kekasih dan calon istriku!"


"Ma-malam ini?"


Pasrah dan bersabar.Ya, hanya itulah yang bisa Faiha lakukan saat ini. Abiseka memerintahkan sang asisten untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan super kilat.


"Nona Faiha."


"Iya, Pak Heru."


"Setelah ini, Nona ikut dengan saya."


"Baik."


Heru membawa Faiha ke sebuah butik, setelah itu ke salon. Faiha sudah menjelma menjadi seorang lady yang tampak begitu anggun dengan gaun berwarna pink fanta dibawah lutut. Faiha tidak bisa mengenakan high heels jadi ia hanya mengenakan flat shoes.


Sebelumnya Faiha telah mengabari bulek Lastri bahwa ia akan pulang telat dengan alasan sedang ada acara di perusahaan.


Tepat pukul 19.00 WIB, mereka tiba di kediaman keluarga Jayendra. Memasuki gerbang tinggi nan kokoh di kanan kiri sepanjang jalan tampak berbagai tanaman serta bunga-bunga nan indah yang apa bila di lihat pada siang hari tenti saja akan tampak indah di pandang mata.


Abiseka telah memberikan berbagai arahan tepatnya sebuah perintah yang harus di patuhi ketika nanti bertemu dengan kedua orang tuanya. Faiha pun mematuhinya dengan beberapa kali mengangguk tanda mengerti.


"Ayo, cepat turun dan pegang tanganku!" Abiseka mengulurkan tangannya dan menyuruh Faiha agar segera meraihnya.Dengan ragu jari jemari munhilnya itu pun menyentuh telapak tangan besar milik Abiseka.


Grep


"Eh..."


Gadis itu terjingkat ketika merasakan genggaman erat tangan Abiseka serasa tak nyata.


Mereka melangkah beriringan memasuki rumah megah tersebut. Degup jantung Faiha bertalu-talu tiada henti, ia begitu gugup tepatnya rasa takut yang semakin dominan menguasai pikirannya.


"Hh, apa harus ya berpegangan tangan segala, seperti mau menyebrang jalan saja. Pintar sekali bersandiwara ya si kanebo garing ini."


Samar-samar terdengar suara Tuan Aryan dan Nyonya Malika serta suara satu orang lagi yang begitu familiar bagi Abiseka.

__ADS_1


"Iya benar Mom, katanya malam ini Abi akan memberikan kejutan untuk kita semua." Tuan Aryan berbicara pada sang bunda.


"Kejutan? ada-ada saja itu anak, awas saja kalau sampai mengecewakan.Sebenarnya apa..."


Assalamuallaikum. Pa, Ma dan Eyang. Selamat malam."


"Malam." Jawab ketiganya berbarengan.


Abiseka menghampiri dan menyalimi satu persatu. Sedangkan Faiha tetap berdiri mematung.Ia bingung harus berbuat apa dan sepertinya lebih baik menunggu perintah Abiseka selanjutnya.


"Kesini sayang, kenapa malah bengong di situ. Kenalkan ini Papa Aryan, Mama Malika dan Eyang Retno."


Akhirnya Abiseka pun memberi isyarat untuk memulai sandiwara mereka, tepatnya Faiha harus segera melakukan pekerjaannya dengan baik dan benar sealami mungkin jangan sampai menimbulkan kecurigaan.


"I-iya, Tu...eh, baik." Faiha bingung harus memanggil Abiseka dengan sebutan apa. Sepertinya si Abi lupa dengan.hal yang satu itu. Ingin memanggil tuan pasti akan mencurigakan, apalagi om, atau boss bisa langsung di hempaskan Faiha dari muka bumi oleh sang boss.


Enam pasang mata menatap Faiha dengan berbagai praduga dan rasa curiga. Seakan tak percaya ada sosok mungil nan imut berada yang hadapan mereka saat ini.Tiba-tiba Nyonya Malika berdiri lalu menghampiri Faiha dan tanpa ragu mengelus pipi chubby gadis imut itu.


"Aih, cantik sekali kamu nak.Siapa namamu?" Wajah berbinar jelas tampak di wajah cantik wanita paruh baya tersebut.


"Nama yang cantik secantik orangnya.Sini duduk,sayang di dekat Uti." Sontak Faiha dan Abiseka terkejut dengan ucapan Nyonya Malika.


"Uti?jangan-jangan?"


Faiha merasa sepertinya ada yang tidak beres tapi, semoga hal yang ada di pikirannya itu tidak benar.


"Uti, maksudnya?"


"Iya, panggil aku Uti Malika dan ini Kakung Aryan.Dan yang itu Eyang Retno mommy dari Kakung Aryan."


"Ayo salim sama mereka."


Dengan rasa canggung dan campur aduk, Faiha pun hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan Nyonya Malika.Perasaan Faiha semakin tak karuan, jangan-jangan benar jika, Nyonya Malika mengira ia adalah...Ah, Faiha jadi semakin takut.


Setelah menyalimi satu persatu, kemudian Faiha duduk kembali di sebelah Nyonya Malika. Faiha menoleh ke arah Abiseka dan manik mata mereka saling bertemu pandang. Raut wajah Abiseka sudah memerah dan menatap tajam Faiha.Membuat gadis itu bergidik ngeri.

__ADS_1


"Sebentar, Mama sepertinya telah salah faham. Faiha ini adalah..."


"Anak kamu kan,Bi? Kami tidak menyangka jika, kamu akan memberikan sebuah kejutan yang begitu menakjubkan seperti ini, nak." Kali ini Tuan Aryan yang berucap dengan begitu antusias.


Jadi benar saja mereka malah menganggap Faiha adalah anak dari Abiseka Jayendra. Kepala Abiseka tiba-tiba berdenyut dan menahan kekesalannya. Sepertinya ia telah salah memilih perempuan yang akan di jadikan calon istri pura-pura-nya itu.


"Ma, Pa..."


"Sudahlah, Abi. Kami tidak akan marah dan justru sangat bersyukur tak menyangka kalau mendapatkan cucu secepat ini. Bahkan sudah sebesar ini, gadis yang sangat cantik dan imut menggemaskan."


Kali ini Eyang Retno pun tak mau kalah, wanita sepuh itu ikut merasakan uporia yang begitu membahagiakan bagi mereka.Yaitu dengan hadirnya seorang penerus Jayendra Group.


"Iya ya, Mom. Pantas saja selama ini Abi tidak mau di jodohkan dengan gadis manapun. Ternyata karena ini,toh.Lalu, dimana ibunya Faiha?kenapa kamu tidak mengajaknya turut serta." Nyonya Malika


Keringat dingin telah membasahi wajah dan di sekujur tubuh Faiha. Bingung dan cangujng akan situasi yang sufah melenceng jauh di luar rencananya bersama Abiseka. Bukannya menjadi calon istri ini malah dianggap sebagai anak Abiseka.


Faiha menatap kearah Abiseka memberi isyarat agar laki-laki itu segera meluruskan kesalah fahaman yang tengah terjadi saat ini.


Namun, berbeda dengan Faiha. Abiseka justru menatap gadis itu dengan begitu menusuk hingga membuat Faiha kikuk tak bisa berkutik. Tatapan kemarahan dari sang boss kepada bawahannya yang bekerja tidak becus. Bayang-bayang pemecatan pun telah di rasakan oleh Faiha.


"ABI, kenapa kamu menatap putrimu seperti itu?sungguh tidak pantas." Eyang Retno ternyata memperhatikan tingkah laku keduanya yang terlihat janggal.


"Bukan begitu Eyang, kalian salah faham.Faiha ini bukan anakku tapi, calon istriku."


"APAA?!"


"Kamu ini jangan bercanda ya, Bi. Mempermainkan hal sepenting ini." Tuan Aryan tak percaya begitu saja dengan fakta yang di ucapkan oleh sang putra.


"Aku mengatakan yang sebenar-benarnya.Faiha ini adalah calon pendamping hidupku dan yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak, Pa,Ma,Eyang."


Situasi menjadi tegang dan semua mata kini menatap pada sosok Faiha yang terlihat tegang dan kaku bak sebuah patung.


"Apa sekarang kamu menjadi seorang Pedofilia, Bi?"


Bersambung

__ADS_1


Hai-hai, saya kembali lagi dengan cerita terbaru semoga kalian suka ya. Jangan lupa like dan komennya . Terima kasih.


__ADS_2