
Acara syukuran dan makan malam bersama yang diselenggarakan oleh keluarga Jayendra berlangsung lancar dan suasana penuh keakraban antar keluarga dan kerabat dekat serta para sahabat pun membuat hati tenang dan nyaman. Indah dipandang mata.
Begitu pun dengan sosok pria dewasa berparas tampan dan bertubuh tinggi kekar tatapannya tetap fokus pada satu titik yaitu Asri, gadis yang telah mencuri perhatiannya sejak pertama kali mereka bertemu.
"Ehemm, sebentar lagi tu bola mata bakal ngegelinding deh kayaknya. Tatap terus jangan sampe lepas! Dah lah Fer, mending langsung lo tembak aja sekarang dari pada nanti keburu keduluan orang lain. Tuh...lihat!" Abiseka memanas-manasi Ferdy dengan menunjuk ke arah Asri yang tengah berbicara akrab dengan Anwar, adik iparnya.
Sesaat Ferdy masih belum menangggapi serius perkataan Abiseka karena laki-laki itu hanya fokus dengan khayalannya saja. Tapi, ketika melihat kenyataan didepan mata bahwa sang gadis tengah asik berbincang dengan laki-laki lain tiba-tiba membuatnya tak suka.
"Pemuda itu adiknya Faiha kan? dan kalau tidak salah namanya Anwar. Benar bukan?" Ya, Ferdy memang pernah bertemu dengan Anwar beberapa kali.
"Waduh Fer, saingan lo berat juga nih. Lebih muda, kalau ganteng sih ya 11-12 lah. Ah, tapi kan lo pernah bilang ya ngak tertarik sama daun muda karena merepotkan saja. Ingat ngak lo pernah ngomong seperti itu?" Kali ini Andre yang baru saja ikut nimbrung jadi antusias mengompori sahabatnya itu.
Mama Malika dari jauh memberi ancungan jempol pada Abiseka dan Andre.
"Ma, mama sedang apa?" Faiha menegur ibu mertuanya yang ia perhatikan sejak tadi seperti tengah mengawasi sesuatu tepatnya seseorang. Kali ini apa lagi yang sedang di rencanakan oleh mama Malika.
"Eh, enggak kok. Cuma mama sedang menjalankan misi percintaan untuk Ferdy."
Faiha mengerutkan keningnya, "misi percintaan buat kak Ferdy, Maksud mama?"
Kemudian mama Malika menunjuk kearah Asri yang tengah mengobrol dengan Anwar. "Tuh, bakal calon untuk Ferdy.Gimana menurut kamu, cocok kan mereka?"
"Apa Asri nya mau ma sama kak Ferdy, secara Asri itu kan masih muda banget. Masa' mau dijodohin sama om-om." Faiha tidak sadar akan ucapannya, padahal dia sendiri juga menikah dengan om-om malah sekarang sudah memiliki 2 anak kembar.
Mama Malika menepuk paha Faiha."Hus...memangnya kamu ngak sadar kalau kamu juga menikah sama om-om, om Abiseka Jayendra. Lah, bahkan adikmu Hani malah nikah sama om-om juga, kan. Om Andre. Jangan pesimis dulu, mama akan comblangin mereka siapa tahu jodoh."
"Iya deh, terserah mama saja. Tapi, kalau dipikir-pikir kasihan juga ya ma sama kak Ferdy. Umurnya sudah tua...eh, maksudku sudah matang tapi belum juga memiliki pasangan hidup.Semoga misi mama berhasil deh." Faiha mengacungkan jempolnya pada sang ibu mertua.
Anwar dan Asri terlihat begitu asik mengobrol, tanpa mereka ketahui jika ada yang tengah terbakar hatinya.Sesekali mereka tampak saling tertawa renyah. Semakin tak karuanlah si Ferdy dibuatnya.
"Asri, nanti kamu pulang bareng siapa?" Tanya Anwar
"Belum tahu sih. Tapi, tadi aku datang bareng Hani dan om Andre. Memangnya kenapa?" Tanya balik Asri
"Gimana kalau pulang nanti aku yang akan mengantarmu?"
"Tapi, Mas. Nanti aku enggak enak sama Hani. Lagi pula juga arah rumah kita berbeda, nanti malah merepotkan mas saja." Asri menolak halus tawaran dari Anwar.
Anwar pun hanya mengangguk dan menampilkan senyum yang dipaksakan. Apakah Anwar naksir juga pada Asri?
__ADS_1
"Mas, aku permisi sebentar ya mau ke toilet." Anwar pun mengangguk dan mempersilahkannya.
"Oh iya, silahkan. Apa perlu aku antar? Eh...bercanda As." Anwar mengibas-ngibaskan telapak tangannya, sepertinya ia telah salah bicara. Karena ia melihat mimik wajah Asri tampak kikuk.
Asri segera beranjak segera menuju ke toilet, untuk menuntaskan panggilan alam nya. Saat gadis itu celingak celinguk mencari keberadaan kamar kecil, mama Malika tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Wanita paruh baya itu gegas menghampiri Asri.
"Loh, nak Asri sedang apa? Apa ada yang kamu butuhkan?" Asri sontak menoleh ketika pundaknya ada yang menyentuh.
"Eh, tante. Maaf, saya ingin izin kebelakang. Emm...toiletnya dimana ya tante?" Asri bertanya dengan rasa sungkan.
"Ayo mama antar!" Mama Malika langsung merangkul lengan Asri melangkah menuju ke lantai atas, membuat gadis itu jadi bingung.Nanun, ia tidak berani berkomentar.
Sebenarnya mama Malika sengaja mengulur waktu dengan mengajak Asri ke lantai atas. Wanita paruh baya itu ingin mencari tahu lebih dalam tentang gadis tersebut.
"Kamar mandinya ada didalam kamar ini. Masuklah, mama akan menemanimu."
Asri tampak ragu, berhubung ia sudah tak tahan karena sejak tadi telah menahan pipis. Akhirnya Asri pun menurut saja dan segera masuk kedalam kamar mandi. Mama Malika menunggunya sambil duduk di tepi ranjang.
"Loh, kok–pintunya ngak bisa dibuka? Kenapa ini ya?"
Dugh dugh dugh
"Kenapa tante Malika diam saja? Apa jangan-jangan dia meninggalkanku sendiri disini. Aduh...bagaimana ini? Mana ngak bawa handphone lagi."
Tak terasa telah larut malam, satu persatu telah pamit undur diri. Hanya tersisa Hani dan suaminya Andre serta Ferdy yang masih serius berbincang dengan Abiseka. Kedua pria itu jika sudah membicarakan tentang bisnis pasti sampai lupa waktu.
Mama Malika memberi kode pada Faiha agar mengajak Abiseka pergi kekamar. Ia ingin segera menjalankan misinya.
"Ferdy, bisa tolong antarkan tas milik Asri ini!" Mama Malika menyerahkan tas selempang milik Asri ketangan Ferdy.
"Memangnya si Asrinya ada dimana, tan? Sejak tadi aku tak menlihatnya."
"Iya, tante lupa. Tadi dia izin ke kamar mandi. Berhubung toilet yang dibawah sedang rusak jadi, ya tante suruh saja ke atas. Tolong ya Fer, ini tante soalnya masih harus beres-beres. Itu kamar tamu yang di pojok kanan. Kamu sudah tahu kan?" Ferdy memang sudah hafal seluk beluk rumah sahabatnya itu. Bahkan sejak masih remaja ia dan Andre sering menginap.
"Oke tan, kalau begitu aku keatas ya ."
"Hemm, sekalian kamu ajak dia turun ya!"
Tanpa mengetuk pintu Ferdy langsung masuk kedalam dan mencari keberadaan Asri. Akan tetapi ia tak menemukan gadis itu. Hingga terdengar suara gedoran pintu kamar mandi dan teriakkan seseorang yang dikenalinya.
__ADS_1
"Itu seperti suara Asri? Apa dia terkunci didalam kamar mandi." Segera mendekat kearah pintu.
"Asri–apa itu kamu?" Ferdy menempelkan telinganya pada daun pintu.
Asri yang mendengar suara seseorang yang memanggilnya akhirnya merasa lega. Karena sudah hampir setengah jam ia terkunci didalam kamar mandi itu.
"Siapa? Iya ini saya Asri. Bisakah tolong bukakan pintunya."
"huh, Akhirnya selamat juga. Terima kasih ya Allah engkau datangkan penyelamat untukku." Asri merasa sangat lega karena akhirnya ada yang menolongnya.
"Oke, sabar ya. Aku akan membukanya."
Ceklekk
"Alhamdulillah, terima kasih...eh, om Fe–rdy ya." Asri sempat kaget ternyata orang yang menolongnya adalah Ferdy.
"Kenapa kamu bisa sampai terkunci?"
"Saya sendiri tidak tahu, om.Sekali lagi terima kasih telah menolong saya. Itu–." Asri menunjuk tas miliknya yang tengah.dipegang oleh Ferdy.
"Oh iya, ini tas kamu kan? Sejak tadi aku mencari keberadaanmu. Aku kira kamu sudah pulang. Soalnya Andre dan istrinya sudah pulang."
"Me–mereka sudah pulang? Loh, kok aku ditinggal. Hani bagaimana sih."
Ferdy menyadari akan kegundahan hati gadis itu. Apalagi saat ini sudah mendekati pukul 11 malam. Pastinya Asri sangat bingung bagaimana ia akan pulang. Ferdy pun berinisiatif menawarkan diri untuk mengatarkannya.
"Dek Asri.Kalau tidak keberatan, aku bersedia mengantarkanmu pulang. Tidak aman seorang gadis secantik kamu berada dijalan sendirian."
"Apa tidak merepotkan om Ferdy?" Asri agak malu karena barusan Ferdy mengatakannya cantik. Ferdy adalah pria pertama yang bilang ia cantik.
"Sama sekali tidak. Ayo, sebaiknya kita pamitan sekarang!"
Mereka pun melangkah beriringan dan pada saat melihat pintu kamar yang tertutup membuat Ferdy mengernyit bingung. Setahunya tadi ia tidak menutup pintu itu.
Ferdy meraih gagang pintu dan memutarnya. Akan tetapi pintu itu tidak bisa dibuka. Apakah ini dejavu. Asri jadi merasakan terkunci untuk kedua kalinya. Bedanya saat ini Asri tidak sendiri. Melainkan terkurung bersama dengan seorang pria dewasa.Tiba-tiba pikiran negatif muncul di benaknya.
"Aduh, bagaimana ini. Aku takut sekali."
"Jangan takut, ada aku disini."
__ADS_1
Bersambung