
"Ehem—jadi, apa yang ingin lo bicarakan?"
Saat ini mereka sudah berada di sebuah cafe yang masih berada di area hotel atmosfir di antara keduanya tampak tegang. Duduk saling berhadapan dengan sorot mata tajam.
"Apa telah terjadi sesuatu denģan nona Faiha, lo bilang tadi dia harus beristirahat di kamar?lo ngak ngapa-ngapain dia kan, Bi?"
"Maksud lo?" Abiseka mengerutkan keningnya heran dengan pertanyaan Andre seolah tengah mencurigainya.
"oke, gue langsung to the point aja ya. Apa kalian semalam melakukannya?ralat, apa lo sudah menyentuhnya?"
"Kenapa lo bisa berpikiran seperti itu?jadi, soal ini yang ingin lo bicarakan. Oke, gue memang sudah menyentuhnya dan itu kami lakukan karena kami adalah pasangan suami istri, wajar kan.gue jiga ngak ada memaksanya sama sekali. Dan asal lo tahu kalau kami sama-sama menikmatinya." Sengaja berkata frontal agar Andre tahu diri dan tak mencampuri lagi urusan pribadinya.
"Benarkah itu? Gue kok sanksi ya, sebab setahu gue lo pernah bilang kalau Faiha bukanlah tipe cewek ideal buat lo.Trus kenapa sekarang jadi berubah gini?" Masih tetap tidak percaya kalau Abiseka telah berubah, Andre takut kalau Faiha hanya di jadikan pelampiasan hasrat Abiseka saja.
"Ya udah kalau memang lo ngak percaya. Gue ngak perduli, yang penting sekarang hubungan gue sama Faiha sudah berubah dan tidak seperti waktu yang lalu.Intinya, Faiha sudah menjadi istri seutuhnya buat gue dan gu3 harap lo ngak usah kepo lagi sama urusan rumah tangga kami.Lo ngerti kan,Ndre?"
Andre sudah tak bisa berkata apa pun lagi. Semuanya kini sudah jelas dan apa yang didengarnya malam tadi adalah benar adanya. Percintaan mereka jelas begitu menggebu sampai mereka tidak sadar bahwa orang lain akan mendengarnya. Dan...bang, Andre lah yang menjadi saksi bisu pergulatan pasangan suami istri itu.
"Baiklah, gue percaya. Sorry bro. Gue ngak ada maksud apa-apa. Hanya saja jika lo cuma menjadikannya sebatas pelampiasan lo saja, gue ngak terima karena lo akan menyakiti gadis sepolos Faiha.Dan selamat, Bi. Semoga pernikahan kalian akan langgeng sampai kakek nenek."
"Oke, gue juga sekalian mau pamit. Besok pagi gue balik ke Jakarta. Ngomong-ngomong sampai kapan kalian akan berada di Paris?" Andre mulai bisa menerima kenyataan yang begitu meresahkan hatinya. Namun, ia harus menerimanya dengan lapang dada. Ya, Faiha bukanlah jodohnya. Padahal sejak pertama kali bertemu dengan Faiha ia sedah jatuh kedalam pesona gadis bertubuh mungil yang ceria dan menggemaskan.
"Kami akan menghabiskan waktu seminggu di sini. Menikmati bulan madu yang sesungguhnya." Sengaja.berkata demikian, ingin tahu bagaimana reaksi Andre.
__ADS_1
"Oh, oke. have fun. Salam buat istri lo ya!" Tersenyum kaku terlihat di paksakan. Abiseka bisa membacanya.
"Oke—selamat jalan. Nanti akan.gue sampaikan pada istri gue." Sengaja menekankan kata istri yang artinya Andre harus sadar tidak boleh memiliki rasa pada istri dari sahabatnya sendiri.
Perbincangan mereka pun akhirnya berakhir damai dan Andre akan berusaha menghilangkan rasa yang telah ia sematkan dihatinya sejak pandangan pertama dengan gadis mungil itu.
"Kalau begitu, gue balik ke hotel dan sampai bertemu di Jakarta." Mereka pun saling berjabat tangan dan menepuk bahu satu sama lain.
Tak terasa sudah hampir sepekan mereka berbulan madu dan esok hari mereka akan kembali ke Jakarta. Malam harinya, Faiha sibuk mengepak pakaiannya dan juga milik sang suami. Abiseka sedang berada di dalam kamar mandi. Faiha bingung bagaimana caranya membawa semua barang-barang yang tadi siang mereka beli.Yaitu berbagai oleh-oleh untuk seluruh anggota keluarga Abiseka juga keluarga Faiha tentunya.
"Duh, ini trus besok gimana cara bawanya? Kenapa baru sadar kalau ternyata kami berbelanja sebanyak ini"
"Ada apa sayang, kenapa? Sedih ya kita akan pulang ke
Indonesia, apa kita perpanjang saja bulan madu kita.Mumpung tidak ada yang mengganggu, kita bisa sepuasnya mencetak anak kapanpun kita mau."
Sekarang Faiha sudah merubah panggilannya terhadap suaminya dan cara berbicaranya pun sudah tak sekaku dan seformal seperti dulu. Abiseka malah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Faiha yang terdengar sangat lucu.
"Mentok ya. Yang jalannya s**y itu? Bagus dong, kenapa malu. Di jamin mama pasti bakal kesenengan sampai jungkir balik membayangkan saat kita sedang membuatkan cucu untuk mereka." Menaik turunkan alisnya dan tersenyum menggoda.
"Ish, dasar suami mesum. Ibu dan anak ternyata sama saja, 11 - 12. Kenapa bukan sifat papa Aryan saja aih yang menurun pada mas? Kalau mama Malika sungguh mengerikan."Lagi-lagi ucapan Faiha membuat Abiseka tak bisa menahan tawanya.
"Kamu ngak tahu saja gimana papa yang sebenarnya. Kamu kira mama seperti itu akibat perbuatan siapa? Ya pasti papa lah pelakunya. Kata eyang, mama itu dulunya juga sama seperti kamu, lugu dan polos. Begitu nikah sama papa langsung berubah jadi seperti itu. Ngak nyangka kan, kamu.Maka dari itu bersiap-siaplah!"
__ADS_1
"Bersiap untuk apa?" Faiha menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Bersiap untuk berubah seperti mama yang super...woww!hahaha."
"Hii–ngak bakalan dan tidak akan mungkin terjadi. Sudah, ayo sini bantuin lah, mas!" Merajuk karena sejak tadi hanya Faiha sendiri yang mengepak semua barang-barang.
"Iya iya, sayangku manisku. Jangan merajuk ya. Bentar, mas pakai baju dulu. Nanti setelahnya mas dapat upah apa, dong?" Setelah mengenakan pakaian lengkap, Abiseka bergegas membantu istri mungilnya. Dan ucapan ambigunya barusan langsung mendapatkan pelototan dari Faiha.
"Enggak ada upah-upahan.Selesai ini aku mau langsung tidur dan no olahraga malam. Besok saja di rumah."
"What? Sayang, jangan gitu dong. Ini kan malam terakhir kiita di Paris. Masa' kita tidak membuat kenangan manis dan panas.Masa' suami tampanmu ini dianggurin begitu saja, sayang kan." Memasang wajah memelas agar istrinya luluh dan berubah pikiran.
"Pokoknya enggak ya tetap enggak. Apa mas ngak bosen apa tiap hari begituan terus? Korbannya nih!" Menunjuk dirinya sendiri.
"Kok korban sih, sayang. Korban kok malah ketagihan, minta lagi dan lagi?"
"Aduhh–sakit, sayang. Dari pada gabut, mending kita cubit mencubit yang lain, yuk. Cubitan asik dan nikmat.Errrr–."
"No way. Udah ah, aku tidur duluan ya mas. Kalau memang mas mau main, main sendirian aja. Bisa kan?" Menjnggalkan sang suami beranjak naik ke tempat tidur.
"Tidak semudah itu Ferguso!"
" Aakhh–mas Abiiiii...!!!
__ADS_1
Dan acara bobo manis Faiha gagal-lah sudah akibat gangguan dari si macan kumbang yang tengah mengamuk. Akhirnya Faiha di terkam habis oleh Abiseka sampai terkapar tak berdaya.
Bersambung