
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Faiha baru saja menyelesaikan tugasnya. Saat kembali ke pantry rekan-rekannya yang lain sedang makan siang bersama. Kedatangan Faiha sama sekali tak indahkan oleh yang lainnya kecuali, Susan yang memang lebih ngemong di antara mereka.
"Eh, Faiha. Sudah rampung kerjaanmu?" Susan yang menegur Faiha sedang yang lain tampak cuek tak perduli akan keberadaannya.
"Sudah,mbak."
"Apa kamu sudah makan siang? Wajahmu kok kelihatan pucat, apa kamu sedang tidak enak badan, Fai?"
Susan bangkit dan menghampiri Faiha yang masih berdiri di depan pintu dengan dahi yang sudah berkeringat dan wajah pucat pasi. Susan mengusap keringat didahi Faiha dan memeriksa keadaannya.
"Aku ngak apa-apa kok, mbak. Mungkin karena belum makan siang jadi agak gemetaran ini."
"Ya ampun, Fai. Kerja ya kerja tapi, kalau sudah waktunya istirahat ya makan dulu. Kerjaan bisa di lanjutkan nanti,kan. Ayo, sini duduk. Mbak tadi sengaja membeli double ayam geprek kesukaan kamu. Ini...cepat dimakan!"
Susan menyerahkan sebuah kotak storofoam kehadapan Faiha. Melihat Faiha yang di perlakukan biasa saja oleh Susan membuat yang lainnya tak suka. Sontak mereka satu persatu beranjak pergi meninggalkan Faiha dan Susan tanpa berkata sepatah katapun.
"Mbak, ini...uangnya." Faiha menyerahkan selembar uang pecahan dua puluh ribuan pada Susan.
"Apa ini? Kayak sama siapa saja Fai kamu ini. Ngak usah diganti anggap saja hari ini mbak yang traktir kamu. Ayo, cepatan di makan. Nanti keburu ada yang memanggil malah ngak jadi makan. Tambah masuk angin nanti kamu." Susan mengambil uang tersebut dan memasukkan nya lagi ke saku baju Faiha.
"Beneran nih, mbak. Terima kasih ya."
"Iya, sama-sama."
Faiha pun mulai menyantap makanannya ditemani oleh Susan. Namun, tak berapa lama tersengar suara panggilan dari telepon pantry. Susan pun gegas mengangkatnya.
"Iya, ada yang bisa saya bantu Bu?"
"Oh, baik...akan saya buatkan." Setelah menutup panggilan tersebut, Susan menuju ke kitchen set hendak membuatkan minuman. Entah siapa yang barusan memintanya.
"Siapa mbak?"
"Oh, itu bu Dina. Minta di buatkan dua cangkir teh dan kopi untuk tamunya si boss."
"Tamu? Siapa mbak?" tanya Faiha
"Ya mana aku tahu, Fai siapa tamu beliau. Sudah, kamu lanjutkan saja makanmu. Setelah itu istirahatlah dulu!"
"Iya mbak." Faiha melanjutkan makannya lagi setelahnya ia memang ingin rehat sejenak, kepalanya agak terasa pusing. Sedangkan Susan sudah keluar dengan membawa pesanan minuman ke ruangan Ceo.
Di ruangan pantry ada sebuah sofa dan Faiha saat ini tengah merebahkan tubuhnya.
Krettt
"Permisi nona Faiha."
Suara seseorang tiba-tiba memanggilnya dan Faiha yang hanya rebahan tidak sampai tertidur, tentu saja mendengarnya dan langsung membuka mata dan bangun dengan posisi duduk.
"Ternyata anda, pak Heru. Iya, ada apa ya pak?"
__ADS_1
"Maaf nona, tolong jangan memanggil saya dengan sebutan pak. Nanti tuan Abiseka akan marah pada saya."
"Dia tidak ada disini dan ini masih di lingkungan kantor jadi, rasanya tidak sopan kalau hanya memanggil anda.dengan nama saja."
"Baiklah kalau itu yang anda inginkan. Maaf, nona...Tuan Abiseka sudah menunggu anda di ruangannya.Mari–!" Heru mempersilahkan Faiha untuk berjalan didepannya.
"Tunggu! Bukankah mas Abi sedang ada tamu, lalu untuk apa memanggilku ke ruanagannya? Apa nanti tidak akan menjadi bahan pergunjingan para karyawan lainnya, pak. Lebih baik nanti saja aku akan kesana kalau tamunya mas Abi sudah pergi."
Faiha menolak untuk ikut dan ingin berbalik kembali ke pantry. Namun, perkataan Heru berikutnya membuat Faiha sontak menghentikan langkahnya.
"Tapi, tamu itu adalah Nyonya Malika. Apa anda tidak ingin menemuinya?"
"Ah, pak Heru nih. Kenapa ngak bilang dari tadi sih kalau tamunya itu mama Malika. Ya sudah, aku akan kesana sekarang. Eh...tapi, aku harus ganti seragam ini dulu. Nanti mama Malika bisa curiga." Faiha ingin kembali ke pantry untuk berganti pakaian yang dikenakannya.
"Nona Faiha, itu...nyonya Malika bilang anda tidak perlu berganti baju?"
Faiha menatap Heru bingung. Apa maksudnya mama Malika melarangnya untuk mengganti pakaiannya? Tiba-tiba perasaan Faiha tidak enak. Apa sesuatu telah terjadi? Lalu, reaksi apa yang akan diperlihatkan mama malika jika melihat dirinya dengan seragam OG. Faiha menghembuskan nafas panjang lalu melanjutkan langkahnya yang di ikuti Heru dibelakangnya.
"Permisi Nyonya, Tuan. Nona Faiha sudah datang." Heru terlebih dahulu memberitahukan kedatangan Faiha.
"Hem–suruh dia masuk!"
"Baik, Nyonya."
"Nona Faiha, silahkan...anda dipersilahkan masuk oleh Nyonya."
Dada Faiha berdebar-debar tiada henti. Entah mengapa feeling-nya benar-benar tak baik. Dengan langkah perlahan Faiha memasuki ruang kerja suaminya dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah sosok Mama Malika yang tengah duduk bersandar di sofa dengan suaminya yang juga duduk tak jauh dari mama Malika.
Menyuruh Faiha untuk duduk dengan ekspresi datar dan sikap yang dingin.
"A-ada apa ya Ma?" Bertanya, sekilas melihat kearah suaminya.
"Ada apa ya? Hm...jadi OG yang digosipkan ada main sama kamu itu Faiha.Tapi, mengapa kalian membohongi kami semua? Jelaskan padaku!"
Faiha yang bingung siapa yang diperintah mama Malika untuk berbicara hanya diam saja.Membuat mama Malika semakin gemas dengan keduanya.
"Kenapa malah diam? iya kamu, katakan yang sejujurnya apa tujuan kamu mau dinikahi Abi lalu masuk kedalam keluarga Jayendra?"
"Ma–maksud mama apa?"
"Maksudku? Baiklah, sepertinya kalian belum paham juga maksud dari pertanyaanku."
"Mama sudah tahu semua sandiwara kalian. Bisa-bisanya kalian mempermainkan sebuah pernikahan yang sakral.Jadi, itu semua terjadi hanya karena uang...itu kan salah satu alasannya kalian menikah."
"Apa yang mama katakan memang benar.Tapi, dari mana mama tahu semuanya? Siapa yang mengatakannya pada mama, apakah Andre atau jangan-jangan...Ferdy, ya pasti dia kan,ma."
Abiseka sudah bisa menebak siapa pelakunya tidak lain ialah salah satu dari kedua sahabatnya itu.
"Tidak penting dari mana dan siapa yang mengatakannya pada mama.Permasalahannya saat ini adalah perbuatan kalian yang sangat keterlaluan. Untuk apa menikah kontrak segala? Apa sudah tidak ada gadis yang mau denganmu lagi apa, sampai kamu memanfaatkan kesusahan orang lain. Atau jangan-jangan sebenarnya Faiha juga memang memiliki tujuan tertentu?"
__ADS_1
"Maksud mama apa? Maaf ma, aku tidak pernah memiliki tujuan apapun ketika memutuskan untuk menerima pernikahan ini. Dan untuk masalah hutang piutang aku pada mas Abi, aku akan tetap melunasinya, walau akan memakan waktu yang cukup lama. Aku akan tetap berusaha semampuku, ma. Itulah sebabnya aku tetap bekerja di Jayendra Group. Maaf kalau mama merasa tidak terima akan semua ini. Lalu, sekarang apa yang mama inginkan?"
Faiha mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi agar ibu mertuanya itu tak berpikir negatif tentang dirinya.
"Baiklah, kalian ingin tahu apa yang mama inginkan? pertanyaan pertama...kapan kontrak pernikahan kalian akan berakhir?"
Abiseka dan Faiha terbelalak mendengar pertanyaan itu. Dengan tegas Abiseka pun mengatakan kalau pernikahan mereka tidak akan pernah berakhir dan.perjanjian yang dulu pernah mereka sepakati telah di batalkan.Kini mereka telah berkomitmen akan menjalani rumah tangga sebaik-baiknya. Tanpa ada drama kepura-puraan lagi.
"Ma, kami tidak akan pernah mengakhiri pernikahan ini dan perjanjian itu sudah dibatalkan. Sekarang kami telah sepakat akan menjalani rumah tangga ini dengan sungguh-sungguh tanpa adanya kebohongan apapun. Aku harap mama bisa menerimanya dan tidak mem-permasalahkannya lagi." Abiseka meminta pengertian pada sang mama.
"Hemm–oke, Faiha...sekarang juga kemasi barang-barangmu dari sini. Ikut mama!"
"Kenapa malah diam? Ayo, cepat...mama tunggu 10 menit!"
"I‐iya ma, sebentar." Faiha segera bergegas menuju ke pantry dan membereskan semua barang-barangnya.
Di pantry, semuanya menatap sinis pada Faiha. Mereka berspekulasi kalau Faiha sudah di depak dari perusahaan akibat dari skandalnya dengan sang Ceo.
"Cih–akhirnya di pecat juga kan, dia.Lagian berani sekali bermain api dengan suami orang lagi. Ngak malu ya, padahal kan dia.sendiri sudah menikah. Apa suaminya itu tidak menservice nya dengan baik atau karena kurang kaya? Cewek matre dong." Itu Lia si lemes yang selalu bicara ceplas ceplos tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"Diam kamu, Lia. Jangan sok tahu kamu. Faiha bukan gafis semacam itu." Susan membentak Lia yang bermulut pedas. Sedangkan Ardi, pemuda itu hanya menatap Faiha dalam diam.
"Ngak apa-apa, mbak. Aku pamit ya mbak...semuanya. Maaf kalau selama ini aku punya salah sama kalian.Permisi."
"Fai, yang sabar ya dek. Semua pasti akan baik-baik saja. Mbak yakin kamu bukanlah gadis seperti itu." Mengusap bahu Faiha lalu memeluk tubuh mungil Faiha memberi kekuatan padanya.
"Terima kasih ya, mbak. Aku pamit. Assalamuallaikum."
"Wa'allaikum salam. Fai, jangan lupa telepon mbak ya!" Faiha pun tersenyum dan mengangguk.Kemudian segera beranjak pergi.
Setelah kembali ke ruangan Abiseka, mama Malika langsung menarik tangan Faiha melangkah pergi tak menghiraukan Abiseka yang terus berteriak memanggil sang istri untuk tidak meninggalkannya. Namun, itu sama sekali tak mempan pada mama Malika. Wanita paruh baya itu seakan tuli tak mendengar permohonan putranya.
"Sayang, jangan pergi...jangan mau ikut mama! Ma...mau dibawa kemana istriku? Mama ngak bisa melakukan ini pada kami. Berhenti ma, Faiha sayang...berhenti, jangan tinghalkan mas!"
Abiseka terus mengejar sang mama yang melangkah cepat sambil menggenggam erat tangan Faiha sampai terjadilah tarik menarik antara ibu dan anak yang memperebutkan Faiha. Dan pemenangnya tentu saja mama Malika. The strong mowen.
"Ma, jangan bawa Faiha...dia adalah istriku. Mama ngak berhak menculiknya."
"Ngak perduli. Ayo, cepay naik!" Sesampainya.di lobby kantor dan mobil mama Malika telah tiba. Mama malika langsung menggiring Faiha untuk masuk kedalam mobil. Setelahnya segera tancap gas tak memperdulikan Abiseka yang terus berteriak keras.
"MA,MAMA...JANGAN BAWA ISTRIKU. FAIHA SAYANG...JANGAN TINGGALKAN MAS SENDIRI!"
Abiseka langsung menghubungi Heru untuk mengejar mama Malika yang membawa kabur istrinya entah kemana.
Para karyawan pun hanya menonton kejadian dramatis itu. Sambil saling berbisik. Mereka tak menyangka kalau Faiha yang mereka kenal sebagai OG adalah istri dari Ceo Jayendra Group.Jadi, Faiha itu sang nyonya boss.
Bersambung
Wuih–panjang bener bab ini. Ngak sadar sampai 1600 kata.Keriting jempol say...ngak apa-apa demi para readers setiaku.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya dan akan dibawa kemana Faiha oleh mama Malika? Tunggu next bab ya... 😊
Selamat membaca. Terima kasih masih mendukung cerita ini.