Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
38.Oh my god


__ADS_3

Hari ini Abiseka telah berangkat ke Bali selama satu minggu di temani oleh Heru sang asisten setia. Faiha melangkah dengan riang memasuki gedung Jayendra Group. Senyum tak lepas dari bibir mungilnya.


"Selamat pagi pengantin baru. Bahagia banget kelihatannya. Pasti semalam baru dapat jatah dari suami tercinta ya. di kasih berapa ronde, say?"


"Astaqfirullah haladzim.Lia, kamu ini bikin kaget aja. Hampir copot jantungku." Faiha terjengkit kaget tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dan perkataan absurd yang ia dengar di pagi yang cerah ini secerah hatinya.


"Ish–apa-apaan sih kamu, jatah apa? Jangan ngomongin hal yang aneh di pagi hari deh. Yuk, mending kita langsung cuss dinas pagi." Faiha tak ingin membahas lebih lanjut sindiran dari Lia tadi.


Semua tengah berkumpul sebelum melaksanakan tugas masing-masing. Namun, ada yang aneh. Tiba-tiba saja ada pergantian tugas diantara mereka. Bu Mira supervisor bagian OB,OG dan Cleaning Service tengah menjelaskan beberapa point penting dalam urusan pembagian tugas yang baru.


"Mulai hari ini untuk sementara Faiha akan di pindah tugaskan di lantai 5 sedangkan Ardi yang akan menggantikannya di lantai 15.1jvIni hanya jadwal sementara sampai batas waktu yang akan di tentukan."


"Apa kalian sudah mengerti?"


"Tapi, kenapa begitu tiba-tiba Bu?" Itu Ardi yang bertanya karena penasaran apa alasan yang mendasari keputusan tersebut.


"Kalian tidak.perlu tahu, ini adalah perintah dari atasan langsung."


"Maksud Ibu, Tuan abiseka." Susan


"Sudahlah jangan banyak tanya lagi. Lanjutkan pekerjaan kalian masing-masing!"


"Baik Bu." Jawab mereka kompak.


Tanpa terasa enam hari sudah Abiseka berada di Bali. Hari-hari tenang Faiha akan segera berakhir bersamaan dengan kepulangan suami supernya itu. Super dingin, super nyebelin, super aneh dan super jahil.


"Selamat malam, Ma. Faiha tidur duluan ya." Setelah asik berbincang ria dengan ibu mertuanya yang selalu penuh semangat.Rasa kantuk mulai menderanya, ia pun pamit pada mama Malika untuk beranjak ke kamar untuk segera pergi tidur.


"Baikalah, sayang. Apa Abi sudah menelponmu dan mengatakan kapan dia akan pulang?"


"Oh, Mas Abi belum memberi kabar lagi kapan akan balik ke Jakarta,Ma. Tapi, bukankah mas Abi bilang akan kembali setelah seminggu di Bali."


"Si Abi benar-benar ya, masa' tidak memberi kabar pada istrinya kapan akan pulang.Kebangetan tu anak."


Pagi ini Faiha tidak tampak seceria biasanya dan itu tak luput dari penglihatan rekan-rekannya.


"Fai, kamu kenapa, kuyu amat?" Mereka baru saja menyelasaikan tugas pagi yaitu membersihkan ruangan-ruangan sesuai bagian masing-masing. Sambil menikmati camilan yang di bawa oleh Susan dan tak lupa secangkir teh panas.


"Ah–ngak ada apa-apa,kok. Aku lagi ngak enak badan aja." Tersenyum meringis.


Semua saling berpandangan dan masing-masing dari mereka seperti mempunyai pikiran yang sama. saling melirik ke arah Faiha dan mengedipkan mata.


"Jangan-jangan kamu lagi hamil muda kali, Fai."

__ADS_1


Uhuk uhuk–sontak, Faiha tersedak gorengan karena ucapan Lia yang membuatnya kikuk tak tahu harus menjawab apa.


"Kenapa? beneran ya? Wah...selamat ya,Fai. Tokcer juga ya ternyata suami kamu." Semua tergelak dan mengucapkan selamat atas kehamilan Faiha. Sedangkan Faiha sendiri hanya melongo dengan mulut menganga.


"Eh, tunggu-tunggu. Ngak ada.Siapa yang hamil. Aku ngak lagi hamil ya. Kalian ini selalu saja berspekulasi sendiri."


"Lah, jadi ngak hamil. Ya, ngak apa-apa juga sih Fai, kalian juga kan belum lama menikah. Belum honeymoon barang toh?" Susan


"Pakai honeymoon-honeymoon-nan segala, kayak orang kaya aja. Di rumah juga sama aja bisa honeymoon setiap hari, malah lebih efektif. Ngak pake buang-buang uang," Jawab Faiha diplomatis.


"Hahaha–benar juga ya. Pinter kamu, Fai." Lia dan Susan mengacungkan jempolnya pada Faiha.


Di lobby kantor terlihat beberapa kepada divisi tengah berdiri sambil berbincang. Faiha dan kawan-kawan baru saja akan keluar karena sudah jam istirahat siang. Rencannya mereka akan makan di warung soto yang lokasinya tak jauh dari kantor.


"Ada apa ya, kok kayaknya semua sibuk sekali? Bahkan mereka seperti tegang gitu."


"Ya ngak tahu juga aku, mbak. Apa akan ada tamu penting yang akan berkunjung? Coba kita tanya pasa mereka."


Susan kemudian menarik tangan Faiha dan menghampiri meja resepaionis.


"Mbak, maaf itu mau ada apa ya?"


"Apa kalian belum tahu. Tuan Aryan Jayendra pemikik Jayendra Group akan datang berkunjung, mungkin sebentar lagi beliau akan segera tiba." Salah satu petugas resepaionis memberi tahu.Faiha dkk.


"Kamu kenapa, Fai. Ngak usah takut sih. Tuan Aryan itu tidak seperti putranya yang dingin dan galak.Tenang saja!"


"Hush–kalau ngomong hati-hati, Lia. Nanti kalau sampai ada yang mendengar dan melaporkannya pada boss Abiseka atau pak Heru baru tahu rasa kamu, kalau ngak kena SP ya paling sial kena pecat.Mau kamu?" Susan memperingati Lia yang suka berbicara ceplas ceplos. Dan gadis itu pun langsung bungkam menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Ups–ya ampun. Ini mulut suka ngak bisa di kontrol." Sesalnya.


"Bukan mulutmu tapi, pikiranmu harus lebih positif thinking. Kita kan ngak tahu sifat yang sebenarnya big boss gimana. Barangkali saja di luar kantor kepribadiannya lebih hangat." Susan menasehati Lia dan juga Faiha yang mengerucutkan bibirnya mendengar wejangan Susan yang memang umurnya lebih tua diantara mereka berdua.


"Lah, kamu kenapa malah monyong-monyong gitu Fai? pasti kamu pernah omelan boss ya? Secara kan kamu yang sering berinteraksi dengan beliau."


Faiha hanya menjawab dengan mengardikkan kedua bahunya.


"Eh eh, itu sepertinya Tuan Aryan sudah datang.Yuk, kita lihat lebih dekat!"


Tetiba Faiha langsung tegang dan gelagapan. Bisa tamat riwayatnya jika papa mertuanya itu melihat keberadaannya di sini dan yang lebih parahnya lagi ia merupakan salah satu karyawan bagian office girl.


"Mbak, Lia–aku ngak ikut ya. Ini perutku tiba-tiba melilit gini, aku pamit ke belakang dulu ya mbak, titip makan siangnya di bungkus saja." Faiha berusaha melarikan diri dan menghindar jangan sampai bertemu muka dengan papa mertuanya itu.


Secepat kilat Faiha melesat pergi dari area lobby melalui anak tangga darurat menuju kembali ke pantry.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Hampir saja." Mengelus- elus dadanya merasa lega terbebas dari mara bahaya.


"Kenapa kamu, dek? Seperi habis di kejar-kejar setan aja. Katanya kamu mau ikut Susan dan Lia makan soto?"


"Ngak jadi ikut, aku nitip saja.karena tadi tiba-tiba perutku terasa mulas ingin bab."


"O–Sepertinya Tuan Aryan Jayendra sudah tiba ya.Aku lihat tadi orang-orang berlalu lalang seperti tergesa-gesa gitu. Katanya sih mau ke lobby."


"Mungkin. Aku tidak tahu,mas." Berpura-pura tak mengerti akan kedatangan sang big boss yang juga merupakan papa mertuanya.


"Oh, ya sudah. Lebih baik kamu nemenin mas Ardi yang ganteng ini, ok. Sambil nunggu makan siang kamu." Mengedip-ngedipkan sebelah matanya genit.


"Mas Ardi genit, ih. Nanti aku bilangin Lia loh."


"Untuk apa lapor sama Lia? Memangnya dia siapaku."


"Cie mas Ardi pake pura-pura deh. Lia itu baik loh dan cantik lagi.Cocok sama mas Ardi yang ganteng kayak sekuteng." Menggoda laki-laki yang pernah menaruh rasa pada Faiha.


"Aku maunya sama kamu, dek Fai. Sayangnya kamu sekarang sudah menjadi milik laki-laki lain.Hhh–" Menghela nafas


"Apa mas?"


"Ah, ngak apa-apa kok, dek Fai."


Hari yang dinanti pun tiba, sore hari Abiseka telah kembali dari Bali. Kini laki-laki itu baru saja sampai di kediaman Jayendra dengan di jemput oleh supir.


"Assalamuallaikum."


"Wa'allaikum salam. Abi, kamu kok ngak bilang kalau sudah sampai Jakarta. Harusnya kamu.mengabari Faiha agar istrimu ikut menjemput ke bandara, kan." Mama Malika mengomeli sang putra.


"Dah lah, Ma ngak usah di permasalahkan. Abi juga sudah sampai rumah dengan selamat ini. Untuk urusan Faiha, nanti juga bakal bertemu di rumah, kan."


Mama Malika menggelengkan kepala tak habis pikir dengan sikap cuek dan dingin putra semata wayangnya itu.


"Ya udah, Abi langsung ke kamar aja. Capek mau mandi juga." Melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


"Hmm–"


Kriettt


"Oh my good–!?"


"Aaaaa–"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2