Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
95. Si Aaron bule


__ADS_3

Mendapatkan tatapan mematikan dari wajah tampan Ferdy membuat Asri yang tadinya ingin menjawab tidak malah berubah jadi mau. Terlena oleh pesona Ferdy membuat pikiran Asri langsung oleng.


"Good girl, terima kasih mau menerimaku untuk menjadi calon pendamping hidupmu."


CUP


" Woww–so sweet!"


"Loh–mama, tante. Sejak kapan kalian disitu?" Dengan santainya Ferdy bertanya.


"Selamat-selamat ya buat kalian. Jadi, kapan nih jeng diresmikannya?"


Ketiga orang tersebut tampak cuek saja seperti tidak terjadi apa pun. Lain halnya dengan Asri, sungguh...rasanya ia ingin menghilang saja dari muka bumi. Tertangkap basah ketika sedang ber-uwu ria tentu saja malunya bukan main. Parahnya lagi yang memegoki mereka adalah ibu dari laki-laki yang baru saja mencuri ciuman pertamanya.


"Ma–af, jangan salah paham dulu. Saya dan om Ferdy sama sekali.tidak seperti yang kalian lihat dan pikirkan. Sebenarnya saya datang kesini hanya ingin menyelesaikan tanggung jawab saya pada om Ferdy. Dan saya kira kini saatnya saya harus segera–."


"Segera menikah, ya ma...Asri sudah bersedia menikah denganku. Secepatnya." Perkataan Asri terpotong oleh ucapan Ferdy.


Ungkapan Ferdy sontak membuat Mama Anita dan Mama Malika bersorak gembira. Bak anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru, kedua wanita paruh baya itu saling berjingkrak ria sambil bepegangan tangan. Ferdy dan Asri sampai melongo melihat tingkah absurd keduanya.


"Eh eh, jeng. Sepertinya kita harus segera mempersiapkan acara pernikahan mereka dengan baik dan dalam waktu yang singkat. Aku rasa satu minggu lagi tidak masalah,kan. Hmm...atau lusa juga boleh. Lebih cepat akan lebih baik, bukan." Mama Malika berbisik pada Mama Anita.


"Wah, boleh juga itu saranmu jeng." Memberi acungan jempol .


"Ekhem– Calon pengantin jangan kebanyakan melamun, mikirin apa sih? Serahkan semuanya pada kami para orang tua dan kalian berdua hanya mempersiapkan fisik dan mental saja untuk hari H nanti.Oke, sayang?!"


Mama Anita tak tahan ingin menggoda pasangan yang baru saja mengikrarkan hubungan mereka menuju ke jenjang yang lebih serius. Yaitu membina rumah tangga yang baru akan mereka jalani nanti setelah sah menjadi pasangan suami istri.


"Ya, kalau itu sih pastilah Ma. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga dan sesegera mungkin memberikan cucu yang lucu untuk kalian.Betul, kan sayang?" Ferdy kembali dalam mode ceriwisnya, seakan sengaja membuat Asri jadi semakin salah tingkah.


"Hah, m-maksud om?" Sungguh, semburat merah di wajah Asri membuat gadis itu kian malu.

__ADS_1


Tanpa menanyakan pendapat Ferdy dan Asri. Mama Anita telah memutuskan bahwa lusa mereka akan bertandang ke rumah orang tua Asri di jogja untuk melakukan prosesi lamaran.


Hal itu tentu saja membuat Asri kalang kabut. Masalahnya ia sama sekali belum siap, terlalu mendadak. Bahkan orang tuanya selalu mewanti-wanti agar dirinya harus bisa menjaga diri dengan baik dan menjaga nama baik keluarga. Jangan sampai terjerumus oleh pergaulan bebas , menjalin hubungan dengan seorang pria. Dan kenyataannya sekarang ia malah akan segera dilamar oleh pria yang bahkan umurnya jauh diatasnya.


Asri tak bisa membayangkan bagaimanakah reaksi dari kedua orang tuanya yang selalu menjunjung tinggi norma agama dan di masyarakar.


Akhirnya yang bisa Asri lakukan hanya bisa pasrah dan manut apa kata orang tua dari calon suaminya ( cie calon suami ni ye). Begitu pun Ferdy, pria dewasa itu malah santai dan cuek saja tak ingin mencampuri urusan para wanita.


Perhelatan akbar pernikahan Ferdy Wirakusuma dengan Asri Dwi Nastiti berlangsung dengan sukses dan lancar tanpa kendala apapun. Usai prosesi ijab Qobul di pagi hari, kemudian dilanjutkan ke acara resepsi disebuah hotel berbintang yang berlangsung megah dan mewah.


Hari itu juga, pasangan pengantin baru Ferdy dan Asri bersiap untuk pergi berbulan madu ke Maldives.Seperti biasa, tiga om-om ganteng yang kini sudah memiliki pasangan masing-masing itu sedang berkelakar ria saling sindir menyindir.


"Ingat Fer, hajar terus jangan kasih kendor. Tapi, kira-kira lo kuat apa enggak ya? Secara faktor umur bisa mempengaruhi performa lo, dan lagi si Asri masih muda dan tenaganya pasti lebih prima dari suami tua nya." Itu Abiseka yang mengejek Ferdy sambil cengengesan.


"Si**** lo, Bi. Kayak lo masih muda aja. Ngak sadar, lo sama Faiha seperti apa. Kita ini udah sama-sama tua tapi untungnya dapat pasangan yang masih muda jadi, kebawa muda.Ya, kan Ndre?"


Andre hanya menjawab dengan mengacungkan jempol pada Ferdy.


"Iya iya, kita memang cowok-cowok beruntung...menang banyak, bener kan?" Abiseka.


"Ya bukan gitu juga maksud gue. Mereka juga sangat beruntung lah menjadi istri dari pria mapan, tampan dan perkasa seperti kita ini. Buktinya tuh, si kembar hasil dari kerja keras daddy nya yang gagah perkasa." Abiseka menaik turunkan alisnya.


"Ekhem–siapa yang gagah perkasa?"


Tiba-tiba muncul Faiha dengan baby Avaro dalam gendongannya. Abiseka langsung klipuk tak berkutik, kini daddy dari si kembar sudah berubah menjadi suami yang begitu kalem, lemah lembut dan penyayang pada istri tercintanya.


"Oh, bukan siapa-siapa kok sayang. Ada apa?"


"Ini mas, tolong pegang baby Avaro dulu aku mau ke kamar kecil sebentar!" Menyerahkan bayi laki-laki yang tampak menggemaskan dengan pipi gembilnya.


"Wah, gantengnya anak lo, Bi. 11-12 sama bapaknya tapi, banyakan anaknya. Hahaha." Ferdy memuji sekaligus menjatuhkan kepercayaan diri seorang Abiseka Jayendra. Tentu saja baby Avaro lebih tampan dan menggemaskan dari pada sang daddy yang usianya sudah matang. Matang loh mas Abi bukan tua.

__ADS_1


Sementara itu obrolan para istri pun tak kalah absurdnya. "Eh, As. Jangan lupa ya nanti kalau sudah sampai di kamar hotel, kamu pakai tuh baju dinas malam dari kami. Malam pertama itu harus berkesan ya, walaupun rasanya agak nyeri-nyeri sedap." Faiha sudah bergabung dengan Hani dan Asri. Mereka tengah memberikan petuah dan wejangan pada Asri yang belum berpengalaman.


"Baju dinas malam, apa yang kalian berikan kemarin itu? Aku mau berbulan madu loh mbak bukannya belerja, kok malah di suruh pakai baju dinas malam. Mbak sama Hani ada-ada aja sih." Tanya Asri bingung. Si gadis polos yang belum tersentuh sengatan listrik bertengangan tinggi dari sang suami.Kalau sudah kena baru dia akan mengerti saudara-saudara. Benar, bukan?.


Faiha dan Hani kompak menepuk jidatnya tak habis pikir dengan kepolosan Asri. Tapi, memang si Asri itu belum terkontaminasi oleh Ferdy yang tidak semesum kedua sahabatnya.


"Ya ampun, Asri. Gitu aja ngak ngerti? Pokoknya, nanti kalau sudah sampai didalam kamar...kamu pakai baju yang tadi kami kasih, oke? Biar kak Ferdy klepek-klepek nanti." Hani terkekeh geli. Ia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Pastinya akan terjadi pertempuran sengit diatas ranjang pengantin.


Asri yang malas mendengarkan dan juga merespon setiap perkataan dua kaka beradik itu pun hanya mengangguk, anggap saja sudah mengerti.


"Good, semoga sukses ya As.Jangan lupa berdo'a sebelum ngadon biar setan ngak ikut nimbrung!" Hani sok menasehati, padahal dia dan Andre ngadon saja pake sembunyi-sembunyi segala.


Oh ya, membicarakan soal pasangan Andre dan hani. Beberapa hari yang lalu saat semua tengah berkumpul di kediaman keluarga Jayendra. Rahasia kehamilan Hani selama ini masih mereka sembunyikan. Tiba-tiba saja terbongkar karena Asri yang keceplosan bicara. Kedua orang tua pasangan itu pun sempat syok dan memarahi pasangan tersebut.


Namun, hal itu tak berlangsung lama karena kemudian orang tua mereka bisa menerima kenyataan yang sudah terjadi, malah sangat berbahagia dan bersyukur karena sebentar lagi akan menyandang sebagai kakek dan nenek.


Perut Hani sudah tampak sedikit buncit. Kini kehamilannya kini telah memasuki trimester ke dua. Usia kandungannya sudah masuk minggu ke 16.


Setelah berpamitan, pasangan Ferdy dan Asri segera berangkat menuju ke bandara. Diantar oleh Mama Anita dan papa Ferry. Sedangkan kedua orang tua Asri beristirahat di kamar hotel.


7 tahun kemudian


" Mas Avaro, jaga adikmu baik-baik ya nak!"


"Siap mommy, dek Alesha akan aman dalam penjagaan mas. Tenang saja. Awas saja kalau bocah cupu itu berani dekat-dekat sama adikku." Pemuda kecil itu sepertinya memang menuruni sifat sang daddy yang posesif dan cemburuan. Ya namanya juga bapak dan anak.Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, bukan.


Dahi Faiha mengkerut penuh kekepoan, apa yang telah terjadi disekolah. Mereka bahkan baru duduk dikelas 2 sekolah dasar.


"Bocah cupu? siapa yang mas Varo maksud?"


"Itu loh mom si Aaron bule anaknya om Andre dan tante Hani."

__ADS_1


"Hah–?"


Bersambung


__ADS_2