
"Apa kalian tahu siapa sosok istri boss kita?" Susan dan Lia pun serempak menggeleng.
"Faiha‐ya, nyonya boss kita adalah Faiha Arsyana –."
"APA!?"
"Lo jangan bercanda Di. Jadi, beneran kalau Faiha teman kita adalah istri dari Tuan Abiseka Jayendra?" Kali ini Susan yang bertanya karena ia masih tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Ardi.
Dan Ardi pun mengangguk membenarkan. Susan dan Lia terbelalak kaget bahkan sampai menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Bagaimana ini, aku takut dipecat mbak?" Lia langsung panik dan ketakutan karena dia lah yang selalu membully Faiha saat beredarnya gosip panas di kantor pada waktu yang lalu.
"Tenanglah, Faiha bukanlah orang sekejam itu. Makannya kamu itu kalau punya mulut harus dijaga jangan asal jeplak ngomong yang jelek-jelek tentang seseorang. Nah, sekarang baru terasa kan akibatnya." Susan menggelengkan kepala menatap wajah Lia yang sudah berubah pucat.
Lia menatap Susan dan Ardi bergantian dengan wajah penuh permohonan. "Mbak, Di... Nanti tolong bantuin aku ya kalau sampai di panggil sama boss dan nyonya boss.'
Kedua rekannya tak menjawab, bahkan langsung meninggalkan Lia seorang diri dengan kegundahannya.
"Sayang, mas ada rapat di luar sebentar ya. Kamu mau menunggu disini atau mau ikut?" Abiseka duduk bersimpuh dihadapan Faiha yang duduk diatas sofa dan mengelus lembut punggung tangan sang istridan menatapnya penuh kasih sayang.
"Lama ngak mas?" Tanya Faiha.
"Em–kurang lebih sekitar satu jam an lebih lah. Bagaimana?"
"Baiklah, aku menunggu disini saja.ngantuk, mau tidur." Mulut Faiha memang sudah menguap beberapa kali.Sepertinya bumil itu benar-benar sudah sangat mengantuk.
Dengan sigap Abiseka langsung mengangkat dan membopong Faiha ala bridal style lalu, membawanya masuk kedalam kamar pribadinya.Abiseka merebahkan tubuh mungil Faiha diatas tempat tidur yang berukuran sedang. Faiha hanya manut dan diam saja. Setelah dirasa cukup nyaman, Abiseka berpamitan dengan sang istri.
"Mas berangkat dulu ya sayang. Dedek-dedek juga jangan nakal jagain mommy! Muachh." Mencium perut Faiha lalu menyelimuti tubuh sang istri.
"Oke daddy, hati-hati. Jangan lama-lama ya!"
"Iya, sayang." Setelahnya Abiseka segera beranjak pergi sebelum bumil tersebut berubah mood nya.
__ADS_1
Lewat tengah hari di sebuah sekolah menengah atas, para siswa dan siswi tampak sudah berbondong-bondong menuju keluar gerbang sekolah. Ya, waktu pembelajaran telah usai.
"Hei, kamu–!"
"Tante memanggilku?"
Hani yang baru saja sampai diluar gerbang sekolah dihadang oleh seorang wanita. Hani tentu saja mengenali orang tersebut. Ya, wanita itu adalah Zivanya. Entah apa yang dia inginkan sampai datang dan menemui Hani.
"Iya kamu, bisa kita bicara sebentar? Mari ikut aku!"
Sebenarnya Hani enggan untuk menuruti keinginan Zivanya. Entah mengapa gadis itu merasa tidak suka dengan wanita cantik yang selalu berpenampilan sexy itu.
"Maaf, ada apa ya tante tiba-tiba datang kesekolahku dan dari mana anda tahu kalau aku bersekolah di sini? Hani merasa heran dan penuh tanda tanya akan maksud dari Zivanya sampai nekat datang menemuinya sampai ke sekolah.
"Masuklah, kita bicara ditempat lain saja!" Membukakan pintu mobilnya, namun Hani menolaknya.
"Oh, maaf tante. Aku tidak bisa ikut anda, kita bicara disini saja karena sebentar lagi aku harus segera pulang bersama kakakku."
"Kakakmu, kakakmu atau sugar daddy mu si Andre. Ya, kan?" Sikap Zivanya tiba-tiba berubah tak ramah. Wanita itu bahkan menatap Hani sinis dan penuh intimidasi.
"Oh ya...apa anda sebegitu takutnya jika om Andre benar menyukai seorang gadis muda seperti aku. Apakah tante tidak sebegitu percaya diri sampai repot-repot datang kesini?"
Wajah Zivanya sudah berubah merah padam mendengar ocehan panjang si gadis remaja itu. Tatapan kebencian semakin kentara diwajahnya. Benar-benar si kecil cabe rawit.
"Kurang ajar sekali ini anak, beraninya dia meremehkanku seperti ini.Awas saja kamu ya bocil."
"Ekhem–sepertinya kamu sangat percaya diri sekali ya. Tidak mungkin Abdre akan serius pada gadis bau kencur sepertimu. Aku tahu bagaimana selera Andre dan kamu sangatlah tidak masuk dalam kriterianya. Jangan kecentilan deh kamu itu hanyalah gadis matre yang tengah mencari kesempatan untuk menggaet pria kaya seperti Abdre hanya untuk kau ploroti uangnya, kan? Aku tahu kelakuan gadis-gadis belia zaman sekarang." Zivanya terus mengintimidasi Hani dengan kata-kata kasarnya.
Mendengar ocehan si wanita dewasa itu, Hati hati pun mulai terasa panas. Ia merasa direndahkan dan ucapan Zivanya sama artinya dengan menuduhnya sebagai gadis simpanan om-om alias sugar baby.
"Sekaki lagi maaf ya, tante. Terserah anda mau menuduhku apapun itu. Yang jelas sekarang ini om Andre yang menyukai dan mengejar-ngejar aku. Jadi, bukan aku yang kegatelan apalagi ingin mengincar uang atau apalah itu. Anda sangat salah dan lancang menilai orang lain. Aku malah yang merasa kasihan pada tante dan bertanya-tanya, mengapa om Andre tidak suka padamu? Aku rasa yang lebih muda dan segar baginya lebih menarik dan menggoda.Itulah sebabnya anda sama sekaki tak dilirik olehnya.Bukankah itu benar, tante cantik?"
PLAKK
__ADS_1
Hani memegang pipinya yang memerah dan terasa panas. Tamparan Zivanya begitu keras. Sampai tubuh Hani pun terhuyung dan untungnya tidak sampai terjatuh karrna sebuah tangan menahan tubuhnya.
"Woi–apa-apaan ini? Anda siapa, berani-beraninya berlaku kasar pada adik saya?" Pekiknya penuh emosi.Ya, Anwar yang baru saja sampai di luar gerbang sekolah, seketika matanya langsung menatap adiknya yang tengah berbicara dengan seorang wanita dan sepertinya adiknya diperlakukan kasar. Dengan langkah cepat, Anwar pun segera berlari menghampiri ketika melihat tangan Zivanya melayangkan sebuah tamparan pada sang Adik.
Zivanya mengalihkan pandangannya ke arah Anwar yang menatapnya tajam. " Kamu siapa? Pacarnya?"
"Saya kakaknya. Apa maksud anda menampar Hani? Apa dia memiiki kesalahan pada anda?"
"Hani, apakah kamu mengenal wanita ini?" Tanya anwar pada sang adik.
Hani pun mengangguk." Namanya tante Zivanya dia adalah temannya om Andre, mas."
"Andre? temannya mas Abiseka, si cowok bule itu?"
Dan Hani pun mengangguk kembali. " Iya mas, benar. Om Andre Mendoza temannya mas Abi."
Anwar menghela nafas dalam," Lalu, apa hubungannya dengan kamu, dek. Sampai tante ini berbuat kasar sama kamu? Kamu bikin salah apa?"
Bukannya Hani yang menjawab namun, Zivanya yang langsung berbicara. "Adikmu ini telah merebut calon suamiku, Andre. Dia menjadi sugar baby nya Andre."
Mata anwar terbelalak menatap tajam kearah sang adik menuntut jawaban." Bu–bukan mas, itu tidak benar. Sembarangan saja tante ini menuduhku yang tidak-tidak. kalau mas tidak percaya, bisa tanyakan langsung pada om Andre atau mas Abi."
"Oke, Abi akan mencari tahu kebenarannya. Dan kalau sampai anda melakukan hal ini lagi pada adik saya. Maka, saya tidak akan tinggal diam dan anda akan berurusan langsung dengan saya. Ingat itu!" Anwar memperingati. Setelah itu ia menggandeng tangan Hani meninggalkan Zivanya yang masih terpaku menatap kepergian kedua kakak beradik tersebut.
"Mati gue, kalau sampai Andre dan yang lainnya tahu bagaimana ini? Sial...kenapa gue ceroboh sekali pake nampar anak itu segala." Zivanya merutuki kebodohannya.
Sementara itu di dalam ruangan Abiseka, Faiha baru saja terbangun. Lalu ia beranjak turun dari atas tempat tidur, kemudian melangkah menuju ke kamar mandi untuk membasuh muka.
Tak berapa lama ia pun hendak keluar namun, langkahnya terhenti ketika pendengarannya menangkap samar-samar suara orang yang tengah bercengkerama. Dan salah satunya adalah suara sang suami. Senyumpun membingkai di wajah cantiknya.
Ceklek
"Mas–"
__ADS_1
"Hei,siapa kamu dan apa yang sedang kau lakukan? Lepaskan tanganmu itu!"
Bersambung