
Sore tepat pukul 16.00 WIB, Faiha bergegas menuju ke lantai basement karena ia sudah di tunggu oleh Abiseka. Sesuai janjinya pada sang mama, Abiseka seusai bekerja akan pulang bersama istrinya.
Tampak Faiha berlari-lari kecil sambil menoleh ke arah sekitar, ia takut kalau ada yang mencurigai keberadaannya apalagi jika sampai terpergok berada dalam satu mobil dengan Ceo Jayendra Group.
"Nona Faiha, di sini." Heru yang melihat kehadiran Faiha segera memanggil dan membukakan pintu mobil untuk istri dari boss nya tersebut.
"Maaf, apa tidak sebaiknya saya duduk di depan saja. Tuan Abiseka pasti akan merasa tidak nya–"
"Sudah, masuklah! Jangan kebanyakan omong.Kamu mau mama curiga kalau kamu duduk di depan."
"Hh–baiklah, saya duduk di belakang saja pak Heru.Terima kasih." Faiha menghela nafas mengjngat sifat egois suaminya yang super dingin dan kaku itu.
Abiseka melirik sekilas pada Faiha. Ia melihat dengan jelas istrinya menghela nafas ketika menatap ke arahnya. Dan Abiseka tidak suka akan hal itu.
"Heru, kita mampir ke butik sebentar!"
"Baik Tuan."
Faiha hanya diam saja tak berani bertanya untuk apa suaminya ingin berkunjung ke sebuah butik dan ia pun tak mau tahu juga.
Kini mereka sudah berada di sebuah butik yang cukup mewah dan terkenal di kalangan atas. Abiseka melangkah masuk dengan di ikuti Heru dan Faiha di belakangnya.
"Selamat sore Tuan Jayendra.Apa ada yang bisa kami bantu?" Seorang staff manager yang langsung menyambut dan melayani sang tuan muda.
"Carikan beberapa gaun yang cocok untuknya!" Menunjuk Faiha dengan menggerakkan dagunya.
"Oh–baik Tuan. Mari nona ikut saya!"
Wanita itu menemani dan melayani Faiha berkeliling untuk memilih beberapa gaun yang di minta dan juga beberpa pasang sepatu. Setelah mencoba semua gaun tersebut, Heru pun segera menyelesaikan proses transaksi pembayarannya. Lalu, mereka melanjutkan perjalanan kembali pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, mereka langsung di sambut oleh mama Malika yang memang sengaja menunggu mereka pulang. Wanita paruh baya itu begitu terkejut melihat Faiha yang menenteng beberapa paper bag.
"Wah–sayang, apakah kalian habis berbelanja?"
"Iya, itu ma...Tu–mas Abi mengajak Faiha membeli beberapa gaun dan sepatu."
"Ngak nyangka mama, ternyata kamu sangat perhatian dan romantis sekali sama istrimu. Nah, gitu dong Bi. Itu baru namanya suami idaman." Mama Malika tersenyum sumringah. Senang rasanya putranya telah berubah dari yang biasa cuek kini bisa perduli juga pada istrinya.
__ADS_1
"Sudahlah, ma tidak usah lebay. Biasa saja, memangnya tidak boleh membelikan sesuatu untuk istri sendiri."
"Ya, bukan begitu. Pastinya boleh banget wajib malah biar hubungan kalian tambah dekat.Tambah romantis juga.Pokoknya mama seneng banget." Mengusap lembut pipi Faiha menantu tersayangnya.
"Ajak istrimu beristirahat, pasti lelah kan seharian sibuk dengan pekerjaan.Tungguin Bi, ck...benar-benar nih anak baru saja di puji, sudah kembali ke asal penyakit cueknya kambuh lagi."
Mama Malika mencebik kesal karena Abiseka yang terlampau cuek pada istrinya. Pria itu tetap melanhkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya tak menggubris omelan sang mama.
"Kamu susul sana suamimu! Siapkan air hangat untuknya mandi dan kalau perlu sekalian kalian mandi bersama saja. Biar tambah romantis dan ehem ehem–"
"Mama ih–"
Faiha tersipu malu pipinya merona. Perkataan absurd mama Malika membuat Faiha jadi salah tingkah.
"Tidak apa-apa Faiha,sayang. Tak perlu malu. Hal seperti itu sudah biasa bagi pasangan suami istri. Kamu juga harua mulai terbiasa menjalaninya."
Benar-benar tak berkutik, mempunyai ibu mertua se-gesrek mama Malika membuat jantung Faiha bekerja lebih keras. Selalu berdetak kencang dan bikin ngeri. Boro-boro mandi bareng, Mengajak bicara pun selalu bikin senewen.
"Loh, kalian mau kemana?"
Namun, anak dan menantunya itu meminta izin akan makan malam di luar.
"Ma, Pa. Kami akan makan malam di luar."
"Oh ya, baiklah nak. Itu adalah suatu hal yang bagus.Ternyata putra mama romantis juga.Ya sudah, sana berangkatlah, sekalian menginap di hotel juga boleh.Anggap saja bulan madu."
"Dan–waw, kamu cantik sekali sayang." Terpesona dengan penampilan Faiha yang berbeda.Malam ini sang menantu sangat cantik dan anggun dengan gaun yang dikenakannya.
"Ngomong apa sih, ma.Lihatlah wajah menantu kesayangan mama!"
Blush
Sumpah demi apapun, mama Malika ini selalu sukses membuat Faiha berblushing ria.
"Iya iya, pokoknya mama do'a-kan semoga malam ini sukses buat kalian."
Abiseka dan Faiha saling menatap bingung. Maksudnya sukses untuk apa? Namun, Abiseka yang memang lebih cepat daya tangkapnya terbelalak dan memelototi sang mama.
__ADS_1
"Mama–!"
Sesangkan mama Malika malah terkekeh geli melihat raut wajah yang memerah putranya yang pastinya mengerti. Berbeda dengan Faiha yang melongo masih mencerna perkataan mama Malika. Faiha agak loading kalau soal itu, maklum belum berpengalaman.
"Sudah-sudah, mama ngak tahan lihat kalian berdua.Hush...sana pergi, have fun ."
"Hemm–" Jawab Abiseka.
Singkat cerita, kini mereka telah berada di Cafe tempat mereka bertemu janji. Dua pria gagah nan tampan tampak sudah menunggu kedatangan pasangan pengantin baru Abiseka dan Faiha.
Kedua pria tampan ialah Andre dan Ferdy,menatap tak berkedip sosok Faiha yang sangat cantik mempesona. Apalagi si Andre yang jelas-jelas memang naksir dengan istri sahabatnya itu.
"Ekhem–awas, bola mata kalian nanti copot."
"Oh–hai Nona Faiha. Kamu malam ini cantik sekali, ya kan Ndre?"
"Iya–" Andre menjawab dengan mata yang masih tak lepas memandang Faiha.
Entah mengapa kini ketiga pria dewasa itu saling terpaku tak ada yang memulai untuk berbicara.Mereka hanya fokus pada satu arah yaitu, gadis bertubuh mungil nan imut dan menggemaskan. Yang pada malam ini terlihat berbeda, lebih dewasa dan menawan.
"Ehem–Maaf, Tuan-tuan sekalian.Sebenarnya ini ada apa.ya, saya sampai harus ikut hadir dalam pertemuan ini?"
Ketiganya sontak tersadar mendengar suara Faiha.
"Oh, iya. Begini..."
"Pertemuan kita ini untuk membicarakan tentang kalian yang telah membuat suatu kebohongan dengan merekayasa sebuah pernikahan palsu dan yang lebih parahnya lagi, lo Bi. Tega-teganya menipu keluarga lo sendiri. Terutama tante Malika dan om Aryan.yang benar-benar mengharapkan agar lo segera membina rumah tangga dan memberikan mereka cucu sebagai penerus keluarga."
Ferdi yang biasanya berbicara ceplas ceplos dan tak pernah serius tiba-tiba berubah bak orang tua yang tengah memberikan wejangan pada anaknya.
"Lalu, gue tanya apa urusannya sama lo? Si Andre aja ngak banyak komentar dan ikut menolong gue buat ngejaga rahasia ini."
"Si Andre yang salah, harusnya dia ngak masuk dalam permainan lo, Bi.Betul kan, Ndre? Gimana ini Ndre temen kita yang satu ini, kayaknya dah mulai error pikirannya. Pernikahan kok di buat mainan." Ujar Ferdy sok bijak.Memang bener apa yang di katakan oleh Ferdy,bukan.
Abiseka tergelak dan menatap tajam pada Ferdy. Kedua sahabat itu mulai bersitegang.
Bersambung
__ADS_1