Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
75. Menjemput


__ADS_3

Andre segera beranjak pergi menuju ke sekolah Hani, ia mengendarai Maybach Exelero nya dengan kecepatan penuh membelah jalan ibu kota yang tampak ramai lancar. Tak memakan waktu lama akhirnya Andre pun tiba dengan kendaraan kuda besinya didepan gerbang sebuah gedung SMA di wilayah Jakarta Selatan.


"Andre–? mau apa dia kesini?" Zivanya yang memang telah berada tak jauh dari sekolah tersebut tentu saja dapat melihat kedatangan mobil mewah milik Andre yang sangat dikenalinya.


Zivanya tak langsung kekuar dan menghampiri Andre, wanuta itu tetap setia didalam mobilnya sambil mengamati Andre yang kini telah keluar dari dalam mobilnya.


Waktu telah menunjukkan pukul setengah dua siang dan tak lama lagi para siswa dan siswi di sekolah tersebut akan segera pulang.Andre beberapa kali melirik jam yang melimgkar di pergelangan tangannya. Lalu, sesekali ia mendongak kelantai atas sekolah ketika melihat suasana sudah mulai ramai dikarenakan para siswa keluar dari dalam kelas mereka masing-masing.


Tetiba suara aorak sorai terdengar begitu menggema, bahkan banyak para siswi yang menjerit histeris ketika melihat penampakan sosok pria dewasa yang sangat tampan bahkan tampak cool dan sexy. Tubuh kekar Andre dengan tinggi sekitar 184 cm tampak menjulang tinggi.Apalagi style nya yang bisa membuat para kaum hawa akan terpana, dengan kemeja berwarna hitam yang tangannya digulung hingga batas siku tentu saja Andre semakin terlihat keren.


"Kyaaaa–wow, keren bangen!"


"Gantengnya, kira-kira dia sedang menunggu siapa ya? Apakah salah satu guru perempuan disekolah kita?"


"Waa waa–ada sugar daddy! Eh, siapa ya si sugar baby nya...jangan-jangan?"


Begitulah kehisterisan dari beberapa siswi yang sedang menatap penuh damba sosok Andre dari lantai dua gedung sekolah.


"Eh, ada apa sih?" Hani yang baru saja keluar dari dalam kelasnya juga jadi ikut penasaran dengan kehebohan yang terjadi. Tidak biasanya para siswi sebegitu histerisnya seperti melihat seorang idol saja.


"Hani, sini Han...lihat deh! Ada om-om super ganteng, bule lagi."


"Om-om, bule lagi?'


"Bule ganteng? Apa itu om Andre ya, ah...lo mikirin apa sih Han. Mana mungkin pria sesempurna sepertinya berada di sekolahi ini, atau jangan-jangan dia mau menemuiku? Aish...apaan sih? Dah lah Han, memangnya kamu siapanya lagi pula dia kansudah memiliki kekasih yang super cantik dan sexy." Hani malah melamun dan bermonolog sendiri.


Plak


"Hei, Hani...ye dia malah bengong. Ayo cusslah kita lihat dari dekat tu om-om ganteng!" Asri salah satu teman sekelas Hani segera menarik tangannya dan menggeretnya sambil berlari menuruni anak tangga menuju ke gerbang sekolah.


Hani tampak berpikir sejenak namun, ia mengenyahkan dugaannya yang mengarah pada sosok om Andre pria dewasa yang sangat dikaguminya.


Suasana di depan pintu gerbang depan sekolah semakin ramai, bukannya membubarkan diri...para siswa terutama perempuan malah berkerubung di sekeliling Maybach Exelero yang mana si empunya berdiri sambil bersender di samping mobil mewah tersebut


"Eh, coba lo tanya gih? tu si om lagi nungguin siapa?"


"Ah, lo aja kenapa sih?gue malu–."


Dan salah seorang siswi memberanikan diri untuk menyapa Andre.


"Ehm–halo om. maaf, om mau cari siapa ya?"

__ADS_1


Andre yang sejak tadi fokus pada ponselnya pun menoleh kearah suara yang menegurnya. "Ya, apa kalian mengenal Hani?"


"Hani–Hani yang mana ya, om? disekolah ini ada beberapa yang namanya Hani. Dia di kelas berapa?"


Sejenak Andre terdiam lalu ia ingat kalau Anwar kakak dari Hani juga bersekolah di tempat yang sama. "Oh, itu–dia mempunyai kakak yang bernama Anwar. Hani bertubuh mungil dan rambutnya panjang sebahu."


"Hah! Apa ngak salah, si pendek itu...Hani si cewek culun dan ngak ada menarik-menariknya sama sekali itu?"


"Kayaknya sih bener, yang badannya pendek ya cuma si Hani adeknya Anwar. Tu si om apa ngak salah cari orang apa ya."


Mereka saling berbisik-bisik ria menggosipkan gadis yang dibilang pendek dan culun itu. Bahkan kini para siswi semakin ramai saling berbisik-bisik sampai sosok Hani muncul di tengah kerumunan. Meskipun hanya kepalanya saja yang nongol namun, Andre dapat melihatnya dengan jelas wajah imut gadis mungil yang dicarinya.


"HANI–!"


Semua pasang mata melihat Andre lalu beralih menatap Hani yang tengah memasang wajah bingung. "Om Andre–.'


Sontak mereka semakin syok karena kenyataannya memang Hani yang dijuluki oleh mereka si pendek. Mereka bahkan tak bisa berkomentar apa-apa hanya menatap Andre yang melangkah menghampiri Hani yang masih berdiri terpaku tak tahu harus bereaksi apa.


"Hani–hai Hani!?" Andre melambai-lambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah Hani. Hiingga saat Andre menjentikkan jemarinya gadis itupun tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya.


"Eh, i–iya om Andre.Maaf, om mau apa ya datang kesekolah aku?"


"Ta–tapi om, itu...nanti tante yang–"


"Ssttt–tidak usah membicarakan siapa-siapa, duduk manis dan diamlah!' Andre membungkam suara Hani dengan cara menempelkan jari telunjuknya ke permukaan bibir mungil sang gadis. Dan hal itu pun sukses membuat Hani seketika terdiam.


Di dalam mobil berbeda tak jauh dari mereka, Zivanya mengepalkan kedua tangannya kesal dan hatinya serasa hancur melihat lakii-laki yang di sukainya lagi-lagi telah dimiliki oleh perempuan lain. Namun, bukanlah Zivanya namanya kalau menyerah begitu saja.


"Tidak, kali ini aku tidak akan menyerah. Status mereka bahkan belum menjadi apa-apa. Masih ada kesempatan bagiku untuk merebut Andre dari si gadis ingusan itu. Tunggu saja gadis kecil." Wanita cantik itu tersenyum menyeringai lalu setelahnya melajukan kendarannya pergi dari tempat tersebut.


Sementara itu Anwar yang baru saja keluar dari dalam ruang guru karena tadi setelah bubar pulang wali kelasnya memanggil. Dan ketika ia berjalan menuju ke tempat parkiran salah seorang temannya memberitahukan.tentang kejadian tengah heboh di depan gerbang sekolah.


"War‐anwar, lihat...di depan ada adek lo dijemput sama om-om bule, keren gila orangnya. Ayo, lihatlah nanti mereka keburu pergi."


Anwar sontak kaget mendengarnya. Dengan langkah cepat ia pun segera berlari menuju ke gerbang sekolah untuk memastikan kebenarannya. Dan betapa terkejutnya saat ia menyaksikan sang adik sedang di gandeng oleh seotang pria dewasa bertampang bule masuk dlkedalam sebuah mobil mewah lalu, membawa Hani pergi. Anwar mencoba untuk mengejarnya namun, sudah tak bisa. Ia menggeram kesal. Ia pun segera menghubungi seseorang.


"Assalamuallaikum, mbak Faiha."


"Wa'allaikumsalam, eh...anwar, tumben kamu telepon mbak. Ada apa?"


"Mbak, barusan Hani di bawa pergi oleh seorang laki-laki." Anwar mengadu pada sang kakak.

__ADS_1


"Apa? Laki-laki. Maksudmu apa sih War? tolong jelaskan yang benar." Faiha mulai terdengar khawatir.


"Itu mbak, Anwar melihat kalau Hani di jemout oleh salah satu teman mas Abi yang tampangnya bule itu loh." Menjelaskan ciri-ciri laki-lakii yang telah membawa adiknya pergi.


"Teman mas Abi, maksudmu kak Andre?" Faiha sudah bisa menebak siapa gerangan orang tersebut dari ciri-ciri yang di sebutkan oleh Anwar


"Ya mungkin, soalnya aku agak lupa namanya. Oh iya yang waktu itu pernah menolong Hani. Iya, benar teman mas Abiseka yang bule itu."


"Benar itu pasti kak Andre. Sudah, kamu tenang saja! dia adalah orang yang baik. Mbak akan menanyakan tentang hal ini pada mas Abi. Kamu juga langsung pulang loh War, jangan keluyuran kemana-mana nanti bulek khawatir!"


"Ya ampun mbak, memangnya aku anak kecil apa. Tentu saja aku langsung pulang kerumah. Ya udah, aku tutup ya mbak? Assalamuallaikum."


"Oke, Wa'allaikumsalam."


Faiha yang saat ini sedang beristirahat didalam kamarnya langsung menghubungi Abiseka melalui sambungan video call. Pada panggilan pertama langsung dijawab oleh suaminya.


"Ya, hai sayang...ada apa? Apa dedek dan mommy sudah kangen sama daddy?" Terpampang wajah tampan nan rupawan Abiseka dengan senyumnya yang menawan membuat Faiha tersipu malu.


"Ish, mas apa-apaan sih. Lebay deh."


"Iya, ada apa mommy nya anak-anak yang cantik. Sebentar lagi daddy akan segera pulang kok, sabar ya!' Si Abiseka malah semakin menggombali istrinya.


"Gombal ah, itu...aku mau tanya.Barusan Anwar telepon aku memberitahu kalau kak Andre datang kesekolah mereka dan menjemout Hani. Itu maksudnya apa ya? Apa ada sesuatu yang aku tidak tahu. Mas Abi pasti tahu kan, secara kak Andre adalah sahabat mas?"


*Deg


"Sh**, si Andre ngapain sih dia pake acara ngejemput si Hani segala? bisa runyam ini urusannya*." Abiseka berkata dalam hati.


"Mas–mas Abi, kok malah bengong sih?" Faiha menegur sang suami yang tak menjawab pertanyaannya dan malah melamun.


"Oh iya, sayang. Maaf . Nanti mas akan menanyakannya langsung sama Andre. Kamu jangan khawatir ya...Hani akan aman kalau bersama Andre."


"Oke, nanti kabari aku loh mas. Jangan menutup-nutupi sesuatu dariku ya!"


"I–iya sayang, sudah ya. Da da...mommy nya anak-anak, muachh–." Melambaikan tangan dan melakukan gerakan kiss bye.


Abiseka yang saat ini tengah memeriksa beberapa berkas langsung menghentikan kegiatannya itu.Ia pun segera menelpon Andre. Namun, tidak di angkat.


"Da**, sebenarnya kemana sih si Abdre membawa Hani pergi. Ngapain coba, bikin masalah baru aja. Mampus gue kalau sampai Faiha tahu dan marah. Bisa ambyarr kan."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2