Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
64. Om Andre


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Abiseka berhenti di depan sebuah gedung Apartemen mewah tempat dimana Andre Mendoza tinggal.


Mereka kemudian segera bergegas memasuki lift menuju kelantai 10 dimana unit kamar Andre berada.


Ting tong


Ceklek


"Masuk, Bi...loh, Faiha ikut?" Andre terkejut ketika melihat Faiha yang juga datang bersama Abiseka.


"Sialan si Abi, ternyata dia membawa Faiha ikut juga. Semoga dia tidak berpikir yang jelek tentang keberadaan adiknya disini."


"Hani nya dimana, kak?" Faiha clingak clinguk mencari kebeeadaan adiknya.


Mendengar suara Faiha yang tertuju padanya, laki-laki itu pun refleks menunjuk kesebuah pintu yang tertutup rapat. "Hani ada didalam kamar, sedang beristirahat. Dia masih tampak syok tapi syukurlah akhirnya Hani sudah tenang dan bahkan bisa tertidur.


"Beristirahat? Maksudnya apa, memang Hani habis melakukan apa?" Faiha masih mencerna perkataan Andre yang terdengar ambigu itu.


Andre yang tahu isi pikiran Faiha, tak ingin gadis itu salah paham. Maka, andre pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Hani bisa berada di apartemennya.


"Sebaiknya dek Faiha duduk dulu dan dengarkan apa yang akan aku sampaikan!"


"Ehemm–dek ya? ck...sejak kapan bini gue jadi adek lo, Ndre?"Abiseka mencebik tak suka Andre memanggil istrinya seakrab itu. Sepertinya masih menaruh rasa cemburu pada sahabatnya itu.


"Ya ampun,Bi. Masih curigaan aja lo sama gue. Faiha tuh udah gue anggap seperti adik sendiri. Jangan kayak gitulah...kita ini sudah berteman bukan satu atau dua tahun tapi, sudah berpuluh tahun. Ngak mungkin gue akan berkhianat sama lo." Andre menggeleng tak habis.pikir dengan sifat kekanak-kanakan Abiseka.


"Iya iya, sorry. Ya udah sih...cepat ceritakan!"


Faiha dan Abiseka duduk bersebelahan sedangkan Andre juga duduk disalah satu single sofa tepat berhadapan dengan keduanya.Lalu, Andre pun mulai menceritakan kronologis kejadian yang telah menimpa Hani, gadis remaja yang baru akan menginjak umur 17 tahun itu.


Flash back on


Siang tadi, kira-kira pukul 14.30 siang menjelang sore hari. Andre tengah berkendara sendirian. Pria itu tampan itu baru saja selesai meeting dengan salah satu klien nya.


Ketika ia melewati jalan yang tampak sepi, manik matanya melihat kejadian yang tidak pantas menjurus ke kriminalitas. Seorang gadis berseragam SMA tengah di hadang oleh 4 pemuda yang terlihat sepertinya anak mahasiswa. Gadis itu tampak begitu ketakutan, salah seorang diantaranya mengukung tubuh mungil sang gadis dengan kedua tangannya. Gadis itu terus memberontak namun, sama sekali tak berarti.


Andre sudah tidak tahan melihat kezoliman yang sesang terjadi di depan matanya. Ia pun segera membuka pintu mobil dan turun. Lalu, dengan langkah cepat ia langsung mendekat dan berteriak lantang.


"Hei–apa yang kalian lakukan pada gadis itu?"


Kempat pemuda itu pun serempak menoleh dan menatap tajam kearah Andre. Sejenak mereka terdiam dan terkejut melihat postur tubuh Andre yang kekar dan menjulang tinggi Namun, karena merasa jumlah mereka lebih banyak dan pastinya akan dengan mudah menumbangkan Andre yang hanya seorang diri.

__ADS_1


Mereka pun menantang Andre dan tersenyum meremehkannya. Padahal mereka tidak tahu saja jika Andre adalah juara sabuk hitam taekwondo dan tentu saja Andre tidak akan gentar melawan keempatnya. Dan terjadilah perkelehian tidak seimbang antara 1 lawan 4.


Bagh


Bugh


Dug


Brakk


Pertarungan pun usai dan sang pemenangnya adalah Andre. Mereka pun lari terbirit-birit dengan luka lebam di wajah dan tubuhnya.


Sedangkan Hani, gadis muda bertubuh mungil itu masih terpaku dan terisak. Rasa takut dan trauma tentunya masih menghinghapinya. Bahkan saat Andre mendekat, gadis itu pun beringsut mundur takut pada Andre.


Ketika melihat wajah gadis itu dengan jelas, Abdre pun sontak kaget katena ternyata gadis yang baru di tolongnya itu adalah Hani, adik dari Faiha. Ya, Andre pernah bertemu dengan gadis itu beberapa kali saat acara lamaran dan pernikahan Faiha dan Abiseka.


"Ha–hani, kamu Hani adiknya Faiha, kan? Ini aku Andre Mendoza teman dari Abiseka Kakak iparmu. Kamu masih ingat kan denganku?"


Hani yang sejak tadi menunduk takut, refleks mengangkat wajahnya dan menatap Andre. " Om...Andre!"


Grepp


"An*** ni bocil manggil gue om lagi. Memangnya tampang gue tua banget, apa? Ah, sudahlah...namanya juga bocah." Andre sedikit tak terima di panggil om oleh gadis muda bertubuh mungil. Ya, postur tubuh Hani memang hampir sama 11-12 dengan Faiha sang kakak. Andre pun tak mempermasalahkannya.


"Te‐terima kasih, mas telah menolong Hani."


"Iya, sekarang...ayo, aku akan mengantarmu pulang. Ibu dan kakakmu pasti sedang mengkhawatirkanmu.Tapi, kita akan membersihkan dan mengobati luka-lukamu terlebih dahulu. Kita ke klinik terdekat saja."


"Tapi, bagaimana kalau orang-orang di klinik menanyakannya dan kalau om Andre dituduh yang bukan-bukan bagaimana? Nanti Hani yang jadi tidak enak. Sudah, biar Hani pulang sendiri saja dan kalau ibu bertanya akan Hani bilang kalau habis kecelakaan terserempet motor. Sekali lagi terima kasih ya om, permisi."


"Tunggu, Hani. Aku yang akan mengobati luka-lukamu. Ayo ikutlah denganku!"


"Kita mau kemana om?"


"Ke Apartemenku."


Flash back off


Faiha menghela nafas lega karena ternyata belum terjadi apapun yang mengerikan pada sang adik.


"Terima kasih ya kak, sudah menolong Hani. Entah bagaimana nasib Hani jika tidak bertemu dengan kak Andre."

__ADS_1


"Iya, sama-sama Fai. Bukankah kita harus saling tolong menolong antar sesama."


"Iya iya, sudah...thanks ya Ndre udah nolongin Hani."


"Santai aja bro, sudah kewajiban gue nolongin Hani."


"Maksud lo apa kewajiban buat apa?memangnya lo siapanya Hani?" Abiseka langsung ngegas mendengar perkataan Andre yang menurutnya agak janggal.


Abiseka langsung memotong percapakan mereka dan juga mengucapkan terima kasih pada Andre. Abiseka tidak suka jika istrinya berlama-lam berinteraksi dengan sahabatnya itu yang pernah terang-terangan mengungkapkan perasaan sukanya pada Faiha.


Melihat perseteruan antara Abiseka dengan Andre membuat Faiha merasa jengah. Suaminya memang seorang pria pencemburu berat. Padahal Andre tidak pernah memiliki maksud apa pun terhadapnya.


"Lanjutkan obrolan kalian, aku mau melihat keadaan Hani! Ck...dasar kekanak-kanakkan." Faiha melenggang pergi meninggalkan dua cogan yang masih saling cekcok tentang hal yang tidak penting sama sekali.


kriettt


Tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, Faiha masuk.dan melangkah perlahan mendekati Hani yang tengah tertidur pulas.Di usapnya kepala sang adik dengan penuh kasih sayang dan sentuhannya membangunkan Hani dari tidurnya. Perlahan matanya terbuka dan melihat kehadiran kakaknya, Hani berhambur memeluk Faiha.


"Mbak, Hani tadi sangat takut sekali."


"Iya, mbak sudah tahu tadi kak Andre sudah menceritakan semuanya. Alhamdulillah kamu tidak sampai kenapa-napa. Kita pulang sekarang ya, bulek sangat cemas dan mengkhawatirkan keadaanmu."


Hani pun mengangguk dan menuruti perkataan kakaknya.Setelah Hani bersiap-siap merapikan penampilannya dan tas sekolahnya dibantu oleh Faiha. Mereka pun keluar dari kamar lalu mebghampiri kedua pria dewasa yang masih asik berbincang ria. Namun, bedanya kali ini mereka sudah tidak lagi saling cekcok.


"Mas, sebaiknya kita pulang sekarang. Kasihan bulek pasti sudah menunggu Hani."


"Oke, ayo–!"


"Bro, kita pamit pulang dulu ya dan thanks for everything." Menepuk bahu sahabatnya. Dan dijawab dengan anggukkan kepala.


"Kak Andre, terima kasih ya." Faiha tersenyum pada Andre.


"Iya, sama-sama Faiha. Hani, baik-baik ya!"


"Iya, om...Hani juga sekali lagi sangat berterima kasih sama kebaikkan om yangbtelah menolong Hani."


"Buahhaa–om! Memang pantas sih ya lo dipanggil om...udah tuwir ya." Abiseka tertawa mendengar panggilan yang di sematkan Hani pada Andre dan malah mengatainya tua segala, padahal ia tak sadar kalau dirinya sendiri sudah tua.


Bersambung


Nah, begitu ya kejadiannya. Om Andre memang cowok baik ya.

__ADS_1


__ADS_2