Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
39.OTW Honeymoon


__ADS_3

"Oh my good–!?"


"Aaaaa–"


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Abiseka langsung memutar knop pintu dan membukanya. Seketika matanya membulat sempurna melihat pemandangan indah nan menggoda iman dari seorang laki-laki yang berstatus sebagai seorang suami dari Faiha.


Ya, Abiseka sungguh tak menyangka kepulangannya langsung mendapatkan kejutan yang wah dan wow...kelopak matanya sampai tak berkedip sedetikpun saking fokusnya.


Melihat istri mungilnya yang baru saja menanggalkan handuk yang sebelumnya masih melilit di tubuhnya.Mendengar suara pintu yang di buka refleks Faiha menoleh dan ia pun terjengkit kaget tanpa sadar jika saat ini tubuhnya tak berbalut selembar kain pun dan parahnya lagi Abiseka tengah menyaksikan dengan seksama tubuh mulusnya.


"Apa yang Tuan lihat, berbalik...jangan melihat!"


"Oh, sorry." Abiseka pun segera membalikkan badannya membelakangi Faiha yang tengah memakai pakaiannya dengan super kilat. Takutnya suami jahilnya itu akan berulah kembali mengerjainya.


Sementara itu di lantai bawah, mama Malika juga mendengar suara jeritan menantunya. Namun, ia berpikiran kalau Abiseka sedang menyerang istrinya. Wanita paruh baya itu pun tersenyum bahagia.Pikirannya sudah travelling kemana-mana. Sungguh indah rasanya.


Sementara itu Faiha sedang bersolek di meja rias ,memoleskan beberapa kosmetik ke wajahnya. Sesekali ia melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup. Ya, Abiseka ada di dalamnya sedang mandi.


Kriett


Mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, buru-buru Faiha mengalihkan pandangannya.dan berpura-pura menyisir rambutnya. Padahal sudah rapi sejak tadi. Faiha terbelalak kaget ketika melihat Abiseka yang akan mengenakan pakaiannya. suaminya baru saja akan melepas handuk yang melingkar di pinggangnya.


"Eh eh, stop! Tunggu dulu. Tuan mau apa?" Faiha refleks berdiri dan berbalik badan menghadap Abiseka.


"Mau pakai baju lah, memangnya kenapa?"


"Tuan mau mengenakannya di hadapan saya?"


"Ada masalah kalau saya berganti pakaian di sini dan di hadapan istri sendiri.Ngak dosa juga. Kamu saja tadi bertelanjang bulat di depanku. Tubuhmu walaupun pendek ternyata sangat mon–"


"Diammm–!" Wajah Faiha sudah memerah bak tomat masak. Suaminya sudah keluar kejahilannya.


"Hahaha–biasa aja, sayang. Kita ini kan sudah sah. Jadi, kalau ingin melakukan yang lain-lain juga boleh saja ngak akan ada yang melarang malah wajib di laksanakan. Benar bukan apa yang aku katakan?" Melangkah mendekati Faiha yang masih berdiri di depan meja rias.


Faiha ingin beringsut mundur tapi, sudah mentok menabrak meja rias. Sedang Abiseka semakin mendekat dan mendekatkan wajahnya tepat di telinga Faiha. Hembusan nafas Abiseka hangat menerpa telinganya. Membiuat Faiha merinding ngeri."


"Ternyata kamu sangat sexy, istriku.Cup."


"Hebat kamu, Bi. Baru sampai langsung gercep gas pol...asik, otw dapat cucu nih." Mama Malika sampai berjoget ria ala tiktokers.Tanpa sadar tingkah konyolnya itu tengah di perhatikan oleh sang suami yang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Siapa yang dapat cucu, Ma?"


"Astaqfirullah–ih, papa ngagetin aja.Ya, kita lah yang akan segera menimang cucu." Menaik turunkan kelopak matanya.


"Kita? Maksud mama, Faiha sudah positif hamilkah? Wow–gerak cepat sekali si Abi, Kejar target karena di paksa mama, ya?"


"Ish, Papa. Mau tahu sekarang mereka sedang ngadon buat cucu kita, loh.Tuh–." Mama Malika menunjuk ke atas.


"Hah–sore-sore gini? Abi sudah pulang, kapan?"


"Tadi, kira-kira setengah jam'an yang lalu dan sepertinya anakmu itu sudah tidak tahan karena seminggu ngak dapat jatah dari istrinya. Langsung di terkam tu menantu kita. Aih...sampai menjerit-jerit Faiha nya." Omongan mama Malika tanpa filter dan langsung mendapat teguran dari sang suami.


"Hush, mama kalau bicara kok bener sih!" Dan kedua pasangan suami iatri paruh baya itu tertawa terbahak-bahak bersama.Sampai bi Romlah sang asisten rumah tangga tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


"Ada apa Nyonya, Tuan. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya bi Romlah.


"Tidak ada kok, bi. Do'akan ya bi.semoga Faiha secepatnya hamil dan di rumah kita ini bakal ramai dengan suara tangisan bayi mungil. Cucu pertama keluarga Jayendra!"


"Saya kira ada apa, Nyonya. Pasti akan saya do'akan Agar non Faiha cepat hamil. Aamiin."


"Aamiin Yra.Terima kasih ya bi."


"Sama-sama Nyonya. Kalau begitu saya kembali ke belakang mau menyiapkan makan malam.Permisi Nyonya,Tuan."


"Iya, tidak apa-apa. Kami mengerti, kalian pasti juga butuh istirahat setelah membuatkan cucu untuk kami."


"Mama–" Tuan Aryan menegur istrinya yang berbicara terlalu ceplas ceplos.


Jangam ditanya reaksi Faiha, tentu saja wajah gadis itu sudah merah merona. Ia melirik sang suami yang bersikap biasa saja, tetap menikmati hidangan yang tersaji di atas meja.Sepertinya pria itu sudah kebal mendengar sang mama yang memang tak pernah terfilter itu.


"Itu-itu saja yang selalu di bahas Mama. Ngak ada topik pembicaraan yang lain.apa?Urusan anak itu tergantung kehendak yang di atas kita hanya berusaha." Betapa ringannya ucapan si Abiseka, Faiha sampai tercengang.Totalitas sekali aktingnya.


Seperti biasa, usai makan malam. Mereka berkumpul dan berbincang santai sebelum pergi tidur.


"Proyek di Bali sudah mulai berjalan.lancar kan, Bi? Papa Aryan.


"Iya, alhamdulullah Pa.Memangnya ada apa, Pa?"


Nyonya Malika memberi kode dengan menjawil-jawil pinggang suaminya agar segera mengatakannya pada putra dan menantunya.

__ADS_1


"Ehem–begini, Papa sama Mama mau memberikan ini." Meletakkan sebuah amplop coklat di atas meja tepat dihadapan Abiseka dan Faiha.


"Apa itu Pa?"


"Lihatlah sendiri!"


Abiseka pun meraih amplop tersebut dan membukanya.Sebuah ticket perjalanan lengkap bulan madu ke Paris Prancis.


"Ini–?"


"Iya, itu hadiah dari kami untuk kalian. Honeymoon ke Paris. Bagaimana, kalian suka kan? Dan Mama tidak mau kalian menolaknya.Sampai kapan kalian akan menunda-nundanya. Bersenang-senanglah!"


DEG


Degup jantung Faiha seketika berdetak kuat.Sudah pasti itu untuk mereka. Dalam hati ia berdo'a semoga saja Abiseka menolaknya sehingga mereka tidak akan pergi berbulan madu.


"Ayolah Tuan.Ku mohon jangan, tolaklah!" Do'a nya dalam hati.


Tanpa sengaja mereka menoleh dan menatap satu sama lain. Faiha memasang wajah memelas pada Abiseka. Dan Abiseka tentu mengerti apa yang di inginkan oleh istri mungilnya itu. Sebuah bohlam menyala muncul di atas kepalanya. Laki-laki itu menarik sudut bibirnya tersenyum pada kedua orang tuanya.Lalu–


"Emm–Baiklah, kami akan pergi."


"Ah, syukurlah. Mama senang mendengarnya." Mama Malika tersenyum sumringah begitu bahagia karena akhirnya anak dan menantunya akan lebih fokus membuat cucu untuk mereka tanpa gangguan apa pun.


"Hh–aduh, pusing kepalaku. Gimana sih? Apa dia sengaja melakukannya, jangan-jangan di sana nanti dia akan melakukan balas dendam kepadaku lagi?"


"Kamu kenapa, Sayang? Bukankah ini adalah impianmu setelah menikan ingin pergi honeymoon ke tempat yang romantis dan inilah saatnya. Sebentar lagi kita akan mewujudkannya." Meraih jemari Faiha dan meremasnya.


"Ayo bicaralah,sayang. Papa dan Mama sudah bersusah payah loh menyiapkan ini semua untuk kita.Katakan sesuatu!"


"Te–terima kasih, Ma, Pa."


"Sama-sama, sayang. Nikmatilah waktu kalian di sana nanti. Semoga setelah kalian kembali akan membawa berita baik untuk kami."


"I–iya, Ma."


"Kapan kami akan berangkat?" Abiseka bertanya sambil membuka kembali dan membaca tiketnya kembali.


"Lusa ya? Hmm...tidak masalah. Baiklah, sayang kita akan otw honeymoon.Oke!" Mencium lembut punggung tangan Faiha.

__ADS_1


"Oh, romantis banget sih kalian."


Bersambung


__ADS_2