
"Eh, ada Andre. Kebetulan sekali. Tante mau tanya-tanya nih soal, Faiha. Dia benar kan bekerja di perusahaanmu?"
"Sebenarnya, itu–tante..."
"Itu Apa?"
Andre bingung harus menjawab apa.Sedangkan dia sendiri belum bertemu kembali dengan Faiha dan menselaraskan omongan ketika bertemu dan mendapatkan pertanyaan dari mama Malika.
"Itu, Ma. Iya, Faiha memang salah satu karyawan Andre dan sepertinya sebentar lagi dia akan datang karena mau mengantarkan sebuah berkas untuk Andre." Yang menjawab malah Abiseka
"Benarkah? Wah, kebetulan sekali. Mama kangen banget sama Faiha."
"*****, harus cepat-cepat kasih tahu Heru, ini."
Tanpa menunggu waktu, Abiseka mengirimkan pesan singkat pada Heru untuk mencegah Faiha masuk dalam keadaan tengah mengenakan aeragam OG. Ia menyuruh agar gadis itu berganti pakaiannya terlebih dahulu baru datang ke ruangannya.
Setelah mendapat jawaban dari sang Asisten bahwa Faiha sudah tiba dan telah berganti kostum akhirnya Abiseka pun menghela nafas lega.
Selang beberapa menit kemudian terdengar ketukan pintu dan juga suara Heru yang meminta izin untuk masuk.
Tok"
"Nona Faiha sudah datang, Boss."
"Masuk!"
"Calon menantuku yang cantik.Kesini sayang, Mama kangen sama kamu" Nyonya Malika langsung menyambut kehadiran Faiha dengan suka cita. Wanita paru baya yang masih tampak cantik itu segera memeluk dan mencium sang calon menantu kesayangannya.
Sedangkan Abiseka dan Andre terperangah melihat ke dekatan kedua wanita berbeda generasi itu. Andre mendekat dan membisikkan sesuatu yang langsung membuat wajah Abiseka tegang seketika.
"Bi, kayaknya bentar lagi bakalan sah,nih."
"Apaan yang sah?" Si kanebo garing belum nyambung.
__ADS_1
"Ya kalian berdua, lo sama Faiha. Ah, ngak rela gue." mengatakan dengan wajah lesu.
"Lo barusan bilang apa?ngak apa?"
"Ah, ngak ada apa-apa kok. Semoga lancar sampai hari H ya,bro."
Menjabat tangan Abiseka dengan rasa keterpaksaan. Pupus sudah harapannya ingin lebih dekat dengan Faiha yang ternyata gadis itu adalah calon dari sahabatnya.
"Ngelantur aja lo,Ndre.Siapa juga yang mau sama si bocil itu, dah kuntet dan ah...pokoknya bukan level gue." Abiseka berkata tanpa sadar kalau sang mama dan Faiha tengah memperhatikan kedua bujangan lapuk itu, serta mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Abiseka.
"Ngomong apa kamu Abiseka Jayendra? Kamu bilang Faiha bukan tipe ideal kamu,gitu dan kamu sebenarnya ngak mau menikah sama Faiha. Lalu, apa maksudnya kamu membawanya kerumah dan memperkenalkannya pada kami semua." Sorot mata Nyonya Malika menatap tajam sang putra.
Sontak Abiseka terkejut lalu refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan.Dia tidak lupa jika, sang mama dan Faiha ada di ruangan yang sama dengannya.
"Bu-bukan begitu Ma, Abi tadi cuma bercanda kok. Tanya saja sama Andre, iya kan, Dre?" Mengedip-ngedipkan matanya.
"Iya tante, tadi kita cuma guyon. Ngak beneran. Abiseka dan Faiha adalah pasangan yang serasi.
Nyonya Malika menatap keduanya secara bergantian mencari kejujuran dari mata keduanya dan semoga saja yang mereka katakan benar.
Andre menahan tawa membayangkan apa bila Abiseka anunya di sunat untuk yang kedua kalinya. Tamatlah riwayat si otong. Namun, seketika mulut yang tengah cekikikan terhenti karena mendapatkan tatapan mematikan dari Abiseka.
"Ketawa terus lo, Dre. Selanjutnya itu burung lo yang gue potong."
"Ck...dasar kalian ini masih saja seperti bocah sd, kerjaannya ribut saja."
Nyonya Malika menggelengkan kepala tak habis pikir dengan kelakuan dua perjaka tua berwajah tampan tapi belum laku juga. Entah mengapa dan apa yang salah dengan mereka.
"Ndre, tante boleh minta izin pinjam Faiha sekarang. Tante mau ajak Faiha shopping-shopping."
"Mau ya, sayang menemani Mama belanja sekalian refreshing." Nyonya Mengajak mendadak, Faiha jadi bingung harus menjawab apa.Faiha malah menatap Abiseka bukannya Andre yang sekarang berperan sebagai boss nya.
Abiseka memberi kode melalui tatapannya agar segera bertindak dengan mengabulkam permintaan sang mama. Abiseka menggerakkan bibirnya tanpa suara dengan mengatakan "Jangan, cari alasan bawa pergi Faiha dari sini!"
__ADS_1
Andre pun mengangguk tanda mengerti. "Waduh, maaf tan. Sebentar lagi aku ada rapat dan Faiha harus ikut serta.Jadi, untuk kali ini ngak bisa."
Nyonya malika menghela nafaa dan sedikit lecewa karena tidak bisa mengajak sang calon menantu. Akhirnya ia pun memakluminya.
"Sayang, lain kali kamu harus bisa ya ikut Mama. Andre, besok kalau tante mau pinjam Faiha kamu harus mengizinkannya, ya"
"Beres, gampang di atur itu tan. Kan Andre boss nya.Sekali lagi maaf ya tante Malika."
"Iya, Ma. Lain kali saja ya. Insyallah Faiha bisa."
"Oke, Mama pamit ya. Papa Aryan barusan wa katanya mau pulang cepat. Bye, sayang."
"Muachh." Keduanya bercipika cipiki.
Setelah kepergian Nyonya Malika, kini tinggalah mereka bertiga. Andre yang memang benar-benar harus kembali ke kantornya karena ada meeting dengan seorang klien.
"Bi, sorry–gue juga harus balik ke kantor. Nona Faiha, ayo kita berangkat sekarang!" Menghampiri Faiha dan menarik tangan gadis tersebut hingga bangkit dari dudukny.Membuat Faiha mematung menatap laki-laki bermata amber tersebut.
"Hei hei hei, siapa yang kasih izin lo untuk membawanya?Pergi sana...hush!"
"Dan kamu, sana lanjutkan pekerjaanmu!"
"Iya Tuan Abiseka. Siapa juga yang mau ikut. Permisi Tuan Andre. Senang bertemu anda kembali." Faiha melenggang pergi tak memperdulikan Abiseka yang sudah hampir mengeluarkan tanduknya kesal karena Faiha beraikap cuek padanya.
Padahal di sini dialah boss nya, kenapa malah bersikap hormat pada Andre yang bukan siapa-siapanya Faiha. Sejak kapan mereka saling mengenal. Mengapa terlihat begitu akrab.
"Kenapa lo, Bi. Malah melamun.Orangnya sudah pergi. Posesif banget sih sama calon istrinya." Melangkah keluar sambil tertawa mengejek sahabatnya yang kegede‐an gengsi itu.
"Cemburu bilang boss, posesif banget.Takut ngak jadi kawin ya, eh...Maksudnya nikah.hahaha..."
"Ngeledek aja lo, dah sana pergi.hush...!"
Bersambung
__ADS_1
Hai-hai, saya kembali lagi dengan cerita terbaru semoga kalian suka ya. Jangan lupa like dan komennya . Terima kasih.