Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
45.Suami omes


__ADS_3

Dari awal berangkat menuju bandara dan setelah pesawat yang mereka tumpangi mendarat di tanah air. Pasangan Abiseka dan Faiha tampak santai berlenggang kaki tanpa di repotkan dengan barang-barang bawaan mereka. Karena Abiseka sudah memakai jasa porter.


Faiha berjalan sambil bergelayut manja pada suami tampannya. Faiha yang bertubuh mungil dan Abiseka yang tinggi menjulang namun, tak tampak timpang. Justru pasangan suami istri itu sangat serasi dan manis. Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Ada yang terlihat kagum ada juga yang saling berbisik, mungkin mereka mengira kalau Abiseka seorang sugar daddy dan Faiha sugar baby nya.


Perbedaan umur keduanya yang sangat jauh membuat orang-orang jadi berpikir demikian. Namun, pasangan suami istri yang baru saja kembali dari berbulan madu itu sama sekali tak terganggu, mereka bersikap cuek dan masa bodoh.


"Mas, itu apa tidak mahal membayar orang-orang yang membantu membawakan semua barang-barang kita?"


"Ya enggak lah,sayang. Ngak seberapa kok, lagi pula dengan memakai jasa mereka, otomatis kita telah membantu mereka mendapatkan cuan. Ambil hikmahnya saja. Berbagi rezeki antar sesama."


"Sombongnya yang punya banyak uang. Tapi, syukurlah kalau begitu. Eh, tadi mas bilang cuan...apa itu artinya?" Tanyanya polos.


"Ih, tambah gemes. Cuan itu artinya uang, duit...duit. Tahu kan sekarang, sayangku,manisku, manjaku., jadi pingin cepat sampai di rumah deh."


"Kenapa?"


"Karena tak tahan ingin segera memakanmu...errrr."


"Ish–mulai deh mode mesumnya." Mengerucutkan bibir cherry nya karena gemas, Abiseka mencomot dan menariknya gemas bibir Faiha.


"Assalamuallaikum."


"Wa'allaikumsalam."


"Aduh, pasangan pengantin baru kita akhirnya pulang juga. Mama kira kalian masih betah di sana.Mama lihat kayaknya ada yang berbeda, nih? apa misi memproduksi anak berjalan lancar, gimana rasanya?" Mengedipkan matanya pada putra dan menantunya.


Jangan ditanya bagaimana ekspresi wajah Faiha sekarang. Sudah pasti sangat malu bahkan raut wajahnya berubah merah sampai ke daun telinganya.


"Mama, apa-apaan sih. Begituan saja pake di pertanyakan. Ngak usah kepo deh, Ma. Ayo sayang, mending kita istirahat di kamar saja." Menggandeng mesra sang istri. Mama Malika tersenyum sumpul melihat ke uwu-an pasangan pengantin baru teraebut.


"Eh, stop.Tunggu dulu!"


"Apa lagi sih, Ma?" Abiseka mulai kesal dengan ke-kepo an sang mama.


"Itu, kenapa dengan Faiha? Sayang...katakan pada mama, apa suami tua mu ini tak henti-hentinya menyiksamu? Lihat saja, kamu terlihat lemas bahkan cara beejalanmu tampak aneh. hmm...sudah jelas ini pasti hasil dari perbuatan si bocah tua nakal ini, kan."


"Aduh–sakit, Ma." Meringis kesakitan karena.terkena cubitan maut dari sang mama.

__ADS_1


Faiha yang sudah tak sepolos dulu lagi tentu saja mengerti arti dari perkataan ibu mertuanya


"Fai ngak apa-apa kok, Ma. Cuma kelelahan saja selama di perjalanan tadi."


"Ya itu dia, Abi pasti tidak membiarkan kamu beristirahat dengan baik kan, sayang. Mama juga pernah muda jadi, pernah tahu dan merasakannya." Timpalnya.


"Nah itu sudah tahu, kenapa pake di pertanyakan dan di permasalahkan. Berarti hal seperti itu wajar-wajar saja, bukan? Namanya juga pengantin baru...baru hot-hotnya. Ya ngak, eyang?"


Eyang Retno yang sejak hanya terdiam menyaksikan.perdebatan ibu dan putranya itu hanya bereaksi dengan menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tingkah kekanak-kanakan keduanya.Bahkan umur sudah tak muda lagi.


"Sudah ah, ayo sayang kita ke kamar saja. Oh ya,Ma. Nanti tolong abtarkan makan malam kami ke kamar saja ya. Maaf, sepertinya kami tidak bisa ikut makan bersama."


"Dasar bocah tua nakal. Awas saja kalau besok pagi menantu mama sampai kenapa-napa. Nanti mama akan sunatin lagi habis anumu itu." Kesalnya.


"Astaga, apa nanti mama ngak kasihan sama menantu kesayangan mama ini jika, senjata andalan pemuas istri tercintaku mama pangkas habis. Bisa hancur dunia percintaan kami."


"Yuk, ngak usah di dengerin ibu ratu bicara. Tolong ya mamaku sayang yang cantik dan baik hati sejagat raya. Kasihan kami kan baru capek. Okeh, mama Malika."


Cup


"Iya iya, dasar anak nakal. Biarkan istrimu beristirahat, Bi. Kasihan...kalau mau itu kan masih bisa di lain waktu!"


"Suka-suka kami lah, Ma. Wong menantu mama saja ngak bakal menolak, kok. Kan, nikmat."


"Mas– malu tahu, ngomongin begituan terus." Protes Faiha.


"Begituan itu apa sih, sayang?" Pura-pura tak tahu hanya ingin menggoda istri mungilnya.


"Ngak tahu, ayo cepat...katanya mau ke kamar!"


"Oke, asiyapp sayangku." Melakukan gerakan hormat seperti pada seorang komandan.


Makan malam pun tengah berlangsung. Namun, tanpa kehadiran Abiseka dan Faiha. Sesuai permintaan putranya yang ingin makan malam di kamar saja dengan sang istri.


"Jadi, beneran mereka makan malam di kamar?" Eyang Retno yang bertanya.


"Sepertinya sih begitu, ma. Biarkan saja lah.Namanya juga pengantin baru, nempel terus tidak mau terpisahkan. Yang penting kita cepat dapat cucu, ya ngak Pa?"

__ADS_1


Seperti biasa, mama Malika akan sangat antusias jika membicarakan perihal seorang cucu. Keluarga Jayendra sudah begitu lama menantikan akan hadirnya seorang cucu dari putra semata wayang mereka, Abiseka.Suami dan sang ibu mertua mengaminkannya


"Aamiin. Semoga Allah segera mengidzabah do'a kita semua."


Sementara itu, Abiseka dan Faiha juga baru saja menyelesaikan makan malamnya. Setelah membersihkan diri aebelum beranjak tidur, aktifitas rutin yang biasa mereka lakukan di setiap malamnya.


Kini mereka tengah bermanja ria di atas tempat tidur. Tepatnya Abiseka yang sedang tiduran di paha sang istri.


"Mas, apa besok mas mulai ke kantor?" Sambil membelai lembut kepala suami bucinnya.


"Sepertinya sih, iya. Kenapa? Apa kamu tidak ingin di tinggal bekerja. Jika begitu, mas ngak akan berangkat ke kantor dulu. Lagi pula lebih enak menemani istri mungil mas yang selalu bikin on...setiap saat?"


"Mulai deh, omes nya. Begini nih kalau punya suami omes tiap saat yang di pikirin itu-itu saja.hemm–"


"Mesum sama istri sendiri ini, ngak apa-apa kan. Kecuali, sama perempuan lain baru itu cari penyakit."


"Coba saja kalau berani, bakal tak sunatin itu mas."


"Tuh kan, mas bilang juga apa. Kamu itu lama-lama jadi mirip mama, yakin mau melakukannya? Siap kehilangan satu-satunya yang bisa bikin kamu sampai merem melek tiap malam...hem?"


"Ya enggak lah. Eh, siapa juga yang begitu. Enggak ya."


"Masa' sih? Lalu yang suka teriak ah uh ah uh...itu siapa ya?"


"Ish– mas ih, udah dong...jangan menjurus kesana terus bisa ngak sih?" Rengek Faiha pada sang suami.


"Sudah, omongan mas jadi ngelantur kemana-mana. Pokoknya besok aku juga akan berangkat ke kantor.Mas juga, ngak ada alasan lagi untuk bermalas-malasan. Mas harus cari uang yang banyak buat masa depan anak-anak kita nanti!"


"Anak, benar apa katamu.oke...besok kita mulai bekerja." Abiseka tersenyum menyeringai entah apa lagi rencana yang ada di otaknya itu.


"Kenapa malah senyam senyum aneh gitu? Mencurigakan deh?"


"Ngak ada, sayang. Ayo sini, bobo...mas peluk!"


Bersambung


Maaf ya, kemarin ngak bisa update soal nya baru ngak fit. Segini dulu ya, insyallah secepatnya bisa up rutin lagi. Selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2