Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
73. Dua baby


__ADS_3

Ferdy sampai tersedak mendengar apa yang dikatakan oleh Zivanya. Kenapa Zivanya sampai berpikir demikian mengenai Andre. Apakah Zivanya telah mengetahui sesuatu tentang Andre tapi, apa? Setahu-nya kehidupan pribadi Andre sedikitpun tak pernah melenceng dari norma agama dan kesusilaan.


"Kamu kenapa Fer? Aku jadi curiga, jangan-jangan benar ya kamu sudah mengetahuinya. Apa kamu kenal gadis yang kini bersama Andre?"


Keterkejutan Ferdy membuat Zivanya semakin curiga jika laki-laki itu mengetahui tentang gadis belia yang ia temui di apartemen Andre kemarin malam.


"Oh, a–ku ngak kenapa-napa kok Ziv.Kamu tahu dari mana berita itu?"


"Ngak dari mana-mana, ya aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Kemarin malam saat aku ke Apartemennya dan gadis itu sedang ada bersamanya." Zivanya mengatakan yang sebenarnya.


Sontak saja Ferdy begitu terkejut mendengar bahwa Zivanya bertemu dengan Hani di Apartemen Andre.


"Wait? Apa Hani yang dimaksud sugar baby nya Andre? Kenapa si Zivanya sampai berpikiran kalau Andre mempunyai simpanan seorang gadis belia . Ini mesti ada apa-apa nya. Gue akan tanyakan ke Andre nya langsung."


Ferdy juga tak kalah terlejut mendengarnya bahwa Andre menjadi sugar daddy dan Hani...Sungguh ia tak mempercayainya.


"Hei–Fer, malah melamun. Benar kan kamu tahu semua ini. Sejak kapan Andre berubah sejauh itu? Ini tidak bisa dibiarkan Fer, kita harus melakukan sesuatu."


"Maksud kamu apa dengan melakukan sesuatu? Aku rasa kita tidak berhak melarang apalagi mencampuri kehidupan pribadi orang lain termasuk Andre. Dia bahkan bukan siapa-siapa nya kamu,bukan. Lalu, apa alasanmu sampai ingin mengusik kehidupannya."


"Sudahlah Ziv, aku ngak mau turut campur sama urusan orang lain. Itu sudah menjadi pilihan hidupnya berani mengambil jalan seperti itu. Sepertinya aku harus segera pergi, masih ada yang lebih penting yang harus aku lakukan.Bye Zivanya, saranku...hentikanlah atau kau akan mendapatkan masalah nantinya. Kamu tahu siapa Andre Mendoza, bukan!?"


Zivanya mengepalkan kedua telapak tangannya kesal. Ia tidak menyangka jika Ferdy malah menentangnya.Ia pikir Ferdy tak akan bisa menolaknya seperti laki-laki lainnya ketika ia menginginkan sesuatu. "Sial...ternyata si Ferdy malah menyalahkan gue. Lihat aja nanti akan gue buktikan kalau Andre akan bertekuk lutut padaku. Gue harua segera bertindak." Seringai licik tersemat diwajah cantiknya.


Di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, Faiha dan Mama Malika saat ini.sedang beeada diruang periksa.poli kandungan. Suster membantu Faiha rebahan di atas brankar untuk melakukan pemeriksaan USG. Ini adalah pertama kalinya Faiha memeriksakan kandungannya.


"Mari bu Faiha, silahkan anda berbaring. Maaf ya bu, ini saya buka sedikit." Seorang perawat menyingkap dress yang dilenakan Faiha keatas setelah sebelumnya bagian bawahnya telah ditutup dengan selembar kain selimut. Faiha pun mengangguk dan menurut.


"Bagaimana ibu Faiha? Oh...ternyata anda nyonya Malika." Betapa terkejutnya sang dokter melihat keberadaan mama Malika yang sedang berdiri disebelah pasien yang akan diperiksanya.


"Selamat pagi dok, iya ini menantu saya dan kami ingin mengetahui keadaan kehamilan menantu saya ini. Ini cucu pertama saya loh, dok." Jawab mama Malika penuh antusias senyum terus merekah di wajah cantiknya.


"Begitu ya. Oke...mari kita lihat ya bagaimana keadaan kandungannya." Dokter berjenis kelamin perempuan itu pun duduk di samping sang pasien dan mulai memeriksanya.


"Hmm–semua bagus dan normal. Dan ya...itu dia, lihatlah nyonya ada dua kantung janin dan yup positif ada dua janin masih sebesar biji kacang merah sekitar 2,7 centimeter. Sekarang mari kita dengarkan detak jantungnya." Setelah dokter mengoleskan sejenis cairan gel ke permukaan perut Faiha, kemudian sang dokter menggerakkan alat tersebut mencari keberadaan posisi janin untuk mendengarkan denyut jantung sang calon bayi.

__ADS_1


Dag dug dag dug dag dug


"Dengarkan, ada dua suara detag jantung yang saling bersahutan. Selamat ya nona Faiha dan nyonya Malika."


Wajah Faiha berkaca-kaca namun diiringi dengan senyum kebahagiaan. Begitupun mama Malika, wanita paruh baya yang sebentar lagi akanmenjadi seorang nenek itu pun tak bisa membendung rasa harunya. Air matanya menetes dan tak henti-hentinya tersenyum dan bersyukur atas terkabulnya do'a-do'nya selama ini.


"Ma–ada dua bayi, aku akan memiliki dua bayi mungil sekaligus." Faiha menggenggam erat tangan ibu mertuanya.


"Iya sayang, mama juga sangat bahagia dengan hadirnya dua calon cucu pertama di keluarga Jayendra. Terima kasih ya, nak." Mengecup lembut kening sang menentu kesayangannya.


Setelah menebus obat dan vitamin yang diresepkan oleh dokter Kartika, mereka pun segera bergegas pulang. Di sepanjang perjalanan mama Malika tak henti-hentinya mengusap perut Faiha sambil mengajak sang janin berinteraksi


"Sayang sayangnya Uti, tumbuh dengan sehat ya nak. Jangan nakal didalam sana,adilah anak yang baik nurut sama mama dan papa!" Mama Malika mengajak berbicara seakan janin yang masih bertumbuh didalam rahim Faiha mendengar dan akan apa yang diucapkannya.


"Mama ini ada-ada saja deh, memangnya mereka sudah bisa mengerti?" Faiha terkekeh melihat perlakuan sang ibu mertua pada kedua calon buah hatinya.


Faiha mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya berniat ingin memberi kabar tentang hasil pemerikasaannya tadi. Namun, baru saja ia ingin mendial nomer sang suami. Pucuk dicinta ulampun tiba, malah Abiseka yang lebih dulu menghubunginya.


"Ya, Hallo. Assalamuallaikum mas."


"Mas mas, stop! Pertanyaan mas sudah seperti seorang wartawan saja. Iya, Alhamdulillah hasilnya positif dan kejutannya kita akan memiliki dua bayi mungil yang lucu. Mas senang, kan?"


Hening sejenak, Abiseka tak bereaksi apa-apa hingga seketika terdengar suara teriakkan kegirangan dari Abiseka, Faiha sampai menjauhkan ponselnya karena suara Abiseka sungguh memekakkan telinga.


"Yeaayyy...yuhuuu!"


"Alhamdulillah ya Allah, Terima kasih ya sayang telah memberikan hadiah terindah untuk mas."


"Kalau begitu mas pulang sekarang ya, mas ngak sabar mau bertemu baby baby kita. Mas sudah kangen sekali sama kalian."


"Ya ampun. Mas kan sedang bekerja nanti sore juga mas pulang kan. Aku dan bayi bayimu tidak akan pergi kemana-mana, kok. Sabar ya daddy. Sekarang lebih baik daddy Abi konsentrasi kerja dulu. Sampai bertemu nanti sore ya daddy Abi." Faiha merubah suaranya seperti anak kecil terdengar sangat imut.


"Akan aku kirimkan hasil rekaman USG baby kita ya, supaya daddy Abi tambah semangat kerjanya."


"Kirimkan sekarang juga, sayang. Mas sudah tak sabar ingin melihat mereka!"

__ADS_1


Akhirnya Abiseka pun mengalah dan patuh pada istri tercintanya. "Baiklah sayang, mas kerja dulu ya. See you and l love you baby. Muachh–"


"I love you to daddy Abiseka.muachh–."


Setelah mendengar berita yang membahagiakan, senyum tak pernah lepas di wajah tampan Abiseka. Ia melihat hasil rekaman USG sang buah hati yang dikirimkan Faiha tadi.


"Sayang-sayangnya daddy...muach muach, l love you kids." Mencium layar ponselnya yang masih memutar rekaman tersebut.


"Boss, Jam setengah tiga nanti teman– ekhem." Heru yang baru saja masuk dan melihat kelakuan aneh sang boss sampai melongo. Sepertinya sang boss tengah diliputi kebahagiaan.


"Maaf boss, Kelihatannya anda sangat bahagia sekali. Apakah ada suatu berita baik?" Tanya Heru penasaran.


"Benar sekali, berita yang sangat membahagiakan. Sebentar lagi aku akan segera menjadi seorang ayah dari dua bayi mungil sekaligus.Oh...aku sungguh tidak menyangka akan mendapatkan rezeki yang begitu besar dari Allah."


Heru bergegas mengulurkan tangannya memberi selamat pada sang boss." Selamat ya boss, semoga kehamilan nyonya Faiha diberi kelancaran dan keselamatn sampai melahirkan nanti."Heru membwri selamat dan mendo'akan yang terbaik untuk istri dari boss nya.


"Terima kasih, oh ya...tadi apa yang ingin kamu sampaikan?" Abiseka teringat jika tadi Heru ingin mengatakan sesuatu.


"Oh iya, maaf boss. Tadi tuan Ferdy meminta temu janji ditempat biasa sekitar jam setengah tiga nanti sore."


"Ferdy? tumben sekali pakai bikin janji segala, kenapa ngak langsung telepon saja tu anak. Ya sudah, batalkan kegiatan yang lainnya!"


"Baik boss, permisi."


Setelah Heru keluar dari ruangannya, Abiseka segera menelpon Ferdy.


"Hem–ada apa lo tiba-tiba ngajak ketemuan? Apa ada yang penting, hanya kita berdua atau Andre ikut juga?"


"Iya, tentu saja ai Andre harus hadir karena maslah ini menyangkut tentang dia dan adik ipar lo yang imut itu." Ferdy menjelaskan inti dari permasalahan yang ingin mereka bicarakan nanti.


"Hani? Ada apa dengan Hani, apa Andre telah melakukan sesuatu padanya.Ayo, katakan Fer!" Mendengar nama Hani membuat Abiseka tiba-tiba merasa was-was apalagi Ferdy mengatakan kalau permasalahan yang akan mereka bahas mengenai Andre dan Hani adik iparnya.


Diseberang sana Ferdy sampai menggelengkan kepalanya, sifat Abiseka yang tidak sabaran tak pernah berubah. "Sudah,.enggak usah ngegas dulu. Ngak terjadi apapun pada Hani. Pokoknya nanti kita ketemuan di tempat biasa. Awas lo jangan sampai ngak datang."


"Hemm–gue pasti datang."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2