
Faiha mengernyit dan menatap intens sang adik." Ayo katakan, kenapa malah diam."
"Anu–itu, mbak...bagaimana rasanya–"
"Anu itu, apa? Malah mandek. Cepat katakan!"
"Emm, bagaimana rasanya malam pertama? Sakit ngak mbak?"
Bukannya menjawab pertanyaan sang adik, Faiha malah geleng kepala dan beranjak akan pergi mwninggalkan Hani yang masih dalam masa pingitan.
"Mbak, kok malah pergi sih? Pertanyaanku belum dijawab kan." Hani mengerucutkan bibirnya.
"Sudah ngak usah macam-macam kamu, Han. Kamu lupa ya perjanjian yang sudah kalian sepakati. Kamu dan kak Andre belum boleh melakukannya sampai umurmu 18 tahun.Ingat itu!" Faiha memperingati adiknya.
"Hh–iya benar. Tapi, kan–" Jawab Hani lesu.
Sesuai hasil rembukan yang terakhir kali. Disepakati bahwa setelah mereka sah menjadi suami istri, Hani akan tinggal sementara dirumah orang tua Andre. Berhubung usia Hani masih terlalu muda dan terlalu beresiko jika hamil dan melahirkan. Maka, di putuskan bahwa mereka akan tinggal terpisah terlebih dahulu sampai Hani menginjak usia 18 tahun dan itu masih 5 bulan lagi.
Awalnya Andre menolak keras persyaratan itu. Bagaimana tidak, ia sudah lama menunggu moment disaat ia dan Hani menjadi pasangan resmi. Dan mereka akan dipisahkan untuk sementara waktu, sungguh jauh didalam lubuk hatinya Andre tak rela.
Pria itu sudah tidak tahan ingin segera meneguk manisnya kehidupan setelah pernikahan bersama sang istri tercinta. Sungguh tega sekali para orang tua mereka. Alhasil Andre hanya bisa pasrah dan menerima dengan sedikit tidak rela.
Mendoza Energy
"Kenapa muka lo, Ndre...kusut bener kayak kemeja belum disetrika? Apa yang lo galau'in sih, sebentar lagi nikah juga." Pagi itu, entah ada angin apa Ferdy sudah bertandang ke kantor Andre. Sebenarnya ia sedang gabut saja karena galau kedua sahabatnya telah memiliki pendamping hidup. Sedangkan ia, pacar saja tidak punya.
Betapa nelangsanya kehidupan percintaan seorang Ferdy Wirakusuma pria tampan nan rupawan dan juga mapan. Juga seorang pengusaha muda yang tak kalah sukses dari kedua sahabatnya. Namun, sayang untuk urusan cinta ia tak sesukses Abiseka dan Andre.
Ferdy mendudukkan bokongnya diatas sofa lalu, mulai mengutak atik ponselnya. Andre yang tengah bad mood pun ikut bergabung duduk disalah satu sisi sofa menyenderkan kepalanya sambil memejamkan mata.
"Harusnya gue yang bete, Ndre. Bukannya malah lo. Bentar lagi lo bakal melepas maja lajang dan juga keperjakaan lo, bukan. Gimana ngak indah dan nikmat hidup lo. Eh, btw lo masih perjaka kan?"
Seketika bantal sofa pun melayang dan mendarat tepat diwajah tampan Ferdy.
Bugh
"Enak aja lo kalau ngomong.Lo kira emang gue cowok apaan, najis gue main celup-celupan sebelum halal. Iman gue masih kuat dan tak akan tergoda oleh perbuatan yang diluar norma agama."
"Hah, sumpah lo? Perasaan dulu yang ke gap lagi mau *** *** siapa ya? Udah anak perawan orang hampir di bikin bugil lagi...Ndre Ndre, ngapa? Pasti lo mau bilang kalau sedang khilaf kan."
Dan Andre pun mati kutu karena apa yang dikatakan oleh Ferdy adalah benar adanya. Antara khilaf dan ngebet tak beda jauh, bukan.
"Iya iya, lo bener gue yang salah.Salah perhitungan maksudnya, salah perhitungan. Harusnya kami melakukannya di apartemen saja."
__ADS_1
Plakk
"Sama aja,mas Andre. Itu artinya lo memang berniat mau makan Hani dan khilaf lo jadiin kambing hitam padahal emang junior lo yang udah ngebet minta bersilaturahmi sama si gadis imut. Ngeles aja lo bisanya." Ferdy mengeplak kepala Andre gemas.
"Trus, masalahnya sekarang apa? Kayaknya lo ngak semangat banget, padahal tinggal nunggu 2 hari aja loh lo bakal resmi jadi seorang suami."
"Gimana ngak bete coba, masa' habis nikah gue sama Hani harus hidup terpisah. Dengan alasan kalau nanti Hani hamil terlalu beresiko karena Hani masih terlalu muda. Dan kami baru boleh diizinkan melakukannya saat usia Hani sudah 18 tahun. Dan itu masih lama, lima bulan lagi...bayangkan coba?Lemes bro."
Mendengar curhatan Andre, si Ferdy malah tertawa terpingkal-pingkal antara membayangkan si junior Andre yang bakal nganggur setelah ijab qobul dan juga harus berpuasa selama beberapa bulan lamanya. " Gue udah bisa membayangkannya dan sumpah, gue kasihan sama senjata lo yang ngak bisa berperang di malam pengantin.hahaha–"
"Shut up–mingkem lo! Bukannya ikut perihatin ini malah ngetawain. Ngece banget sih lo, Fer. Gue do'a in besok lo bakal kena karmanya karena ngeledek temen yang lagi kesusahan." Andre balik mengejek bahkan menyumpahi Ferdy.
"Ah, ngak asik lo, Ndre. Gitu aja ngambek pake nyumpahin segala lagi. Gue kan cuma bercanda kali."
"Ya udah sih, sabar aja. 5 bulan itu ngak lama, kok. Paling juga nanti oli lo yang kadaluwarsa." Ferdy menahan tawanya, si lemes memang sukanya membuat orang senewen.
"Udahlah, sana minggat lo.Kesini cuma bikin kepala gue tambah pusing." Menarik tangan Ferdy lalu mendorongnya agar keluar dari ruangannya.
"Jiah, dia baper beneran. Yo wes lah.gue pamit...jangan lupa lima bulan lagi baru bisa asah golok buat bertempur, oke." Ferdy langsung berlari keluar sebelum si singa birahi ngamuk.
"Dasar si Ferdy."
"Mas, menurut mas gaun ini terlalu menonjolkan perut besarku, tidak?" Saat ini Faiha sedang bersiap-siap karena hari ini adalah acara pernikahan Andre dan Hani. Faiha mematut-matutkan tubuhnya di hadapan cermin besar yang berada di kamarnya.
Abiseka yang sudah selesai bersiap, beralih menatap pada sang istri yang terlihat tak pede dengan gaun yang dikenakannya. Perlahan Abiseka mendekat lalu, memeluk dari belakang dan mengelus perut buncit Faiha yang begitu menonjol membuat Faiha malah merasa kegelian.
"Ih–mas, geli tahu. Aku tu minta pendapat mas bukannya minta dikelitiki." Menggeliat ingin melepaskan diri dari dekapan suami usilnya.
Cup
Setelah mencium pipi chubby Faiha, Abiseka pun melepaskan dekapannya pada tubuh sang istri, membisikkan kata-kata yang membuat wajah Faiha berblushing ria. "Bagi mas, tubuhmu semakin sexy dan menggoda. Membuat mas selalu bergairah selalu ingin didekatmu selalu. Kau tahu itu, sayang."
"Mas, ih...malu aku." Wajah Faiha tersipu-sipu malu sungguh menggemaskan dimata Abiseka.
Tok tok tok
"Faiha, Abi, kalian sudah selesai belum? Ayo, berangkat. Nanti kita bisa terlambat loh." Mama Malika mengetuk pintu sambil berteriak memanggil putra dan menantunya.
"Iya Ma, ini juga sudah siap.Sebentar...kami akan segera menyusul." Faiha yang menjawab panggilan tersebut. Setelahnya tak terdengar lagi suara mama Malika.
"Ayo mas, kita harus segera bergegas. Kasihan Mama dan Papa pasti sudah menunggu kita!" Faiha menggandeng dan menggenggam erat tangan besar Abiseka.
__ADS_1
Prosesi Ijab Qobul dan resepsi pernikahan akan di selenggarakan di sebuah hotel berbintang 5 yaitu di The Sultan Hotel & Residence.
Suasana tempat berlangsungnya acara sakral tersebut telah di hadiri oleh para tamu undanga, baik dari pihak mempelai Pria dan mempelai wanita. Kebanyakan yang hadir dalam prosesi ijab qobul adalah dari kalangan keluarga dan teman dekat.Lalu, resepsi pernikahan akan di lanjutkan pada malam harinya.
Semua hadirin yang menyaksikan prosesi ijab qobul yang di ucapkan oleh Andre Mendoza dengan lantang dan lancar tanpa hambatan pun ikut bersorak kata Sah dan di aamiini oleh semua orang. Dan Anwar yang untuk kedua kalinya menjadi wali nikah dari saudari nya pun berucap syukur karena telah memenuhi amanah mengahantarkan kakak dan adiknya ke jenjang pernikahan.
SAH
SAH
"Selamat ya Mas Andre dan dek Hani. Kalian sekarang sudah resmi sebagai pasangan suami dan istri yang sah secara agama dan hukum negara. Semiga kelak kalian akan menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah. Pak Penghulu mengucapkan kata selamat pada sepasang pengantin baru Andre dan Hani.
Usai acara ramah tamah dan santap siang bersama. Semua anggota keluarga telah menuju kekamar masing-masing. Ya, pihak keluarga Andre telah membooking beberapa kamar untuk kedua keluarga. Termasuk pasangan pengantin baru.
Andre dan Hani baru saja memasuki kamar pengantin mereka. Hani tampak terpana melihat dekorasi kamar yang terlihat begitu indah. "Wah,indah sekali. Mas..."
GREPP
"Honey, Mas sangat bahagia akhirnya kita telah resmi menjadi suami istri. Dan...em, Mas sudah tak sabar ingin merasakan indahnya malam pertama kita.Boleh ya?" Tanpa ba bi bu, Andre langsung mendekap erat tubuh mungil istrinya dari belakang.Lengan kekarnya melingkar sempurna di pinggang sampai di perut Hani.
"Mas,ja–jangan! Nanti mommy dan daddy marah, juga yang lainnya. Ingat perjanjian yang telah kita sepakati. Mas belum boleh menyentuhku." Hani mencoba melepas tangan Andre. Namun, tak bisa karena tenaga Hani tak sekuat belitan tangan Andre.
Cup
Cup
"Iya honey, mas juga tahu. Tapi, boleh dong icip-icip.sedikit sebelum menu utama nanti." Gerakan tangan dan bibir Andre semakin nakal. menjalar kesetiap lekuk tubuh Hani yang masih berbalut kebaya yang melekat pas di tubuh Hani yang mungil namun beriisi alias montok di tempat-tempat yang sewajarnya. Sungguh Andre tak bisa lagi menahan gairah kelelakiannya.
"Akhh–Mas mau apa?"
Hani terjingkat kaget karena merasakan tubuhnya melayang di bopong ala bridal style oleh Andre. Lalu, merebahkannya dengan hati-hati keatas ranjang king size berseprei warna putih itu.
"Ma–ss, aku...takut." Tubuh Hani menegang dan bergetar karena tak menyangka kalau suami barunya itu akan berbuat nekat dengan mencoba melanggar persyaratan yang telah di tetapkan oleh kedua orang tua mereka.
"Ssttt–jangan berisik honey! Nanti mereka akan curiga. Sebentar saja, oke. Jangan khawatir mas akan berhati-hati ."
Pasangan pengantin baru itu pun saling melepas rasa rindu selama hampir satu minggu tak bertemu. Pergulatan pun di mulai dan penuh gelora asmara. Hingga saat si Junior baru akan menyambangi si mungil, tiba-tiba–.
BRAKKK
"Tuh, bener kan apa gue bilang. Oh...mata suciku telah ternoda. Aww...mas Andre!"
Bersambung
__ADS_1