
Abiseka berusaha menyingkirkan kaki Faiha dari atas senjata keramatnya, karena sakng kuatnya mendorong. Sampai tubuh mungil Faiha jatuh terjungkal di atas lantai.
Anehnya, bukannya terbangun. Faiha malah semakin.terlelap. Tak merasakan dinginnya lantai kamar.
"Waduh–apa dia mati?" Abiseka sontak terbelalak kaget melihat istri mungilnya yang terjatuh dari atas tempat tidur akibat dari perbuatannya. Perlahan, ia pun merangkak turun untuk memeriksa kondisi Faiha yang bahkan tak menunjukkan pergerakan sedikitpun.
"Hei, apakah kamu tidak apa-apa?" Menoel-noel.pipi chubby Faiha. kenapa coba harus menyentuh pipi, jawabannya adalah karena ia gemas.
Namun, sama sekali tak ada reaksi apa pun dari tubuh mungil Faiha. Seketika muncul perasaan takut dari dalam dirinya. Bagaimana kalau gadis itu benar-benar sudah tak bernafas dan itu artinya ia lah yang telah membunuhnya walaupun tanpa kesengajaan.
Perlahan Abiseka mengangkat tubuh Faiha dan di baringkannya kembali di atas tempat tidur. Baru saja ia ingin melepaskan tangannya dari tubuh Faiha, tiba-tiba Faiha membuka mata bulatnya dan refleks mendorong tubuh Abiseka dengan kekuatan penuh hingga laki-laki bertubuh kekar itu terjungkal dan terjatuh dan mendaratkan bokongnya dengan sempurna di lantai yang keras hingga memekik kesakitan.
"Aduh–boyokku!" Ringisnya memegang pinggangnya yang terasa nyeri.
Sedangkan Faiha tak jauh berbeda, gadis itu pun juga baru merasakan efek yang sama akibat terjatuh dari atas tempat tidur tadi.
"Aww–" Megelus pinggangnya.
Menyadari akan ke-khilafannya, Faiha segera beranjak turun lalu mendekat pada suaminya yang masih terduduk di atas lantai sambil meringis memegang pinggangnya. Kening Faiha mengkerut dan bertanya-tanya. Mengapa Abiseka yang terjatuh dia juga yang merasakan hal yang sama. Yaitu pinggangnya yang terasa nyeri.
"Tuan, apa anda tidak apa-apa? Maaf ya, saya tidak sengaja mendorong Tuan. Habis anda mengagetkan saya." Faiha mencoba untuk membantu Abiseka untuk bangkit dan memapahnya untuk duduk di atas ranjang.
Dengan wajah menyebalkannya, Abiseka megomeli Faiha seperti biasanya. Menyuruh gadis itu menyingkirkan tangannya yang hendak menyentuh tubuhnya.
"Sudah, sana jauh-jauh. Kamu itu selalu membuat masalah saja." Kesalnya menatap tajam pada istri mungilnya.
Mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya, Faiha segera bergerak menjauh lalu, melangkah ke arah sofa.Sambil berdecih sebal. " Ish–orang sudah minta maaf, malah ngegas. Dasar cowok aneh."
"Kamu ngomong apa barusan?" Mendelik galak.
"Oh, bukan apa-apa kok,Tuan." Jawabnya sambil membuang muka ke arah lainnya. Malas untuk memperpanjang masalah dengan laki-laki dingin itu.
Suasana hening tanpa ada yang bersuara sepatah kata pun. Mereka sudah tidak mengantuk lagi dan tanpa terasa waktu pun telah menunjukkan pukul 16.30 WIB.Benar saja, tak lama terdengar suara bell pintu kamar mereka. Sudah bisa di tebak kalau itu adalah staff WO yang akan mendadani pasangan pengantin bersiap untuk acara resepsi.
Ting tong"
__ADS_1
"Buka pintunya, kenapa malah bengong!"
"Iya iya, Tuan Abiseka yang terhormat.ck–ngeselin." Faiha melangkah menuju pintu sambil menggerutu tak jelas.
Dua orang wanita dan satu orang laki-laki kemayu masuk dengan membawa sepasang busana pengantin dan berbagai macam perlengkapannya.
"Mari nona, saya akan membantu anda." Salah satu diantara kedua wanita tersebut ingin membantu Faiha membuka pakaiannya.
"Eh–mau apa kamu? Saya bisa membukanya sendiri. Lagi pula, gila apa membukanya disini?" Tentu saja Faiha menolaknya, Ada abiseka dan juga satu lelaki gemulai di dalam ruangan yang sama dengannya.
"Maaf nona.Tapi, itu adalah tugas kami dan kami sudah terbiasa melakukannya. Apakah nona malu?"
"Siapa namamu?" Tanya Faiha.
"Nama saya Irma, nona.Nona tidak perlu khawatir dengan adanya Tince.Eh...maaf maksud saya Tino, nona. Dia tidak akan jelalatan melihat tubuh anda. Dan bukankah tidak masalah ada suami anda di sini?"
Faiha benar-benar tak tahu harus memberi alasan apa pada mereka. Abiseka memang suaminya, suami hanya di atas kertas. Mana mungkin ia membiarkan laki-laki itu melihat tubuhnya.
"Bukan begitu ya,mbak. Iya, Tu–mas Abi adalah suami saya.Tapi, tetap saja saya malu karena itu–"
Ya, Faiha bukanlah gadis polos yang belum mengerti tentang apa yang di lakukan pasangan dewasa. Matanya membulat sempurna dan semburat merah menghiasi wajah imutnya. "A-apa maksudmu? Itu tidak ada–"
"Sudah-sudah, berisik kalian ini.Kami aku akan.pindah ke kamar sebelah. Siapa juga yang ingin melihat tubuhmu yang tak menarik itu."
"Ayo—kamu, ikut aku!"
Abiseka geregetan dengan perdebatan yang tak berfaedah antara dua wanita itu. Dan akhirnya ia pun mengalah lalu pindah ke kamar sebelah. Sebelumnya ia menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan kuncinya.
Waktu dua jam yang dibutuhkan untuk merias sang pengantin dan akhirnya Faiha telah selesai di rias.
Dan hasilnya, Faiha telah menjelma bak seorang putri nan cantik jelita. Gaun pengantin yang di kenakannya tampak sangat anggun membalut tubuh mungilnya.
"Wah–nona Faiha adalah pengantin tercantik yang pernah kami rias." Bahkan sang MUA tak percaya dengan hasil pulasan jemari tangannya di wajah Faiha.
__ADS_1
"Terima kasih." Senyum merekah di wajah cantik Faiha. Ia juga tak menyangka bahwa ia bisa menjelma menjadi secantik ini. Terus menatap dirinya pada cermin besar di hadapannya.
"Apakah pasangan pengantin sudah siap? Acara akan segera di mulai. Loh, mana mempelai pria nya?" Seorang staff WO menanyakan keberadaan Abiseka sang pengantin pria. Karena ia hanya melihat di kamar itu hanya ada pengantin wanitanya saja.
"Memperlai prianya ada di kamar sebelah, mbak."
"Ekhemm–"
"Oh, Tuan Abiseka. Ternyata anda sudah siap juga.Mari Tuan, anda.dan nona Faiha harus segera menuju ke ballroom."
Abiseka pun telah berubah tampil berkharisma. Karena.laki-laki itu memang sangatlah tampan entah apapun yang di ke akannya.
"Baiklah. Lalu, apakah istriku juga sudah siap?" Tumben sekali Abiseka menanyakan Faiha. Ya seperti biasa, akting pun segera di mulai dan Faiha harus mematuhinya.
"Sudah, Tuan. Itu nona masih di dalam . Beliau tengah menunggu anda,Tuan."
"Fai–ha."
Abiseka langsung terdiam dengan mata yang tertuju pada sosok bidadari di hadapannya. Dan sang bidadari itu adalah gadis yang telah sah menjadi istrinya.
"Istri anda sangat cantik kan, Tuan Jayendra?" Seseorang berbisik tepat di telinganya.
"Iya, istriku memang sangat cantik." Tanpa.sadar Abiseka memuji kecantikkan Faiha istrinya.
"Cie cie–terpesona ni yee sama lovely wife nya."
"An*** loe, ngagetin gue aja." Lamunan abiseka ambyar setelah melihat dan menyadari siapa yang barusan berbisik padanya.Dan ternyata si tengil Ferdy dan Andre yang juga tengah berdiri mematung dengan tatapan tak lepas dari Faiha. Abiseka yang sekilas melihat tingkah Andre pun langsung berceletuk menyindir Andre.
"Ck– jaga mata, lihatnya biasa saja. Ingat itu istri dari sahabatmu sendiri jangan berpikir macam-macam, ya."
"Ndre–jadi beneran loe naksir sama istrinya si Abi?"
Bersambung
__ADS_1
Hai-hai, saya kembali lagi dengan cerita terbaru semoga kalian suka ya. Jangan lupa like dan komennya . Terima kasih.