Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
96. Membuncit bersama


__ADS_3

Usai sarapan pagi, seperti biasa Faiha mengantar si kembar ke sekolah. Abiseka tak mengizinkan Faiha membawa mobilnya sendiri walaupun sebenarnya Faiha sudah mahir menyetir. Ia menyiapkan supir pribadi untuk sang istri. Sebagai istri yang solehah ia pun manut apa kata suami.


Mobil mereka sudah tiba didepan gerbang sekolah. Avaro langsung turun sendiri sedangkan Alesha di gandeng Faiha.Avaro berjalan lebih dulu diimuti oleh mommy dan Alesha.


'Varo, tungguin dong! Katanya mau jagain Alesha dengan baik...malah ditinggal adiknya." Tegur Faiha pada sang putra yang lupa akan janjinya.


Pemuda cilik berwajah tampan itu pun menghentikkan langkahnya lalu menoleh kebelakang sambil menyengir kuda.


"Hehe–eh, iya lupa. Sorry mom. Ayo, dek kita masuk! Da da mommy." Avaro menghampiri Alesha lalu menggandeng tangan adiknya melangkah menuju ke dalam gedung sekolah. Tak lupa keduanya mencium pipi sang mommy.


"Mbak Faiha!"


Faiha baru saja akan masuk kedalam mobil ketika mendengar suara panggilan seseorang membuatnya mengurunkan niatnya tak jadi masuk kedalam mobil, ia pun menoleh dan tersenyum ketika melihat Asri yang berjalan menghampirinya sambil menggandeng putranya.


Umur putra Asri dan Ferdy hampir sebaya dengan Aaron anak dari Andre dan Hani dan diberi nama Farell. Hanya selisih 5 bulan. Bahkan Farell saat ini juga sudah duduk di kelas 1 satu kelas bersama Aaron.


"Hai Asri, apa kabar? Hallo ganteng–." Faiha berjongkok didepan Farell lalu mencium pipi chubby anak itu.


"Alhamdulillah baik, mbak." Jawab Asri dengan senyum yang terus mengembang, tangan kirinya mengusap-usap perutnya yang tampak membuncit. Ya, Asri tengah hamil anak keduanya. Usia kandungannya sudah masuk bulan ke 6.


"Wah, perutnya sudah terlihat besar sekali. Berapa bulan ini, As?" Faiha pun ikut mengelus perut Astri.


"Jalan enam bulan, mbak."


"'ngak terasa ya sudah enam bulan. Semogs dedek nya sehat selalu.Kehamilannya lancar sampai melahirkan nanti. Aamiin."


"Aamiin. Terima kasih ya mbak atas do'a nya."


"Iya, sama-sama Astri."


Saat mereka tengah asik mengobrol, dari kejauhan datang sebuah mobil mewah lalu berhenti tepat di dekat mereka berdiri. Sang penumpang pun turun dan ternyata adalah Hani seperti biasa mengatar anaknya.


'Hai, Hani–." Sapa Asri pada sang sahabat.


"Hai, Asri, Mbak Faiha." Hani menggandeng putra tampannya yang sangat mirip dengan sang daddy nya, kebule-bule-an. Hani tampak sudah agak kesusahan melangkah dengan perutnya yang membesar. Ya, Hani juga sama dengan halnya Asri. Ibu dari Aaron itu juga sedang hamil besar. Bedanya kalau Hani kandungannya sudah memasuki bulan ke 8.


"Ayo, Aaron salim sama tante Faiha dan tante Asri!"


"Iya, mommy. Selamat pagi tante Faiha dan tante Asri." Anak laki-laki berparas tampan itu pun segera meraih dan mencium punggung tangan Faiha lalu Asri secara bergantian.


Faiha sungguh gemas dan terlesona secara bersamaan manatao sosok Aaron yang bertubuh kecil namun, memiliki wajah yang sangat tampan. Ya tentu saja karena Aaron menuruni gen dari ayahnya.


"Aduh, ngegemesin banget sih jagoanmu ini, Han." Faiha mencubit gemas pipi putih Aaron dan sukses membuat bocah itu mengerucutkan bibirnya lucu. Dan ketiga ibu muda itu pun tertawa melihat tingkah menggemaskan si bocah bule itu julukan Aaron kecil dari Avaro.


"Sebentar ya mbak, aku antar Aaron kedalam dulu. Soalnya aku ada perlu sedikit sama waki kelasnya Aaron. Bentar ya."


Faiha dan Asri pun mengangguk dan keduanya melanjutkan acara rumpi yang sempat tertunda. "Mbak, aku boleh tanya sesuatu ngak?"

__ADS_1


"Boleh, memangnya kamu mau tanya tentang apa?"


Asri sejenak terdiam, ia seakan ragu untuk mengatakannya. Namun, kemudian dengan penuh keyakinan akhirnya Asri pun mengjngkapkan kegundahannya.


"Emm, itu–apa mbak mengenal wanita yang bernama Zivanya?"


Mendengar nama wanita yang dulu pernah mencoba mendekati suaminya itu seketika membuat hatinya gundah.Tapi, Faiha bersikap cuek saja untuk menenangkan hatinya dan juga berbagai pertanyaan muncul di benaknya buat apa lagi wanita itu hadir kembali di kehidupan mereka. Dan dari mana Asri tahu mengenai wanita licik itu.


"iya, kenal. Tapi biasa saja. Memangnya kenapa dan dari mana kamu tahu tentang wanita itu?"


"Itu, mbak.Semalam aku mendengar mas Ferdy sedang berbicara di telpon dengan seseorang dan mas Ferdy memanggil wanita itu Zivanya. Apa mas Ferdy juga kenal dekat dengan wanita itu? Sepertinya wanita itu–."


"Zivanya–mau apa dia?" Faiha mulai merasa ada yang tidak beres dengan kemunculan secara tiba-tiba si wanita penggoda.


"Aku cuma mendengar sekilas kalau wanita yang bernama Zivanya itu akan pulang." Asri mulai tampak tak tenang, apalagi melihat reaksi dari Faiha yang sepertinya tak senang akan kabar tersebut. " siapakah sebenarnya si Zivanya ini, kenapa mbak Faiha seperti tak begitu suka mendengar berita tentang wanita itu?"


Berbagai pertanyaan berputar di otaknya, entah apa yang akan terjadi kedepannya. Terutama dengan kemunculan wanita bernama Zivanya.


"Begitu–baiklah, tidak usah di pikirkan. Wanita itu bukanlah siapa-siapa, dia hanyalah butiran debu yang teriup angin dan menempel di manapun dia suka. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Ada mbak, oke!jaga kesehatanmu dan dedek bayi ini." Faiha mengusap lembut perut Asri.


"Ah, maaf ya mbak, As. Lama ya?" Hani berjalan tergopoh-gopoh msnghampiri Faiha dan Asri.


Faiha sangat ngeri melihat cara berjalan Hani yang serampangan, padahal perutnya sudah sangat besar. "Hani, kamu ini ya...jalan tuh ngak usah grusah grusuh kayak gitu, bahaya. Kamu sadar ngak sih ada bayi yang sedang kamu bawa di perutmu itu?" Faiha menggelengkan kepala melihat kelakuan sang adik.


"Iya, maaf mbak, lupa–." Ibu hamil itu malah cengngesan akan teguran dari kakaknya.


Dan disini lah saat ini mereka berada. Disebuah kedai biasa dan tampak sederhana. Namun, rasanya tak kalah dari restauran-restauran yang memiliki nama.


"Wah, enak tenan iki mbak. Aku mau nambah satu mangkuk lagi ah." Itu Asri yang baru saja menghabiskan satu mangkuk bubur ayam nya.


"Ya ampun, As. Belum kenyang juga?" Faiha sampai cengo melihat dua ibu hamil yang terlihat sangat lahap itu. Dan mereka bahkan akan meminta tambah untuk porsi berikutnya


"Hehe–dedeknya masih mau minta lagi, mbak. Katanya belum kenyang." Jawab Asri sambil terkekeh, malu dengan Faiha.


"Biarin aja sih,mbak. Namanya juga lagi ngidam, kanbukan keinginan kita juga tapi, nih yang ada di.dalam sini." Itu Hani yang ikutan menjawab sambil mengelus perut buncitnya.


"Hemm–terserah kalian saja, asal jangan pake sambal terlalu banyak!"


"SIAPP KOMANDAN!" Jawab dua bumil serempak.


"Ya ampun!" Faiha menepuk keningnya.


Usai menuruti keinginan para bumil, mereka pun memutuskan akan pergi menuju kekediaman Jayendra. Ya, karena mama Malika dan papa Aryan akan mengadakan pesta hari jadi pernikahan mereka yang ke 44 tahun.


"Assalamuallaikum ma."


"Wa'allaikumsalam. Para bumil yang cantik-cantik.Sini-sini...apa kalian sudah sarapan?" Mama Malika langsung menyambut kedatangan para putri-putri kesayangannya. Ya, mama Malika sudah menganggap ketiganya seperti putrinya sendiri.

__ADS_1


"Ma, ada yang mau aku bicarakan sama mama berdua saja."


"Hem, ada apa? baiklah...ayo kita bicara di ruang kerja papamu saja!"


"Han, As...mbak tinggal sebentar ya!"


"Iya, mbak."


Sementara itu ditempat berbeda, tiga daddy tampan juga tengah mengadakan pertemuan yang dilakukan di gedung Jayendra Group dan saat ini mereka berada diruangan Abiseka.


"Ada apa ini, guys. Tiba-tiba kalian ngajak ketemuan?" Itu Abiseka yang bertanya pada kedua sahabatnya.


"Memangnya lo ngak di hubungi sama si Zivanya, Bi?" Ferdy


"Hah–Zivanya? Enggak tuh, mau apa lagi tu anak? Jangan sampe yayank Faiha mendengar tentang hal ini. Bisa runyam urusannya." Abiseka sudah ketar ketir jika sampai Zivanya mengusik rumah tangganya lagi seperti dulu.


"Jadi lo doang nih yang ngak di yelepon sama Zivanya? Beruntung banget lo, Bi. Nah, kita nih yang cemas dan was-was kalau sampai Hani dan Asri tahu tentang kemunculan Zivanya." Andre pun ikut cemas.


"Iya, benar. Apa lagi mereka berdua kan sedang hamil besar."


Ferdy menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu, pria itu terlalu mencemaskan keadaan sang istri yang tengah hamil besar apabila mengetahui siapa dan bagaimana sepak terjang wanita itu.


"Lagian lo berdua, bikin anak pake janjian segala ya? membuncit bersama akibat kelakuan dua pria tua." Abiseka terkekeh geli mengejek kedua sahabatnya.


"An*** lo, Bi. Mulut lo tuh.Biarin lah, itu berarti kita berdua tokcer...tahu!" Ferdy mencibir Abiseka yang menyindir mereka.


"Nah, lo berdua sih agak tenang soalnya Faiha sama Hani sudah mengenal dan tahu siapa serta bagaimana si Ziva itu. Nah, ini Astri...istri gue kan belum tahu sama sekali siapa Zivanya itu. Lagian ngapainsih tu cewek tiba-tiba muncul kembali di tengah-tengah kita. Apa dia sedang merencanakan sesuatu?"


Mereka terdiam sejenak dengan pikiran masing-masing. Mencoba menerka-nerka apa tujuan Zivanya pulang ke Indonesia. Jangan sampai wanita itu kembali berbuat ulah.


"Oh ya, Bi. Apa jangan-jangan kepulangan Zivanya ada sangkut pautnya dengan acara pesta.perayaan wedding Anniversary orang tua lo,Bi. Apa mungkin mama Malika yang mengundangnya?" Tebakan Ferdy akan kemungkknan alasan kedatangan Zivanya.


"Kalau itu gue juga ngak tahu. Nanti deh gue tanya k3 mama."


Drtt ddrtt ddrtt


"Mas, cepat pulang. Ada yang ingin aku tanyakan pada mas. Sekarang juga, ngak pake lama!"


"I‐iya sayang, ada apa...apa ada sesuatu yang telah terjadi?" Abiseka agak ngeri-ngeri sedap mendengar suara yang agak berbeda dari sang istri.


:Ah, sial–kena juga kan gue. Tuh...pasti Faiha udah dengar tentang kepulangan Zivanya. Apes apes deh gue!"


"Yang sabar Bi, harus kuat! Selamat mendapatkan hukuman ya bro." Ferdy menepuk pundak Abiseka dan mengejeknya.


"Oke, kita juga masih ada urusan nih. Kita balik dulu, semoga sukses...eh, selamat dari amukan mommy nya si kembar. Bye daddy Abi." Andre dan Ferdy pun segera melarikan diri sebelum macan kumbang mengamuk.


"Si**** lo berdua, dasar teman lucknut!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2