Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
42. Malam Pertama


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Entah mengapa Faiha merasa tidak enak badan. Bulir keringat keluar di sekujur tubuhnya. Cuaca yang dingin tak berpengaruh sama sekali panas dan dadanya bedebar-debar.


"Badanku kok tiba-tiba meriang gini ya? kalau aku tebahan di tempat tidur Tuan Abiseka marah ngak ya? Rasanya aku sudah tak kuat, Mana tidak ada obat,lagi.Tuan pergi kemana, sih. Sampai jam segini belum kembali juga."


Setelah meminum jamu tadi, Abiseka pamit keluar dan sampai sekarang belum juga kembali.


Di lain tempat, tepatnya di sebuah cafe. Abiseka.sedang bersama dengan Zivanya. Ya, tadi ketika dikamar wanita itu mengirimkan pesan via wa ingin bertemu dengan Abiseka dengan alasan ada sesuatu yang ingin dibicarakan.


"Jadi, kamu mengajak bertemu hanya ingin membahas yang tidak pentinting seperti ini? Sudah kukatakan,bukan jika aku hanya menganggapmu sebagai seorang teman saja dan itu berlaku sampai kapanpun."


"Tapi, bukankah dulu kamu pernah mengatakan kalau kamu mencintaiku. Apakah sekarang masih ada rasa itu di dalam hatimu,Bi?"


Wajah Abiseka berubah tegang, rahangnya mengeras dan tetiba teringat akan masa lalu yang terasa begitu menyakitkan baginya. Dulu, ya memang seorang Abiseka sangat menyukai bahkan telah memiliki rasa cinta untuk Zivanya.


Namun, sejak penolakan wanita itu dengan beralasan tak memiliki rasa yang sama, hanya menganggap Abiseka sebagai teman saja dan Zivanya lebih memilih karier nya di dunia permodelan meninggalkan tanah air lalu, Abiseka mendengar kabar kalau Zivanya telah bertunangan dengan seorang pengusaha asal negara tempat ia menitik karier.


"Sudah–hanya ini kan yang ingin kamu katakan? Kalau begitu maaf, aku harus kembali ke kamar. Istriku menungguku. Sudah hampir lebih dari satu jam aku meninggalkannya sendirian. Selamat tinggal." Berdiri dari duduknya.


"Apa benar-benar sudah tidak ada lagi kesempatan untukku merengkuh kembali cintamu, Bi?" Meraih tangan Abiseka dan menggenggamnya erat seakan tak rela untuk melepaskan laki-laki yang dulu pernah menyukainya dan sekarang sepertinya sudah tidak lagi.


"Kalian sedang apa berduaan di sini?"


Tiba-tiba muncul Andre yang kebetulan juga sedang berada di Cafe yang sama. Andre baru saja bertemu janji dengan klien nya. Andre menatap dingin Abiseka.lalu, beralih menatap Zivanya penuh curiga.


"Kamu juga,Zi. Untuk apa bertemu dengan suami orang?" Andre tak suka melihat keberadaan mereka yang hanya berduaan saja tanpa ada Faiha.


"Memangnya tidak boleh bertemu dan berbincang-bincang dengan teman lama? Iya,aku juga tahu kalau Abi sudah menikah.Lalu, apa masalahnya.Kami tidak melakukan hal yang melanggar norma."


Zivanya memang tipe perempuan yang menggebu-gebu dan ambisius. Wanita itu tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan apa yang di inginkannya.


Andre melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan Abiseka. Sahabatnya itu tampak gelisah dan tingkahnya tampak aneh, bahkan wajahnya tampak basah oleh keringat yang terus menetes dari dahinya.


"Lo kenapa,Bi?" Andre langsung menegur Abiseka yang wajahnya kian memerah.


"Ngak tahu, kayaknya badan gue rasanya ngak enak banget, Ndre." Mengusap pelipisnya.


"Gue kayaknya balik ke hotel aja, Ndre. Lo tolong urus Ziva. Sorry Ziv, pembicaraan kita cukup sampai di sini saja. Maaf, aku sudah tidak seperti dulu lagi. Aku harap kamu mengerti. Selamat malam."

__ADS_1


"Gue cabut duluan ya,Ndre!" Menepuk pundak Andre dan langsung melangkah meninggalkan keduanya yang masih berdiri menatap punggung Abiseka yang semakin menjauh.


"Duduk Ziv, aku mau bicara serius sama kamu!" Dan Zivanya pun menurut san duduk kembali di kursinya begitupun Andre. Kini wanita cantik itu bersiap mendengarkan.


"Ziv–sebaiknya kamu jangan mendekati Abi lagi. Kamu sudah tahu kan kalau dia sudah menjadi suami dari gadis lain."


"Gadis?" Zivanya tercengang mendengar kata gadis.Kenapa wanita yang sudah menikah masih di panggil dengan sebutan seorang gadis?"


"Sial, kenapa sampe salah ngomong gini sih? Jangan sampai Zivanya menaruh curiga." Bathin Andre.


"Oh, aku barusan salah ngomong. Soalnya kami sudah terbiasa menganggapnya masih seperti seorang gadis. Habis Faiha itu imut dan menggemaskan." Andre mencari alasan yang masuk di akal.


"Kami? Maksudnya kami siapa?" Tanya Ziva penasaran.


"Ya kami, Aku, Ferdy dan hanya Abi yang memanggil istrinya dengan nama nya saja. Kami telah mengenal Faiha sejak dia belum menikah dengan Abi."


"O–begitu. Jadi, Faiha itu yang telah menggantikan posisiku di antara kalian. Kalian sudah tidak menganggapku lagi." Memasang wajah cemberut.


"Bukan begitu, hanya saja Faiha sudah kami anggap seperti adik perempuan yang manis. Karena Faiha memang gadis manis yang selalu membawa keceriaan."


Zivanya terdiam dan tak bertanya apa pun lagi. Wanita itu tertunduk sedih seakan baru saja kehilangan sesuatu yang begitu berharga. Ya, kini perhatian kedua sahabat laki-lakinya sudah berubah tak hangat seperti dulu lagi.


"Dan–selamat malam Zivanya."


"Malam, Ndre."


Sementara itu di kamar pasangan pengantin baru, beberapa menit yang lalu saat Abiseka masuk kedalam kamar, laki-laki itu di buat terkejut dengan pemandangan yang membuat darahnya berdesir hebat.


Bagaimana tidak, Faiha tengah bergerak sensual di atas tempat tidur dengan tampilan yang membuat siapa pun akan tergoda.Istri mungilnya kini hanya mengenakan ********** saja.


Abiseka menelan salivanya dan entah mengapa tiba-tiba hasrat kelelakiannya tak dapat dia bendung. Perlahan dia melangkahkan kakinya membuka satu persatu kancing kemejanya lalu melemparnya ke sembarang arah.Semakin mendekat dan mulai merangkak naik ke atas ranjang dan langsung mengungkung tubuh mungil Faiha yang masih belum menyadari kehadiran Abiseka.


"Tu–tuan... anda mau apa?" Menatap sayu wajah Abiseka yang hanya berjarak 5 cm tepat di atas tubuhnya. Bahkan sama-sama bisa merasakan hembusan nafas yang menerpa wajah satu sama lain. Terasa hangat dan suara nafas yang mulai menderu.


"Malam ini kamu cantik sekali, istriku. Aku meninginkanmu, sekarang."


Cup

__ADS_1


Cup


Cup


Mengecup lembut dari mulai kening,pipi kanan/kiri lalu yang terakhir bibir cherry Faiha. Entah siapa yang memulai, tahu-tahu tubuh mereka sudah polos tanpa sehelai benang pun.


"Tu–h–ahn, jangan!" Terjengkit kaget ketika titik-titik tersensitif tubuhnya di sentuh oleh telapak tangan besar sang suami. Tangan Abiseka menjelajah di setiap jengkal tubuh Faiha. Lengguhan lembut pun lolos dari bibir Faiha tak bisa di kontrolnya.


"Panggil, mas...mas Abi!" Tak menggubris rengekkan Faiha yang baginya malah terdengar seperti memohon untuk tak menghentikannya. Dan mendorong Abiseka untuk semakin dalam menelusuri bagian-bagian ter‐-favorite nya.


"Mass–aarghh, sakit!"


"Tahan sayang, sakitnya hanya sebentar!"


Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi, malam pertama penuh gelora pasangan pengantin baru tersebut. Sepertinya resep jamu kesehatan mama Malika sangat manjur karena langsung bekerja dengan semestinya.Dan rencana wanita paruh baya itupun sukses tanpa hambatan sedikitpun..


ting tong 3×


Beberapa kali Andre menekan bell di depan pintu kamar Abiseka dan Faiha. Namun, tak juga ada respon dari penghuni di dalamnya.


"Bi, Abi...nona Faiha, apakah kalian ada didalam?"


"Kemana ya, apa mereka tidak ada didalam kamar?jangan-jangan Abi beneran sakit, sebaiknya aku telpon saja."


drrttt drrrttt


"Mass–ada yang telpon, itu–euh."


"Biarkan saja!" Tetap melanjutkan kegiatan halal mereka. Tak memperdulikan suara keras deringan ponsel yang tak henti-hentinya terus bergetar di atas nakas di samping ranjang.


"Tidak di angkat juga. Apa sesuatu telah terjadi?"


Andre bingung harus mencari tahu keadaan Abiseka kemana. Sayup-sayup terdengar suara merdu nan indah dari dalam sana. Karena penasaran, Andre pun mendekat dan menempelkan sebelah telinganya.tepat di daun pintu dan–"


JLEBB


"Sh***!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2