
Suasana semakin mencekam, dua pria dewasa bertubuh tinggi besar itu pun masih saling adu jotos. Bahkan teriakkan Faiha yang sudah berteriak kencang sampai memekakkan telinga tak di gubris keduanya.
Emosi keduanya sungguh tak terkendali. Hingga sampai muncul seorang pemuda yang berjalan kearah mereka langsung melerai keduanya. Ya, walaupun tubuh pemuda itu tak sebesar Abiseka dan Andre.Namun, tinggi badannya hampir sama dengan dua pria dewasa yang berkelahi seperti anak kecil itu.
"Hei, sudah-sudah...hentikan. Apa-apaan kalian ini?" Anwar langsung berdiri ditengah-tengah Abiseka dan Andre guna melerainya. Dan Anwar pun berhasil sehingga perkelahian keduanya terhenti. Ya, pemuda yang masih berusia 18 tahun itu adalah Anwar adik sepupu Faiha.
"Sebaiknya selesaikan baik-baik di dalam saja, tidak enak sama tetaangga! Mbak, ajak suamimu kedalam!"
"Iya, mas, kak Andre mari masuk! Kita selesaikan didalam."Faiha berjalan terlebih dulu sedangkan Abiseka dan Andre mengikuti dibelakangnya. Sesekali mereka saling melirik dengan tatapan penuh permusuhan. Anwar menggelengkan kepala melihat tingkah kekanak-kanakan kedua pria dewasa itu.
Pada saat mereka akan memasuki ruang tamu, tampak bulek Lastri yang melangkah tergopoh-gopoh menghampiri kempat orang yang dikenalnya.
"Apa yang telah terjadi? Bulek tadi mendengar suara teriakan dan orang yang sedang berkelahi. Siapa?" Bulek Laatri memang mendengar samar suara ribut-ribut dari arah depan rumahnya.
Namun,.karena.wanita paruh baya.itu tengah berkutat di dapur memasak untuk makan malam jadi, ia tidak terlalu mwmperdulikannya. Ia tidak menyangka kalau yang sedang beraiteru ternyata adalah menantunya sendiri dengan sahabatnya.
"Itu bu, pria-pria tua yang tadi membuat keributan di depan rumah kita. Sudah seperti anak kecil saja...ck, dasar!" Anwar berdecak kesal.
"Hush, ibu ngak pernah ngajarin kamu bicara tidak sopan pada orang yang lebih tua.Sudah, sana ganti seragam sekolahmu!" Menegur putranya yang bersikap tidak baik.
Kini, diruang ruang tamu yang teetinggal hanya mereka berempat, bulek Lastri menatap Faiha kemudian beralih pada sang menantu yang wajah tampannya dihiasi beberapa luka lebam bekas pukulan dari Andre. Tak beda halnya dengan Andre. Pria berwajah blasteran itu pun mendapatkan luka yang sama.
"Apa yang sebenarnya terjadi?Mengapa sampai terjadi perkelahian diantara kalian?"
"Maaf, boleh saya menjelaskan terlebih dahulu, bulek?" Andre yang menyahut, dan mendapatkan reaksi keras dari Abiseka.
"Bulek bulek, sejak kapan kamu menjadi keponakan bulek Lastri? Sok akrab." Sinisnya.
"Ekhem—mungkin secepatnya aku akan menjadi menantunya." Celoteh Andre dan.berhasil membuat Abiseka bertambah geram atas ucapan ambigunya.
Bulek Lastri menggelengkan kepala melihat kelakuan dua pria dewasa yang berkelakuan kekanak-kanakkan itu.
"Ekhem–Baiklah, silahkan nak Andre bisa menjelaskannya!"
__ADS_1
Andre pun mulai menjelaskan duduk persoalannya. Bahwa yang sebenarnya terjadi adalah hanya masalah kesalah pahaman saja. Ia dan Faiha tidak benar-benar merencanakan untuk saling bertemu muka. Pertemuan mereka itu pun terjadi tanpa kesengajaan.
Bahkan Andre mengatakan kalau Faiha sempat pingsan di taman. Dan setelah Faiha sudah sadar dan merasa lebih baik, Andre mengajak gadis itu untuk makan siang disalah satu rumah makan padang. Dan Andre juga bersedia memberikan bukti kalau mereka memang hanya pergi makan tidak ketempat yang tidak pantas untuk berduaan. Abiseka salah jika menuduh Faiha berselingkuh dengannya.
"Begitulah tante, jadi tidak benar kalau saya dan Faiha memiliki hubungan yang spesial apalagi menuduh Faiha berselingkuh dengan saya."
Bulek Lastri mengangguk dan akhirnya paham akan duduk persoalannya. Intinya adalah Abiseka cemburu buta pada Faiha dan Andre.
"Hem–begitu to. Baiklah, sekarang permasalahannya sudah jelas. Ini hanya kesalah pahaman dan miss komunikasi diantara Abiseka dan Faiha. Akan ebih baik lagi jika kalian berbaikan, bukankah kalian bersahabat."
"Baiklah tante, Bi...maafin gue ya. Ngak izin dulu mengajak Faiha jalan." Abiseka pun mengangguk dan akhirnya mereka saling berbaikan dengan berjabat tangan dan berpelukan.
Setelah itu Andre pun pamit undur diri karena ia mengerti jika, masih ada permasalahan lainnya antara pasangan Abiseka dan Faiha. Meakipun Faiha tak mengatakan apa pun namun, Andre tahu ada yang tidak beres dalam hubungan mereka.
"Kalau begitu saya mohon pamit ya tante, maaf kalau saya telah membuat keributan di rumah tante." Andre menangkupkan kedua telapak tangannya memohon maaf untuk kesekian kalinya.
"Iya, tidak apa-apa. Alhamdulillah, semua sudah terselesaikan dengan baik dan hanya salah paham saja. Hati-hati dijalan ya nak, Andre!"
"Baik tante, terima kasih.Bi, Faiha...aku pamit ya."
Dan Andre pun tersenyum pada Faiha tak kalah manisnya. Membuat seseorang terbakar api cemburu. Apalagi sikap Faiha yang terlalu ramah pada Andre kembali membuat hati Abiseka terasa panas. Ia menatap tak suka pada keakraban keduanya.
Usai kepergian Andre, suasana kembali menegang. Pasangan suami istri baru itu tidak saling berbicara satu sama lain. Mereka hanya saling bersitatap dengan aura gelap yang melingkupinya.
"Sekarang bagaimana dengan kalian? nak Abi, kenapa kamu hanya diam saja, sepertinya ada yang harus.nak Abii jelaskan kepada kami. Terutama pada Faiha yang masih menjadi istri sahmu."
"Iya, mungkin sebentar lagi sudah tidak, bulek. Karena tinggal menunggu Tuan Abiseka menanda tangani surat cerai yang telah dikirimkannya tempo hari. Sebentar, aku akan mengambilkannya agar Tuan bisa segera menandatanginya dan setelahnya anda tidak akan berada dalam masalah lagi dengan keluarga besar Jayendra."
"Karena aku cukup tahu diri siapa aku gadis sederhana yang tidak ada apa-apanya apabila bersanding dengan Tuan Abiseka Jayendra pewaris satu-satunya Jayendra Group. Permisi sebentar." Faiha beranjak dan melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
"Faiha–jangan bicara seperti itu pada suamimu!"
Faiha sama sekali tak mengindahkan teguran bulek Lastri. Ia tetap melangkah cepat masuk ke kamarnya. Abiseka yang tak terima akan perkataan sang istri, bergegas menyusul Faiha ke kamarnya.
__ADS_1
BRAKK
Ceklek
Mendengar suara pintu yang ditutup begitu keras, sontak membuat Faiha terjingkat kaget Tatapan Abiseka yang tajam dan penuh intimidasi membuat Faiha sampai sulit menelan salivanya.Apalagi ketika langkah kaki Abiseka yang semakin mendekatinya. Tiba-tiba tubuh Faiha seakan membeku saat jarak diantara mereka semakin terkikis hingga sebuah sentuhan basah dibibirnya kembali menyadarkannya. Refleks, tangan Faiha mendorong dada Abiseka dan terlepaslah pertautan kedua bibir tersebut.
"Apa-apaan sih, kamu. Seenaknya main cium-cium?"
Abiseka mengernyitkan keningnya bingung akan ucapan Faiha. Mengapa, memangnya ia tidak boleh mencium istrinya sendiri?
"Memangnya kenapa, sayang...hem? Apakah kamu tidak merindukan suami tampanmu ini." Abiseka tersenyum menyeringai dan kembali medekati Faiha.
"Tidak, siapa juga yang kangen sama Tuan? Kurang kerjaan sekali. Anda saja juga sudah tidak membutuhkan aku lagi, bukan. Jadi untuk apa Tuan berbuat kurang ajar seperti barusan. Ini...silahkan Tuan tanda tangani agar semuanya selesai sesuai apa yang anda inginkan."
"Kamu ini ngomong apa sih, sayang? Siapa juga yang mau bercerai...Justru mas datang karena sangat merindukanmu. Dan apa sih, sejak tadi kamu memanggil Tuan...tuan...anda? Mas ngak suka, apa harus mas kasih hukuman agar kamu mengerti dan pikiranmu juga tidak ngawur lagi."
"Ma–maksud Tuan apa? Hey...anda mau apa?Menjauh, jangan dekat-dekat. Kalau tidak aku akan berteriak." Faiha menahan dada Abiseka dengan kedua telapak tangannya dan–.
GREPP
Cup
"Mmppm–se–top...hh!"
BRUKK
"Hoekk...hoekk...hoekk!"
"Sayang, kamu kènapa?"
Bersambung
Hai hai, maaf ya telat lagi updatenya. Kira-kira si.Faiha kenapa ya?
__ADS_1
Selamat membaca aja deh, terima kasih yang masih mendukung novel aku yang receh ini. Semoga kalian suka. 🙏❤🌹