
Suara pintu yang dibuka dengan keras mengagetkan orang yang berada didalamnya. Asri dan mahasiswi yang memeriksa Hani sontak menoleh kearah pintu dan melihat penampakkan pria gagah nan tampan dengan wajah kebule-bule'an membuat kedua gadis muda itu melongo, terpaku akan pesona seorang Andre Mendoza, suami dari Hani setyorini.
"Honey, apa yang telah terjadi padamu? Sadarlah...mas sudah disini." Andre langsung berhambur memeluk Hani yang masih belum tersadar dari pingsannya.
" Maaf, om...itu, tadi Hani tiba-tiba pingsan–"
"Apa anda suami dari Hani?" Perkataan Asri terpotong karena mahasiswi yang tadi memeriksa Hani bertanya pada Andre.
Andre pun beralih menatap sang mahasiswi lalu, membenarkan apa yang dikatakan oleh wanita muda tersebut." Iya, benar. Aku adalah suaminya.Sebenarnya istriku kenapa? Apa anda yang tadi memeriksanya?" Tanya balik Andre.
"Iya, pak. Saya yang tadi memeriksa Ha...maksud saya istri anda. Dan menurut hasilnya, Hani saat ini sedang hamil."
"Apa, Ha–mil?benarkah?"
"Menurut hasil pemeriksaan saya seperti itu.Namun, saran saya untuk lebih meyakinkan lebih baik anda periksakan Hani k3mbali ke dokter spesialis kandungan."
Andre pun mengangguk mengerti." Baiklah dan terima kasih."
"Iya, sama-sama Pak." Mahasiswi itu pun tersenyum ramah, sebenarnya sejak tadi dadanya berdebar-debar melihat sosok Andre dengan ketampanan yang paripurna.Tipe idaman para wanita.
"Mas Andre–uhh." Akhirnya Hani tersadar.
"Iya honey, ini mas.Kita pulang ya." Ucap Andre sambil membantu Hani bangkit menjadi posisi duduk.q
Kepalanya masih terasa pusing hingga ia masih mencoba mencerna apa yang telah tejadi pada dirinya."Ah, iya mas.Tadi aku pingsan." Memijat pelipisnya.
"Tadi aku baru saja selesai makan siang sama Asri, terus–"
"Sudah-sudah, nanti saja ceritanya. Sekarang ayo kita ke rumah sakit!'" Ucapan Hani terpotong oleh perkataan Andre yang akan mengajaknya pergi ke rumah sakit.
Kening Hani mengkerut, untuk apa sang suami mengajaknya ke rumah sakit segala.ia hanya pingsan bukannya sakit parah. "Untuk apa kerumah sakit segala, mas. Aku sudah tidak apa-apa kok.Lihatlah...aku juga sudah sadar,kan."
"Pokoknya kamu harus nurut apa kata suami. Ayo!" Membantu Hani turun dari atas brankar dan menggandeng tangan sang istri menuju keluar pintu ruang kesehatan tersebut.
"Han, kalau begitu nanti kamu akan aku absenin ya." Asri yang megekori di belakangnya berinisiatif membantu Hani yang bakal absen di mata kuliah selanjutnya.
Hani yang baru ingat akan temannya itu segera mwnghentikkan langkahnya dan meboleh kearah belakang. Asri tersenyum dan mengedipkan matanya. "Tenanglah Han, semua akan aku handle dan selamat ya untukmu dan om Andre. Cie cie...ternyata kalian giat banget ya sampe sukses." Andre yang mendengar dan mengerti arti guyonan Asri mengulum senyumnya malu. Ketahuan deh.
"Apaan sih kamu,As. Jangan bikin gosip deh. Nanti kalau sampai terdengar mommy Diandra bisa ambyar tahu." Dan Hani malah salah tanggap di kira Asri mengetahui soal ia dan suami yang sering berhubungan intim secara diam-diam.
Asri terkekeh geli melihat wajah Hani yang merona karena malu. "Ya, tenang. Semua aman terkendali. Oke, samoai ketemu nanti malam. Eh, nanti malam kamu datang kan Han? Kalau kamu tidak datang aku juga ngak akan datang."
"Datang-datang, nanti kamu aku jemput deh pokoknya. Dandan yang cantik ya! Siapa tahu nanti malam bakal dapat jodoh."
"Ish, memangnya biro jodoh apa? Bercanda aja kamu, Han. Om, sekali lagi selamat ya." Asri mengangguk dan mengucapkan kata selamat pada Andre sedangkan Hani masih belum mengerti untuk apa Asri berbuat seperti itu.
Andre tersenyum dan mengucapkan terima kasih. "Iya, terima kasih ya Asri."
"Asri dari tadi kenapa sih ngucapin selamat terus. Selamat untuk apa? Aneh banget ." Tanya Hani dalam hati.
sepuluh menit kemudian mereka tiba di salah satu rumah sakit besar di wilayah Jakarta Selatan. Dan mereka langsung menuju ke poli kandungan setelah sebelumnya mendaftar terlebih dulu.
Hani masih merasa bingung kenapa tiba-tiba Andre membawanya ke dokter kandungan? Memangnya apa yang sedang direncanakan oleh suaminya itu. Apakah mereka akan melakukan program hamil?tapi, bukankah perjanjian mereka belum berakhir dan masih tersisa satu bulan lagi.Kenapa Andre sangat tidak sabaran sekali.
"Tunggu!sebenarnya untuk apa mas membawa aku ke sini, kita belum mau melakukan program hamil, kan?" Hani menahan tangan Andre ketika telah sampai di depan ruang tunggu poli kandungan.
__ADS_1
"Siapa yang mau program hamil, sudah jadi juga...buat apa?" Jawab Andre santai.
"Hah, maksud mas apa?"
"Sudahlah, pokoknya nanti kamu juga akan tahu sendiri.Ayo, duduk yang manis sini! Apa mau mas pangku?" Menepuk-nepuk pahanya.
"Ish–malu tahu, ini di tempat umum mas." Hani masih tak habis pikir dengan kelakuan absurd suaminya yang semakin menjadi. Sepertinya telah terkontamonasi oleh sang kakak iparnya, siapa lagi kalau bukan Abiseka.
"Ibu Hani Setyorini Mendoza!"
Suara panggilan dari perawat menghentikkan obrolan mereka.
"Oh iya–." Hani menjawab panggilan tersebut dan pasangan suami istri itu pun segera masuk keruangan dokter."
Selamat siang Bapak dan Ibu...em Ibu Hani, kan.Mari silahkan duduk!" Seorang dokter berjenis kelamin laki-laki yang bername tag dr.Imran siswoyo mempersilahkan pasangan Andre dan Hani untuk duduk dengan senyum ramahnya.
"Selamat siang dok. Iya nama saya Hani." Jawab Hani.
Andre sejak tadi memperhatikkan dokter laki-laki yang masih terlihat masih muda dan cukup tampan itu dengan tatapan tidak suka. "Sok akrab banget sih ni dokter. Pake senyum segala sama istri orang." Omelnya dalam hati.
"Ehem–baik Mbak Hani. Ada keluhan apa?" Tanya sang dokter.
Namun, bukannya Hani yang menjawab.tapi, Andre. " Begini dok, Tadi istriku pingsan di kampus dan setelah mendapatkan penanganan dari klinik kesehatan, dokter yang memeriksanya mengatakan kalau istriku hamil."
"Mas–kok aku ngak tahu tentang masalah itu?"
"Ya kan kamu masih pingsan, honey. Mana mungkin mendengar penjelasan dokter tadi."
"Jadi, beneran aku hamil? Trus bagaimana dong mas? Nanti kalau keluarga kita tahu–." Tetiba Hani merasa cemas akan reaksi keluarga mereka saat tahu dia sudah hamil.
"Ih, mas nih ngak ngerti apa pura-pura ngak tahu sih? Pokoknya ini semua gara-gara mas." Memasang wajah cemberutnya.
"Sstt–mas tahu dan sangat mengerti, honey. Soal mereka mas yang akan menghadapinya dan memberikan pengertian agar mereka menerima semua yang telah terjadi.
dokter Imran yang sejak tadi menyaksikan keduanya berdebat yangbtak dimengerti olehnya. Jadi tak sabar dan langsung menginterupsinya.
"Ehem–ehem, Maaf...apa kalian sudah selesai mengobrolnya. Dan apa saya sudah boleh gantian berbicara?"
"oh, iya iya silahkan dokter! Maaf–." Hani tersenyum canggung dengan wajahnya yang sudah memerah karena malu pada sang dokter tampan tersebut. Sedangkan Andre hanya melirik sebal sang istri yang berani-beraninya tersenyum pada pria lain.
"Baiklah. Kapan terakhir mbak Hani menstruasi?" Tanya sang dokter.
Hani tampak berpikir sejenak dan sontak ia terjengkit kaget karena baru ingat bahwa sudah hampir tiga bulan ia tidak kedatangan tamu bulanannya.
"I–iya dokter, saya baru ingat kalau sudah tiga bulan tidak menstruasi."Hani tertunduk malu.
"Oke, mari kita lihat melalui pemeriksaan USG, ya. Silahkan mbak nya berbaring disini. Suster...tolong dibantu mbaknya!" Seorang perawat bergegas menghampiri dan membantu Hani untuk rebahan diatas brankar periksa.
Karena Hani mengenakan dress,bagian bawahnya ditutupi dengan selembar selimut dan dressny diangkat keatas sampai sebatas dadanya.Kedua mata Andre melotot kerarah dokter Imran,sedangkan menggeleng heran dengan kelakuan suami dari pasiennya itu.
"Oke, mari kita lihat! Yak...itu dia. Sudah ada Janin yang sedang bertumbuh dalam rahim anda.Ukurannya sudah sebesar buah jeruk, panjangnya 5 cm dab beratnya sekutar 15 gram. Selamat ya Bapak dan mbak Hani."
"Ekhem–terima kasih dokter. Dan tolong panggil istriku ibu bukan mbak."
"Mas ih, apaan sih. Malu tahu." Mencubit paha Andre.
__ADS_1
"Aduh, honey. Kenapa mas malah dicubit sih. Benar kan apa yang barusan mas bilang."
Setelah menebus obat dan vitamin yang diresepkan dokter. Mereka langsung bergegas pulang dan ditengah perjalanan Andre membelokkan kendaraannya masuk kesebuah mini market.
"Mas, ngapain kita kesini. Katanya mau langsung pulang, aku sedang tak ingin berbelanja." Protes Hani.
"Kita akan membeli susu hamil untuk calon baby kita, honey." Membuka seat belt dirinya dan juga Hani lalu, turun dari mobil.
"Mas–nanti kalau mommy Diandra tahu bagaimana?"
"Biarkan saja momny tahu, dia malah akan sangat senang kok. Kalau tidak percaya lihatlah nanti."
Hani menghela nafas dalam kemudian hanya bisa pasrah dan menurut pada suami bule nya itu.
Malam harinya dikediaman keluarga Jayendra. Para tamu sudah mulai berdatangan. Termasuk Hani yang sudah tampak segar. Ia datang bersama sang suami dan juga Asri.
"Assalamuallaikum, Mama Malika. Oh iya ma, kenalkan kni temanku namanya Asri." Hani yang disambut oleh Mama Malika langsung memperkenalkan sang sahabat.
"Wa'allaikumsalam. Hai...jadi ini yang namanya Asri. Cantik ya." Mata mama Malika langsung berbinar menatap sosok Asri yang tampak cantik dan imut secara bersamaan. Hani dan Asri memang setipe, maksudnya dari bentuk tubuh dan wajah. Keduanya masih terlihat sangat muda, fresh dan mempesona.
"Iya, tante. Perkenalkan nama saya Asri dwi Nastiti. Saya teman kuliah Hani."
"Iya iya, tante sudah tahu dari Hani.Ayo ayo, masuk. Yang lain sudah menunggu didalam!" Mama Malika mempersilahkan Hani dan Asri untuk masuk, sedangkan Andre sudah menyelonong masuk duluan.
"Wow–hallo bro, how are you?" Kemunculan Andre langsung disambut antusias oleh kedua sahabatnya. Yaitu Abiseka dan Ferdy. Mereka saling bertos ria
"I'm fine. Really really fine. sangat bahagua malah. Ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi gue karena sebentar lagi gue bakal jadi–"
"MASS!" Hani yang mendengar refleks mencubit pinggang Andre dan memelototinya.
"Aww, honey–."
Abiseka dan Ferdy sontak saja langsung mentertawakan Andre yang kena serangan cubitan maut dari istri bocilnya. Ya, Ferdy menjuluki Hani dengan panggilan istri bocilnya Andre Mendoza.
"Terus aja kalian ngetawain gue, awas lo ya."
"Hahaha–sudahlah Ndre ngak usah sok jaim didepan kita, Hani memang pasangan yang paling sempurna buat lo. The best." Kedua pria dewasa yang terkadang berkelakuan layaknya seperti anak-anak itu kompak mengacungkan du jempol kearah Andre.
Namun fokus mereka teralihkan ketika melihat sosok Asri yang temgah berdiri disamping Hani. Terutama Ferdy yang tak lepas menatap sosok Asri.
"Ngedip woy! Tahu aja kalau ada cewek cakep lo, Fer."
Ferdy yang ditegur oleh Abiseka hanya tersebyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal itu.
"Han, kenalin dong ke kita terutama ke kang mas Ferdy ini siapakah gadis cantik nan imut ini!" Abiseka menyeletuk karena sejak tadi memperhatikan gerak gerik mencurigakan Ferdy.
"Eh, iya mas. Maaf...kenalkan, ini Asri Dwi Nastiti teman kuliahku."
"Abiseka Jayendra. Kakak ipar dari Hani." Abiseka menjabar tangan Asri lebih dulua. Selanjutnya Ferdy.
"Ferdy Wirakusuma. Senang berkenalan denganmu dek Asri." Mengulurkan tangannya dan langsung disambut dengan senyum ramah oleh Asri.
"Suit suit– cinta pada pandangan pertama nih kayaknya." Abiseka yang memang suka blak blakkan menggoda Ferdy yang tampak berbinar menatap sang gadis cantik bernama Asri.
Bersambung
__ADS_1