Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
84. Selera yang sama


__ADS_3

Seperti apa yang dikatakan oleh Ferdy, saat ini seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tengah plus pasangan yang tertangkap basah sedang melakukan perbuatan tak senonoh di ruang kerja sang pemilik rumah. Tak ketinggalan Ferdy sebagai saksi yang melihat langsung aksi panas dua sejoli tersebut.


"Andre–sekarang, kami semua menunggu penjelasanmu. Bicaralah!" Papa Aryan sebagai sang tuan rumah tentu saja yang pertama menuntut penjelasan pada Andre sebagai pelaku yang telah berbuat kesalahan.


Menghela nafas dalam dan bersiap menjawab segala pertanyaan dari Papa Aryan. "Hh–sebelumnya aku mohon maaf atas kejadian yang telah membuat suasana tidak nyaman di kediaman om."


"Iya, aku terima permintaan maafmu.Tapi, tidak semudah itu kamu akan lepas dari tanggung jawab dengan apa yang telah kau perbuat terhadap putri kami. Sudah seberapa jauh hubungan kalian? Kamii tidak ingin mengambil resiko jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Kamu pasti mengerti kan apa yang kumaksud?" Tanya Papa Aryan to the point.


Andre mengangguk paham. "Iya om, aku tahu dan aku jamin Hani tidak akan kenapa-napa karena kami memang tidak pernah melebihi batas." Jawabnya jujur.


"Ck–ngak melebihi tapi, di gledah dan di *****-***** tu anak perawan orang. Andre andre...bisa ae lo." Ferdy mencebik dan menyindir Andre yang sok iya ngak merasa bersalah. Dan Ferdy pun seketika mendapatkan death glare dari Andre.


"S***** si Ferdy, pake acara ngomong kayak gitu lagi. nanti dikira gue mesumin Hani beneran, kan. Tapi, emang iya deng.Kenapa si mulut lemes yang ngegap gue sama Hani sih. Bener-bener apes pes." Andre merituki kecerobohannya.


Keluarga dari pihak Hani tentu saja tidak akan percaya begitu saja jika anak gadis mereka belum di colek sedikitpun oleh Andre yang notabene nya adalah seorang pria dewasa yang normal, tentu saja butuh pelampiyasan hasrat kelelakiannya. Di hadapkan oleh gadis muda yang masih ranum dan menggoda, iman dan imin siapa coba yang tak akan tergoda.


"Kami akan bertanya langsung pada Hani."


Kemudian bulek Lastri mendekati sang putri lalu, menyentuh tangan mungil Hani dan tersenyum lembut. "Nak, apa benar semua yang dikatakan Andre jika kalian tidak melakukannya?" Dan dijawan anggukkan kepala oleh gadis muda itu. Bulek Lastri pun menghela nafas lega karena hal yang ditakutkannya tak terjadi.


Bukan hanya bulek Lastri yang merasa lega, semua yang hadir pun ikut merasakannya juga.


"Lalu, langkah apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, Ndre?" Tanya papa Aryan yang ingin mendengar sikap pria dewasa yang telah berani memacari seorang gadis belia.


"Ya, Andre harus tetap bertanggung jawablah. Enak saja sudah *****-*****'in anak gadis orang." Malah Abiseka yang menjawab dan semua pasang mata sontak memelototi laki-laki itu.


Andre menanggapi ucapan sang sahabat dengan senyuman yang tersemat di bibirnya sambil melirik sekilas ke arah Hani. Wajah gadis manis bertubuh mungil itu pun seketika merona tertunduk malu.

__ADS_1


"Mas Abi, kamu ngomong apa sih?ngak sopan,tahu." Faiha menegur suaminya dengan memberikan cubitan di paha dan tatapan mautnya.Sehingga membuat seorang Abiseka yang tampan dan tegas berwibawa seketika langsung menciut bila dihadapkan pada sang istri tercinta.


"Aww–Iya sayang, maaf. Mas khilaf tadi." Mengusap pahanya yang terasa panas.


Ferdy tertawa cekikikan melihat ketidakberdayaan Abiseka yang tak berkutik dan sangat patuh pada Faiha si bumil.


"Nick–jadi, apa keputusan yang akan kita ambil untuk mereka berdua?" Papa Aryan menanyakan soal jalan keluar dalam menyelesaikan kasus skandal kedua putra putri mereka.


Daddy Nicko mengangguk dan dengan tegas dan penuh keyakinan bahwa yang harus dilakukan tak ada jalan lain yaitu dengan menikahkan Andre dengan Hani, jika bisa secepatnya. "Mereka harus segera dinikahkan. Kita tidak ingin, bukan hal seperti tadi terulang kembali dan bisa berakibat fatal.Jadi, ya itulah solusi terbaiknya. Andre dan Hani tidak boleh menolak, itu merupakan konsekuensi dari apa yang telah mereka perbuat."


Dan semua anggota keluarga pun akhirnya menyepakati keputusan yang diambil oleh para orang tua. Sedangkan pasangan Andre dan Hani. Mereka hanya pasrah menerimanya. Terutama Andre, tak ada yang tahu bagaimana gejolak didalam hatinya saat ini. Rasanya ia ingin berjingkrak dan bersorak sorai melampiaskan kebahagiaannya. Akhirnya apa yang diimpikannya untuk segera mempersunting gadis pujaan hatinya akan segera terwujud.


"Kenapa lo, Ndre. Senyum-senyum sendiri? Seneng banget ya mau di nikahin.Atau jangan bilang lo lagi ngelonjor (Ngelamun yang jorok-jorok) ya?" Ferdy menyenggol kaki Andre menaik turunkan kedua alis matanya.


"Enak aja, enggak ya.Biasa aja." Jawab Andre sok cool.


"Cih, biasa aja...sok gengsi lo kayak si Abi." Ferdy melengos sambil mencibir sang sahabat.


Didalam kamar, pasangan Abiseka dan Faiha sudah bersiap untuk tidur. Duduk bersandar di kepala ranjang dengan Faiha yang bersandar manja di dada suami tercinta.


"Mas, aku jadi penasaran deh, sejak kapan mereka jadiannya ya? Setahuku mereka tidak pernah terlihat bersama apalagi jalan berduaan. Hmm...kak Andre cerdik juga ya. Ngak nyangka kalau ternyata seleranya tak jauh beda dengan sahabatnya." Faiha melirik Abiseka.


Abiseka tahu siapa sahabat yang dimaksud itu, siapa lagi kalau bukan dirinya. Dan seleranya dan Andre sama? Maksudnya yang bagaimana. Itulah pertanyaan yang ada di kepalanya.


"Maksudmu, mas yang seleranya sama seperti si Andre? sama yang bagaimana dulu, mas gak mau ya disamain sama cowok lain." Abiseka sudah memasang wajah bete-nya.


Faiha terkekeh geli melihat suaminya yang jadi bad mood karena memang Abiseka paling anti di sama-samakan dengan lelalki lain meskipun itu sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Ya, sama. Mas dan kak Andre sama-sama suka yang tipe nya kayak aku dan Hani."


"Maksudnya, kecil, mungil dan pendek...gitu?"


"Ishh–pendeknya ngak usah pake di perjelas kali." Mencubit perut Abiseka.


"Aww–sakit, sayang.iya iya, maaf. Mas kan cuma mengatakan yang sebenarnya. Tapi, kan kamu lebih montok dan sexy menggoda. Mas aja selalu tak bisa menahan diri jika berduaan denganmu...nih, buktinya aja si boy udah on!" Abiseka menunjukkan area bawah tubuhnya pada Faiha dan sontak membuat bola mata Faiha membola sempurna.


"Ya ampun mas, masa' sih...udah bangun aja dia?trus, memangnya kenapa?." Faiha beringsut menjauh dari tubuh Abiseka.


"Eits–mau kabur kemana mommy? Ayo cepat tanggung jawab, tidurkan si boy dengan little girl mu itu!' Menarik lengan Faiha agar kembali merapat pada tubuhnya dan Mengedipkan matanya menggoda Faiha.


"Yuk,sayang keburu malam! Kids, daddy datang ya."


----------------------------


Persiapan acara pernikahan Andre dan Hani pun sudah hampir rampung 99 %. Tinggal menunggu hari H saja, sejak beberpa hari yang lalu Faiha menginap di rumah bulek Lastri. Membantu sang bulek sebisa dan semampunya. Ya, maklumlah dengan kondisinya tengah hamil besar tentu saja akan membatasi dirinya untuk bisa bergerak bebas.


"Hani, kebaya pengantinnya sudah cocok kan?tidak ada yang harus di rubah lagi."


"Iya, mbak. Sudah pas dan nyaman.Em...mbak, aku boleh tanya sesuatu?" Hani terlihat canggung ingin mengatakannya.


Faiha mengernyit dan menatap intens sang adik." Ayo katakan, kenapa malah diam."


"Anu–itu, mbak...bagaimana rasanya–"


"Anu itu, apa? Malah mandek. Cepat katakan!"

__ADS_1


"Emm, bagaimana rasanya malam pertama? Sakit ngak mbak?"


Bersambung


__ADS_2