
Malam semakin larut usai mengantarkan Hani dan Faiha kerumah bulek Lastri, Abiseka masih belum mau beranjak pulang.Pria dewasa itu tengah bermanja ria merebahkan kepalanya dipangkuan sang istri. Faiha tak habis pikir, mengapa tiba-tiba suami bucinnya berubah jadi manja seperti ini. Faiha mengelus lembut kepala Abiseka sambil bersandar di kepala ranjang.
"Mas, apa mas tidak ingin pulang? Nanti ma–nyonya Malika mencari anda, sebaiknya mas pulang saja. Aku tidak ingin nanti disalahkan karena mas tidak pulang."
Mendengar ucapan istrinya, Abiseka membuka matanya yang sudah mulai terpejam. Menatap intens wajah ayu istri mungilnya. " Mengapa kamu memanggil mama nyonya? kan sudah mas bilang kalau mama yang telah merencanakan itu semua. Dan itu dilakukannya karena kesal dibohongi oleh anaknya sendiri. Jadi, kamu jangan.terlalu dimasukkan ke hati.Intinya mereka semua berencana hanya ingin mengerjai kita saja, mama tidak serius. Kamu tahu mama seperti apa, kan."
"Iya sih.Tapi, bagaimana kalau kenyataannya tidak demikian dan keluarga Jayendra menyesal mempunyai menantu dari kalangan bawah sepertiku ini." Wajah Faiha kembali sendu.
Abiseka beranjak duduk dan kini posisi mereka duduk saling berhadapan. "Kamu jangan terlalu memikirkannya. Sudah mas bilang kalau kita cuma di prank oleh mereka semua.Sini...mas peluk, jangan sedih-sedih nanti.dedek yang ada didalam sini ikut nangis kalau tahu mommy nya sedang tak bahagia." Mengusap-usap perut Faiha seakan sudah ada janin didalam rahim sang istri.
"Mas, apa-apaan sih?iya kalau sudah ada...kalau belum gimana? Yang ada nanti mas akan kecewa. Jangan terlalu berkhayal deh,mas!" Tutur Faiha tak ingin terlalu berharap agar tidak kecewa apabila impiannya tentang baby belum terkabulkan.
"Kita lihat saja nanti ya! Jadi, sekarang kita mau apa?" Tersenyum sambil menaik turunkan kedua belah alisnya.
"Ya ampun! Apa yang tadi belum puas juga, mas?" Faiha mengeplak jidatnya sendiri tak habis pikir dengan suaminya yang tak ada puas-puasnya kalau masalah itu.
Cup
Mengecup sekilas bibir cherry yang selalu menggodanya dan sontak membuat Faiha terbelalak lalu memukul pelan dada Abiseka. Semburat merah sudah muncul di kedua belah pipi chubby Faiha.
"Mas–mesum, ih!"
"Mesum sama istri sendiri juga, ngak masalah kan? Boleh ngak...itu...itu?" Menyengir kuda dan tangan usilnya sudah mulai berkelana mencari sesuatu.
Faiha menggeliat kegelian karrna sentuhan yang selalu bisa membuatnya tak berdaya. Abiseka tak pernah gagal meluluhkan hati dan selalu berhasil menguasai dan menjajah tubuhnya." Mas Abi, geli ah–."
"Apa, kenapa...enak?" Jari jemari tangannya tak berhenti, malah semakin aktif bekerja dan tanpa disadari Faiha piyama tidur yang dikenakansudah tak melekat lagi ditubuhnya.
"Berarti sudah dapat lampu hijau ini. Cuss...let's start, baby!" Dengan semangat 45 Abiseka langsung menerjang dengan buas tubuh mungil nan montok yang selalu membuatnya bergairah. Dan ya, akhirnya malam ini Abiseka mendapatkan jatah tambahan lagi. Betapa bahagianya dia. Abiseka bukanlah si kanebo garing lagi akan tetapi kini telah berubah menjadi macan kumbang. Yang siap menerkam Faiha kapan saja.
Pagi hari telah menyapa bumi. Bahkan ayam jago milik tetangga sebelah sudah berkokok ria membangunkan seluruh manusia yang masih terlelap.
Begitupun dengan Faiha yang telah terbiasa bangun dipagi hari. Mata bulatnya membuka sempurna. Ia menyingkirkan tangan Abiseka yang melingkar di perutnya , juga kaki besarnya yang menindih tubuh bagian bawahnya.
"Ish–dikira kaki besarnya itu ngak berat apa? Ya ampun, badanku rasanya pegal-pegal semua." Faiha merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku dan itu semua akibat dari perbuatan suami tampannya yang saat ini masih bergelut manja di balik selimut dengan tubuh polosnya.
"Sudah ah...kenapa aku jadi mikirin itu sih?Sadar...sadar, Fai!" Menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri karena berpikiran mesum.
Perlahan Faiha beranjak turun dari atas tempat tidur, meraih piyama tidurnya yang berserakan di lantai lalu segera mengenakannya. Setelah itu ia pun bergegas keluar menuju ke kamar mandi.
"Semoga bulek Lastri beljm bangun." Faiha berjalan sambil berjinjit pelan agar suara langkahnya tak terdengar. Ia harus sesegera mungkin untuk mandi junub kalau samoai ketahuan buleknya akan sangat memalukan.
Ternyata suasana masih sunyi dan itu artinya bulek Lastri dan yang lainnya belum terbangun. Dengan perasaan lega Faiha pun langsung memulai rutinitas mandinya secepat mungkin sebelum ketahuan buleknya.
"Alhamdulillah selesai juga, segernya...bulek tumben belum bangun? Oh iya, ternyata baru jam setengah empat...aku yang bangun kepagian ya?" Faiha berbicara sendiri sambil terkekeh geli akan kelakuan anehnya.
Ketika kembali kekamar, ternyata Abiseka masih terlelap dan bergelung manja di balik selimut. Perlahan Faiha mendekat beniat membangunkan sang suami.
__ADS_1
"Mas, bangun mas...sudah subuh, ayo mandi!" Mengguncang-guncang lengan kekar Abiseka.Namun, sama sekali tak ada reaksi sesikitpun.Faiha menggeleng lalu mengangguk tersenyum.
"Ah–aku tahu, bagaimana cara membangunkannya."
Tangan mungil nan halus Faiha mulai menjalankan misinya untuk menyadarkan sang macan kumbang dari tidur lelapnya. Perlahan ia mengelus lembut dada bidang berbulu yang terekspos tampak seksi sampai Faiha menelan salivanya. "Ya, Allah...tampannya suamiku ini." Faiha malah terpesona dan bergumam sendirian.
Grepp
"AAakhh–!"
Faiha terlonjak kaget ketika tiba-tiba tangannya digenggam erat dan tubuhnya digulingkan sampai jatuh terlentang lalu, Abiseka mengukungnya. Bibir Faiha langsung di bungkam dengan telapak tangan besar Abiseka.
Sementara itu tanpa mereka ketahui di depan pintu kamar Faiha bulek Lastri yang melintas tentu saja dapat mendengar teriakkan keras Faiha. Dan langsung saja pikirannya berkelana kemana-mana. "Ck...dasar pengantin baru, ngak ada puas-puasnya."
"Ssttt–jangan berteriak! Apa kamu berniat membangunkan semua orang...hem?"
"Mas yang apa-apaan? Ayo, cepat bangun, mandi sholat...setelah itu kita sarapan bersama. Di sini tuh tidak seperti di rumah mewah mas, yang apa-apa sudah di siapkan oleh para pelayan."
"Hemm—iya iya, mas bangun...nih, taraa!" Abiseka beranjak dari atas tubuh Faiha dan bediri tanpa perduli tubuh naked nya yang terkspos nyata tepat di hadapan Faiha yang terbelalak sampai air liurnya menetes.
"Mingkem-mingkam...baby, katanya sudah mandi? Apa mau sarapan ini dulu, ayuklah...mas sih ngak akan nolak."
Brukk
Bantal pun melayang dan mendarat sempurna di pusat inti senjata milik Abiseka.Tepat sasaran...Faiha malah tertawa cekikikan melihat suaminya yang berakting mengaduh kesakitan.
"Dasar istri usil, awas ya kamu nanti kalau ada kesempatan akan maa beri hukuman yang akan membuatmu jera." Abiseka melempar balik bantal tersebut dlkearah Faiha yang masih cekikikan.
"Mandi ah–" Abiseka melenggang pergi menuju kepintu namun, ia lupa kalau tubuhnya belum mengenakan selembar kainpun.
"Yakk–mas, pakaii bajumu dulu! Apa mas ingin membuat heboh pagi-pagi gini? Ampun deh punya suami ajaib...tapi, ganteng sih." Faiha menutup mulutnya dan tersipu malu akan ucapannya sendiri.
"Eh iya, sayang. Mas lupa...mana sini, baju sama celana mas!"
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, semua sudah berkumpul di meja makan bersiap untuk sarapan pagi. Bulek Lastri, Anwar dan tak ketinggalan Hani.
Pasangan Abiseka dan Faiha muncul paling terakhir membuat keduanya jadi merasa malu. Mereka tersenyum canggung.
"Selamat pagi semua, maaf kami telat."
"Iya, ngak apa-apa...ayo, duduk kita langsung makan!" Keduanya pun bergegas duduk dan mereka mulai menyantap hidangan sederhana untuk sarapan mereka dipagi ini.
"Maaf ya nak,Abi. Bulek hanya menyediakan masakan sederhana."
"Oh, ini sudah cukup kok bulek. Masakan bulek Lastri sangan enak." Abiseka begitu menikmati makanannya walau hanya sepiring nasi goreng dan telur ceplok.
Usai sarapan, Anwar dan Hani bersiap untuk berangkat ke sekolah. Tak lupa mereka salim pada yang lebih tua.
__ADS_1
"Bu, mas...mbak. Kami berangkat kesekolah ya!"
"Anwar–jaga adikmu baik-baik. Dan kamu Hani, tunggu masmu jangan pulang duluan!" Pesan sang bunda pada putra putri tersayangnya.
"Iya bu. Assalamuallaikum."
"Wa'allaikumsalam. Hati-hati!"
"Hei–tunggu! Bareng mas Abi saja."
"Bulek, Abi juga harus segera berangkat ke kantor. Adik-adik biar aku yang antar." Bulek Lastri mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
"Baiklah, terima kasih ya nak Abi."
"Sayang, mas berangkat dulu ya...ingat, kalau ada apa-apa langsung telepon mas!"
"Iya suamiku tersayang."
Faiha meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Abiseka pun mencium kening Faiha lalu mereka saling melambaikan tangan.
Didalam mobil Abiseka, Suasana tampak hening. Hubungan Abiseka dan kedua adik iparnya itu memang belum terlalu akrab. Ya mungkin karena mereka jarang bertemu dan berinteraksi. Anwar duduk di kursi depan di sebelah Abiseka sedangkan Hani di kursi belakang.
"Emm‐memangnya kalian kalau pulang sekolah biasanya jam berapa?" Abiseka memulai percakapan guna mengakrabkan diri dan suasana diantara mereka tidak canggung.
"Biasanya jam dua siang sih, mas. Tapi, kalau sedang ada pelajaran tambahan ya bisa sampai sore. Kan sebentar lagi mau ujian akhir." Itu Anwar yang menjawab dan Abiseka mengangguk paham.
"Mas Abi, eumm...Hanii boleh tanya sesuatu, ngak?" Tiba-tiba Hani bersuara dan sontak membuat leduanya melihat kearah kaca spion tengah.
"Ya, tentu saja boleh lah dek. Apa yang mau kamu tanyakan?"
"Itu‐sebenarnya bukan pertanyaan sih. Tapi, sebuah permintaan."
Jawab Hani malu-malu. Sepertinya gadis muda itu sungkan untuk mengutarakannya.
"Ngak apa-apa, katakan saja.Ayo...bilang, dek Hani mau minta apa sama mas Abi?" Abiseka mendesak Hani untuk mengatakan keinginannya.
"Itu mas, apa Hani boleh minta nomer telepon om...Andre?"
"HANI–! Apa-apaan sih kamu?"
Anwar menatap tajam sang adik membuat Hani langsung menciut tertunduk takut.
Bersambung.
Hai hai, maaf ya dua hari ngak update. Tangan othor terkilir dan ngak kuat buat ngetik. Ini saja ngetiknya dikit-dikit.
Semoga kalian suka. Selamat membaca. Maaf kalau masih ada typo.
__ADS_1