Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
63. Mommy Fai


__ADS_3

Faiha mengerjapkan matanya, tidurnya begitu lelap dan nyaman dalam pelukan suami tercinta. Ia terbangun karena perutnya terasa lapar. Ya, sejak dari rumah Faiha memang belum makan lagi. Hingga kini matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat.


"Mas,mas Abi...bangun! Aku lapar." Mengguncang-guncang lengan Abiseka.


"Hemm–kenapa, sayang?" Abiseka menyahut namun matanya masih terpejam. Ia malah mendekap erat Faiha.


Faiha yang kesal memencet hidung mancung Abiseka dan berhasil membuat sang suami terbangun membuka matanya. "Auw...sayang, apa-apaan sih?"


"Apa-apaan? lihat sudah jam berapa itu, aku lapar tahu." Jawabnya kesal. Abiseka pun melihat ke arah jam dinding dan sonyal ia pun terkejut bukan main.


"Astaga, maaf ya sayang.Mas ketiduran dan ngak sadar kalau kita belum makan siang. Kalau begitu kita makan dikamar saja ya, mas akan pesankan."


"Hemm–." Hanya dijawab deheman oleh Faiha.


Kemudian Abiseka pun beranjak turun dari atas ranjang, menuju ke kamar mandi dan setelahnya ia langsung memesan makan malam via telepon.


"Sayang, ayo sana...bersih-bersih dulu!" Abiseka duduk disisi ranjang tepat di sebelah Faiha. Gadis itu pun menggeliatkan tubuhnya dan bangkit dengan posisi duduk.


"Iya mas, sebentar." Jawabnya malas-malasan. Namun, tiba-tiba tubuhnya langsung di gendong Abiseka ala bridal style menuju kekamar mandi.


"Aaaa–mas, mau apa? Turunkan...aku bisa kekamar mandi sendiri." Faiha menggeliat-geliat meminta untuk diturunkan.


Ucapan ambigu Abiseka akhirnya membuat Faiha bungkam dan tak berkutik. "Kalau kau terus bergerak dan menyentuh adik mas, jangan salahkan jika mas menerkammu sekali lagi disini."


Sontak Faiha terdiam menelan salivanya dengan susah payah, dilanda lepanikkan takut Abiseka akan meminta jatah tambahan untuk yang kesekian kalinya. Jujur, tubuhnya sudah sangat lelah dan rasanya lemas sekali.


Usai mandi dan berganti pakaian yang baru, Abiseka menyuruh Heru untuk membelikan dua stel pakaian baru untuknya dan Faiha.Dan tak berapa lama pesanan makan malam mereka pun telah datang.


Mereka menikmati makan malam romantis didalam kamar hotel. Mejanya pun ditata seindah mungkin seperti saat waktu mereka berbulan madu. Faiha makan begitu lahapnya sampai semua hidangan yang begitu banyak hampir ludes di santapnya. Abiseka hanya menggeleng dan tersenyum melihat kepolosan istri mungilnya itu.


"Laper banget ya, mommy Fai?"


"Mommy? Siapa yang mas panggil mommy?" Memicingkan matanya menatap penuh tanya suaminya.


" Ya kamulah, sayang. Memang siapa lagi yang bakal jadi calon ibu dari anak-anak kita kelak dan siapa tahu di rahimmu sudah bertumbuh buah cinta kita. Calon baby Abiseka Jayendra junior." Menaikturunkan alisnya menggoda sang istri.


"Aww–sakit sayang, kenapa mas malah dicubit sih? Kan memang benar toh." Memegang perutnya yang di cubit Faiha.


"Belum tentu, mana bisa...kita saja menikah baru dua bulanan. Sok tahu kamu, mas."


Melihat wajah Faiha yang memerah, membuat Abiseka semakin ingin menggodanya. "Ya kenapa enggak bisa? Apa pun kehendak yang diatas bisa terjadi kan?yang cuma sekali melakukannya saja bisa langsung tekdung, apalagi ini kita yang hampir setiap hari dan setiap saat peroduksi terus."


Faiha terdiam, mencerna semua perkataan suaminya. "Apa benar ya, kalau aku sudah hamil? Apa yang dikatakan mas Abi ada benarnya juga, sih." monolog Faiha dalam hati.


Abiseka mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Faiha yang malah bengong dengan tatapan urus kedepan.

__ADS_1


"Kenapa bengong... hem?"


"Kalau itu benar bagaimana mas?" Faiha malah mengutarakan pertanyaan yang bodoh macam itu.


"Loh, ya ngak bagaimana-bagaimana? Alhamdulillah...bersyukur, akhirnya penantian kita selama ini sudah terkabul." Menangkupkan kedua belah pipi Faiha yang kini terlihat semakin chubby dan menciumnya dengan gemas.


"Sudah, tidak perlu terlalu dipikirkan.Insyallah kalau memang sudah rezeki ya harus kita syukuri. Setelah ini kita pulang atau kamu mau pergi jalan kemana lagi?"


Faiha menggeleng. "Enggak, langsjng pulang saja. Takut bilek Lastri khawatir."


"Masa' pergi sama suami sendiri di khawatirkan, sih. Apakah tidak sebaiknya kita pulang ke rumah mama, papa saja? Kamu kan istri mas dan menantu dari keluarga Jayendara. Sampai kapan kita harus hidup terpisah gini...mas ngak kuat kalau harus berjauhan.denganmu, sayang."


"Huu–itu sih alesannya mas saja. Bilang saja kalau yang ngak kuat itu adiknya mas...bener kan?hayo ngaku?" Faiha mengejek suami bucinnya.


Abiseka malah terkekeh geli mendengar celotehan absurd Faiha yang kebenarannya mendekati 100 %. Faiha sangat pengertian sekali, dalam pikirannya.


"Kok kamu bener banget sih, sayang. Tahu saja kalau adik mas kalau tidak bertemu belahan jiwanya akan sangat menderita." hahaha...ih, gemes deh!" Mencubit gemas pipi chubby Faiha. Sontak saja Abiseka langsung mendapatkan pelototan dari Faiha.


Seusai drama percekcokkan yang tak berfaedah, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang. Abiseka mengantar istrinya ke rumah bulek Lastri sesuai permintaan dari Faiha sendiri.


Meskipun Abiseka sudah menjelaskan semua duduk persoalannya namun, Faiha masih belum mau diajak pulang ke kediaman Jayendra. Faiha menunggu sampai kedua orang tua mereka mengakhiri drama yang bertujuan untuk mengerjai mereka berdua.


Setelah memakan waktu hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di rumah bulek Lastri. Mereka kemudian bergegas turun ketika melihat bulek Lastri yang sedang berjalan mondar-mandir di teras depan. Faiha pun menghampirinya.


"Bukan itu, Fai. Bulek sih ngak masalah kamu pulang jam berapapun. Kan kamu perginya juga sama nak Abi suamimu sendiri. Ngak masuk diakal kalau bulek sampai khawatir." Wajah bulek Lastri tampak gundah dan tegang.


" Lalu ada apa? Apa telah terjadi sesuatu dengan Adik-adik?" Tanya Faiha yang mulai ikut was-was.


"Ini soal Hani...dia belum pulang juga sejak pulang dari sekolah. Anwar bilang tadi siang sekitar kurang lebih jam 2 an. Hani sudah pulang duluan. Sedangkan Anwar masih disekolah karena ada kegiatan extra. Saat ini Anwar sedang berkeliling mencari Hani."


"Ya ampun, bulek. Kenapa ini bisa terjadi. Apa bulek sudah menelpon ke ponsel Hani?"


Bulek Lastri pun mengangguk kemudian menggeleng. " sudah Fai. Tapi, terleponnya tidak aktif. Bagaimana coba bulek tidak khawatir."


"Biar Abi yang akan membantu mencari Hani ya, bulek. Nanti akan aku kabari kalau Hani nya sudah ketemu." Abiseka menawarkan diri untuk ikut mencari keberadaan Hani.


"Aku ikut ya, mas?"


"Tidak usah, ini sudah malam...kamu juga pasti sangat capek kan? temani bulek saja dirumah. Nanti kalau ada apa-apa, mas pasti akan telepon."


"Tapi, mas...aku sangat khawatir sama Hani. Siapa tahu aku bisa bantu mencari ke rumah salah satu teman akrabnya atau ketempat-tempat yang biasa Hani kunjungi." Faiha tetap merengek untuk ikut.


"Bagaimana ini bulek?"


"Ya sudah, diajak saja nak, Abi. Dari pada nanti dirumah juga juga pasti tenang pikirannya. Biar menemani nak Abi, buat teman ngobrol." Faiha pun tersenyum senang mendapatkan izin dari sang bulek.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang nanti keburu kemalaman. Bulek, kami pergi dulu ya. Tenangkan pikiran bulek...yakinlah jika Hani baik-baik saja!" Abiseka berusaha menenangkan pikiran wanita paruh baya itu.


Abiseka dan Faiha masuk kedalam mobil dan melaju menelusuri jalanan ibu kota yang tampak ramai lancar. Ya karena saat ini waktu telah menunjukkan pukul delapa malam. Belum terlalu larut juga.


" Apa kamu tahu rumah dari teman-teman Hani yang dekat dengannya?"


"Ada sih, beberapa. Ayo kita langsung menuju sana saja!" Abiseka mengangguk dan melaju kembali menuju ke tempat tujuan mereka, yaitu rumah dari teman-teman Hani.


Setelah berkeliling dari rumah-kerumah teman-teman yang cukup akrab dengan Hani. Dan tanpa hasil, karena.ternyata Hani sama sekali tidak ada di sana. Faiha jadi semakin kalut.


"Bagaimana ini mas? Apa kita lapor polisi saja?"


"Ya kalau kita lapor sekarang pasti juga tidak akan di proses karena Hani hilang belum ada 24 jam. Kita usaha dulu ya...jangan cemas, insyaallah adikmu akan baik-baik saja."


Tak lama terdengar suara deringan telpon pada ponsel milik Abiseka. Ia mengernyitkan dahinya ketika melihat id si penelpon dan langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Ya, hmm...ada apa? Tumben lo telpon gue?"


".........."


"Serius lo, beneran? Dimana dia sekarang?kok bisa sih lo sama..."


".......!"


"Iya iya, oke...gue sama Faiha ke sana sekarang." Panggilanpun terputus.


"Siapa mas yang barusan telepon?"


"Ayo, kita jemput Hani sekarang!"


"Mas, ish...ditanya malah jawabnya yang lain. Ngak nyambung banget sih.itu tadi yang telepon siapa? Dijawab dulu kalau istrinya bertanya tuh!"


"Iya iya, itu tadi yang telepon si Andre..."


"Hah–kak Andre! Apa hubungannya dengan hilangnya Hani sama kak Andre? "


"Adikmu saat ini ada bersama dengan Andre, di apartemennya. Nanti biar Andre yang menjelaskan. Kamu terlpon bulek Lastri, bilang kalau Hani sudah diketemukan agar beliau tidak khawatir lagi!"


Faiha mengangguk dan mengambil ponselnya dari dalam tas selempangnya lalu segera menelpon bulek Lastri. Mereka pun bergegas menuju ke Apartemen tempat dimana Andre tinggal.


Bersambung


Apa ya yg sebenarnya terjadi dengan Hani dan mengapa gadis itu bisa ada bersama dengan si om ganteng Andre? Tunggu di next bab ya penjelasannya...oke! 😉❤


NB: Kalau masih ada Typo tolong kasih tahu ya, padahal sudah di baca ulang sih. Memang dasar mata suka siwer...kelewatan maksudnya. 😅

__ADS_1


__ADS_2