
Senyum Faiha seketika sirna ketika melihat pemandangan yang membuat mata dan hatinya panas. Bagaimana tidak, ada sesosok wanita cantik dengan gaya berpakainnya yang sangat sexy tengah berlengket ria di dekat suaminya. Dari gesture tubuhnya, sepertinya wabita itu memang sengaja ingin menggoda Abiseka.
"Mas–"
"Hei,siapa kamu dan apa yang sedang kau lakukan? Lepaskan tanganmu itu!"
Mata Faiha membola dengan tatapan menghunus tajam kearah sang perempuan gatel itu. Abiseka juga tiba-tiba menegang dengan nyali yang langsung menciut melihat sang istri yang sudah dalam mode terbakar. Habislah semua jika sampai bumil itu mengamuk.
"Siapa kamu, mengapa kamu berada didalam ruangan Ceo?" Bukannya menjawab pertanyaan Faiha, wanita itu malah balik bertanya
"Hey–siapa kamu beraninya bertanya seperti itu padaku? Mas, jelaskan padanya siapa aku!" Kekesalan Faiha mulai meninggi, dan Abiseka bisa melihatnya dari wajah Faiha yang telah merah padam.
Abiseka pun bangkit dari kursi kebesarannya lalu, beranjak menghampiri sang istri yang wajahnya sunggu tak enak dilihat itu. Faiha memasang wajah sinis dan tatapan matanya itu yang membuat Abiseka jadi merasa risau.
"Sayang,tenang du ya!" Merangkul pinggang sang istri posesif dan tetsenyum penuh kelembutan.
"Ekhem–maaf nona Valerie, perkenalkan dia adalah istriku namanya Faiha Arsyana Jayendra." Abiseka memperkenalkan sang istri pada wanita yang benama Valerie, dia adalah salah satu klien baru Perusahaan.
"Istri? maaf, aku tidak tahu kalau kamu sudah memiliki seorang istri. Sebab aku belum pernah mendengar berita tentang pernikahanmu, bahkan dari berita di berbagai media." Valerie yang memang sejak dari dulu mengincar Abiseka sang Ceo muda sukses berwajah rupawan tentu saja merasa kecewa dengan fakta tersebut. Sang pria idaman ternyata sudah menjadi milik wanita lain.
"Tidak ada yang perlu di besar-besarkan. Bagiku menikah tidak harus di gembar gemborkan secara mewah yang terpenting kami saling mencintai dan telah mendapat restu dari kedua orang tua kami. Itu saja sudah cukup." Tutur Abiseka.
Faiha yang sudah gemas dengan tingkah sok terluka dan kecewa dari wanita itu, ingin rasanya ia menggeretnya keluar dan menjauhkannya dari sang suami.
"Ekhem, apakah anda sudah mengerti dengan semua penjelasan dari suamiku...nona.em, sayang rapatnya sudah selesai kan? Aku capek, mau tidur.di rumah saja." Faiha mendekat dan langsung duduk di pangkuan Abiseka , bergelayut manja. Membuat Valerie semakin kepanasan.
Abiseka sontak terkejut dengan sikap kemayu Faiha. Tidak biasanya sang istri bertingkah seperti itu jika dihadapan orang lain. Apakah ini suatu kode agar Valerie tak lagi berniat menggoda Abiseka. Dan menyadarkan wanita itu kalau tak akan pernah ada celah untuknya masuk dan mengganggu rumah tangga mereka. Faiha tahu itu, terlihat jelas dari gesture tubuh dan juga ekspresi wajahnya.
"Sepertinya pembahasan untuk hari cukup. Maaf nona Valerie.Istriku sedang hamil muda jadi, akhir-akhir ini tubuhnya mudah kelelahan mungkin karena ada dua janin didalam kandungannya." Abiseka sepertinya sengaja memamerkan tentang kehamilan Faiha
Mimik wajah Valerie kembali berubah suram. " Oh, itu berarti anda akan memiliki anak kembar. Selamat ya Tuan Abiseka dan...Nyonya Jayendra." Ia malas memanggil nama Faiha. Dan Faiha cuek saja tak memperdulikan apapun celotehan wanita tersebut.
"Suamiku tadi bertanya pada anda, bukan. Nona...siapa tadi nama anda? Maaf aku tidak ingat."
"Valerie Handoko, Nyonya. Itulah namaku."
"Oh, iya. Nona Handoko.Bukankah tadi suamiku mengatakan jika urusan pekerjaan kalian cukup untuk hari ini. Apakah Nona tidak menyimak perkataan suamiku barusan?" Faiha langsung men-skakmat Valerie agar wanuta cantik itu tahu diri.
Dengan berat hati wanita cantik itu pun akhirnya pasrah dan mundur teratur. Setelah pamit undur diri, ia pun melangkah keluar meninggalkan ruangan Abiseka.
"Huh, dasar salah satu bibit-bibit pelakor. Dikiranya aku akan berdiam diri begitu saja apa, jika suamiku di goda olehnya. Cantik-cantik kelakuan minus, seperti tidak laku saja. Mas, kamu kenapa melongo gitu? Apa jangan-jangan kamu juga naksir sama tante-tante gatel itu. Menyesal karena aku yang telah mengusirnya."
Sepertinya Faiha salah tangkap lagi akan reaksinya ketika sang istri dengan terang-terangan mengusir salah satu kliennya. Apa mungkin semua istri akan bersikap sama seperti Faiha ketika mencoba menjaga apa yang telah menjadi miliknya. Artinya Faiha benar-benar sangat mencintainya dan tak ingin wanita manapun yang berusaha untuk menggoda apalagi merebut suaminya.
__ADS_1
"Bukan seperti itu, sayang. Mas malah senang kamu melakukan hal tersebut. Karena itu artinya kamu sangat mencintai suami tampanmu ini dan takut kehilangan atau direbut oleh wanita lain."
"Hem–sudahlah, aku malas membahas calon pelakor itu. Ayo, cepatan kita pulang. Aku mau rebahan di kamar saja, capek." Faiha lalu turun dari pangkuan Abiseka meraih tas selempangnya yang tergeletak diatas sofa dan melangkah ke arah pintu.
"Sayang, tunggu mas. Kamu yakin cuma mau rebahan dikamar saja, apakah tidak ingin melakukan hal yang lainnya. Seperti merileks kan tubuh dan pikiran." Abiseka sudah berdiri disamping Faiha dan mengapit pinggang sang istri.
"Melakukan apa misalnya?" Faiha melirik sang suami malas, sepertinya ia tahu arah pembicaraan Abiseka kemana arahnya. Tentu saja kalau bukan urusan peranjangan apalagi?
"Pake di tanya sih, sayang.Kamu pasti sudah mengertilah apa yang mas maksud. Itu...itu!" Menunjuk bagian bawah sang istri dengan gerakan matanya.
Srutt
"Awww–sakit,sayang."
Meringis kesakitan ketika sebuah cubitan mendarat di permukaan kulit bagian perut sixpack nya yang liat itu.
"Makannya jangan macam-macam. Istrinya baru hamil muda juga. Memangnya mas ngak dengar apa kata dokter kalau kita tidak boleh terlalu sering berhubungan itu dulu.Tunggu sampai aman."
Seketika mata Abiseka terbelalak dan menggelengkan kepala tak terima. "Kapan dokternya bilang seperti itu. Mas, belum pernah mendengarnya satu kalipun. Kamu jangan mengarang bebas ya, sayang." Tak percaya.
"Kan, mas memang kemarin tidak ikut menemani aku periksa. Tentu saja mas tidak tahu apa yang pernah dikatakan oleh dokter.Sudah ah, pokoknya untuk saat ini libur dulu sampai ada izin dari dokter.Oke, suami tampanki."
CUP
"Oh–lemes aku." Faiha hanya megulum senyum melihat wajah merana Abiseka.
"Mas, pegang deh! Mereka bergerak lincah...sedang apa ya mereka didalam?" Faiha menarik tangan Abiseka dan menempelkan telapak tangan besar itu ke permukaan perut buncitnya. Ya, perut Faiha memang lebih tampak membesar dibanding usia kehamilan normal. Karena ada dua bayi di dirahimnya.
Senyum Abiseka langsung merekah ketika merasakan pergerakan dua calon anaknya itu. Dokter telah memberitahu kalau kedua bayi mereka berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Ya, mereka akan memiliki sepasang bayi lucu yang pastinya akan sangat menggemaskan.
"Iya sayang. Mereka kayaknya sangat senang tahu kalau daddy nya yang sedang menyapa." Tangannya masih mengelus lembut permukaan perut besar Faiha.
CUP " Sayang-sayangnya daddy. tumbuh sehat dan kuat ya. Nanti daddy akan mengajak kalian jalan-jalan ke disneyland, oke guys." Faiha terkekeh geli melihat tingkah konyol Abiseka.
Seperti biasa, hampir setiap hari Andre datang kesekolah Hani untuk menjemput gadis itu seusai pulang sekolah.Beberapa bulan ini hubungan mereka semakin dekat saja. Berawal hanya sebuah permainan untuk menyingkirkan Zivanya yang tak pernah menyerah mengejar Andre. Entah mengapa akhir-akhir ini pria bertampang bule itu seakan tak bisa lepas dan berjauhan dengan Hani.
"Hey–Hani! Tuh, lihat pangeran bule kamu sudah standby di depan gerbang sekolah." Sàlah satu teman akrab Hani yang bernama Asri memberitahukan tentang keberadaan Abdre si om bule tampan. Itulah julukan yang disematkan oleh para siswi disekolah itu. Mereka sudah terbiasa melihat kemunculan Andre dan mengira kalau Hani adalah kekasihnya.
Hani melihat kearah depan sekolah dari lantai atas dan iapun menghela nafas panjang.
"Lah kamu kenapa, Han? Di jemput pangeran tampan kok tak bersemangat?" Tanya Asri heran.
"Bukan apa-apa sih, aku cuma sedikit merasa takut aja. Akhir-akhir ini tingkah om Andre aneh dan bikin bergidik ngeri."
__ADS_1
"Maksud kamu apa? Jangan bilang kamu udah digrepe-***** ya sama si om ganteng? Asyik dong–" Asri tersenyum menyeringai menaikturunkan alisnya.
"Apaan sih kamu, As. Enggaklah...aku juga masih waras dan punya iman kali, berpikir panjang kalau mau melakukan hal diluar batas kewajaran." Jawab Hani jujur.
Asri pun percaya, gadis itu mengangguk lalu mendorong punggung Hani agar segera berjalan menghampiri Andre. "Sudah sana, kasihan pangeran berkudamu sudah lama menunggu!"
"Ish–biiasa aja kali As." Hani mencebik sebal malah Asri yang tampak menggebu-gebu.
"Hai Hani, bagaimana pelajaranmu...lancar kan?" Kalimat itulah yang selalu terlontar ketika Andre datang menjemputnya
"Alhamdulillah lancar, om." Tersenyum manis seperti biasanya dan selalu berhasil membuat dada Andre jedag jedug.
Hani pun segera masuk ketika Andre membukakan pintu di kusi penumpang depan.
"Emm–Hani, Hari ini bisa tidak membantuku memasak? Karena rencananya malam ini mamaku akan pulang dari Paris."
"Ke–napa harus aku, om? Nanti kalau hasil masakkanku tidak enak bagaimana...kan, malu." Sebenarnya Hani merasa tak enak jika menolaknya.
"Enggak, masakanmu enak kok. Kan aku sudah sering membuktikannya dan apapun yang kamu masak pasti sangat yummy.Mau ya, please!" Memohon sambil menangkupkan kedua telapak tangannya. Padahal saat ini si om Andre sedang modus ingin selalu berdekatan dengan Hani.
Hani pun akhirnya tak tega untuk menolak permintaan om tampannya. " Baiklah–."
"Yerima kasih, manis!" Refleks mengelus pipi sebelah kiri Hani, sontak wajahnya memblushing seketika.
Hampir dua jam Hani berkutat didapur memasak beberapa hidangan. Semua telah tersaji rapi diatas meja makan dan Andre pun puas dengan hasil karya sang gadis.
"Om, aku boleh kan izin ke kamar mandi sebentar saja. Sudah di ujung ini–?" Mengapit kedua kakinya menahan pipis.Andre pun mengerti dan mengangguk.
"Iya sudah sana, nanti ngompol disini lagi!" Andre malah terkekeh mentertawakan kelakuan polos Hani.
Dengan langkah cepat, Hani masuk kedalam kamar Andre untuk menuntaskan hajatnya. Beberapa menit kemudian terdengar suara teriakkan Hani dari dalam kamar mandi. Andre pun segera berlari masuk kedalam kamarnya guna mencari tahu apa yang terjadi.
"Hani–apa yang terjadi padamu?" Andre terjingkat kaget melihat tubuh Hani yang sudah tergeletak diatas lantai kamar mandi dengan posisi terlentang, bahkan tubuhnya pun sudah basah kuyup.Karena tadi ketika akan terjatuh tangannya tak sengaja menyenggol kran shower dan memutarnya.
"Aduh Om, boyokku loro tenan iki." Meringis kesakitan.
"Boyok? Apa itu...maksudmu pinggangmu terasa sakit?" Andre dapat menerka apa yang dimaksud Hani, karena gafis itu memegang pinggangnya. Dan Hani mengangguk.
"Sini, biar aku bantu...kamu masih bisa berdiri, tidak?" Andre meraih tubuh Hani dengan mencekal dikedua ketiak gadis itu membantunya untuk bangkit. Tiba-tiba tubuh besar Andre terhuyung lalu menimpa Hani.
BRUKK
Sepersekian detik kedua manik mata mereka saling beradu pandang. Lalu, terjadilah begitu saja...kedua bibir mereka sudah saling bersentuhan dan bergerak lembut. Hingga suara pekikkan seorang wanita menghentikan kegiatan uwu keduanya.
__ADS_1
"Heiii–apa yang sedang kalian lakukan? ANDREE...!!"
Bersambung