Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
55. Melepas Rindu


__ADS_3

Rintik hujan membasahi bumi sama halnya air mata Faiha yang terus menetes tiada henti. Bulek Lastri menyuruhnya untuk beristirahat namun, entah mengapa sekejap pun matanya sama sekali tak bisa terpejam. Wajah tampan sang suami selalu terbayang di pelupuk matanya.


"Apa mas Abi akan menceraikanku? Mama Malika benar-benar sangat marah, harusnya dulu aku tidak menerima tawaran itu.Nasi sudah menjadi bubur, dan aku harus bisa menerimanya dan menikmati rasanya."


"Mengapa mas Abi belum juga mencariku kesini? Apa mama Malika tidak memberitahukannya? Sepertinya aku memang sudah tidak ada artinya lagi bagi keluarga Jayendra. Ah...Faiha, mereka adalah keluarga kaya raya dan terpandang. Tentu saja kau itu tidak ada apa-apanya bagi mereka, sadar dirilah!"


Tok tok tok


Disaat tengah asik dengan lamunannya dan pikiran yang tak tentu. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya Faiha pun gegas membukanya.


Kriett


"Bulek–" Ternyata itu adalah bulek Lastri.


"Apa kamu sudah lebih baik?" Menelisik wajah Faiha yang masih agak pucat. Matanya sayu dan tubuhnya kuyu seperti tak bertenaga.


"Sudah, bulek. Cuma masih pusing sedikit. Mungkin karena kelelahan dan kurang istirahat." Membuka pintu agak lebar memberi jalan agar bulek Lastri bisa masuk ke dalam kamarnya.


"Dan banyak pikiran juga kamu itu."


Faiha kembali merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Bulek Lastri memperhatikan sang keponakan yang memang terlihat tidak baik-baik saja itu.


"Mau bulek kerok'i Fai? Setelah itu minum obat dan tidurlah yang benar. Kamu jangan terlalu memaksakan diri untuk melakukan segalanya demi keluarga ini. Ingat kesehatanmu sendiri. Sini, lepas bajumu!"


Bulek Lastri kemudian bangkit melangkah keluar kamar untuk mengambil minyak kayu putih.


Setelah di kerok'i dan di pijit, Faiha melanjutkan kembali tidurnya. Bulek Lastri pun membiarkan keponakaannya untuk beristirahat.


"Bu, mbak Faiha pulang ya?" Hani yang baru saja selesai belajar keluar dari kamarnya dan menanyakan sang kakak.


"Iya, tadi siang. Jangan ganggu mbakmu dulu. Sana makan...panggil mas-mu, sana!"


Merekapun makan malam bersama tanpa Faiha. Ketika mereka baru saja menyelesaikan makannya. Terdengar suara ketukkan pintu depan.


"Han, lihat siapa yang datang!"


"Iya,bu–"

__ADS_1


Hani gegas menuju ke depan untuk melihat siapa yang malam-malam datang bertamu ke rumah mereka.


"Oh–mas Abiseka.Silahkan masuk! Mas Abi mau menjemput mbak Faiha, ya?" Hani yang belum tahu perihal Faiha yang pulang kerumah, mengira kalau Abiseka datang untuk menjemput sang kakak.


"Jadi beneran Faiha ada disini."


"Apa mas?" Hani sekilas mendengar gumaman Abiseka pun bertanya namun, hanya dijawab dengan senyuman oleh kakak iparnya itu.


"Oh, enggak apa-apa kok, Han. Em...Faihanya ada dimana?"


"Ada, baru tidur di kamar. Kata ibu mbak Fai sedang tak enak badan. Sebentar, Hani panggilkan ibu dulu." Gadis remaja itu pun gegas menuju ke belakang memanggil sang bunda.


"Bu–ada mas Abiseka. Katanya mau menjemput mbak Faiha."


Bulek Lastri baru saja bersih-bersih segera ke ruang tamu menemui menantunya tersebut. Melihat kedatangan sang mertua, Abiseka pun langsung berdiri dan menyalami bulek Lastri.


"Selamat malam, bulek. Aku datang mau menjemput Faiha."


"Duduklah, bulek mau bicara!"


"I–iya, bulek." Abiseka duduk kembali dan kini mereka sudah duduk bersama saling berhadapan. Bulek Lastri menyuruh Hani masuk ke kamarnya karena ia ingin berbicara secara pribadi dengan Abiseka.


"Begini nak, Abi. Tadi siang mama nak Abi datang bersama Faiha. Bulek kira mereka hanya datang berkunjung saja. Tapi, ternyata nyonya Malika datang dengan maksud ingin mengembalikan Faiha pulang kerumah kami."


"Nyonya Malika sudah menceritakan semuanya dan jujur bulek sangat kecewa dengan apa yang telah kalian lakukan. Menikah kontrak. Ya, bulek tidak pernah mengajarkan Faiha untuk berbohong apalagi ini adalah suatu kebohongan yang sangat besar, mempermainkan sebuah perkawinan yang sakral.Itu sama sekali tidak dibenarkan. Apa kalian tidak pernah memikirkan perasaan orang tua yang menaruh harapan penuh dengan pernikahan ini?"


"Salahkan Aku saja, Faiha tidak bersalah. Karena ide pernikahan itu aku yang menggagasnya dan memaksa Faiha untuk melakukannya. Kumohon izinkan aku membawa Faiha pulang, bulek. Sekarang ini kami benar-benar telah saling mencintai."


"Maaf ya nak Abi. Bukannya bulek tak mengizinkan tapi, alangkah baiknya dibicarakan terlebih dahulu dengan keluarga nak Abi. Jika mereka telah memberi maaf dan bisa menerima Faiha, baru nak Abi bisa menjemputnya."


Abiseka tertunduk lesu, menghela nafas panjang tak menyangka masalahnya akan berbuntut panjang. Ia pun pasrah dan akan mengikuti saran dari ibu mertuanya itu.


"Baiklah bulek, aku akan berusaha memperbaiki segalanya dan segera bisa bersama dengan istriku lagi. Emm...apa boleh aku menemui Faiha?"


"Tentu saja boleh. Silahkan, nak Abi langsung kekamarnya saja. Itu...pintu yang paling ujung!" Bulek Lastri menunjukkan letak dimana kamar Faiha.


"Baik, terima kasih." Tanpa membuang waktu, Abiseka pun gegas menuju ke kamar Faiha. Ia membuka perlahan daun pintu, sengaja ia tak mengetuk terlebih dahulu karena tadi bulek Lastri bilang kalau istrinya sedang kurang enak badan.Jadi, ia tak ingin membuat tidur Faiha terganggu.

__ADS_1


Senyum mengembang di wajah tampannya, dapat melihat dan bertemu langsung dengan istri yang begitu di rindukannya.Faiha tengah tertidur pulas, meringkuk tanpa selimut yang menutupi tubuhnya. Faiha menggunakan baju tidur berbentuk daster bermotif kartun terlihat imut dan menggemaskan.


Tiba-tiba Faiha menggeliatkan tubuhnya dan ujung dater bagian bawahnya tersingkap hingga terekspos paha putih nan mulus milik sang istri. oh...sungguh pemandangan yang menggoda bagi seorang suami seperti Abiseka.


"Sayang, apa kau sengaja ingin menggodaku...hemm?" Tiba-tiba ia merasakan hasrat didalam dirinya. Abiseka bergerak perlahan menaiki tempat tidur yang tidak terlalu besar hanya cukup untuk dua orang saja.Itupun mereka akan tidur saling berhimpitan.


Cup


Satu kecupan lembut ia berikan di kening Faiha.Abiseka pun ikut merebahkan diri disebelah sang istri lalu, merengkuh tubuh mungil itu kedalam dekapan eratnya. Merasa ada suatu pergerakan tangan yang menyentuh tubuhnya, Faiha pun refleks membuka matanya dan betapa terkejutnya ia melihat kehadiran Abiseka yang kini tengah memeluknya posesif ada perasaan hangat dan bahagia yang mengisi hatinya.


"Mas Abi, apakah aku sedang bermimpi?"Tersenyum bahagia dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh ia sangat merindukan suami tampannya itu.


"Iya sayang, ini mas Abi-mu dan kamu saat ini tidak sedang bermimpi." Mencubit gemas pipi Faiha yang kini semakin tampak chubby.


"Ish–sakit, mas." Memasang wajah cemberut yang malah terlihat semakin menggemaskan dimata Abiseka jadi tak tahan ingin langsung menyerangnya.


"Masa' ? Kalau begini...sakit tidak?"


Abiseka mendaratkan kecupan-kecupan lembut di seluruh permukaan wajah Faiha tak tekecuali bagian terfavoritenya yaitu bibir cherry milik sang istri.Dengan penuh kelembutan ia pun mulai me***** dan m*******nya dan pergerakan mereka semakin intim. Bahkan tanpa Faiha sadari tangan Abiseka telah berhasil melucuti daster yang dikenakannya. Faiha tersentak kaget dan.langsung menghentikkan tangan Abiseka yang hendak melepas ** dan *** nya.


"Mas, jangan...ada bulek dan adik-adikku!"


Abiseka mengernyitkan dahinya lalu tersenyum meyeringai menatap penuh damba pada Faiha.


"Memangnya kenapa? Mereka kan sedang tidak berada didalam kamar ini, tidak mungkin kan jika mereka ingin melihat adegan 21+ yang akan kita lakukan? Sudah, tenanglah...rilex, sayang! Mereka tidak akan tahu apa yang sedang kita lakukan." Tangannya kembali bergerak, meneruskan pekerjaan yang belum selesai yaitu membuat polos tubuh Faiha.


"Maass–euhh!" Tanpa disadarinya, Faiha mengeluarkan suara indahnya akibat dari sentuhan memabukkan Abiseka di titik-titik tersensitifnya.


"Stop mas, nanti yang lain mendengar dan tahu!"


"Makannya, suara merdumu agak dikontrol volume nya, sayang agar mereka tidak mendengarnya! Oke...dilanjut ya, mas sudah tidak tahan. I miss u honey."


"I miss u too...my hubby."


Bersambung


Aduh aduh, tu si Abi sama Faiha sedang apa ya? Hehehe...maaf ya telat banget updatenya, ada sedikit kendala. Oke, selamat membaca.

__ADS_1


Terkma kasih atas supportnya


__ADS_2