Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
76. Dipersunting


__ADS_3

Abiseka segera bergerak cepat, jangan sampai Faiha bertanya kepada Ferdy yang kadang suka keceplosan bicara. Walaupun temannya itu berpihak padanya namun, tidak menutup kemungkinan dia akan membocorkan rahasia mereka sendiri.


"Fer, Faiha belum menghubungi lo, kan?"


Saat ini Abiseka tengah berada dalam perjalanan menuju ke Nirvana Residence untuk mencari keberadaan adik iparnya, Hani yang menurut informasi dari sang istri jika Andre telah menjemputnya dari sekolah


" Belum tu Bi, ada apa memangnya? jangan bilang kalau ini tentang–"


"Yup, Faiha tadi tanya soal Andre dan Hani. Nah itu dia masalahnya Fer, ngapain juga si Andre ngejemput Hani di sekolahnya dan membawanya entah kemana. Tapi, feeling gue Andre mengajak Hani ke apartemennya. Gila ngak tu, gue takut si Andre khilaf...bagaimanapun dia itu adalah laki-laki normal, ya kan? Fer, lo dengerin ngak omongan gue?"


"Hem, denger banget gue. Rasain deh lo makannya jangan suka jahil dan sekarang lo sendiri kan yang kelimpungan. Kalau sampai terjadi sesuatu pada adik ipar lo gimana coba? Gue yakin jika Faiha tahu lo yang jadi biang keladinya maka, ah...gue dah bisa ngebayangin gimana 'murkanya istri lo itu." menakut-nakuti sahabatnya itu.


"Kok lo malah nakut-nakutin gue sih, Fer? Bukannya bantuin mecahin masalah ini. Awas aja ya sampai lo membocorkannya.Dah ah, gue baru on the way ke Nirvana Residence."


"Hey Bi, memangnya lo yakin kalau Andre membawa Hani ke Apartemennya. Bisa aja kan mereka pergi ketempat lain...seperti hotel misalnya?" Ferdy malah semakin membuat Abiseka kalut.


"Ah si**** lo, gue tutup!"


Sepanjang perjalanan menuju Nirvana Residence Abiseka tak henti-hentinya mencoba menghubungi Andre. Hingga beberapa kali panggilan dan akhirnya sahabatnya itu menjawab panggilannya.


"Ya, ada apa Bi?"


"Heh, Ndre. Lo bawa kemana Hani?jangan macam-macam ya. Katakan dimana Hani sekarang!'


" Oh itu, iya dia ada sama gue. Jangan khawatir gue ngak akan berbuat hal yang tidak baik sama Hani. Tenanglah, bro.Sekarang dia lagi ada di Apartemen gue." Menjelaskan pada Abiseka


"APA! gila lo ya, Ngapain lo bawa Hani ke apartemen lo. Dah lah, gue jemput Hani sekarang. Ni gue lagi otw ke Apartemen lo."


"Ya terserah lo, ngak percayaan banget sih sama teman sendiri." Kesalnya karena merasa Abiseka tak mempercayainya.


"Sorry bro, ini bukan masalah percaya atau ngak percaya. Gue percaya sama lo yang ngak akan berbuat hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Tapi, walau bagaimanapun lo.itu pria dewasa dan Hani seorang gadis polos yang belum mengerti apa pun."


" Gue ngerti, ya udah nanti gue jelasin alasan kenapa gue melakukannya."


Sementara itu dikamarnya, Faiha tampak sedang mondar mandir hatinya tak tenang memikirkan tentang sang adik. Banyak pertanyaan di benaknya mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi antara Andre dan Hani. Rasanya tidak masuk diakal jika keduanya memiliki hubungan yang khusus. Hal itu tak pernah terpikirkan olehnya.


Tok tok tok


"Faiha, ini mama. Boleh mama masuk?"

__ADS_1


"Iya ma, masuk saja!"


Mama Malika melihat wajah Faiha yang tampak mencemaskan sesuatu. Apakah menantunya itu sedang memiliki masalah. Itulah yang pertama terbersit di pikiran mama Malika.


"Ada apa sayang, kamu kelihatan tidak tenang begitu? Apakah suamimu telah membuat masalah baru lagi, hem...ceritakan pada mama, nanti biar mama yang memberikan pelajaran pada anak itu."


"Eh, bukan-bukan ma. Ini bukan tentang mas Abi tapi–"


Faiha terdiam sejenak, ia ragu apakah perlu menceritakan perihal adiknya dan Andre. Karena itu menyangkut masalah intern keluarganya.


"Emm–tidak ada apa-apa kok, ma. Bukan masalah penting."


"Begitu, yang penting kamu jangan terlalu memikirkan hal yang bisa memicu stress, kasihan dedek-dedek bayinya. Oke, sayang." Mengusap lembut kepala Faiha lalu, beralih ke perut sang menantu.


" Oh ya, apa ada yang mama bicarakan?"


"Tidak, mama cuma mau melihat keadaanmu dan cucu-cucu mama. Apakah kamu sudah meminum susu hamilnya?"


"Sudah ma, tadi bi Romlah yang mengantarkannya. Itu gelas nya sudah kosong." Faiha menunjuk sebuah gelas bekas susu hamil yang tadi sudah diminumnya.


"Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, kamu istrirahat saja. Biar itu gelas kosongnya mama yang bawa kebawah." Mama Malika beranjak ingin mengambil gelas kosong tersebut yang masih tergeletak diatas meja nakas.


"Sudah tidak apa-apa. Kamu lebih baik sekarang istirahat saja. Jam berapa katanya Abi akan pulang?"


"Belum tahu ma, mas Abi bilang masih ada yang harus dikerjakannya." Jawab Faiha.


Mama Malika berdecak kesal dengan sang putra yang kalau bekerja tidak mengenal waktu. Padahal dirumah sudah ada istri dan calon baby-baby yang menunggunya.


Nirvana Residence


Tibg tong ting tong


Ceklek


"Jadi datang lo, Bi.Masuk!"


"Dimana Hani? Ngak lo apa-apain kan anak perawan orang?"


"Ada tuh di dalam! Astaga Bi, main tuduh aja lo. Sana lihat sendiri...masih utuh apa enggak!" Andre membukakan pintu dan langsung di berondong pertanyaan oleh Abiseka.

__ADS_1


Ketika Abiseka masuk, ia langsung menangkap sosok Hani yang tengah sibuk didapur. Ia pun mengernyit penuh tanya.


"Heh, lo suruh ngapain adek gue? Malah lo jadiin pembantu dia?"


"Asal njeplak aja lo kalau ngomong. Memang gue setega itu apa. Dia sendiri kok yang menawarkan diri buat masakin makan malam buat gue.Kayaknya Hani boleh juga buat dijadiin istri..ya ngak, Bi?" Menaik turunkan alisnya.


Bugh


Menendang bokong Andre bercanda. "Enak aja lo, dia itu masih kecil dan belum mengerti apa-apa. Jangan meracuni otak polosnya, awas lo ya kalau sampai mengajari Hani hal yang tidak-tidak."


"Masih kecil dari mananya? Lihatlah dengan teliti, bagian-bagian tubuhnya yang terpenting sepertinya sudah bertumbuh dengan normal. Bagian yang terpenting di tubuh seorang wanita sudah tampak indah di pandang. "


"an*** lo, Ndre...kenapa otak lo jadi kotor macam si Ferdy sih."


"HANI–kesini sebentar!" Abiseka memanggil sang adik ipar.


"Eh ada mas Abi–."


"Duduk sini!" Abiseka menepuk sofa tepat di sebelahnya menyuruh Hani untuk duduk."


"Mas mau tanya, kamu ngak di apa-apain kan sama si om bule ini?" Menunjuk Andre.


"Si*** lo, Bi memangnya lo pikir gue penjahat apa. sembarangan aja lo kalau ngomong."


Sedetik kemuduan Abiseka malah terkekeh geli mentertawakan wajah kesal Andre. Padahal ia hanya guyon saja.


"Bercanda Ndre, serius amat. Entar cepet tua tahu rasa lo. Belum juga punya anak nanti udah tumbuh uban karena nesunan." Abiseka kembali mengejek Andre.


"Siapa bilang? Lo ngak lihat tampang gue yang super ganteng dan keren ini. lo lihat, ngak lama lagi juga gue bakal dapat calon ibu dari anak-anak gue kelak." Menatap Hani penuh arti dan Abiseka tahu apa yang dimaksud.oleh sahabatnya itu.


"Enak aja lo, siapa juga yang mau nyerahin anak gadisnya sama om-om tua macam lo. Ya ngak, Han?"


Hani yang tiba-tiba di tanya seperti itu bingung karena gadis polos itu pun tidak mengerti apa yang sedang di perbincangkan oleh kedua pria dewasa di hadapannya saat ini. Namun, jawaban dari Hani membuat keduanya melongo tak menyangka.


"Siapa? Hani mau kok kalau di persunting sama om Andre."


"Eh–."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2