
Usai insiden tarik menarik dan juga saling cekcok mulut, dengan kemunculan Andre ketegangan diantara keduanya terhenti. Setelahnya Andre mengajak Ferdy dan Hani untuk masuk ke unit apartemennya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kalian bisa bersama-sama?" Andre menatap sahabat dan adik dari wanita yang dikaguminya.
"Ish–ini semua kerjaannya si Abi asal kau tahu saja."
"Abi? Maksudmu lo apa sih Fer?" Andre masih belum mengerti apa maksud dari perkataan Ferdy.
Ferdy memberi kode agar mereka bisa berbicara berdua saja di tempat lain agar Hani tidak mendengarnya.
"Ehem–Hani, kamu tunggu disini sebentar ya...ada yang ingin kami bicarakan!" Hani pun mengangguk patuh. Ya gadis yang masih terlalu polos itu sangat penurut jika berhadapan dengan Andre.
"Ayo Fer, kita bicara diruang kerjaku saja!"
Mereka pun beranjak lalu melangkah menuju ke sebuah ruangan yang biasa digunakan Andre untuk menyelesaikan pekerjaannya di rumah.
"Gimana-gimana, maksud lo apa nih? Bawa-bawa nama.si Abi segala?" Andre langsung to the point bertanya ke inti permasalahannya.
Ferdy menghela nafas sejenak lalu, kemudian mulai menceritakan tentang rencana Abi yang seperti sengaja ingin mengerjainya dan juga Andre dengan menggunakan Hani sebagai pancingannya. Keisengan Abiseka kali ini sudah keterlaluan, bayangkan saja... Ia mengumpankan adik iparnya sendiri yang masih bau kencur itu pada kedua pria dewasa yang notabenenya adalah sahabatnya sendiri.
"Aish‐si Abi, kali ini sudah keterlaluan. Lalu, sekarang bagaimana dengan si bocil centil itu?" Ferdy menjuluki Hani seperti itu.
"Bocil centil? Maksud lo si Hani?"
"Lah iya lah, apa ada cewek ababil disini selain Hani?" Jawab Ferdy seenaknya.
Andre memijat keningnya pusing memikirkan tingkah Hani yang tergolong cukup berani diusia sebelia itu."Ya udah sih, ngak usah di ladenin tu bocah. Mending sekarang lo anter pulang gih!"
Ferdy terbelalak dan mebolak mentah-mentah perintah Andre. "Gue–nganter tu bocil, sorry deh...gue ngak bisa. Mending lo aja ya, bro. Soalnya si Hani bilang katanya lo itu om yang super baik sama dia. Memang lo pernah ngasih apa sih ke tu bocah, sampe segitunya dia sama lo?"
"Ngasih apa? gue ngak pernah memberi apa-apa ke Hani. Oh, iya...mungkin dia sangat berterima kasih karena gue waktu itu nolongin dia dari tindak kejahatan.Ya wajar aja sih kalau dia datang kalau cuma sekedar ingin berterima kasih. Apanya yang aneh, bagi gue biasa aja."
"O begitu to ceritanya. Tapi, gue rasa.ada yang aneh sama tu bocil...kayaknya dia itu sampe nekat datang mengunjungi lo karena dia juga naksir Ndre sama lo." Sepertinya tebakan Ferdy kali ini benar. Gadis belia itu menyukai Andre si pahlawannya.
Andre menggeleng dan tak percaya akan ucapan Ferdy. " Dah lah...ngak usah di perpanjang. Jadi, siapa yang mau nganterin Hani. Lo apa gue nih?" Andre kembali bertanya.
__ADS_1
"Lo aja lah, Ndre. Gue lagi males berhubungan sama remaja ababil macam begitu. Bikin pening kepala aja. Kalau gitu gue balik dulu ya...ingat, anterin tu bocil sampe kerumah, nanti malah lo bawa ke kamar hotel lagi–" Ferdy terkekeh geli mengejek Andre.
Plakk
"An*** lo, mau cari masalah apa...bisa di gorok gue sama Faiha kalau sampe itu terjadi.Mengerikan dan menggelikan, nge-bayanginnnya aja udah bikin gue merinding disko.hii–" Andre mengerdikkan bahunya.
"Halah muna lo Ndre, nanti kalau udah ngerasain enaknya kayak Abi bakal ketagihan deh lo...dijamin tebakan gue ngak bakal meleset. Secara Abi pernah bilang kalau Faiha itu selalu membuatnya bergairah cuy." Ferdy lembali tertawa membayangkan apa yang dilakukan oleh Abiseka dengan istri mungilnya nan cantik dan mempesona.Sungguh sangat beruntung si perjaka tua itu.
Dan akhirnya kedua pria tampan dan mapan itu tertawa bersama.
"Oke, bagaimana kalau kita balas kerjain dia gantian?"
"Boleh juga tu ide lo, Fer.Sebel juga si...bisa-bisanya dia mengumpankan adik iparnya sendiri. Gue setuju banget sama ide lo itu. Lalu, apa rencana kita selanjutnya?"
"Nah, gue punya ide...begini –"
"Ah, apa ngak bahaya tu nantinya? Resikonya gede loh Ndre...lo yakin?"
"Yakinlah– dah lo ikutin aja permainan kita selanjutnya. Tunggu pembalasan dari kita ya Bi!" Andre dan Ferdy bertos ria. Merayakan keejasama mereka untuk membalas perbiatan jahil Abiseka.
"Hatchii Hatchi–!"
"Mas kenapa, bersin-bersin. Apa mas mau kena flu ?Tanya Faiha pada sang suami yang tak berhenti bersin-bersin.
"Enggak,mas merasa sehat-sehat saja. Apa mungkin ada yang sedang ngomongin mas. Tapi siapa ya?" Abiseka jadi bertanya-tanya sendiri.
"Oh ya, hampir lupa.Mas tadi membicarakan tentang apa? Kelihatannya serius sekali."
"Ah, enggak ada apa-apa, sayang. Cuma obrolan biasalah...laki-laki." Jawab Abiseka mengelak.
"Oke, aku percaya. Tapi, kalau sampai mas berbuat jahil lagi...awas ya nanti." Faiha memperingati suaminya.yang kadang-kadang suka usil itu. Abiseka tersenyum penuh arti.
"Ya udah, yuk kita tidur aja! Atau mau lanjut ke ronde berikutnya?" Mengedipkan matanya.
"Ish‐dasar ngak ada puasnya. Ngak ada nambah-nambah segala, capek, ngantuk mau tidur...good night suamiku yang ganteng."
__ADS_1
Cup
Abiseka tersipu malu mendapatkan ciuman dadakan dari istrinya. Terbalik kali sih...Abiseka sudah macam remaja yang tengah kasmaran saja. Tapi memang betul sih, kini Abiseka telah menjelma menjadi suami bucinnya Faiha.
"Sayang, apakah itu suatu kode untuk–"
Brukk
Sebuah bantal langsung mendarat sempurna di wajah tampan seorang Abiseka dan siapa lagi kalau bukan Faiha yang berani melakukannya.
Kembali ke Nirvana Residence.
Sesuai dengan yang telah mereka sepakati, akhirnya Andrelah yang akan mengantar Hani pulang. Beberapa saat yang lalu Ferdy pamit duluan. Dan kini tinggalah Andre dan Hani yang masih berada di dalam ruang Apartemennya.
"Om–itu si om Ferdy kayaknya marah ya sama aku?"
"Marah? Marah kenapa?" Tanya Andre mengernyitkan dahinya.
"Iya itu, karena tadi aku ngeyel ngak dengerin dan menuruti kata-katanya.Padahal kan ngak akan seperti itu, ya kan...om?"
"Seperti itu.Maksudnya gimana?" Andre masih belum paham arti dari perkataan si bocil Hani.
"Ya gitu, masa' om Ferdy bilang kalau om Andre itu pria dewasa dan bisa khilaf. Maksudnya khilaf itu yang bagaimana ya,om. Kan ngak mungkin kalau om Andre akan berbuat jahat sama aku. Bener kan, om?" Si polos Hani terus berceloteh tak jelas membuat Andre lumayan dibuat pusingnya.
"Masa' sih om Ferdy bilang gitu sama kamu, Han?"
Si polos Hani pun mengangguk denga ekspresi imutnya. Benar-benar masih bocah.
"Bagaimana kalau yang dikatakan oleh om Ferdy itu benar dan akan segera terjadi. Dan menjadi kenyataan...hem?"
"O‐om Andre m‐mau apa?"
Ting tong
Bersambung
__ADS_1
Nah loh, tu si Hani mau diapain sama Andre? Dan siapa kah yang memencet bel? Jawabannya ada di next bab aja ya...hehehe