Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
97. Happy Family ( The End)


__ADS_3

Usai menerima telepon dari Faiha, Abiseka segera bergegas pulang. Ia tak ingin sang istri bertambah senewen dan harus menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak tahu menahu tentang Zivanya.


"Ada-ada saja sih si Zivanya, ngapain juga tu anak nongol lagi? Bikin tegang aja–"


sesampainya di pelataran depan rumah Abiseka segera turun dan melangkah cepat masuk kedalam. Ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan sang istri. Sayup-sayup ia mendengar suara orang yang sedang mengobrol dan sesekali diselingi tawa riang.


Di ruang tengah, tepatnya tempat keluarga berkumpul tampak empat orang perempuan. Diantaranya Mama Malika, sang istri, Hani dan Astri. Mereka sedang menonton televisi sambil menikmati camilan. Sedangkan para bocil berada diruang bermain.


"Assalamuallaikum."


"Wa'allaikumsalam. Abi, kamu kok siang-siang sudah pulang?" Mama Malika yang pertama menegur sang putra.


"Oh, itu ma...tadi Faiha yang menyuruhku pulang, katanya ada yang ingin dibicarakan." Jawabnya dengan arah mata menatap pada Faiha.


Mama Malika mengangguk mengerti. "O begitu, ya sudah sana!"


"Iya ma. Sayang, ayo kita bicara di kamar saja!" Mengedipkan matanya.


Kening Faiha mengernyit penuh curiga. " Ngak usah dikamar-kamar segala, diruang kerja mas saja. Mau modus aja–." Faiha bisa membaca apa isi otak suami mesumnya itu.


"Jangan su'udzon dong sayang. Mas kan cuma sekalian mau bersih-bersih dan berganti pakaian, biar santai nanti kita ngobrolnya." Elaknya.


"100 % tidak percaya! ayo, cepat. Aku juga cuma mau bicara sebentar saja, kok. Ada yang ingin aku tanyakan sama mas."


Tanpa menunggu sang suami, Faiha langsung melangkah menuju ke ruang kerja Abiseka.


"Sayang, tunggu mas dong!"


Faiha sudah duduk manis di sofa dan Abiseka pun duduk disampingnya. " Oke, mas sudah siap. Apa yang ingin sayang tanyakan?"


"Baiklah, aku akan langsung to the point saja. Apa mas tahu bahwa wanita itu saat ini sedang berada di Jakarta. Apa tunjuannya pulang ke Indonesia, hem–?" Faiha melipat tangannya di dada dan menatap Abiseka penuh selidik.


"Ekhem–maksudmu si Zivanya, kan? Mas sama sekali tidak tahu menahu tentang kedatangannya, mas berani beraumpah kalau mas tidak ada hubungannya dengan kepulangan Zivanya.Kalau tidak percaya, sayang boleh tanyakan langsung sama Andre dan Ferdy." Abiseka memang satu-satunya yang tidak dihubungi oleh Zivanya dan ia berkata jujur pada istrinya.


"Sudah kan, itu saja yang ingin ditanyakan?" Abiseka meraih tangan Faiha dan menggenggamnya." Percayalah pada suamimu ini, oke. Hanya kamu wanita satu-satunya yang akan mengisi hati mas dan kita akan bersama sampai dihari tua nanti. Kiss dulu dong sayang–."


CUP


"Benarkah semua yang mas katakan? Tapi, sepertinya mas yang akan menua duluan deh...kalau aku kan masih muda."


Wajah Abiseka seketika berubah suram dan menatap nanar sang istri. Ah, iya benar. Abiseka akan lebih cepat tua dibandingkan Faiha. itu karena umur mereka terpaut jauh.


Tidak tega melihat kesedihan sang suami, Faiha pun langsung memeluk Abiseka dengan erat lalu mencium seluruh permukaan wajah tampan tersebut.


CUP


CUP


CUP


"Sayang, yang ini belum di sun?" Abiseka memonyongkan bibirnya minta di cium Faiha.


"Masa' sih belum? bukannya sudah ya." Faiha pura-pura tak mengingatnya.


"Belum sayang, ayo cepat...nanti dia iri sama yang lain." Kembali menyodorkan bibr sexy nya, bahkan kali ini Abiseka memajukan tubuhnya tepat di depan wajah Faiha.


Faiha bangkit dari duduknya dan hendak melangkah pergi namun, dengan gerakan cepat lengan kekar Abiseka langsung merengkuh pinggang Faiha dan tubuh keduanya pun saling merekat erat, refleks kedua tangan Faiha melingkar di leher Abiseka. Wajah keduanya kini tak berjarak. Dan akhirnya kedua benda kenyal itupun saling menempel dan bergerak intens. Tentu saja Abiseka yang mendominasi permainan bibir tersebut.


"Sayang–cup...emm, kamu selalu membuat mas–"


Brakk


"Bi, tolong lo–O...o sorry, monggo silahkan dilanjutkan!"


Tiba-tiba saja ada yang membuka pintu dengan keras sampai kedua insan yang tengah memadu kasih itu tersentak kaget dan menghentikan kegiatannya.


"Woyy–kutu kuprett, mau kabur kemana lo? Ganggu orang aja–"

__ADS_1


PLAKK


"Kamu ngomong apa sih, mas? Kak Ferdy kan orang tua...ups, iya mas kan orang tua juga." Faiha menutup mulutnya karena keceplosan dan salah ucap.


Dengan gerakan kilat, Faiha segera berlari melarikan diri jangan sampai di terkam oleh si macan kumbang yang sedang birahi...eh marah maksudnya.


"Sayang, nakal ya kamu. Awas nanti malam ya!" Abiseka melangkah keluar menyusul Faiha dan juga si rusuh Ferdy.


Di ruang tengah sudah tampak ramai, tidak hanya para wanita tapi ada 2 orang pria dewasa yang bagi Abiseka saat ini sangat menyebalkan. Apalagi si Ferdy yang telH mengganggu kesenangannya.


"Hai Bi, muka lo kenapa lecek gitu, dah kayak kertas di remat gitu?"Andre yang tidak tahu kronologis kejadian tak mengenakkan yang baru saja dialami oleh Abiseka dengan santainya bertanya.


Abiseka cuek saja tetap melangkah menuju kelantai atas. "Tuh, tanya saja sama sohib lo yang rusuh itu." Menunjuk kearah Ferdy yang tengah berpura-pura sibuk dengan ponselnya tak ingin mendengar ocehan Abiseka yang sedang misuh-misuh.


"Kenapa dia?" Andre bertanya pada Ferdy.


"Biasalah, sesuatu yang tak tersalurkan gara-gara adanya gangguan teknis." Ferdy terkekeh geli membayangkan bagaimana wajah Abiseka yang memerah antara menahan malu dan amarah, itu karena dirinya yang muncul pada waktu yang tidak tepat.


"O–jadi begitu toh kejadiannya. Kasihan si Abi, pedangnya ngak jadi di asah gara-gara lo, Fer." Ucap Andre sambil tertawa.


Mama Malika menggelwngkan kepalanya melihat tingkah laku ketiganya yang tak berubah. "Kalian ini ya, sudah tua masih seperti anak kecil saja."


"Ah tante, jangan sebut-sebut tua dong...kami ini pria dewasa yang sedang matang-matangnya. Ya kan, Ndre?"


"Yo'i." Keduanya pun bertos ria.


"O begitu, jadi apa mas juga lagi puber-bupernya?sama siapa itu...si Ziva ziva apalah namanya." Asri menyahut sinis dengan sindirannya yang ditujukan untuk sang suami.


Andre terkekeh geli melihat Ferdy yang langsung berubah pucat pasi karena istrinya yang merajuk.


"Ketawa aja terus lo, Ndre. Tunggu aja giliran lo. Baru tahu rasa–." Ferdy mendo'a kan Andre akan mengalami nasib yang sama. Dan benar saja, tak menunggu waktu yang lama tiba-tiba Hani bengkit dari duduknya dan langsung menghampiri Andre lalu–"


"Akhhh–sakit honey, kenapa mas dijewer sih?kan yang jahil itu si Ferdy bukan mas." Hani menjewer telinga Andre gemas dengan kelakuan suaminya yang malah mentertawakan kemalangan sahabatnya.


"Mas tuh sama saja dengan kak Ferdy dan mas Abi.Huh–." Hani beranjak meninggalkan Andre yang tak berkutik. Dan ketika menoleh ia melihat Ferdy tengah menahan tawa sambil mengacungkan jempol kearahnya.


"Siap uti Malika!" Keempat bocil itu menjawab serempak lalu, mengikuti langkah mama Malika menaiki anak tangga menuju ke kamar cucu-cucunya.


"Uti, mom sama daddy kenapa seperti sedang marahan gitu?" Itu Si bocah bule Aaron yang bertanya karen tadi anak itu melihat daddy nya yang dijeqer oleh mommy nya.


"Iya uti, mama juga tadi kayak sedang marah-marah sama papa. Mereka lagi berantem juga ya, uti Malika?"Kali ini si tampan Farell yang juga merasa penasaran tentang apa yang terjadi pada para orang tua mereka.


Mama Malika tersenyum lembut lalu, berjongkok dihadapan keempat bocah manis tersebut. "Ngak ada apa-apa kok, sayang-sayangnya uti. Mereka tidak sedang berantem hanya bercanda saja, tidak serius. Ayo, masuk...Alesha, kamu mandi dikamar uti saja ya. Tunggu sebentar!" Gadis kecil berwajah cantik itu pun mengangguk patuh.


Setelah menyiapkan perlengkapan mandi tiga jagoan kecil nya. Kemudian mama Malika menggandeng Alesha menuju kekamarnya.


Sementara itu di lantai bawah, dua pasangan suami istri sudah kembali mesra. Setelah mendengar penjelasan dari Andre dan Abiseka. Asri pun tahu dan mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi dan juga tahu siapa Zivanya itu.


Andre dan Ferdy saat ini sedang bergelayut manja pada istri-istri mereka. Sambil mengelus-elus perut buncit sang istri.


"Hu‐dasar mupengan. Tu lihat saja sayang, habis anak kedua mereka lahir ngak lama juga si Hani sama Asri bakal tekdung lagi."


Plakk


"Biarin aja sih, mas. Iri ya pingin juga kayak mereka?" Faiha memukul paha sang suami. Abiseka pun mengangguk seperti anak polos yang menginginkan sesuatu.


"Iya sayang, please...mau ya, kan sikembar juga sudah besar jadi sudah waktunya mereka punya adik.Nanti malam ya kita mulai produksi–!" Abiseka mengerling nakal pada Faiha.


"ck–baru dibilang gitu langsung modus!"


"Sayang, ya ya...nanti malam ya, oke?!"


"Hemm–"


"YESSS!"


Seperti yang telah disepakati, akhirnya malam harinya Abiseka dan Faiha mulai menjalankan misi pencetakan adik buat si kembar. Mereka baru saja menyelesaikan ronde paertama dan Faiha sudah lelah. Bagaimana tidak, satu sesi saja Abiseka bisa memakan waktu hampir satu jam. Dan Faiha pun masih mengatir nafasnya ketika Abiseka meminta ronde yang berikutnya. Sebagai istri yang baik dengan senang hati ia pun melayani kebutuhan biologis sang suami.

__ADS_1


"Mass–ahhh, pelan-pelan aja kenapa sih!"


"Ngak bisa sayang, ini sedang enak-enaknya...nanggung kalau pelan." Abiseka kembali bergerak lincah diatas tubuh Faiha.


Keesokkan malam harinya perhelatan pesta wedding Anniversary Papa Aryan dan Mama Malika pun berlangsung meriah dan banyak para tamu dari beberapa kolega bisnis papa Aryan dan juga Abiseka.


Akhirnya tamu agung yang tengah ditunggu-tunggu pun telah tiba. Sosok wanita berparas cantik dan juga dengan bodynya yang proposional tinggi semampai. Membuat Faiha, Hani dan Asri sedikit minder. Bukan karena kalah cantik akan tetapi badan mereka yang kurang tinggi alias pendek.


"Hallo semuanya. Abi, Andre dan Ferdy apa kabarnya kalian?" Wanita yang bernama Zivanya itu tanpa sungkan langsung bercipika cipiki dengan ketiganya.


Faiha dan kedua bumil Hani plus Asri hanya diam namun melemparkan tatapan tajam menghunus kearah suami-suami mereka. Tentu saja ketiga hot daddy itu langsung ciut dan salah tingkah.


"Oh, iya Ziv. Kenalkan ini istri gue namanya Asri."


"Hai, kenalkan aku Zivanya teman mereka bertiga."


"Asri." Keduanya saling berjabat tangan.


Kemudian Zivanya beralih pada Faiha dan Hani yang menatapnya datar.


"Hai, apa kabar Faiha...Hani."


"Alhamdulillah baik tapi, sekarang ngak tahu deh?" Faiha langsung melontatkan sindiran telak pada Ziva.


Zivanya yang merasa tersindirpun hanya mengulas senyumannya.


"Mommy, daddy...itu lihat, si Aaron bule nempel-nempel terus sama Alesha dan tadi dia mwncium pipi Alesha." Avaro berlari kearah orang tuanya dan mengadu tentang kenakalan Aaron putra dari Andre dan Hani.


"Ah masa' iya sih, boy? Aaron ngak akan seperti itu...mungkin Aaron gemas sama Alesha yang cantik dan imut."Andre langsung sigap membela putranya.


"Iya, sayang. Aaron paling suma main-main saja. Ngak akan nakalin dek Alesha kok." Kali ini Faiha yang memberikan pengertian pada sang putra.


"Ck, dasar bapak sama anak sama aja. Super agresif." Abiseka menyindir Andre dan Andre sama sekali tak terainggjng karena memang itu kenyataannya kan. Bagaimana dulu Hani selalu di garap diam-diam sampai hamil.


"Ya sudah. Sana main lagi sama Farell dan yang lainnya. Jangan nakal sama teman-temannya oke, sayang!"


"Oke, mommy. Cup." Bocah tampan itu pun berlari menghampiri teman-temannya.


Zivanya tampak celingak celinguk seperti sedang mencari seseorang.


"Kamu sedang mencari siapa Ziv?" Tanya Ferdy.penasaran.


"Mencari–ah, itu dia. Sebentar ya! Hubby, disini–"


"Hubby?" Jawab mereka bersamaan.


"Iya, guys...kenalkan, ini suami aku namany Albert Harrison. Hubby, ini teman-temanku semasa sma dulu. Yang ini Abiseka, Andre dan Ferdy.Dan wanita-wanita cantik disebelahnya adalah istri-istri mereka. Namanya Faiha, Hani dan Asri."


"Hallo, nice to meet you."


"Nice to meet you too. Albert."


Ternyata selama ini mereka telah berperasangka buruk terhadap Zivanya. Wanita itu telah berubah bahkan sudah memiliki seorang suami bule yang sangat tampan. Akhirnya apa yang mereka takutkan tak pernah terjadi.Mereka pun meminta maaf pada Zivanya, sedangkan Zivanya tidak mengerti mengapa mereka semua tiba-tiba saja meminta maaf.


"Tuh kan, Honey. Makannya jangan su'udzon dulu sama orang lain. Kenyataannya tidak seperti itu, ya kan." Andre berbicara pada Hani. Namun tiba-tiba saja tangan Hani mencengkeram kuat lengan Andre sambil meringis kesakitan.


"Akkhhh–sakit, mas...sepertinya dedek nya Aaron sebentar lagi mau keluar."


"HAHH–tunggu dulu, jangan keluar sekarang. Ayo kita kerumah sakit!" Andre langsung membopong ala bridal style Hani yang tengah mengalami kontraksi.


Semuanya ikutan panik dan kehebohan pun di mulai. Mereka berbondong-bondong menyusul pasangan Andre dan Hani. Sampai-sampai mereka melupakan sesuatu yang penting.


"Mommy, daddy kok kita ditinggal sih?" Avaro berteriak lantang namun, sama sekali tak ada yang mendengarnya.


"Mama, Papa, hiks...hiks...Farell takut."


"Cup cup cup–sudah jangan menangis, ada aku disini!" Aaron yang sukapnya seperti orang dewasa menenangkan Farell yang lebih muda darinya.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2