
Persalinan Faiha telah berjalan sesuai harapannya yaitu melahirkan dengan cara normal. Baby Twins terlahir sehat dan normal dengan masing masing-masing bobot tubuhnya 2,7 kg panjang 50 cm untuk bayi laki-laki, sedangkan bayi perempuan 2,6 kg dengan panjang yang sama yaitu 50 cm. Dua bayi yang cukup besar di tubuh mungil sang bunda.
Saat ini Faiha sudah di pindahkan keruang perawatan kelas VVIP tentunya. Sedangkan Baby Twins masih berada di ruang perawatan bayi.
Seluruh keluarga sudah berkumpul di kamar Faiha.Mereka bergantian memberikan ucapan selamat pada pasangan yang baru saja menjadi orang tua baru tersebut. Senyum terus mengembang diwajah Faiha dan Abiseka dan semua anggota keluarga dan para kerabat dekat pun turut bersuka cita atas kelahiran baby twins.
"Mana Baby Twins-nya, Fai?" Mommy Diandra masih setia menunggu, wanita paruh baya itu begitu antusias ingin melihat dan menggendong langsung baby twins.
"Masih berada di ruang bayi, tante. Sebentar lagi juga pasti akan diantar karena sudah waktunya baby twins mimik asi." Jawab Faiha.
"Oh, baiklah."
"Bagaimana rasanya, sayang?" Mama Malika mengusap lembut kepala sang menantu.
"Rasanya benar-benar plong dan bahagia tak terkira, ma. Terima kasih mama telah menemani dan menjagaku sampai baby twins lahir." Meraih tangan ibu mertuanya, mennciumnya dengan ta'zim.
Mama Malika membalasnya dengan mencium kening sang menantu dengan senyuman hangatnya."Sama-sama, sayang. Mama senang melakukannya, bahkan mama sangat berterima kasih karena kamu telah memberikan cucu kepada kami, sekaligus dua lagi. Kalian benar-benar hebat, sayang."
Tak berapa lama, benar saja. Dua orang perawat masuk dengan mendorong dua box bayi.Perhatian semua orang langsung tertuju pada dua bayi mungil nan imut dan menggemaskan.
"Wahh–baby twins!" Lagi-lagi mommy Diandra yang tampak tak sabar ingin menghampiri dua bayi tersebut.
"Bolehkah tante menggendong salah satunya, Fai?"
"Tentu saja boleh tante Diandra.Silahkan!" Faiha pun mempersilahkan mommy Diandra untuk menggendong salah satu baby twins.
"Siapa nama si cantik ini, Fai dan juga si ganteng?" Mommy Diandra menggendong bayi perempuan.
"Namanya Avaro putra Jayendra dan Alesha putri Jayendra." Abisekalah yang menjawab pertanyaan mommy Diandra.
"Bagus sekali namanya, sangat cocok dengan mereka si baby tampan dan cantik. Hai...baby Alesha, hallo baby Avaro ini oma Diandra. Boleh kan Fai, Bi mereka memanggil tante oma?"
Abiseka dan Faiha pun mengangguk mengiyakan keinginan mommy Diandra yang sangat menginginkan hadirnya seorang cucu.
__ADS_1
Bulek Lastri menggendong baby Avaro dan mama Malika menerima baby Alesha dari tangan mommy Diandra.
Mari kita menuju ke tempat lain, tepatnya di Nirvana Residence . Hani baru saja tiba didepan pintu unit milik Andre. Gadis itu langsung menekan password untuk membuka pintu tersebut.
Hani segera masuk kedalam dan mencari keberadaan suaminya. Mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan dan tak menemukannya. Hanya tinggal satu ruangan yang belum disambanginya, yaitu kamar pribadi Andre. Dengan langkah cepat ia pun segera membuka pintunya dan benar saja, suaminya itu tengah berbaring diatas tempat tidur berukuran king size nya. Hani bergegas menghampiri sang suami.
"Mas, mas Andre apa yang kamu rasakan. Mas sakit apa?'Hani menyentuh kening sang suami menggunakan telapak tangannya, merasakan suhu tubuhnya. Namun, kening Hani mengkerut ketika sama sekali tak merasakan apapun, suhu tubuh Andre normal-normal saja.
"Mas sudah minum obat ya? Ah, syukurlah." Hani merapikan selimut sampai menutupi tubun Andre sampai sebatas dada.
Tiba-tiba tangan besar Andre menarik lengan Hani sampai tubuh mungil sang gadis limbung dan terjatuh tepat diatas badan Andre. Manik mata mereka saling bertemu pandang, tatapan Andre tamoak begitu dalam. Hingga membuat degup jantung Hani bertalu-talu seperti tabuhan genderang.
"Jangan bilang kalau mas Andre sedang berbohong ya pada semua orang.kok, mas tega sih sampai membohongi istri sendiri. Lalu, sekarang apa yang mas mau?" Hani langsung to the point menanyakan alasan Andre sampai harus berbohong seperti itu.
Andre menatap dalam dan penuh damba pada sang istri. "Kamu pasti tahu apa yang mas inginkan.oh, tidak...kamu juga pasti menginginkannya."
"A–apa mas?" Degup jantung Hani mulai berdetak tak normal, memompa kian kencang. Gadis itu sangat-sangat mengerti apa yang dimaksud sang suami. Namun, tetiba nyalinya menciut. Hani takut untuk melakukannya.
"Bukan begitu mas. Tapi, aku takut...kata orang-orang rasanya akan sakit." Hani menjeda.kalimatnya, antara takut dan malu untuk mengatakannya. Akhirnya gadis itu pun mengungkapkan akan keraguannya. Bukan, tapi tokrin yang Hani dapatkan dari perkataan orang di luar sana terutama teman-temannya.
Senyum mengembang di wajah tampannya, Andre merasa lega karena ia pikir Hani belum siap dan tak menginginkannya. Ternyata Hani takut akan rasa sakitnya saat penyatuan cinta mereka nanti.
"Honey, jangan takut. Semua pasti akan baik-baik saja. Sakitnya hanya hanya seperti digigit semut saja, kok. Setelahnya kamu pasti akan ketagihan karena telah merasakan nikmatnya surga dunia." Andre betbisik lembut tepat di daun telinga Hani dan dengan gerakan sedikit nakal men***** cuping telinga.gadisnya. Membuat seluruh bulu kuduk Hani meremang. Ada geliyar aneh yang ia rasakan.
"M–mas? Uh...benarkah apa yang mas katakan?beneran ngak akan sakit? Itu mas pasti sangat besar, secara mas kan bule." Hani berkata dengan wajahnya yang sudah.bersemu merah bak tomat masak.
"He-em, beneran.Mas ngak bohong kok, ayo... Bisa kita mulai sekarang, nanti keburu ada yang sadar dan menggagalkan rencana kita lagi." Dengan perlahan, jari jemari Andre mulai bergerak melucuti kain yang melekat di tubuh sang istri.
Wajah Andre mulai maju dan mendekat, hingga jarak diantara mereka semakin terkikis lalu, detik berikutnya bibir keduanya telah menyatu dan saling bertautan indah.
Hani akhirnya mulai terbawa suasana dan mengikuti alur permaiman Andre.Sang gadis bahkan sudah bisa mengimbangi gerakan bibir Andre yang semakin menuntut, membelit lidah Hani didalam sana. Hingga lelehen saliva mengalir melalui sudut bibir keduanya.
"Mas–hosh...hosh!" Nafas Hani tersengal-sengal karena kekurangan pasokan oksigen akibat serangan tak henti dari bibir Andre.
__ADS_1
"Maaf, honey. Mas sudah tidak bisa menahannya. Boleh ya, mas masuk sekarang?"
"Masuk?" Kini tubuh keduanya polos tanpa benang. Mata Hani seketika membola saat merasakan sesuatu yang menusuk-nusuk dibawah sana.
"Euh–mash,itu–?" Hani menunduk ingin melihatnya namun, tangan Andre langsung mencegahnya mendongakkan kembali hingga mereka saling bersitatap.
"Jangan dilihat, nanti kamu akan takut! rilex, jangan tegang agar tidak terasa sakit. Siap, honey?!"
Andre men***** kembali di area leher hingga sampai di kedua bongkahan k**** milik Hani dan memainkannya dengan gemas dan penuh gairah. Hani sudah tak bisa lagi menahan er******nya. Suara merdu pun akhirnya lolos begitu saja.
Tak ingin membuang waktu dan kesempatan, dengan gerakan perlahan Andre mulai mendorong dan–.
"Arghh–sa...kit, mas!" Tubuh Hani sampai bergetar, kuku-kukunya menancap kuat di punggung Andre menahan rasa sakit yang mendera di inti tubuhnya.
Sedangkan Andre justru merasakan kebalikannya, pria itu sampai meng**** menahan rasa n***** yang sangat. Luka cakaran dari kuku-kuku sang istri di punggungnya sama sekali tak dirasakannya.Saat ini rasa n***** lebih mendominasi.
"Sabar ya, honey...tahan ya! sebentar lagi tidak akan terasa sakit." Dirasa sudah cukup memberi waktu milik Hani beradaptasi dengan junior big size nya. Perlahan Andre pun mulai bergerak. Dan benar saja, beberapa menit kemudian ringisan kesakitan Hani kini berubah menjadi d****** n*****. Hal itu membuat Andre lebih bersemangat dan bergerak semakin liar.
Dan akhirnya Andre berhasil menjebol pertahanan gawang Hani yang selama ini selalu dijaga ketat oleh sang mommy.
"Mas, kalau mommy tahu bagaimana? Nanti kita paati akan kena marah."
Hani menyenderkan kepalanya di dada bidang Andre, permainan mereka baru saja usai.
"Tidak akan, asalkan kamu tidak mengatakannya jika kita telah melakukannya.ini akan menjadi rahasia kita berdua, oke!" Membelai rambut sang istri.
"Baiklah, mas–."
"Honey, apa mas boleh–"
Andre menunduk guna melihat wajah Hani dan ternyata istri kecilnya telah tertidur. "Yah, dia tidur...Cup, selamat tidur, honey."
Bersambung
__ADS_1