
Hani sungguh tidak menyangka jika, urusannya jadi panjang sampai membahas ke pernikahan segala. Dia itu masih sangat muda bahkan dalam 2 minggu lagi baru akan menginjak umur yang ke 17 tahun. Dan dengan entengnya mommy Diandra mengungkapkan keinginannya melamar Hani untuk sang putra.
UHUK
"Kamu kenapa, Han? Ini...minumlah. Pelan-pelan kalau makan itu, tak ada yang akan merebut makananmu, kok." Dengan santainya Andre berucap sambil menyodorkan segela air putih. Hani pun segera meneguknya hingga tandas. Namun, baru saja ia merasa tenang tiba-tiba gerakan tangan Andre yang mengelap bibirnya dengan menggunakan serbet membuat degu jantung Hani kembali berdisko ria.
"Astaga om, apa yang kamu lakukan? Om Andre membuat jantungku tak sehat ini dan lihatlah tatapan mengerikan mommy nya itu."
Andre mengulum senyumannya ketika melihat kecanggungan diwajah sang gadis. Hani terdiam kaku dengan wajah meronanya.Sungguh sangat manis di pandang.
"Mom tidak usah ikut dan apalagi berencana untuk melamar Hani. Kan sudah aku katakan kalau hubungan kami tidak seperti apa yang mommy pikirkan. Itu hanya akal-akalannya si Zivanya saja. Lagi pula Hani itu maaih sekolah dan belum tentu juga keluarganya akan menerima ku.Umur kami bahkan terpaut terlalu jauh. Mommy jangan terlalu menanggapinya serius."
"Lah, kalau memang kamu sadar akan hal itu lalu, sekarang kenyataan...kalian tengah berdua-duaan di Apartemen didalam kamar mandi lagi. Ck...sudah, jangan mengelak terus kamu, Ndre. Kasihan anak gadis orang kamu jadikan mainan belaka."
"Wah, mommy makin ngawur ini. Pokoknya mommy tidak usah ikut dan jangan berbuat macam-macam!" Andre menegaskan lagi agar sang mommy tidak lagi kepo dengan urusan pribadinya.
"Hemm–"
"Awas saja kamu ya, son. Mommy masih punya cara bagaimana agar Hani mu itu akan segera menjadi menantu di keluarga Mendoza. Akan kupastikan akan hal itu." Seringai kecil penuh misteripun tersemat di wajah wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu.
--‐-----‐--------------
Hari ini tepat tujuh bulan usia kandungan Faiha. Kediaman keluarga Jayendra tampak sibuk mempersiapkan acara Tingkepan/ Mitoni atau yang biasa disebut orang jawa sebagai acara tujuh bulanan anak pertama setiap pasangan suami istri.
"Wah–mbak Fai cantik sekali. Halo keponakan-keponakan auntie yang tampan dan cantik." Hani mengelus perut buncit sang kakak yang tampak semakin membesar tidak seperti wanita hamil yang hamil bayi tunggal. Ya, hasil pemeriksaan terakhir di ketahui bahwa jebis kelamin baby-baby pertama pasangan Abiseka dan Faiha adalah laki-laki dan perempuan. Seluruh anggota keluarga menyambut dengan suka cita.
"Kamu bisa saja deh, oh ya...mas Abi tanya sama mbak apa kamu sudah memutuskan akan melanjutkan kuliah dimana. Memangnya kamu mau mengambil jurusan apa sih, Han?" Saat ini Faiha dan Hani masih berada didalam kamar. Sebenarnya Faiha sudah selesai berdandan, namun karrna acara belum akan dimulai akhirnya Faiha memilih untuk beriatirahat dulu dikamarnya.
"Mbak, kalau seandainya aku tidak usah melanjutkan kuliah bagaimana?" Ragu-ragu Hani mengatakannya.
Faiha mengernyitkan keningnya menatap penuh tanya sang adik."Memangnya kenapa kamu tidak ingin melanjutkan kuliah? Apa ada sesuatu yang mbak ngak tahu, apa yang telah kamu sembunyikan dari kami? Ayo katakan, heuh!" Tanya Faiha penasaran.
__ADS_1
Hani menunduk sambil memainkan ujung dressnya, gadis teesebut tampak tegang. Ia takut sang kakak akan memarahinya jika ia mengatakan alasan yang sebenarnya.
"Kenapa malah diam, ayo cepat katakan apa alsanmu sampai tidak mau melanjutkan pendidikanmu lagi." Faiha mulai tidak sabar karena Hani malah tertunduk diam tanpa kata.
"Itu–mbak tapi, jangan marah ya. Sebenarnya aku sudah–"
Tok tok tok
Kriett
"Sayang, kamu sudah siap kan? Ayo, kita segera ruang tamu. Para tamu sudah menunggu dan acara pun akan segera dimulai." Mama Malika dan bulek Lastri datang untuk menjemput Faiha karena acara tujuh bulanan nya segera akan dimulai.
"Iya Ma, bulek...kami sudah siap sejak tadi." Faiha beranjak dari duduknya, terlihat begitu kesusahan sampai mama Malika dan bulek Lastri membantunya untuk berdiri.
Mereka pun segera melangkah keluar kamar. Tapi, ketika baru saja sampai didepan pintu Faiha menghentikan langkahnya lalu, menoleh kebelakang tepat dimana Hani berdiri. "Ingat, pembicaraan kita belum selesai!" Ucapnya dingin dan Hani pun mengangguk.
Semua pasang mata tampak terpesona pada kecantikkan sang ibu hamil, meskipun perutnya yang tampak membusung besar namun hal itu malah membuat Faiha semakin terlihat cantik dan sexy kalau itu si Abiseka yang bilang. Suami bucinnya Faiha.
"Hai Faiha, wah...kamu tampak mempesona, sayang. Tante jadi kepingin juga memiliki cucu. Tapi, sayangnya si Andre belum laku-laku juga. Ngak tahu apa maunya tu anak."
"Suruh dulu si Andre bawa calonnya kerumah dan kalau sudah jadi jangan lupa undangannya ya, Jeng Diandra!" Itu Mama Malika yang memanas-manasi agar mommy Diandra lebih gencar lagi meminta putranya untuk mau segera menikah.
"Itu sih sudah tak terhitung jeng Malika, sampai bosan menyuruhnya." Jawab mommy Diandra dengan memasang wajah lesu.
"Ya seng sabar jeng, suatu hari nanti Andre pasti akan menemukan calon pendampingnya kelak. Aku do'akan semoga cepat terkabul segala keinginanmu.Yuk, mari silahkan menikmati hidangan yang telah tersedia!" Mama Malika memberikan dukungan pada mommy Diandra.
Setelah rangkaian prosesi, kemudian calon ibu berjualan dawet dan rujak dengan uang kreweng, yang sudah dibagiakan kepada tamu undangan. Filosofinya usaha sebagai calon orang tua untuk bisa memenuhi kebutuhan anaknya kelak, dengan harapan anak mendapatkan rejeki untuk dirinya dan kedua orangtua mereka.
Semua tamu undangan tampak begitu antusias mengikuti acara tersebut. Terutama kedua pria tampan yang masih betah membujang, siapa lagi kalau bukan Andre dan Ferdy.
"Ehem–tumbas dawete karo rujak'e bu Fai. Seng akeh gulane yo ben legi koyo seng dodol (Beli dawet sama rujaknya bu Fai. Yang banyak gulanya biar manis seperti yang jualan) itu adalah Ferdy yang memang fasih berbahasa jawa. Ketiga sahabat tersebut memang sama-sama keturunan suku jawa. Jadi, ya wajar saja mereka bisa sedikitnya berbahasa daerah.
__ADS_1
Disaat mereka tengah asik bersenda gurau, tanpa ada yang menyadari jika Andre tengah menarik tangan Hani dan membawanya Hani masuk kesuatu ruangan. Dan mereka tidak menyadari kalau yang mereka maauki adalah ruang kerja Abiseka.
"Om, mau apa membawaku kesini?" Hani mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan dan sepertinya mereka telah salah memasuki ruangan pribadi sang tuang rumah.
"Kita harus berbicara serius, sweety!" Ya, selama beberapa bulan ternyata hubungan mereka semakin dekat, bahkan tanpa diketahui oleh siapapun mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih.
Apa alasan mereka merahasiakannya? Karena Hani masih bersekolah dan faktor umur diantara mereka yang terpaut jauh adalah salah satu alasannya. Mereka takut tidak akan mendapatkan restu terutama dari keluarga Hani.
"Sudah aku bilang berapa kali kalau sedang berduaan jangan memanggilku om, aku bukan om mu tapi, calon suamimu." Andre semakin mendekat dan Hani terus melangkah nundur menyudutkan tubuh sang gadis hingga langkah mereka terhenti ketika tubuh mereka jatuh terhempas diatas sofa yang berada.diruangan itu.
Sontak si mungil Hani yang tertindih tubuh besar Andre semakin menegang. Apalagi mendapatkan tatapan penuh damba dari sang pujaan hati.
"Om–eh, maksudku mas...ini, berat. Bisa tolong bangun!" Hani berusaha mendorong tubuh Andre namun, sama sekali tak berefek apapun. Tenaga Hani tak sebanding dengan kekuatan seorang Andre Mendoza si pria blasteran bertubuh tinggi dan kekar.
"Kalau aku tidak mau lalu, kamu mau apa...sweety?" Andre tersenyum dengan seringai kecil di wajahnya.
"Jangan mas, nanti kalau ada yang datang bagaimana? Mereka bisa melihat apa yang kita lakukan." Hani mencoba menyadarkan sang kekasih yang tengah dalam mode kasmaran itu.
"Biarkan saja mereka melihatnya, paling nanti kita langsung di kawinkan...eh, salah. Maksudku dinikahkan setelah itu baru kita bisa kawin sendiri, hanya kita berdua." Bisiknya tepat ditelinga Hani. Bibir Andre yang menyentuh telinga Hani terasa basah menimbulkan rasa geliyar aneh di tubuh Hani.
"Mas–ahhh, stop...jangan!"
Tubuh Hani.semakin menegang dan rasa geli yang bersamaan. Bagaimana tidak, karena saat ini Andre terus meyerangnya dengan menc*****i di beberapa titik tersensitif tubuhnya. Yaitu bagian leher dan tulang selangkanya.
Sampai Hani tak bisa menahan erangannya dan tubuhnya semakin bergetar hebat akibat rangsangan yang di lancarkan secara bertubi-tubi oleh bibir sexy Andre.
Saking asiknya, tanpa sejoli itu sadari ada dua orang yang sedang menyaksikan adegan 17 + yang terpampang di depan mata.
"Oh my god!"
"Astaqfirullah!"
__ADS_1
"Woyy–apa yang sedang kalian lakukan? Ya, ampun kalau mau nyetak anak jangan disini kali."
Bersambung