Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
62. Hani dimana?


__ADS_3

"A‐apa...maksud mas, aku hamil?" Faiha tersentak kaget sampai tersedak salivanya sendiri mendengar perkataan Abiseka."


"Iya, hamil...anak pertama kita, buah cinta kita dan hasil dari kerja keras kita selama ini. Bukankah ini yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh kita semua. Terutama mama, papa dan eyang. Mereka pasti akan sangat bahagia jika mendengar kabar baik ini."


Abiseka berbicara begitu antusias. Di umurnya yang sudah memasuki ke 36 tahun?, akhirnya penantiannya akan segera berakhir bahagia.


Faiha mengernyitkan keningnya menatap Abiseka heran. "Kok, bisa? Bukankah kalau aku hamil akan merugikan anda? Proses perceraian kita akan terhambat, bukan dan itu sangat merugikan Tuan. Benar, bukan?"


Sedikitpun tak menatap Abiseka, Faiha mengalihkan pandangannya ke arah samping kaca mobil.


"Astaqfirullah, sayang...tak baik berbicara seperti itu? Tentu saja kamu bisa hamil, setiap malam dan bahkan setiap saat kita selalu bersemangat untuk melakukannya."


Plakk


Faiha reflek menoleh, bahkan memiringkan tubuhnya menghadap Abiseka yang masih fokus menyetir dan langsung mendaratkan pukulan di lengan suaminya.


"Aduh, sayang...kok mas malah di pukul sih?"


"Habis, mas ngomongnya saru (tidak pantas dan tidak sopan) sih...kalau orang lain yang dengar gimana? malu kan." Abiseka malah tersenyum menanggapi kicauan istri mungilnya itu.


"Malah senyam senyum dia?ck...dasar suami omes."


Tak bisa menahannya lagi, akhirnya Abiseka terbahak-bahak sampai wajahnya memerah dan seketika membuat Faiha terpana, suaminya tampak semakin tampan dan menawan.


"Oh, gantengnya suamiku."


"Kenapa bengong?pasti terpesona ya dengan suami tampanmu ini. Ketampanan ini hanya akan menjadi milikmu seorang, sayangku." Abiseka seakan bisa membaca apa yang ada di pikiran Faiha.


Suasana sudah kembali seperti waktu yang lalu. Abiseka dan Faiha yang selalu adu mulut...adu mulut itu saling cekcok manja ya guys, bukannya adu bibir. Kalau yang itu sebentar lagi.


Faiha yang kesal sampai tidak ngeh kalau mobil yang ditumpanginya telah berbelok masuk kesebuah gedung hotel dan ia baru menyadarinya ketika mobil telah berhenti didepan pelataran depan hotel.

__ADS_1


"Eh–untuk apa kita kesini? Mas, kamu jangan macam-macam ya...jangan-jangan mas mengajak aku keluar cuma modus saja karena sebenarnya...ih, seenaknya sendiri sih." Faiha terus saja merutuki Abiseka yang selalu berbuat semaunya sendiri dan memaksakan kehendaknya pada sang istri.


"Untuk bermesraan lah, melepas rindu...kamu juga kangen kan sama mas?" Menaik turunkan alis matanya dan tersenyum menyeringai.


"Enggak, pokoknya ngak ada begituan-begituan. No way!" Faiha tak ingin turun dari dalam mobil apalagi untuk masuk kedalam hotel tersebut.


Terpaksalah Abi agak memaksa Faiha untuk segera turun, menarik dan menggenggam erat tangan istrinya melangkah masuk kedalam lobby hotel.


"Mas–kan aku sudah bilang ngak mau. Malah memaksa gini. Sebenarnya apa sih yang mas inginkan?"


"Sttt–jangan berisik, sayang nanti kamu yang akan malu loh diliatin orang-orang.Tuh...lihat!"


Sontak arah pandang Faiha beralih menatap kesekelilingnya dan benar saja beberapa orang tengah melihat kearah dirinya. Faiha mendadak langsung bungkam dan hanya mengikuti langkah Abiseka menuju ke lift setelah sebelumnya meminta kunci kamar yang telah di booking nya sejak beberapa waktu yang lalu.


Sesampainya didepan pintu kamar, Abiseka langsung membukanya dan kembali menarik paksa Faiha agar masuk lalu Abiseka gegas menguncinya. Membuat Faiha bertambah curiga dan waspada akan apa selanjutnya yang akan dilakukan suami tampannya itu.


Faiha duduk di tepi ranjang dan Abiseka pun mendudukkan bokongnya tepat disebelah sang istri. "Mas, apa tidak ada tempat yang lain kalau hanya untuk membicarakan sesuatu hal?"


"Terserah mas lah. Lalu, apa yang sebenarnya ingin kita diskusikan?"


"Hem–baiklah, akan mas jelaskan sekarang juga oke, kamu siap kan hatimu apabila ada sesuatu yang akan mengecewakanmu. Begini...sebenarnya semua masalah yang terjadi diantara kita hanyalah kesalah pahaman saja. Dan itu semua adalah hasil dari perbuatan mamaku sendiri, apa kamu tahu bahwa bukan mama saja yang terlibat dalam hal ini. Ada seseorang yang membantu melancarkan misinya dan orang itu adalah bulek Lastri."


"APA! bulek Lastri?" Faiha begitu terkejut ketika tahu kalau buleknya sendiri yang telah ikut andil dalam upaya memisahkannya dengan sang suami.


"Hem–itu benar, sayang.Mas ngak berbohong...mas mendengar sendiri dari mulut mama ketika tengah berbicara pada papa. Mereka sengaja melakukannya hanya untuk mengerjai kita yang telah berbohong soal pernikahan kontrak kita dulu. Padahal mas sudah menjelaskan bahwa itu sudah tidak terjadi dan kita telah menjalani kehidupan rumah tangga kita secara normal layaknya pasangan suami istri lainnya. Tapi, sepertinya mereka belum percaya dan ingin memberi efek jera serta mengetest apakah kita sedang bersandiwara atau tidak."


"Jadi, semua ini hanya rekayasa mereka saja?" Tanya Faiha, ingin memastikan lagi apakah hal itu benar. Dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Abiseka.


Sesaat kemudian Abiseka meremgkuh tubuh mungil Faiha kedalam pelukannya menyalurkan rasa rindunya pada sang istri. Ya, selama beberapa hari ini ia begitu tersiksa tak bisa berdekatan apalagi menyentuh istri tercintanya.


"Mas kangen banget sama kamu. Kamu juga kan?" Berbisik lembut tepat di dekat daun telinga Faiha, sampai terasa basah ketika bibir Abiseka menyentuh daun telinganya. Oh, ternyata bukan hanya berbisik akan tetapi Abiseka juga men*****nya. Seketika membuat bulu kuduknya meremang. Ada geliyar aneh yang dirasakannya.

__ADS_1


"Kenapa diam? Ayo jawab...kamu rindu juga kan sama mas?" Abiseka kembali menyentuh di area sensitif sang istri, kali ini yang menjadi sasarannya adalah leher jenjang Faiha yang putih.Membuat Faiha tak berdaya dan seketika tubuhnya terasa lemas nanun semakin meginginkan sentuhan yang lebih lagi.


"Mas–euh...aku juga kangen sama mas. Aku ingin...itu, boleh?" Semburat merah merona di wajah ayu Faiha.


"Itu itu apa, sayang? Yang jelas dong kalau ngomong. Tidak usah malu, kan mas ini suamimu."


Abiseka sebenarnya mengerti apa yang dimaksud istrinya itu. Namun, ia gemas sekali dan ingin menggoda istri mungilnya yang tampak semakin menggoda dengan kepolosannya.


"Ish–sudah deh ngak jadi, mas sih ngak ngerti. Minggir sana, jangan sentuh-sentuh lagi!"


Mendorong tubuh Abiseka dan ingin beranjak pergi menjauh. Namun, tangan Abiseka kembali menarik dan merengkuh tubuh Faiha masuk kembali dlkedalam pelukannya. Bahkan kali ini Faiha sudah duduk manis di pangkuan Abiseka. Hingga Faiha merasakan sesuatu yang aneh di bawah sana.


"Mas, itu...mas, bangun ya?" Tanya-nya begitu polos tanpa basa basi. Membuat Abiseka malah tertawa geli dan Faiha semakin malu akan kebodohan dari pertanyaannya itu.


"he em– dan itu akibat dari sentuhan darimu, sayang. Boleh ya...mas kangen dan sudah tidak tahan ini?"


"Ya ampun–" Faiha menepuk jidatnya sendiri lalu kemudian menganggukkan kepalanya menatap sayu wajah suami tampannya yang sangat dirindukannya. Entah mengapa saat ini ia juga begitu menginginkan sentuhan dari sang suami.


"Yes–terima kasih, sayang. Mas mulai ya?" Mengedipkan matanya genit.


Dan akhirnya terjadilah yang memang seharusnya terjadi. Siang itu mereka menikmati waktu kebersamaan mereka dengan saling berbagi keringat dan pergulatan panas pun terjadi hingga keduanya terkapar lemas diatas ranjang.


Sementara itu bulek Lastri tengah khawatir karena hari sudah menjelang petang akan tetapi putri bungsunya belum juga pulang kerumah. Ia sudah menelpon Anwar menanyakan keberadaan adiknya namun, Anwar mengatakan kalau Hani sudah pulang duluan sejak beberapa jam yang lalu. Sedangkan Anwar tengah menjalani pendalaman materi di sekolah untuk persiapan ujian akhir.


"Lalu, Hani ada dimana sekarang? Kalau menelpon Faiha nanti takut mengganggunya. Mereka pasti kan tengah saling melepas rindu. Bagaimana ini? lalu, Hani dimana kamu, nak?"


Bulek Lastri semakin bingung tak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi.


Bersambung


Maaf ya, ternyata semalam banyak gangguan jadi telat lagi update nya.

__ADS_1


__ADS_2