Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
68.Nirvana Residence


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, mobil Abiseka berhenti didepan pagar depan rumah sederhana keluarga Faiha. Ya, rumah mereka tidak memiliki pekarangan yang luas apalagi tempat untuk memarkirkan kendaraan beroda empat. Dua pria dewasa turun dari dalam mobil tersebut dan melangkah memasuki pintu gerbang kecil menuju kedalam rumah.


"Assalamu'allaikum.:"


"Wa'allaikumsalam. Eh, nak Abi dan–"


"Saya Ferdy, tante. Temannya Abiseka." Ferdy langsung memperkenalkan dirinya pada bulek Lastri, sebenarnya mereka sudah pernah bertemu di acara pernikahan Abiseka dan Faiha namun, sepertinya wanita paruh baya tersebut tidak mengingatnya.


"Oh iya, maaf...bulek agak lupa. Maklum sudah tua.Ayo, mari silahkan masuk nak, Ferdy!" Bulek Lastri tersenyum lalu mempersilahkan keduanya untuk masuk kedalam.


Pemandangan pertama yang dilihat oleh Abiseka adalah sosok sang mama yang tengah asik berbincang dengan Faiha,istrinya. Mereka tampak begitu akrab dan dekat. Mama Malika terlihat beberapa kali mengusap-usap perut Faiha dengan senyum yang terus terkembang dibibir-nya.


"Sayang, kamu harus hati-hati menjaga kandunganmu! Kalau kamu menginginkan apa-apa bilang saja sama mama atau suamimu. Nah, itu baru saja di bicarakan ternyata muncul juga batang hidungnya." Mama Malika menunjuk sang putra yang tengah melangkah menghampirinya dan Faiha.


Setelah mendekat, Abiseka langsung menjatuhkan bokongnya di atas sofa tepat di sebelah Faiha dan merengkuh pinggang sang istri agar lebih merapat pada tubuhnya.


"Hai sayang, bagaimana? dedek hari ini tidak rewel, kan?" Abiseka mengusap lembut perut sang istri dan Faiha tersenyum manis yang terlihat seakan dipaksakan.


"Mas–apa-apaan sih, kok malah bikin tambah kacau sih? Ini lalu gimana kalau...aku ternyata ngak hamil. Mama dan yang lainnya pasti akan sangat kecewa dan menganggap kita telah mempermainkan mereka lagi. Hh...mumet aku." Faiha menekan pelipisnya bingung harus bagaimana. Namun, gerakannya di tertangkap oleh penglihatan mama Malika dan otomatis membuat wanita paruh baya itu jadi semakin salah paham.


"Aduh sayang, kamu kenapa? pusing ya...Abi, sanaantar istrimu beristirahat di dalam kamar saja. Kasihan, maklum sedang hamil muda ya seperti itu. Faktor perubahan hormon.Ya kan, jeng Lastri?"


"Iya, itu benar sekali." Bulek Lastri pun mengiyakan.


Abiseka pun segera beranjak menuntun Faiha menuju ke kamarnya. Sedangkan si Ferdy hanya melongo melihat aksi drama mereka.


"ck–si Abi ya, ngak ada kapoknya. Mudah-mudahan ngak akan terbongkar lagi deh kebohongan yang satu ini dan semoga Faiha benar-benar hamil."


Ferdy sebenarnya kasihan juga sih melihat sahabatnya yang lagi-lagi mesti membuat kebohongan yang cukup berbahaya apabila terbukti tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.


"Nak Ferdy, ayo silahkan diminum dan cicipi makanannya, tidak usah sungkan! Enak loh...mama nya nak Abi yang buat." Bulek Lastri mempersilahkan tamunya.


Tak berapa lama muncul Hani yang baru keluar dari kamarnya sudah tampil rapi dan dandanannya yang fresh ala-ala gadis remaja pada umumnya. Dengan mengenakan dress berwarna pink soft diatas lutut dan sepatu sepatu kets-nya penampilan gadis muda itu tampak cantik. Apalagi rambutnya yang dikuncir kuda mengekspos leher jenjangnya yang putih mulus membuat tatapan Ferdy sampai tak berkedip dan bersusah payah menelan salivanya.


"Oh my god–she's so cute!"


"Mingkem-mingkem, Fer! Nanti ngeces lagi...ck, katanya tadi ngak tertarik?" Tiba-tiba Abiseka muncul dan melihat reaksi Ferdy yang ternganga saat memandang Hani.


Ferdy pun sampai terlonjak kaget mendengar suara Abiseka yang tanpa disadarinya telah berada tepat di hadapannya mengibas-ngibaskan telapak tangannya tepat didepan wajahnya sambil terkekeh geli.


"S***** lo, Bi. Bikin kaget aja." Mengusap dadanya yang jedag jesug saking terkejutnya.


"Kamu mau kemana dek?" Kali ini Faiha yang bertanya pada adiknya. Faiha baru saja muncul keluar dari kamarnya menyusul sang suami yang kini tengah duduk di dekat Ferdy.

__ADS_1


Mama Malika yang sejak tadi membantu bulek Lastri menyiapkan merapikan berbagai makanan matang, memasukkannya ke beberapa box tupperware lalu kemudian akan diskmpan kedalam kulkas. Sesekali kedua wanita paruh baya itu bersenda gurau membahas tentang anak dan menantu mereka yang sebentar lagi akan menjadi orang tua baru.


"Jeng, tuh lihat mereka! Nempel terus kayak perangko ya...maklumlah, Suaminya baru super bucin sedangkan istrinya saat ini dalam mode manja karena ngidam.Tapi malah kelihatan sweet banget mereka itu." Mama Malika tersenyum penuh arti melihat anak dan menantunya yang selalu lengket bak permen karet tak ingin terpisahkan.


"Bu, Hani izin mau pergi sebentar ya. Mau ketemu sama teman ada sedikit urusan." Hani menghampiri sang bunda berniat meminta izin untukpergi keluar.


Bulek Lastri memindai penampilan putrinya dari atas sampai bawah. Lalu mengernyitkan keningnya penuh tanya. "Memangnya kamu mau kemana sih, Han? Apa ngak kapok kamu sama kejadian kemarin...mana mas mu, panggil kesini!"


"Mas Tama...dipanggil ibu!"


"Aduh! Ibu...sakit tahu."


"Hush–kalau manggil tu yang sopan, sana selamperi orangnya! Dia itu mas mu bukan temanmu." Menyentil kening Hani hingga gadis mungil itu meringis kesakitan. Bulek Lastri menggelengkan kepala melihat kelakuan putri bungsunya itu.


Anwar yang mendengar suara lengkingan dengan nada cempreng dari sang adik gegas keluar kamar dan menghampiri keduanya.


"Iya, bu. Ada apa sih teriak-teriak ni bocil ingusan?" Menoyor kening Hani dengan jari telunjuknya.


"Ish–mas Tama ni, ikutan ibu saja main jitak jidat Hani. Tambah jenong deh?" Mengusap-usap jidat nong-nongnya.


"Biarin aja tambah lebar kayak lapangan sepakbola tinggal dipasangin dua gawangnya." Anwar malah mentertawakan Hani yang sudah dalam mode cemberut akut. Bibir mengerucut imut.


DEG


Abiseka dan Faiha yang mendengarnya refleka menoleh dan menatap Ferdy aneh. Senyum mengejek terbit diwajah tampan Abiseka tak tahan ingin segera mengomentari bak seorang netizen kepo.


"Jiah–katanya ngak akan tertarik, tuh kok sampe ngeces?" Abiseka menyindir telak sahabatnya yang sok gengsi itu.


"Apaan sih lo, Bi.Memangnya kapan gue perbah bilang gitu sih.Ngadi ngadi aja lo." Ferdy berkelit


"What? Wah...mendadak amnesia dia,atau udah mulai pikun ya om? Habisnya kan om Ferdy sudah tuwir–" tertawa cekakakkan hingga Faiha mencubit perut sixpacknya dan Abiseka pun memekik keras sampai yang lainnya meboleh pada mereka.


"Auww–sakit, sayang.Kenapa aku malah dicubit sih?"


"Makannya mas tuh jangan suka jahil dan usil sama urusan orang lain. Memangnya kak Ferdy salah apa sih sama mas sampai segitunya mengerjainya?" Faiha memelototi suaminya yang terkadang memang suka muncul sifat jahilnya.


Sebenarnya sih Abiseka tidak memiliki maksud apa pun hanya terkadang ia ingin kedua sahabatnya kehidupannya tidak monoton datar-datar saja. Bahkan Andre dan Ferdy sama sekali tak terlihat dekat dengan wanita manapun.


"Mas, jangan suka gitu ah. Kasihan kak Ferdy jadi malu kan dia." Faiha menatap iba pada Ferdy yang mimik wajahnya sulit diartikan.


"Ngak apa-apa kok, dek Fai. Kami sudah terbiasa seperti ini. Hanya guyonan semata tidak serius." Ferdy mencoba mencairkan suasana juga menenangkan Faiha yang tampak kesal dengan Abiseka. Ia pun tersenyum manis namun, arah pandangannya masih lebih fokus kearah Hani.


"Anwar, temanilah adikmu! Apa kamu mau terjadi lagi insiden seperti kemarin? Kamu ngak khawatir sama adikmu?" Bulek Lastri tengah membujuk sang putra agar mau menemani adiknya. Tepatnya bukan membujuk akan tetapi seperti sebuah perintah.

__ADS_1


"Ngak bisa bu, Anwar baru banyak tugas. Lagian mau kemana lagi sih kamu Han? Diem dirumah apa ngak bisa? Ngerepootin aja bisanya kamu ini." Anwar malah menyalahkan adik perempuannya itu.


Dimarahi seperti itu oleh sang kakak membuat Hani seketika merasa sedih, gadis manis itu menunduk lesu dengan mata yang sudah mengembun ingin menangis.


"Iya, maaf. Mas ngak usah repot-repot menemani Hani kok. Nanti Hani pesan ojek online saja. Aman juga ngak akan terjadi apa-apa."


"Bu, Hani berangkat sekarang ya?" Setelah meminta maaf pada kakak laki-lakinya, Hani pun kembali meminta izin dan berpamitan pada bundanya.


Tentu saja bulek Lastri tak akan semudah itu memberi izin.Apalagi anak gadisnya itu akan pergi.seorang diri dan bila mengingat kejadian kemarin ia selalu khawatir akan keselamatan putri kecilnya itu.


"Enggak, Han. Ibu ngak akan mengizinkanmu pergi seorang diri tanpa ada yang mengantar ataupun menemanimu. Sudah, bilang sama temanmu itu kalau kamu tidak jadi datang!"


"Yah–ibu, kok gitu sih?" Wajah Hani cemberut


"Maaf tante, apa boleh kalau saya saja yang mengantar Hani. Lagi pula saya sedang tidak ada urusan.yang lainnya."


"Benarkah? Terima kasih ya om...maaf lupa,nama om siapa ya?" Seketika Hani langsung beraksi senang karena akan ada yang mengantarkannya.


"Ferdy, nama saya Ferdy."


"Iya, om Ferdy...terima kasih ya."


"An*** gue dipanggil om? Untung cantik, imut dan menggemaskan ni bocil."


"Hani–maaf ya nak, Ferdy. Apa benar tidak akan merepotkan jika nak Ferdy mengantar dan menemani Hani? Saya jadi merasa tidak enak, masa' tamu malah disuruh-suruh."


"Modus modus...on the way, nih ?" Tiba-tiba Abiseka menyeletuk dan menyindir Ferdy si tuan gengsi dan tentu saja ia mendapatkan cubitan untuk yang kesekian kalinya dari Faiha.


Akhirnya setelah mendapatkan izin dari bulek Lastri. Ferdy dan Hani bergegas pergi dengan menaiki mobil mewah milik Ferdy.


Sepanjang perjalanan hanya hening diantara kedua insan berlainan jenis yang terpaut cukup jauh perbedaan umur diantara mereka.


"Ngomong-ngomong, kemana tujuan kita sekarang, dek? Eh, maksudku dek Hani mau diantar kemana?"


"Ke daerah mampang prapatan ya, om. Itu ke apartemen Nirvana Residence."


"Nirvana Residence? Bukannya itu–"


Bersambung


Nah kan, si Ferdy pasti langsung bisa nebak deh siapa gerangan cowok yang akan menjadi saingannya. Rencana Abiseka sepertinya akan sukses nih...membuat kekisruhan diantara kedua sahabatnya. Isengnya si Abi menyerempet bahaya?


NB: Maaf kalau masih ada typo

__ADS_1


__ADS_2