Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
50.Gosip panas


__ADS_3

"Hehehe–bulek, nanti Faiha menginap boleh, kan?"


Mengalihkan pembicaraan yang terkesan absurd, ada Anwar dan Hani yang masih polos belum terkontaminasi oleh hal-hal yang dilakukan oleh orang dewasa.


"TIDAK BOLEH!"


Sontak semua menoleh kearah Abiseka yang memekik tanpa sadar. Anwar dan Hani menunduk menyembunyikan seringai tawanya yang sebisa mungkin mereka tahan. Sedangkan bulek Lastri mengulum senyum menatap anak dan menantunya yang saat ini saling pandang, tepatnya Faiha yang sedang memelototi Abiseka.


"Iya,tidak menginap juga tidak apa-apa kok, nak Abi." Bulek Lastri mencoba menengahi.


"Eh, bu–bukan begitu bulek. Masalahnya besok pagi saya ada rapat di kantor." Abiseka jadi malu dan merasa tidak enak kalau-kalau bulek Lastri mengira ia tidak mengizinkan Faiha untuk menginap di rumah orang tuanya sendiri.


"Oh, begitu Ya...bulek maklum kok. Lain waktu kalian juga bisa menginap. Faiha, kamu juga harus mengerti dan manut sama suami ya, nak!"


Faiha mengerucutkan bibirnya imut, membuat Abiseka jadi gemas ingin segera pulang dan bergelut manja di balik selimut. Sungguh nyamannya. Abiseka jadi membayangkan yang iya iya.


"Nak Abi, ada apa...malah melamun?" Bulek Lastri menegur sang menantu yang malah bengong sambil senyum-senyum sendiri.


"Oh, iya bulek. Lain kali kami pasti akan menginap." Tersadar dari khyalan tingkat tingginya.


Usai memberikan berbagai macam oleh-oleh untuk keluarganya, Faiha dan Abiseka pun berpamitan untuk pulang.


Disepanjang perjalaman senyum tak lepas di wajah Faiha.Abiseka ikut terbawa suasana merasakan kebahagiaan sang istri.


"Sayang, bagaimana kalau kita pindah dari kediaman utama keluarga Jayendra.Mas sebenarnya sudah mempersiapkan rumah masa depan untuk kita. Kamu mau kan?"


"Memangnya kenapa, mendadak mas ingin pindah dari kediaman keluarga Jayendra? pasti mama Malika dan lainnya akan sangat kecewa jika,kita melakukannya." Faiha sedikit ragu akan ajakan sang suami.


Abiseka mengusap lembut kepala istri mungilnya. "Itu memang sudah rencanaku sejak dahulu, bahkan sebelum mengenalmu.Aku bercita-cita ingi menjalani kehidupan pernikahan yang selayaknya. Tinggal berdua dalam satu rumah tanpa gangguan dan campur tangan lainnya."


"Kalau aku sih terserah mas saja.Sebagai seorang istri akan ikut kemanapun suami berada." Tersenyum lembut dan sangat manis dimata Abiseka, membuat suaminya itu semakin jatuh cinta kepadanya.

__ADS_1


"Nanti kita bicarakan baik-baik pada seluruh anggota keluarga.Semoga mereka menyetujui niat baik kita."


"Hemm–baiklah." Jawab Faiha singkat.


Keesokkan harinya mereka kembali ke rutinitas seperti biasanya. Faiha masih tetap bekerja sebagai OG di perusahaan milik suaminya sendiri. Faiha tidak ingin melalaikan perjanjian yang telah mereka sepakati. Hutang adalah hutang dan Faiha tetap wajib untuk membayarnya.Itu sudah menjadi prinsipnya.


Hari berganti hari dan minggu silih beeganti hingga tak terasa sudah sebulan sudah umur pernikahan mereka. Namun, karena kelakuan Abiseka yang kadang tak terkontrol membuat Faiha sedikit kelimpungan. Suami bucinnya akan selalu memaksa jika sudah menginginkan itu dan Faiha takkan bisa menolaknya. Habis enak juga ya, Fai?


Ya namanya juga masih pengantin baru, kalau soal urusan nafkah batin kapan pun dan dimanapun saat menginginkannya ya wajar saja jika suami istri itu saling memadu kasih. Meskipun itu di tempat yang tidak seharusnya dan sangat riskan tentunya.


"Mas–sudah ya? Nanti kalau sampai ada yang ngegap kita bagaimana, seperti bu Dina misalnya." Saat ini kedua insan itu tengah saling berpelukan usai melakukan olahraga siang.


Seperti biasa, Abiseka akan mengusir sekretarisnya dengan memberikannya tugas keluar atau menyuruhnya agar makan siang.


"Kenapa, hemm...jangan risau, sayang. Santai saja.Tidak akan terjadi apa-apa. Mas sudah mengaturnya dengan serapi dan seaman mungkin. Bahkan Heru sudah mas tugaskan untuk mengamankan situasi agar tetap kondusif dan kita bisa menikmati kebersamaan kita, sayang."


"Beneran loh mas, aku takut kalau sampai para karyawan akan berpikiran buruk tentang kita." Faiha mendongak menatap manik mata Abiseka dan langsung mendapatkan kecupan hangat di puncuk kepalanya.


"Iya, kalau sampai sesuatu terjadi mas akan sekalian membukanya dan membungkam mereka semua yang berani berburuk sangka padamu."


"Ssttt, sudah ah. Jangan merusak moment romantis kita sekarang. Yuk, kita lanjutin bobo siang saja. Kamu pasti sangat lelah, bukan?" Abiseka malah semakin merapatkan diri dan memeluk posesif tubuh Faiha dari dalam selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


"Ngak mau ah–" Faiha malah melepaskan diri lalu turun dari atas tempat tidur dengan tubuh polosnya melangkah santai menuju ke kamar mandi. Pemandangan menggoda itu tentu saja tak akan di lewatkan oleh mata tajam Abiseka yang langsung melotot dan sedetik kemudian seringai mesum pun muncul di wajah tampannya.


"Sayang, kamu menggodaku lagi ya. Tunggu....mas juga mau ikut mandi." Dengan gerak cepat, Abiseka melompat dari atas tempat tidur menyusul Faiha masuk kedalam kamar mandi. Dan sudah bisa di tebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Hanya mereka dan othor yang tahu.


Seperti biasa, Faiha mengendap-endap ketika akan keluar dari ruangan Ceo.Kepalanya celingak celinguk melihat keadaan sekitar jangan sampai ada orang yang melihatnya.


"Hhh–leganya, dasar mesum. Kalau di tolak pasti akan misuh-misuh ngak karuan.ck...lemes awakku." Setelah merasa situasi telah aman, Faiha segera melangkah cepat masuk kedalam lift dan tanpa diketahuinya, ternyata ada sepasang mata yang sejak tadi tengah mengawasi gerak geriknya. Dan itu adalah Dina yang dengan segera menelpon seseorang.


"Nyonya, Kali ini saya sudah memiliki bukti yang akurat tentang hubungan terlarang Tuan Abiseka dengan OG itu. Apa yang harus saya lakukan selanjutnya, nyonya?"

__ADS_1


".......!"


"Baik, saya akan tetap memantau mereka.Selamat siang nyonya Malika."


Dan sialnya, ada orang lain lagi yang secara tidak sengaja mendengar percakapan Dini dengan sang nyonya besar Jayendra. Alhasil, tersebarlah dengan cepat gosip panas sang Ceo dengan seorang OG dan mereka sudah bisa menebak kalau OG yang dimaksud adalah Faiha.


Karena sebenarnya para rekan kerjanya sudah lama menaruh curiga pada Faiha yang terlalu sering mendapat perintah yang tak jelas untuk menghadap boss mereka.Tidak masuk diakal dan pastinya mereka berspekulasi kalau ada hubungan yang tidak wajar diantara sang Ceo dan OG nya.


Beberapa hari kemudian, gosip menyebar dengan cepat. Bahkan para rekan kerja Faiha tak segan lagi membicarakannya dengan sangat gamblang. Dan berbagai tuduhan negatif pun telah disandangnya. Ya, sebagai perempuan murahan yang tak segan menjual tubuhnya pada sang boss.


"Jadi semua itu beneran ya, Ar? Hei Ar, di tanya malah bengong aja. Kenapa? Patah hati lagi ya? Ngak nyanhka ya ternyata Faiha yang selama ini kita kenal kalem dan manis ternyata tak lebih dari seorang j*****, simpanan boss."


Ardi hanya diam saja, benar...hatinya semakin ambyar ketika mengetahui dengan mata kepalanya sendiri melihat Faiha yang keluar dari ruangan Ceo dan bergumam dengan perkataan ambigu. Ardi tentu saja tahu apa yang telah terjadi di dalam ruangan itu.


"Woii, Ardi...yee malah bermuram durja dia. Sudah, jangan selalu membela Faiha. Lihat kan sekarang kenyataannya seperti apa? Si Faiha itu tak lebih dari seorang perempuan penjaja tubuh ya sebagai simpanan boss lah."


"Eh, apa? Ngak tahulah. Pusing...gue juga ngak nyangka.Udah, kalian jangan banyak tanya. Dan sebaiknya kalian jangan terlalu ikut campur sama urusan orang lain." Ardi masih tak percaya kalau gadis yang selama ini dipujanya ternyata telah melakukan hal yang sungguh hina.


"Kasihan deh lo, patah hati lagi ni yee–" Lia mengejek Ardi.


"Sudah sudah, kalian ini janganlah berperasangka buruk dulu, kita bahkan belum mencari tahu kebenarannya langsung pada Faiha, kan.Jangan su'udzon sama teman sendiri." Susan yang memang lebih bijak menasehati teman-temannya.


Dibalik pintu, Faiha mendengar semua apa yang mereka perbincangkan. Hatinya terasa sakit, ternyata mereka langsung menghakiminya tanpa mengklarifikasi terlebih dahulu dengan nya.


"Bagaimana ini?" Faiha mengelus dadanya merasa resah dan gelisah.


Sementara itu di kediaman Jayendra. Mama Malika begitu naik pitam. Wanita paruh baya itu segera menghubungi sang putra dan menyuruhnya untuk segera pulang. Ia ingin mendengar langsung dari putranya mengenai gosip yang tengah beredar di perusahaan.


"ABI, pulang kamu sekarang!"


Bersambung

__ADS_1


Apa yang akan terjadi selanjutnya pada Faiha? di tinggu ya kelanjutannya...konflik otw.


Terima kasih pada para readers yang masih setia mengikuti kisah Faiha dan Abiseka. Selamat membaca.


__ADS_2