
Terjadilah aksi kejar-kejaran ala ala film action antara mobil yang ditumpangi mama Malika dan mobil yang di kendarai Heru.
"Ayo ngebut, Heru...jangan sampai kehilangan mereka!" Memerintah dengan tidak sabaran.
"Siap boss. Tapi, ya kita harus hati-hati juga dan tetap menjaga keselamatan berkendara."
"Sudah, jangan sok bijak kamu. Yang penting sekarang kejar istriku jangan sampai kehilangan jejak."
Heru pun langsung mejalankan perintah sang boss dengan menampah kecepatan laju kendaraannya. Sampai akhirnya mereka terjebak saat lampu rambu lalu lintas berwarna merah dan alhasil mereka tertinggal jauh dari mobil mama Malika.
"Maaf, boss. Kita terjebak lampu merah." Wajah Heru berubah pias ketika mendapat tatapan mematikan dari sang boss.
"Sial! Kemana mama membawa Faiha? Arrrghh..." Abiseka sangat emosi sampai memukul kaca jendela mobil.
"Aku akan menelpon papa." Abiseka segera menghubungi papa Aryan.
"Halo–pa, apa mama mengatakan sesuatu pada papa?"
"Mengatakan apa? ada apa lagi, Bi. Apa kamu berbuat sesuatu yang membuat mamamu marah?"
"Ti‐tidak pa, apa mama sedang bersama papa sekarang atau akan menemui papa di kantor?"
Dari cara papa Aryan menjawab, sudah dapat dipastikan kalau beliau belum mengetahui apa pun.Abiseka sedikit lega namun, yang sekarang di pikirannya adalah kemana sang mama membawa istrinya.
"Tidak. Tadi mamamu cuma bilang mau ke Mendoza Group, katanya mau menemui Faiha.Kenapa? Apa ada sesuatu yang papa ngak tahu, Bi?"
"Oh, ngak ada apa-apa kok,pa.Nanti kalau mama dan Faiha datang menemui papa, kabari Aku ya pa!"
"Iya–sudah? papa sebentar lagi ada meeting."
"Iya, pa. Itu saja. Terima kasih, pa."
Klekk
"Bagaimana boss, apa nyonya Malika datang menemui tuan Aryan?"
"Tidak, sepertinya mama juga belum mengatakan apa pun pada papa.Ayo, kita ke rumah saja. Siapa tahu mama membawa Faiha pulang."
"Baik,boss."
Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali ke kediaman keluarga Jayendra. Sementara itu di lain tempat, mobil mama Malika berhenti di depan sebuah rumah sederhana dan itu adalah rumah bulek Lastri. Faiha bertanya-tanya dalam hatinya, untuk apa mama Malika membawanya kerumah buleknya.
"Ma, kenapa mama membawa Faiha kesini? aku belum memberi kabar kalau akan datang berkunjung."
"Loh, kok kamu malah bingung. Ini memang rumahmu, bukan. lalu, untuk apa pakai acara bilang-bilang kalau mau datang. Ayo, turun!"
__ADS_1
Akhirnya Faiha hanya bisa pasrah dan menuruti apa yang diinginkan oleh mama Malika. Mereka melangkah masuk ke pekarangan rumah, setelah sampai di depan pintu...Faiha pun segera mengetuknya.
Tok tol tok
"Assalamuallaikum.Bulek, ini Faiha."
Ceklek
"Wa'allaikumsalam. Faiha...loh, ada nyonya Malika juga.Mari mari, silahkan masuk!"
Kedua wanita paruh baya itu pun saling beramah tamah duduk di sofa ruang tamu. Faiha masih berdiri menatap keduanya dan bulek Lastri menyuruhnya untuk membuatkan minuman.
"Fai, kenapa malah bengong? Bikinkan minuman dan tadi bulek baru membuat camilan, bawa kesini sekalian!"
"Nggeh, bulek." Faiha melangkah dengan tak bersemangat menuju ke dapur. Berbagai pikiran negatif berkecamuk di benaknya. Apakah ibu mertuanya itu akan menceritakan apa yang telah terjadi dan membuka segalanya. Faiha jadi takut membayangkan kemarahan buleknya nanti.
Beberapa menit kemudian Faiha pun kembali dengan membawa nampan yang berisi 3 cangkir teh dan sepiring camilan yang buleknya buat. Meletakkannya di atas meja tamu.
"Mari, silahkan di minum, nyonya dan ini dicicipi kue buatan saya sendiri." Bulek Lastri melayani besannya dengan ramah.
Sejenak kedua wanita paruh baya tersebut saling pandang.Lalu, setelahnya mereka menatap Faiha dengan ekspresi yang berbeda. Mama Malika dengan tatapan dinginnya sedangkan bulek Lastri dengan tatapan penuh tanya.
Melihat sang keponakan sama sekali tak bersuara maka, bulek Lastri yang memulai perbincangan diantara mereka.
"Ekhem, Faiha...kenapa tidak bilang kalau akan datang bersama ibu mertuamu. Kalau tahu bulek akan memasak. Maaf ya, nyonya Malika. Ini Faiha selalu saja memberi kejutan tanpa mengabari terlebih dahulu."
"Memang ada kejutan yang akan disampaikan oleh keponakan anda bu Lastri."
"Benarkah? Kejutan...apa kamu sudah hamil, Fai?"
Bulek Lastri langsung menebak kalau kejutan itu adalah berita bahagia yaitu tentang kehamilan sang keponakan. Secara pasangan pengantin baru tersebut belum lama kembali dari berbulan madu romantis ke kota Paris, Perancis.
"Eh, bu–bukan bulek. Tapi...anu...itu–" Faiha tiba-tiba jadi kikuk dan ragu untuk mengatakannya. Lidahnya kelu tak bisa berucap dengan benar.
"Biar saya yang akan mengatakannya bu Lastri."
"Oh, iya...silahkan nyonya Malika, kamu kenapa pakai gugup gitu sih, Fai?" Faiha hanya tersenyum meringis.
"Jadi begini bu Lastri.Kedatangan kami kesini sebenarnya, saya ingin mengembalikan Faiha kembali kepada bu Lastri. Karena ternyata putra saya dan putri ibu telah menipu kami dengan melakukan suatu kebohongan yang sangat besar dan saya tidak bisa menerimanya."
Bulek lastri tersentak tak percaya akan perkataan yang dijabarkan oleh mama Malika. Sebenarnya ia pun masih belum mengerti apa maksud dari mengembalikan Faiha kepadanya.
"Maksudnya apa ya nyonya? Bisa tolong di perjelas tentang apa yang anda katakan barusan. Mengembalikan Faiha? Kenapa?"
"Begini bu, mereka berdua sebenarnya telah melakukan nikah kontrak dan itu di dasari karena Faiha memiliki hutang piutang pada putra saya, Abi. Jadi, mereka hanya menjalani pernikahan sandiwara."
__ADS_1
"Benarkah itu, Faiha? Kamu berhutang pada nak Abi...kenapa kamu tidak pernah menceritakan hal sebesar ini pada bulek, nak. Kamu berhutang untuk apa? Ayo, katakan sejujurnya!"
Faiha yang sudah terpojok pun akhirnya menceritakan semuanya pada bulek Lastri dan wanita paruh baya itu begitu syok dan tak menyangka kalau sang keponakan akan berkorban sedemikian jauh. Bulek Lastri jadi merasa terenyuh akan perbuatan Faiha.
"Ya Allah, nak...kenapa kamu tak menceritakannya pada bulek. Kenapa kamu sampai meminjam uang sebesar itu.Kalau masalah sertifikat rumah kita bisa mencari solusi yang lain. Mengapa kamu berkorban dengan melakukan pernikahan kontrak. Lalu, sekarang kalau sudah begini bagaimana?"
Faiha hanya tertunduk dengan menahan tangisnya. Air mata pun tak bisa di cegahnya yang kini mulai meluncur dari kelopak matanya.
"Jadi–keluarga nyonya ingin memutuskan tali pernikahan bohongan ini dan mengembalikan putri saya? Kalau memang begitu adanya maka, saya akan dengan lapang dada menerima Faiha kembali kepada kami. Dan kami sekeluarga mohon maaf atas apa yang telah dilakukan oleh Faiha."
"Ya, saya juga minta maaf karena sepertinya mereka tidak akan bisa meneruskan pernikahan palsu ini.Jadi, kami juga mohon maaf dan untuk masalah hutang Faiha pada Abi saya akan bicarakan dengannya supaya bisa–"
"Tidak perlu nyonya Malika. Hutang tetaplah hutang, kami akan berusaha melunasinya pada nak Abi. Terima kasih karena selama keponakan menjadi menantu di keluarga Jayendra, anda dan keluarga menerima dan memperlakukan Faiha dengan baik. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, nyonya."
Bulek Lastri mengatupkan telapak tangannya didada meminta maaf. Faiha masih menundukkan wajahnya tak berani menatap kedua wanita yang begitu di hormati dan disayanginya.
"Baiklah, kalau begitu saya mohon pamit ya bu Lastri. Untuk barang-barang milik Faiha nanti akan diantarkan oleh supir saya." Mama Malika beranjak berdiri dan undur diri tanpa mengatakan apa pun lagi pada Faiha.
"Bagaimana ini? Kenapa jadi kacau begini...aduh, kepalaku pusing sekali. Mas Abi, apakah kamu akan menjemputku atau menerima keputusan keluargamu? Akhh..." Faiha menyesalinya.
Setelah kepergian mama Malika, bulek Lastri hanya terdiam. Ia pun bingung harus bagaimana menanggapi masalah tersebut. Namun, di sisi lain ia begitu berterima kasih dan menghargai akan apa yang telah dilakukan oleh keponakannya itu. Dengan menebus kembali sertifikat rumah mereka walaupun dengan jalan yang salah.
"Sudah, lebih baik kamu masuk kamar dan beristirahat sana! Bulek lihat kamu sangat lelah. Apa kamu baik-baik saja, nak? Wajahmu pucat sekali."
"Fai ngak apa-apa kok, bulek. Maaf, Faiha sudah membuat malu keluarga kita. Fai akan menerima apapun yang terjadi dan apabila mas Abi akan menceraikanku nanti."
Tes tes tes
Air mata sudah tak dapat dibendungnya lagi, Faiha menangis tersedu di pekukan sang bibi.
"Hiks...hiks...hiks, maafkan Fai ya bulek, maaf sudah membuat malu bulek."
"Sudah sudah, jangan menangis. Semua sudah terlanjur terjadi. Sekarang bulek mau tanya hal yang sangat pribadi sama kamu. Emm...apa kamu dan nak Abi sudah pernah melakukannya?"
DEG
"I–itu–" Faiha tak meneruskan ucapannya, kemudian ia hanya bisa mengangguk dengan semburat merah di pipinya.
"Ya ampun, Fai...terus bagaimana kalau nanti kamu sampai hamil?"
Faiha kembali tertunduk lesu, hatinya kembali gundah gulana. Memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Ya...bagaimana jika ia hamil?
Bersambung
Tuh kan, Faiha...gimana kalau kamu beneran tekdung? Secara sudah tak terhitung si Abiseka menyerangmu, kan? Akankah Abiseka junior sudah otw...?
__ADS_1
Selamat membaca. Terima kasih masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.
Lope lope dari Abi&Fai ❤❤