Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
69. Sak karepmu Pak'e


__ADS_3

Keempat orang yang masih berada di rumah bulek Lastri saat ini berkumpul di ruang tamu. Mereka tengah membahas masalah Abiseka dan Faiha. Hanya Anwar yang tidak ikut bergabung karena pembicaraan tersebut mengenai orang dewasa.


"Bagaimana jeng Malika, apa sebaiknya kita akhiri saja sekarang? Aku rasa kedua pasangan ini tidak akan bisa terpisahkanlagi. Apalagi saat ini sudah ada kehidupan baru di rahim Faiha." Bulek Lastri tersenyum hangat menatap pasangan Abiseka dan Faiha.


"Iya jeng Lastri, memang sudah seharusnya kita berhenti untuk mengerjai mereka. Kasihan juga kan Faiha dan calon cucu pertama kita kalau sampai terjadi apa-apa jika Faiha stres karena memikirkan permasalahan yang sebenarnya tidak penting."


"Jadi, Faiha akan pulang kembali ke rumah kami.Maafkan kami ya nak. Kami sebagai orang tua sebenarnya tidak memeiliki maksud apa pun dan kami sangat menyayangi kalian." Mama Malika meminta maaf pada anak dan menantunya.


Faiha jadi merasa terharu dan ia mengangangguk mengiyakan keinginan sang ibu mertua yang baik hati dan begitu menyayanginya. "Iya, ma. Faiha juga sudah tidak mempermasalahkannya dan tidak perlu ada yang dimaafkan, kalian tidak salah...kamilah yang telah melakukan perbuatan yang tidak benar yaitu mempermainkan sebuah pernikahan.Maafkan kami ya, ma...bulek." Faiha memeluk kedua wanita yang sangat disayanginya itu.


"Iya, sama-sama. Mau kan, nanti pulang kerumah mama? Kasihan suami tuamu, tak dapat tidur dia karena tidak ada istri yang ngeloni." Mama Malika melirik sang putra yang sejak tadi mesam mesem pada istrinya.


"Mama–Abi ngak tua-tua banget lagi tapi, matang.Baru juga mau 36 tahun." Memasang wajah cemberut.


Kedua wanita paruh baya itu pun mentertawakan Abiseka termasuk Faiha. Namun, tawanya seketika terhenti ketika ia mendapatkan tatapan mematikan dari sang suami.


Akhirnya semua masalah dan kesalahpahaman telah terselesaikan dengan baik. Dan saat ini Abiseka sedang membantu Faiha untuk berkemas-kemas. Setelah itu mereka langsung berpamitan pada bulek Lastri dan Anwar.


"Mas–aku rasanya masih takut." Abiseka berada satu mobil dengan Faiha. Sebelumnya ia menyuruh supir untuk mengantarkan mobilnya.Sedangkan mama Malika telah pulang lebih dulu.


"Apa yang membuatmu takut, hem–?" Abiseka menoleh dan menggenggam tangan Faiha.


Faiha tertunduk melihat dan memegang perutnya. "Ini loh, mas. Bagaimana kalau ternyata aku belum hamil? Nanti mama pasti akan sangat kecewa dan merasa dibohongi lagi oleh kita."


"Tenanglah sayang, besok pagi kita cek ya. Nanti seandainya memang hasilnya belum positif maka, kita akan lebih giat lagi berusaha untuk membuatnya."


Faiha memicingkan matanya dan seketika mendaratkan cubitan maut di pinggang Abiseka.


"Auww–sakit sayang, kalau mau cubit-cubitan sama terkam-terkaman nanti saja di kamar. Mas akan dengan suka rela kamu apa-apakan juga." Menaik turunkan alis matanya genit. Faiha semakin gemas di buatnya.


"Ish–dasar mesum!" Mencebik kesal.


"Tidak apa-apa mesum sama istri sendiri sih, malah wajib." Terkekeh geli.

__ADS_1


"Hemm, sak karepmu pak'e."


"Apa itu? Pak'e?"


"Masa' ngak tahu Pak'e sih? Mas orang jawa kan, pak'e itu ya panggilan untuk bapak,papa, atau ayah.Memangnya mas ngak mau nanti kalau sudah punya anak dipanggil ayah atau Pak'e lebih merakyat." Faiha menjelaskan.


Sejenak Abiseka terdiam, sejenak ia berpikir...entah apa yang dipikirkannya? " Em...mas ngak mau ah kalau dipanggil apa tadi itu...Pak'e? Mas maunya di panggil papa atau daddy saja." Jawab Abiseka kekeuh.


Faiha pun mengangguk setuju saja apa yang diinginkan oleh suaminya. "Oke, terserah mas saja. Lagi pula belum juga punya baby nya, kan."


"Jangan begitulah, sayang. Berdo'a semoga besok pagi hasilnya positif dan kita segera akan menjadi mommy dan daddy." Abiseka memegang perut Faiha lalu fokus kembali menyetir.


Singkat cerita kini pasangan suami istri baru tersebut telah berada didalam kamar pribadi mereka. Abiseka sudah mandi duluan dan kini ia sedang duduk manis diatas tempat tidur sambil memainkan gawainya.


Hingga beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka dan tampak Faiha sudah terlihat lebih segar dengan rambut yang dicepol asal dan gaun tidur yang tampak se**. Abiseka refleks menoleh dan tatapannya tak bisa lepas sedetik pun dari sang istri yang langsung membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Abiseka sampai bersusah payah menelan salivanya.


"Mas—kamu kenapa?" Faiha melangkah lalu naik ke atas ranjang dengan gerakan yang seduktif, merangkak perlahan dan memperlihatkan belahan dada yang membuat Abiseka makin resah dan gelisah. Ingin rasanya ia langsung menerkam sang istri detik ini juga. Sorot matanya mulai berkabut gairah dan Faiha pun sekali melihat sudah tahu apa arti dari tatapan sang suami.


"Mas mau,itu...boleh?"


Seringai licikpun tersenat diwajah tampannya. Dan dengan gerakan cepat Abiseka langsung menyergap Faiha dan mengukung dibawah tubuhnya. Faiha memekik kaget namun, ia pun memasrahkan diri dan membiarkan Abiseka memulai ritual suami istri yang biasa mereka lakukan.


"Mas udah ngak tahan ya?"


"Sudah tahu kok pake tanya. Kan kamu sendiri yang bilang ngak usah pakai kode-kodean segala. Ya, let's start...baby!"


"Ahh–mas, pelan-pelan dong!"


"Enggak, sudah ngak bisa pelan...mas mau langsung ke hidangan utama ya, sayang? Grep...cup."


"M–massh...oh!" Dan pertempuran panas sepasang suami istri itu pun dimulai dengan diiringi oleh suara-suara merdu yang saling bersahutan.


Kita tinggalkan pasangan yang sedang bercocok tanam itu. Kini kita beralih ke tempat yang lainnya. Yaitu disebuah gedung Apartemen mewah.

__ADS_1


Ferdy mengernyitkan dahinya. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba tak enak. Apa jangan-jangan perkiraannya benar bahwa daun muda yang dimaksud oleh Abiseka itu adalah Hani si gadis remaja yang masih tampak ranum. Segar dimata.


"Om, terima kasih ya sudah berkenan mengantar dan menemaniku." Hani tersenyum ceria dan terlihat manis dan menggemaskan membuat seorang Ferdy berdebar.


"I–iya, ngak masalah. Emm...apa aku boleh tahu, apa benar kamu mau bertemu temanmu disini? Maksudku apa temanmu tinggal di Apartemen ini?"


"Iya, memangnya kenapa? Om ngak percaya? Om Ferdy juga kenal dia, kok."


DEG


"Sh**, kayaknya beneran ini kalau teman yang dimaksud Hani adalah si Andre. Sejak kapan mereka mulai dekat dan sepertinya Abi sengaja mancing gue . Sialan lo, Bi ternyata mau ngerjain kita ya." Ferdy akhirnya mulai paham akan maksud dan tujuan Abiseka yaitu ingin mengerjai kedua sahabatnya.


"Om–om Ferdy kok malah bengong sih? Kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya om. Kalau om Ferdy masih ada urusan ngak apa-apa kok, aku bisa sendiri dan pulangnya pasti teman om akan mengantarkanku pulang. Sebab om Andre itu kan baik sekali sama Hani."


"Andre! Kamu itu sadar apa apa tidak, sih. Andre itu pria dewasa dan kamu itu..." Ferdy tak melanjutkan kata-katanya.


"Aku kenapa om? Kok diem...ayo katakan!"


"Kamu itu masih kecil dan dia laki-laki dewasa yang normal dan bisa saja berbuat khilaf. Jangan-jangan ibumu juga tidak tahu kalau teman yang ingin kamu temui itu adalah Andre? Sudah...jangan berbuat yang aneh-aneh, ayo sekarang aku akan mengantar kamu pulang. Aku yakin kalau ibumu tahu apa yang kamu lakukan pasti beliau juga akan sangat marah dan kecewa. Ayo–!" Menarik paksa tangan Hani dan terjadilah tarik menarik diantara keduanya, hingga–"


Ting


"Ish–om ini kenapa sih?posesif banget...memangnya aku ini siapanya om. Lepasin...ih!"


Pintu lift terbuka dan muncul sosok pria tampan dengan tubuh yang kekar menjulang tinggi berdiri tepat dihadapan keduanya yang tengah cekcok.


"Ferdy– apa yang mau lo lakukan pada gadis ini? HA...NI–!"


"Om Andre–" Sontak mimik wajah Hani berubah sumringah dengan tersenyum ceria memamerkan deretan gigi nya yang tampak putih dan tertata rapi.


Bersambung


Maaf ya agak telat up nya. Hari pertama puasa...lemas bestie. Tapi, insyaallah akan diusahakan setiap hari update.

__ADS_1


Kira-kira apa yang akan terjadi diantara kedua om ganteng dan Hani ya? Si Hani kecil-kecil kendel juga sih ya...namanya juga bocil jaman now. ✌


__ADS_2