Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
58. Baku hantam


__ADS_3

Faiha dan Andre tengah menikmati makan siangnya di sebuah rumah makan padang. Andre memesan berbagai hidangan yang menggugah selera. Faiha sampai melongo melihat meja yang penuh sampai ia bingung apa yang mau disantapnya.Yang ada Faiha hanya menatapnya saja.


"Loh, kenapa cuma dipandangi saja?ayo dimakan dek Fai!"


Glekk


"Dek Fai?"


"Iya, dek Faiha. Boleh kan aku memanggilmu seperti itu?" Tersenyum lebar terlihat gigi putihnya yang tertata rapi menambah nilai ketampanan laki-laki dengan perawakan kebule-bule-an itu.


"Bo–boleh, kak Andre."


"Nah gitu dong, kan jadi tambah manis."


Blush


Semburat merah menghiasi wajah cantik Faiha, dan entah mengapa Andre pun jadi ikutan tersipu malu.


"Sebenarnya aku lebih suka memanggilmu sayangku atau manisku.Namun, itu hanya didalam angan-anganku saja. Tapi, sudahlah. Gadis itu sudah menjadi milik sahabatmu sendiri Ndre. Tanamkan selalu itu dalam ingatanmu!" Andre bermonolog sendiri berandai-andai sesuatu yang tak mungkin.


"Jangan hanya di tonton makanannya, nanti mereka menangis loh." Mencoba mencairkan suasana canggung


diantara mereka.


Merekapun akhirnya menikmati makan siang dengan suasana ceria. Canda tawa selalu menghiasi disepanjang siang ini.


"Aku antar pulang ya? nanti suami supermu khawatir jika tahu istri cantiknya ada bersama dengan pria lain.setampan diriku."


"Ish–pede sekali sih.Tu–eh, mas Abi tidak akan seperti itu.dijamin."


"Masa' sih? Setahuku Abi itu kalau sudah sayang pada seseorang pasti akan bersikap posesif dan bakalan bucin sebucin bucinnya.Kok, bisa? Apa kalian–"


"Kak, sepertinya aku memang harus segera pulang. Kalau begitu aku duluan ya, kak." Faiha segera bangkit dan beranjak keluar dari rumah makan itu.Namun, langkahnya terhenti karena lengannya dicekal oleh Andre.


"Tunggu Fai! aku akan mengantarmu."


"Tidak usah kak, terima kasih. Sebenarnya aku mau kerumah bulek Lastri, bukan pulang ke kediaman Jayendra." Tersenyum kaku dan terkesan dipaksakan.


"Oh, ngak apa-apa.Aku akan mengatar ke manapun tujuanmu." Namun, Andre tetap bersikeeas ingin mengantarkan kemanapun tujuan Faiha akan pergi. Hal itu justru membuat Faiha jadi semakin serba salah. Ia takut sahabat dari suaminya itu akan menaruh curiga sepeeti biasanya,laki-laki itu sangat peka bisa membaca situasi jika ada sesuatu yang tidak beres.

__ADS_1


"Baikalah, kalau kakak memaksa." Akhirnya Faiha pun hanya pasrah dan menuruti keinginan Andre.


Sepanjang perjalanan Faiha sama sekali tak mengeluarkan suara.Ia tak ingin kalau sampai ia berbicara dengan Andre takut salah ucap dan malah mengundang curiga.


"Hem–Pernikahan kalian baik-baik saja, kan? Maaf, bukannya aku mau turut campur akan tetapi rasanya kok heran saja. Seperti ada sesuatu dimatamu...kamu seperti tengah memendam–"


"Didepan belok kekiri ya, kak. Setelah itu dari sana sudah dekat." Faiha memotong ucapan Andre yang sepertinya benar menurut dugaannya kalau laki-laki itu menaruh curiga.


Andre tak lagi bertanya macam-macam karena ia mengerti kalau Faiha tak ingin ia bertanya lebih jauh mengenai hal yang bersifat pribadi.


Hingga beberapa saat kemudian sampailah mereka di rumah bulek Lastri. " Berhenti didepan sana, kak!"


"Oke, rumah yang bercat warna hijau itu?" Tanya Andre.


"Iya, benar kak."


Setelah mobil berhenti.tepat didepan pagar delan rumah, Faiha pun undur diri dan tak lupa mengucapkan terima kasih karena Andre telah mengantarnya.


"Terima kasih ya kak, sudah mengantarku sampai kerumah." Baru saja Faiha beranjak akan turun, Andre menghentikannya dengan mencekal lengan Faiha.


"Faiha, maafkan aku ya soal yang tadi.mungkin kamu merasa tidak nyaman karena aku terlalu banyak bertanya.Tapi, sungguh aku tak ada maksud apa pun.Sorry ya, masih mau kan berteman denganku?"


Srettt


Baru saja Faiha membuka pintu mobil dan hendak turun, tiba-tiba ada yang menariknya dengan kasar. Mereka tidak tahu kalau sejak tadi Abiseka memperhatikan dari dalam mobil yang berhenti tepat dibelakang mobil Andre.


"Sedang apa kalian?" Menatap tajam pada Faiha.


"Ma–mas Abi–" Tersentak kaget ketika melihat suaminya yang tiba-tiba muncul dihadapannya dengan tatapan mengintimidasi.


"Dari mana saja kalian, hah? Andre, turun lo...gue mau bicara!"


Melihat perlakuan kasar Abiseka pada Faiha tentu saja membuat Andre tak menyukainya. Laki-laki itu pun keluar dan langsung menghampiri pasangan tersebut. Dan kini kedua pria tampan itu saling berhadapan. Abiseka dengan sorot mata penuh amarah sedangkan Andre dengan penuh ketenangan.Karena Andre sudah terbiasa menghadapi sifat meledak-ledak sahabatnya yang satu ini.


"Apa-apaan sih lo, Bi. Bisa ngak sih ngak kasar sama perempuan? Faiha itu istri lo, ngak seharusnya lo perlakukan sekasar itu." Melihat tak suka akan perlakuan Abiseka terhadap Faiha.


"Bukan urusan lo, harusnya gue yang bertanya.Sedang apa kalian dan dari mana saja? Jadi begini, selama aku tidak berada didekatmu lalu, kalian.mengambil kesempatan untuk bertemu secara diam-diam tanpa sepengetahuanku." Nada bicara Abiseka mulai meninggi di liputi emosi yang meletup-letup.


"Mas yang Apa-apaan. Harusnya aku yang bertanya, beberapa hari ini mas kemana saja? Apa mas tahu, aku menunggu mas dengan rasa was-was. Apakah mas memang benar-benar menginginkan perceraian itu?" Tanya Faiha tak kalah emosi.

__ADS_1


"Ce–cerai, apa maksudmu? Siapa yang ingin bercerai? Kita tidak akan pernah berpisah. Apa maksud dari perkataanmu barusan?" Tanya Abiseka tak mengerti.


Andre pun tak kalah terkejut mendengar penuturan Faiha tentang perceraian.


"Bercerai? apakah telah terjadi sesuatu diantara mereka?" Andre hanya bisa bertanya didalam hati.Ia hanya menyimak percekcokkan pasangan tersebut tak berani ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.


"Harusnya aku yang bertanya demikian.Lalu, apa maksudnya surat perceraian yang mas kirim untukku.bukankah itu artinya memang mas ingin kita bercerai? Mengapa...kalau memang itu yang mas inginkan, jangan khawatir...aku akan segera menandatanganinya.Apakah mas menginginkannya sekarang juga, baiklah...tunggu sebentar, aku akan menyerahkan surat itu."


Faiha pun sudah tak bisa menahan amarahnya. Hatinya kembali berkecamuk, pikirannya pun sudah kacau. Ia sangat kecewa akan sikap sang suami yang selalu seenaknya sendiri.


"Wow, calm down guys! sorry kalau gue ikut campur. Sebaiknya kalian bicarakan hal ini dengan pikiran tenang. Apapun masalah yang tengah kalian hadapi saat ini selesaikanlah secara baik-baik. Lebih baik kalian masuk dulu." Andre yang sudah tak tahan melihat berdebatan keduanya pun memutuskan untuk melerainya.


"Sebaiknya lo pergi deh, Ndre! lo ngak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga kami. Apa memang lo sengaja mulai mendekati istri gue karena mengira kalau kami akan berpisah. Asal lo tahu ya...Itu ngak akan pernah terjadi. Jadi, sebaiknya lo jangan terlalu berharap bisa merebut Faiha dari gue."


"Astaga, Abiseka Jayendra. Siapa juga yang ingin merebut istri lo? Kami bahkan ngak ada hubungan apa pun selain berteman baik. Lo jangan berpikiran sempit. Faiha itu gadis baik-baik. Harusnya lo yang lebih tahu istri lo sendiri.Gue jadi curiga...jangan-jangan memang lo ngak pernah berubah dan hanya mempermainkan Faiha?" Andre yang sejak tadi bersikap tenang, tiba-tiba ikut terbawa emosi.


Apa lo bilang...hah?"


BUGH


BUGH


Terjadilah baku hantam diantara dua pria bertubuh besar dan Faiha sampai memekik kaget melihat perkelahian yangbterjadi tepat didepan matanya.


"Akhh–mas Abi, kak Andre...apa-apaan sih kalian berdua? Hentikan!" Melerai keduanya.


"Sialan lo, Ndre...jadi, ternyata bener dugaan.gue selama ini kalau lo memang suka sama Faiha, kan? Ayo ngaku lo?" Tanya Abiseka masih dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Kalau iya memangnya kenapa?"


"APPAA?!"


Bersambung


Nah lo, kok malah jadi semakin ruwet begini? Lah kenapa tu dua cogan jadi baku hantam memperebutkan Faiha? Lalu apakah yang akan terjadi selanjutnya?


Disambung besok lagi ya guys. Next bab.


Selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2