Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
34.Apa Tuan cemburu?


__ADS_3

Abiseka tergelak dan menatap tajam pada Ferdy. Kedua sahabat itu mulai bersitegang.


"Ah–nyesel gue nyeritain semuanya sama lo, Fer.Gue harap lo jangan terlalu ikut campur dalam masalah gue dan Faiha.Anggap aja lo ngak tahu. Ngerti kan,lo?" Abiseka mulai tersulut emosi.


"Bukan begitu, bro. Gue juga kasihan sama Nona Faiha, teganya lo memanfaatkan kesulitan orang lain."


"Siapa yang memanfaatkan?kita sudah bersepakat dan perjanjian kerjasama kami atas dasar saling menguntungkan. Ada timbal baliknya. Gue melunasi hutang keluarganya dan menebus serifikat rumah mereka. Sedangkan dia ya harus mau menikah sama gue dan itu demi membahagiakan mama dan papa serta eyang Retno.Lalu, salah gue dimananya?"


"Salah lo adalah mempermainkan anak gadis orang dan menipu keluarga lo sendiri. Apa lo ngak berpikir gimana kalau seandainya mereka mengetahuinya. Apakah mereka akan dengan mudah untuk memaafkan kalian? Gue rasa, enggak." Ferdy semakin menekan Abiseka yang mimik wajahnya mulai suram.


"Trus sekarang gue tanya mau lo apa,hah? Lo kok jadi rese' gini sih, Fer?"


"Woi‐woi...sudah-sudah, malu di perhatikan orang-orang Kita bicarakan ini dengan kepala dingin, oke guys!" Andre akhirnya tak bisa berdiam diri saja, dengan sigap menengenahi keduanya yang mulai panas.


"Maaf, begini saja. Kalian bertiga tidak perlu sampai berselisih paham hanya karena diri saya. Untuk masalah hutang yang telah di lunasi oleh Tuan Abiseka, kalian.tidak usah khawatir. Insyaallah saya akan berusaha untuk menggantinya. Jika, sewaktu-waktu sandiwara ini terbongkar saya akan meminta maaf secara langsung pada tuan Aryan,mama Malika dan Eyang Retno.Saya berharap jangan sampai pertemanan kalian kadi malah hancur hanya gara-gara masalah ini."


Faiha mencoba memberi solusi agar ketiga sahabat karib tersebut tidak saling bermusuhan.Dan, perkataan Faiha berhasil meredakan ketegangan diantara ketiganya.Andre dan Ferdy tertegun mendengar penuturan istri dari sahabat mereka. Betapa tulusnya hati Faiha.


Lain halnya dengan Abiseka yang justru suaminya, laki-laki itu malah bersikap biasa saja. Sama sekali tak tersentuh hatinya karena baginya itu memang sudah seharusnya.


Sesaat suasana tampak hening.Hingga datang seorang pelayan cafe mengantarkan pesanan mereka.


"Permisi–ini pesanan Mbak dan mas-mas nya. Selamat menikmati."


"Terima kasih." Faiha yang menjawab dengan tersenyum ramah.


Mereka berempat pun menikmati makan malam dalam diam. Hanya sesekali Andre melirik dan menatap pada Faiha.Abiseka bukan tak mengetahuinya, ia tahu kalau Andre selalu mencuri lihat kearah istrinya. Dan ia tak suka akan hal itu.

__ADS_1


"Sudah selesai kan, peembahasan kita soal ini?kalau begitu gue sama istri mau balik duluan.Ayo, kita pulang!" Bangkit dan langsung menggenggam tangan Faiha mengajak istrinya untuk beranjak pergi.


"Oke, semoga semua akan baik-baik saja dan kedepannya pernikahan kalian akan berjalan dengan baik dan lancar." Itu Ferdy yang lagi-lagi bersikap bijak.


"Iya, hati-hati di jalan Nona Faiha!" Andre menatap nanar kepergian mereka yang saling bergandengan tangan, tepatnya Abiseka yang meenggenggam tangan istrinya posesif seakan ingin memperlihatkannya pada seseorang.


Selepas kepergian pasangan suami istri tersebut, Andre dan Ferdy pun tak lama ikut beranjak juga meninggalkan Cafe. Di area parkir mereka pun menuju ke mobil masing-masing.


"Ndre–Apa si Abi sudah ada rasa ya sama istrinya? Gue lihat ada yang berbeda dari sikapnya. Semoga nona Faiha bisa merubahnya menjadi lebih hangat dan mereka bisa benar-benar menjalani hubungan pernikahan yang sehat.Gimana Ndre menurut lo?"


Andre hanya mengherdikkan kedua bahunya. "Entahlah–"


"Dahlah, gue duluan ya Fer. Capek dan ngantuk mau langsung tidur." Andre masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi meninggalkan Ferdy yang menggelengkan kepala melihat Andre yang terlihat tak bersemangat dan Ferdy tahu apa penyebabnya.


"Ndre Andre–semoga lo ngak terjatuh terlalu dalam, karena nona Faiha bagaimana pun sudah menjadi milik Abi sahabat kita."


Sementara itu di mobil yang lain. Abiseka mengemudi dalam diam, begitu pun Faiha yang tak berani mengajak suaminya itu untuk berbicara. Namun, rasanya sangat tidak nyaman.Karena biasanya mereka selalu berdebat bahkan untuk hal sepele sekali pun.


"Ehem–Tuan, apakah kita akan langsung pulang?" mencoba memecah keheningan di antara mereka. Dan ternyata Faiha salah memilih pertanyaan, karena itu malah membuat Abiseka jadi berpikir yang aneh-aneh. Timbul ke usilannya.


"Kenapa? Apa kamu mau mengikuti anjuran mama agar kita tidak pulang dan menginap di hotel untuk membuatkan cucu untuk mereka?"


Blush


"WHAT? Aduh, mulutku salah ngomong lagi kan. Apa dia serius dengan ucapannya itu? Kok aku jadi takut, ya?" Monolog Faiha di dalam hati.


"Mengapa diam? Jawab! Kamu mau kita ke hotel sekarang juga? Aku sih ngak masalah asalkan kamu juga sudah siap untuk–"

__ADS_1


"Stop! Maaf, Tuan. Sepertinya kita langsung pulang saja. Takut mama...eh, Nyonya Malika khawatir." Alasan yang klise.


Abiseka menarik sudut bibirnya tersenyum penuh arti." Baiklah. Yakin, tidak akan menyesal?kita hotel saja. Bukankah kamu bilang ingin membahagiakan mama dan yang lainnya? Kalau aku sih ikut saja." Semakin menjahili istrinya.


"Te–tentu saja tidak, apa yang harus saya sesali. Yang ada nanti saya malah menyesal kalau benar-benar melakukannya." Faiha menjawab ketus.


"Maksudmu, kamu akan menyesal kalau melakukan itu dengan suamimu sendiri." Semakin menekan membuat Faiha serba salah dan malu secara bersamaan.


"E–saya harap hubungan Anda dengan tuan Andre dan tuan Ferdy akan baik-baik saja. Mereka adalah teman yang sangat baik dan setia kawan. Saya bisa melihatnya." Faiha mengalihkan topik pembicaraan menghilangkan kecanggungannya.


Salah.Ya, ternyat topik yang Faiha perbincangkan membuat mood Abiseka seketika berubah jelek.Entah mengapa ia tidak nyaman ketika Faiha berbicara tentang kedua sahabatnya.


"Sudahlah–aku tidak mood untuk membicarakan mereka. Apa kamu sebegitu perdulinya pada kedua laki-laki itu?Kamu suka pada salah satu diantara mereka?siapa...Ferdy atau Andre?" Mulai bicara bernada tinggi dan melirik tajam pada istrinya.


"Loh, kok Tuan jadi sewot? saya kan hanya berpikir positif soal hubungan pertemanan kalian yang sayang jika harus rusak hanya karena hal yang tidak penting. Ck...selalu saja negatif thinking." Berdecak sebal.


Citttt


Tiba-tiba Abiseka mengerem mendadak dan menepikan kendaraannya di tepi jalananan yang tampak sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB. Faiha jadi bergidik ngeri membayangkan hal yang tidak-tidak.Apa yang di inginkan oleh suaminya itu.


"Oh–jadi, benar dugaanku. Kamu menyukai mereka? Siapa yang akan kamu pilih? Andre atau Ferdy. Jika, itu benar sayang sekali. Kamu bermimpi terlalu tinggi. Apa kamu sudah berkaca siapa dirimu itu. Mereka tidak akan melirikmu apa lagi menginginkanmu.Jangan ke pede'an deh kamu!"


"Hh–jangan meremehkan ya, siapa bilang mereka tidak menyukai saya. Bahkan tuan Andre dan tuan Ferdy dengan terang-terangan mengatakan kalau saya cantik dan menggemaskan. Lalu, kalau memang mereka menginginkan saya, anda bisa apa?Apa Tuan cemburu?"


Kali ini Faiha semakin menyulut kemarahan Abiseka dan dengan gerakan cepat ia membungkam bibir Faiha dengan sebuah ******* kuat.


Bersambung

__ADS_1


Maaf ya readers, Jadwal update memang tak pasti jam nya. Karena saya mengetik jika ada waktu luang. Terima kasih yang masih setia menunggu kelanjutan kisah Faiha dan Abiseka. Selamat membaca.


__ADS_2