
Tubuhnya lunglai serasa tak bertenaga, bahkan kepalanya kini semakin pening. Faiha terus melangkahkan kakinya tanpa tujuan menelusuri trotoar jalan.Terik matahari mulai terasa membakar kulit halusnya, Faiha terus melanjutkan langkah kakinya namun, kini ia berbelok arah kesebuah taman kota yang tampak tak begitu ramai.
Dari kejauhan tanpa disadarinya ada sebuah mobil berwarna hitam yang membututinya sejak beberapa waktu yang lalu. Langkah kaki Faiha semakin gontai dan pandangannya semakin kabur lalu, tiba-tiba–
BRUKK
Orang yang sejak tadi mengawasi Faiha segera keluar dari dalam kursi pengemudi lalu berlari kencang menghampiri tubuh mungil Faiha yang sudah tergeletak di atas tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau.
"Nona Faiha—!" Pekiknya, lengan kekarnya langsung merengkuh tubuh mungil itu dan menggendongnya ala bridal style, membawanya kesebuah kursi taman lalu meletakkan tubuh lunglai itu dengan hati-hati.
Telapak tangan besar itu menepuk-nepuk lembut pipi chubby Faiha yang tampak putih pucat berharap kalau gadis itu segera sadar dari pingsannya. Dan benar saja, setelah benerapa menit Faiha pun mulai membuka matanya.Mengerjap beberapa kali kemudian menangkap sosok pria tampan dihadapannya.
"Tuan Andre, apa yang telah terjadi? Kenapa Tuan ada disini?" Faiha terkejut namun, masih bisa tersenyum pada laki-laki berparas bule itu.
"Emm–itu, tadi aku tidak sengaja lewat dan melihat kamu jatuh pingsan. Apa nona baik-baik saja? Wajah nona sangat pucat." Faiha bangkit dan beralih ke posisi duduk. Kemudian Andre pun ikut duduk di sebelahnya.
"Begitu. Maaf, apa bisa anda tidak memanggilku dengan sebutan nona. Rasanya canggung dan juga sepertinya tidak pantas."
Andre tersenyum hangat dan mengangguk mengiyakan."Lalu, aku harus memanggilmu apa?"
"Cukup Faiha saja, Tuan."
"Rasanya kalau kamu memanggilku Tuan juga tidak enak didengar,deh." Andre pun menginginkan hal yang sama yaitu merubah panggilan Faiha terhadapnya.
"Tapi kan, kalau anda beda. Tuan adalah orang hebat dan juga umur anda lebih tua dari saya jadi, rasanya kalau memanggil dengan nama saja menurut saya tidaklah sopan.
Mendegar penuturan gadis mungil yang selalu tampak lucu dan menggemaskan di matanya itu, membuat Andre terkekeh geli. Faiha melongo melihat tingkah bule tampan itu.
"Kenapa Tuan malah tertawa? Apa ada yang lucu?" Tanyanya heran.
"He em, kamu itu memang lucu dan menggemaskan. Ups...sorry, bukan maksudku untuk mengejekmu loh."
Andre keceplosan bicara tapi, memang itulah yang ia lihat dari Faiha. Baginya tingkah polah gadis itu selalu mengundang senyum.
"Begini saja, bagaimana kalau kamu memanggil Tuan Andre dirubah menjadi kak Andre atau mas.eh...tapi jangan mas deh, nanti suami tampanmu itu missuh-misuh dan ngambek." Kali ini Andre terbahak karena membayangkan wajah Abiseka yang cemberut dan ditekuk sedemikian rupa.
__ADS_1
"Tidak akan–"
Tiba-tiba wajah Faiha berubah sendu ketika Andre menyebut nama suaminya. Dan Andre menyadari perubahan sikap Faiha. Laki-laki itu jadi penasaran ada apa dan apa telah terjadi sesuatu dengan pasangan suami istri tersebut.
"Tidak akan? Maksud kamu? Maaf kalau aku sedikit lancang, apa kalian sedang bertengkar?" Andre yang penasaran pun tanpa ragu bertanya.
"Oh, baiklah...saya akan memanggil anda, kak Andre saja. Bagaimana? Boleh kan?" Faiha tak menjawab pertanyaan Andre. Dalam sekejap ia mengalihkan topik pembicaraan agar Andre tak lagi bertanya tentang hal pribadi.
"Kakak ya? Boleh juga...itu terdengar lebih baik dan kita bisa lebih akrab."
"Oke, kak Andre yang ganteng dan baik hati." Faiha tersenyum ceria memamerkan deretan gigi putihnya.
"Ya tuhan, dia sangat cantik." Seketika hal itu membuat Andre terpana dengan senyum manis gadis cantik dihadapannya.
"Barusan kakak bilang apa?" Faiha mendengar gumaman Andre tapi, tidak begitu jelas.
"Oh, tidak...tidak ada. Hem...ngomong-ngomong apakah kamu sudah makan siang?"
krukkkk
Mendengar pertanyaan Andre mengenai makan siang, entah mengapa tiba-tiba cacing-cacing di dalam perut Faiha berdemo seakan ingin menunjukkan eksistensinya. Hal itu Sontak membuat Andre kembali tak bisa menahan tawanya.
"Boleh, asal tidak merepotkan kak Andre." Jawab Faiha tersipu malu, pipinya merona. Andre lagi-lagi terpesona akan senyum manis Faiha.
"Oke, ayo! Kamu mau makan apa?"
"Terserah kak Andre saja."
"Baiklah, bagaimana kalau di rumah makan padang saja? Kamu suka, tidak?" Usulnya
"Boleh juga, saya suka kok masakan padang."
"Baiklah kalau begitu, oke...let's go!"
Mereka pun beranjak dari tempat itu menuju ke mobil Andre yang terparkir tak jauh di area taman. Dan segera meluncur ke tempat tujuan mereka yaitu rumah makan padang.
__ADS_1
Kini, kita beralih ke sebuah tempat lain. Di gedung Jayendra Group, tepatnya di ruangan Ceo. Abiseka tampak risih dan tidak suka dengan munculnya wanita yang sekan selalu ingin menempel padanya. Ya, wanita itu adalah Zivanya yang meruoakan salah satu teman lamanya.
"Maaf ya Zivanya, apakah kamu tidak ada kegiatan lain? Maksudku apa hari ini kamu tidak ada pemotretan, gitu?"
Benerapa waktu yang lalu, tiba-tiba Zivanya menelponnya dan meminta untuk dijemput dari bandara. Wanita itu baru saja tiba ke tanah air setelah menyelesaikan kontrak kerjanya sebagai brand ambassador di salah satu perusahaan di luar negeri. Tepatnya di kota Paris, Perancis.Tempat yang sama ketika Abiseka dan Faiha berbulan madu. Abiseka merasa tidak enak untuk menolaknya, secara selama ini hubungan mereka baik-baik saja.
" Tidak ada. Hari ini sampai akhir bulan aku free. Bagaimana kalau kita kumpul bareng seperti dulu lagi. Aku, kamu, Andre dan Ferdy. Ah...jadi ingat masa-masa sekolah yang penuh kenangan." Zivanya seperti sengaja ingin mengingatkan kembali tentang persahabatan diantara mereka berempat.
"Oh ya, kamu juga boleh kok mengajak istrimu. Siapa nama istrimu...sorry aku agak lupa?"
Zivanya terus saja berceloteh membuat Abiseka jengah dan malas untuk menanggapinya. Karena jujur, ia tidak suka.
"Namanya Faiha...Faiha Arsyana Jayendra." Abiseka membubuhkan nama keluarga di belakang nama sang istri agar Zivanya tahu akan batasannya.Dan hal itu berhasil merubah mimik wajah wanita itu.
"Ah iya, Faiha ya...ngimong-ngomong gimana kabar istrimu?"
"Baik, dan saat ini kami tengah menjalani progam anak. Do'akan ya semoga berhasil dan istriku secepatnya hamil."
Lagi-lagi Abiseka menekankan kata anak membuat Zivanya semakin illfeel mendengarnya. Jelas terlihat dari raut wajahnya yang merengut ketika Abiseka begitu antusias berbicara mengenai istrinya.
"Oh, iyakah...oke, semoga sukses ya dan istrimu secepatnya bisa hamil." Mengatakan dengan lugas dan tersenyum namun, didalam hati ia begitu dongkol.
"Maaf ya, Ziv. Bukannya aku mengusirmu. Tapi, aku harus segera pulang. Istriku pasti sudah menunggu di rumah."
"Wah, kebetulan. Boleh kan aku ikut? Sudah lama sekali tidak bertemu tante Malika...kangen sekali."
Sontak Abiseka membulatkan matanya. Ia tidak mungkin mengajak Zivanya bersamanya. Sedangkan ia bukan ingin ke kediaman Jayendra melainkan ke rumah bulek Lastri. Sepertinya Abiseka harus mencari alasan yang logis agar wanita itu tidak menaruh curiga.
"Sorry lagi Ziv, sepertinya kamu tidak bisa ikut. Karena aku terlebih dahulu ingin menjemput istriku di rumah orang tuanya. Faiha sedang mengunjungi ibunya dan menginap selama beberapa malam disana. Aku tidak ingin ada kesalah pahaman jika kamu ikut bersamaku. Rasanya tidak etis dan aku tidak ingin membuat istriku salah paham. Kamu mengerti, kan?"
Jlebb
Bagai tertancap duri yang tajam. Zivanya merasa sesak dan sakit hati. Sebenarnya ia memiliki misi dan tujuan mendekati laki-laki yang pernah menaruh hati padanya.
Besambung
__ADS_1
Haduh deh, kayamnya bibit pelakor sudah muncul nih? Semoga Abiseka tidak tergoda.
Bagaimana nasib pernikahan Abiseka dan Faiha selanjutnya? Jawabannya akan ada di next bab...oke, selamat membaca.