Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
37. Kecoa dan gigitan nyamuk besar


__ADS_3

"Ee—malah bengong dia."


"Aaaahhh–"


Tubuh Faiha di bopong bagaikan sekarung beras lalu, di lempar ke atas tempat tidur dengan kasar.


"Aduh—bokongku." Meringis sambil mengusap-usap bagian yang terasa nyeri.


Sedangakan si pelaku malah tersenyum menyeringai melihat penderitaan istrinya akibat dari perbuatannya.


"Lebay kamu, cuma pelan gitu aja kok kesakitan."


"Ini sakit beneran tahu, Tuan. Kemarin pinggang saya yang hampir patah, sekarang bokong saya. Nasib-nasib punya suami–" Faiha tak melanjutkan perkataannya karena mendapat tatapan mematikan dari suami dinginnya namun suka usil itu.


"Punya suami apa? Hah...ayo bilang!" Merangkak naik ke atas tempat tidur dan mulai mendekati Faiha.


"Su–oh, bukan apa-apa kok, Tuan. Saya cuma asal bicara saja. Tu‐tuan mau apa?" Abiseka semakin mendekat dan memangkas jarak diantara mereka hingga Faiha beringsut mundur hingga mentok di kepala ranjang, Faiha sudah tak bisa berkutik dibuatnya.


Tiba-Tiba saja tubuh besar sudah berada di atasnya dan wajah mereka hanya berjarak 5 cm. Mata Faiha terbelalak dan menahan nafas namun, jantungnya berpacu semakin kencang. Bahkan mungkin Abiseka bisa mendengar suaranya.


Cup


Merinding–seluruh bulu kuduknya ketika sebuah sentuhan lembut nan basah mendarat di lehernya dan menghisap seperti vampire. Tubuh Faiha semakin membeku tak bisa memberontak seperti biasanya yang ia lakukan jika mendapatkan serangan mendadak seperti yang ia dapatkan saat ini.


"OMG— apa yang barusan dia lakukan?"


"AAAHHH–"


"Mmmppm—" Mulutnya langsung di bekap oleh telapak tangan besar Abiseka.


"Ssttt–diamlah, jangan berisik nanti semua akan mendengar teriakanmu!"


Benar saja, baru saja Abiseka berhenti berucap terdengar suara gedoran pintu kamarnya dan teriakkan.panik seorang wanita, siapa lagi kalau bukan mama Malikalah orangnya.


Dugh dugh dugh


"Faiha–Abi, apa yang terjadi? buka pintunya!"


Tak ingin pintunya di dobrak, Abiseka pun segera beranjak turun dari atas ranjang dan bergegas membukakan pintunya.


ceklek


Krett


"Faiha, kamu tidak apa-apa kan, sayang. Apa yang telah terjadi? Kenapa kamu berteriak sekeras itu?" Mama Malika memeriksa keadaan sang menantu, wanita paruh baya itu sampai naik keatas tempat tidur.

__ADS_1


"Tidak terjadi apa-apa kok,Ma. Tadi ada kecoa dan saya takut sekali. Itu saja, Mama tidak usah khawatir." Faiha memberi alasan yang logis.Tidak mungkin kan ia mengatakan kalau baru saja akan di serang oleh putra kesayangannya.Malu sangat,kan. Abiseka menahan senyum menyimak àkting istri mungilnya itu yang sangat lucu.


"Selamat pagi, Ma,Pa."


"Selamat pagi, sayang. Ayo cepat, kita sarapan!"


"Iya Ma....hoamm." Faiha menutup mulutnya dengan telapak tangan karena menguap. Ya, setelah kejadian semalam.Tepatnya ketika Abiseka hampir saja menyerangnya. Faiha sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.


Entah mengapa ia begitu takut suami jahilnya itu akan melakukan sesuatu yang memang semestinya dilakukan oleh pasangan suami istri.Hingga pukul 3 pagi ia baru jatuh tertidur tak tahan menahan kantuknya.


Mama Malika yang memang sejak tadi memperhatikan gerak gerik sang menantu, tentu saja tidak tahan untuk segera berkomentar.


"Sayang, kamu masih mengantuk? Memangnya semalam kamu tidur jam berapa, apa ada kecoa lagi yang mengganggu? Tapi, ya kok aneh sih. Kayaknya ngak mungkin deh di rumah kita ada kecoanya.Itu serangga datang dari mana ya?"


"Datang dari luar rumah lah, Ma. Kecoa itu datang untuk mengunjungi temannya." Abiseka mesem-mesem menahan tawanya sambil melirik istrinya.


"Iya kah? Siapa temannya itu?" Mama Malika yang polos(?) menanggapi gurauan putranya dengan mimik serius.


"Ya Faiha lah, temannya itu. Kan yang di hampiri Kecoa dia." Tawa pun langsung pecah dari bibir sexy milik Abiseka. Wajah Faiha langsung cemberut.


Mama Malika memelototi putranya yang ternyata begitu jahil pada istrinya. Mendapatkan tatapan mematikan dari sang mama, pria tampan itu pun langsung bungkam tak meneruskan candaannya lagi.


Tapi, kemudian mama Malika yang tersenyum karena menangkap sesuatu yang janggal pada tubuh Faiha.Dan hal itu tentu saja membuat wanita paruh baya itu merasa senang. ia melihat ada sebuah tanda merah di leher putih menantunya.Mama Malika tentu saja tahu apa penyebabnya. Ia pun tanpa ragu menggoda Faiha.


"Eh, apa ya Ma?" Menyentuh lehernya sendiri.


"Lehermu, ada tanda kemerahan."


Uhuk uhuk


"Kamu kenapa,Bi?" Abiseka langsung tersedak, ia langsung meraih gelas yang berisi air putih dan menenggaknya hingga tandas. Abiseka tentu saja tahu kalau tanda itu adalah hasil karyanya semalam.


"Hah–Merah?"


Blush


Seketika wajah Faiha memerah teringat akan kejadian semalam dan ia baru menyadari tanda tersebut yang sudah pasti apa penyebabnya dan siapa lagi kalau bukan hasil dari mahakarya si Abiseka.


"Oh, i‐ini bekas digigit nyamuk gatal sekali dan saya menggaruknya." Jawabnya canggung.


"O–nyamuk ya?" Sambil melirik kearah sang putra.


"Apa nyamuknya besar dan berkepala hitam?" Semakin gemas ingin menggoda menantu polosnya itu.


"Iya Ma, sangat besar. Sakit sekali saat di gigitnya." Dengan polosnya Faiha malah meladeni candaan ibu mertuanya yang gesrek itu.

__ADS_1


"Sudah-sudah, lanjutkan saja makan kalian.Mama ini selalu saja membuat drama saat di meja makan. Tuh lihat, menantu kita jadi malu kan. Soal begitu saja Mama tanyakan? Tabu tahu, Ma." Papa Aryan merasa kasihan melihat Faiha yang kikuk.


"Aduh, begonya aku ini. Kejebak deh sama pancingannya mama Malika.Mana ada nyamuk yang gede trus kepalanya hitam...tapi, memang nyamuk kepalanya hitam,kan. Ish...ini semua.gara-gara perbuatan si kanebo garing.Trus gimana dong ini nutupinnya.Bisa malu nanti kalau di lihat teman-teman di kantor." Faiha malah asik bermonolog sendiri.


"Hei–Faiha! malah melamjn dia. Ayo, kamu mau berangkat ke kantor.ngak?" Itu Abiseka yang menegur istrinya yang tengah melamun.


"I–iya, Mas. Berangkat yuk!" Tanpa sadar seakan berbicara dengan seorang teman akrab.


Mereka melangkah beriringan kedepan rumah menuju ke mobil Abiseka. Di mobil sudah stadby Heru yang sudah menunggu boss nya untuk berangkat ke kantor.


"Selamat pagi Tuan, Nona."


"Selamat pagi, Pak Heru. Apa kabar?" Faiha tersenyum ramah.


"Baik, Nona. Terima kasih." Heru melirik sekilas pada sang boss dan sontak menundukkan kepalanya karena mendapatkan death glare dari Abiseka.


"Mati aku, lagian ngapain sih nona Faiha pake acara ramah tamah dan senyum segala.Jadi cemburu kan, suami galaknya." Heru merutuki kecerobohannya telah menanggapi istri bossnya.


Seperti biasa, Faiha turun di lantai basement.gadis itu pun bergegas membuka pintu mobil. Namun, baru saja ia akan menurunkan satu kakinya tiba-tiba Abiseka menyeletuk dan sontak membuat Faiha mengernyit bingung.


"Jadi cewek tuh ngak usah kecentilan, tebar senyam senyum sama semua cowok. Sok kecantikkan banget." Berbicara agak ketus lalu, membuang muka.


"Ih, dia kenapa sih? Aneh...agak-agak deh?"


"Kamu bilang apa barusan?" Ternyata Abiseka mendengar umpatan istrinya.


"Oh–saya ngak ngomong apa-apa kok, Tuan. Kalau begitu saya permisi.Terima kasih pak Heru." Heru tak berani bersuara apalagi tersenyum pada istri boss nya yang sungguh manis dan menggemaskan itu. Bisa kena semprot seharian ia jika berani melakukannya.


"Selamat-selamat. Ternyata si boss tipe pencemburu. Mengerikan,harus lebih berhati-hati dalam bersikap pada bu boss." Heru menggelengkan kepalanya.


"Sekarang malah kamu yang bengong. Mikirin apa kamu? Si cewek centil itu?" Lagi-lagi Abiseka mencurigai sang asisten yang di nilai terlalu ramah pada istrinya.


Siang hari di ruang pantry semua tengah berkumpul untuk makan siang bersama. Ada Susan,Lia, Ardi dan Faiha tentunya.


"Ajib–enak banget nih ayam gepreknya. Besok beli di sana lagi ya, guys." Ardi begitu menikmati menu makan siangnya.


"He'eh, yummy banget." Lia yang ikut mengomentari.


"Cie cie...yang semalam habis tempur. Gigitannya cetar membahana, merah merekah?" Susan yang tak sengaja menangkap ada sesuatu yang janggal di leher Faiha langsung ngeh dan menggodanya.


Sedangkan Ardi yang ikut beralih melihat leher Faiha langsung lesu dan lemas. Ambyarrlah hatinya.


"Uhuk uhuk–"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2