Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
94. Mau atau tidak?


__ADS_3

Seminggu sudah sejak insiden tendangan maut Asri. Kini gadis itu bisa bernafas lega karena kondisi kesehatan Ferdy sudah sehat seperti sedia kala dan si joni juga telah kembali normal.


"Kamu kenapa sih, As...lesu banget?Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan om Ferdy. Kapan rencana kalian menikah. Ngak nyangka ya ternyata jodoh kita ngak jauh-jauh. Tapi, bagus sih jadi kita akan mudah kalau ingin bertemu dan kumpul bareng. Secara para suami kita kan berteman dekat." Hani terus saja berceloteh tentang masa depan.


Asri tak menanggapi segala ucapan Hani. Gadis itu menelungkupkan wajahnya diatas meja. Entahlah, Asri semakin bingung dan tak tahu harus berbuat apa.


Sebab dua hari yang lalu orang tua Ferdy datang berkunjung ke Aparteman tempat tinggal pria itu. Dan yang membuat Asri semakin gundah gulana karena mereka telah salah paham akan hubungannya dengan Ferdy. Mengira Asri adalah calon istri putra mereka.


"Mumet aku Han. Harusnya kan perjanjianku untuk merawat om Ferdy sudah selesai. Bahkan dia sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Lalu, sekarang bagaimana ini. Masa' orang tuanya mau segera melamarku." Asri mengusap wajahnya frustasi.


"As, memangnya kamu sama sekali ngak ada rasa suka gitu sama om Ferdy? Om Ferdy itu laki-laki yang sangat baik loh, As.Dulu...waktu aku mau mendatangi mas Andre ke apartemennya, om Ferdy lah yang menasehatiku bahwa apa yang aku lakukan itu tidak baik. Mendatangi seorang laki-laki lajang seorang diri."


"Aku tahu maksud om Ferdy baik, dia ternyata sangat melindungi kaum perempuan tak memandang siapa pun orangnya. Kamu sangat beruntung As kalau sampai jadi istrinya."


"Hh–ngak tahu lah, Han. Aku masih bingung. Lagi pula kamu tahu sendiri bagaimana kondisi keluargaku dan keluarganya. Bagaikan langit dan bumi.Aku ngak berani."


Dari perkataan Asri, Hani akhirnya mengerti apa penyebab sahabatnya itu menolak Ferdy. Jadi, hanya karena masalah perbedaan status sosial saja.


"Emm, aku mengerti sekarang. Permasalahannya bukan karena kamu ngak suka sama om Ferdy akan tetapi soal status sosial, ya kan?"


Hani mengangguk dan tersenyum pada sang sahabat."Kamu ngapain senyam senyum gitu sih, Han?jangan berpikiran macam-macam ya!" Asri jadi curiga melihat gelagat aneh Hani.


"Idih, siapa yang mau macem-macem. Tenang...cuma semacam aja, kok." Jawabnya menyengir kuda.


"Sudah ah, ngak usah ngebahas itu terus. Pokoknya nanti sore aku akan berpamitan sama om Ferdy. Tanggung jawabku telah usai. Akhirnya aku bisa kembali ke kehidupan normal seperti dulu. Leganya–"


Mendengar rencana sang sahabat, Hani gegas mengirimkan pesan kepada seseorang.


"Ma, nanti sore Asri mau pamitan sama om Ferdy. Menurut Asri tugas dan tanggung jawabnya sudah selesai. Bagaimana ini, ma?" Hani juga menceritakan jika Asri bukannya tidak suka dengan Ferdy akan tetapi perbedaan status sosiallah yang menghalangi hubungan mereka. Asri merasa rendah diri merasa tak pantas bersanding dengan Ferdy yang notabenenya dari kalangan atas.


"Begitu–baiklah, kamu tenang saja mama akan menyelesaikannya dan di pastikan Asri tidak akan pernah lepas dari Ferdy. Mereka akan segera bersama selamanya. Oke, mama harus bergerak cepat. bye bye–."


Hani tersenyum membaca balasan pesan dari mama Malika. Jika mama Malika sudah bertindak maka, semua akan beres.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? hem, pasti habis chattingan sama om Andre ya?"


"Hei, jangan panggil my hubby om am om, dia ngak setua itu kali. Begitu juga sama om Ferdy...coba biasakan jangan memanggilnya om juga. Masa' sama calon suami manggil om, sih. Upss–.' Hani menutup mulutnya karena keceplosan bicara.


Asri lagi-lagi tak menggubris omongan Hani. Gadis muda itu menggeleng dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kelas.


"Woii–Asri tungguin dong, tega ya kamu ninggalin bumil."


"Iya iya, dasar bumil manja.Ayo, sini aku gandeng nanti ketinggalan lagi." Asri terkekeh geli


Sementara itu di kediaman Jayendra, mama Malika mulai bergerak cepat. Wanita paruh baya itu langsung menghubungi ibunya Ferdy.


"Assalamuallaikum, jeng Anita."


"Wa'allaikumsalam, jeng Malika. Ada apa ya tiba-tiba telpon?"

__ADS_1


"Kita harus ketemuan sekarang juga,urgen. Ini tentang mas depan putramu, jeng.Aku akan kerumahmu sekarang, kita harus bergerak cepat. Karena jarak rumahmu lebih dekat dari aparteman Ferdy. Oke, aku otw sekarang."


"Oke, aku tunggu."


Kediaman Wirakusuma.


"Hai, jeng Anita apa kabar?" Kedua wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya itu saling berangkulan dan bercipika cipiki.


"Alhamdulillah baik. Ayo, masuk!"


Mereka kini berada di ruang tengah membahas tentang nasib dan masa depan si tampan Ferdy.


"Kita harus segera melaksanakan rencana B!"


"Rencana B, apa itu?" Mama Anita memang belum di ajak rembukkan perihal rencana perjodohan antara Ferdy dengan Asri.


"Begini, jeng. Asri itu adalah gadis sederhana dan dari kalangan biasa. Keluarganya tinggal di kampung halamannya yaitu di Jogja. Ayahnya Asri seorang ASN dan ibunya seorang guru sekolah dasar. Makanya, itulah yang membuat Asri merasa tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Wirakusuma."


"Sebelumnya aku minta maaf. Begini...menurut jeng Anita gadis itu bagaimana? Maksudku apakah jeng Anita dan mas Ferry bisa menerima keadaan Asri yang hanya dari kalangan biasa saja."


"Jujur, sejak pertama bertemu dengan Asri, aku sudah menyukainya. Dia gadis yang ramah dan sopan santun juga rajin, mandiri dan yang pasti cantik dan mungil. Sungguh menggemaskan."


Mama Anita tersenyum dan mengangguk setuju."Ya, benar. Gadis itu memang sangat manis dan yang membuat kami semakin kagum dan yakin adalah pada saat Asri merawat Ferdy dengan telaten. Sepertinya gadis itu sangat cocok untuk putra kami."


"Jadi, kalian sama sekali tidak mempermasalahkan status sosial keluarganya?" Mama Anita tersenyum dan mengangguk.


"Alhamdulillah. Syukurlah, tadinya aku sempat khawatir jika kalian tidak akan menerima Asri."


Mama Malika sungguh mengucap syukur pada tuhan yang maha esa. Bak gayung bersambut cinta Ferdy dan Asri Telah mekar sejak kebersamaan mereka disetiap hari. Cinta datang karena terbiasa.


"Alhamdulillah. Semoga jodoh mereka bisa sampai kepelaminan dan selamanya bersama."


"Aamiin. Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang? Jeng Malika punya rencana apa lagi?"


Mama Malika menepuk jidatnya, " Astaqfirullah. Sampai lupa tujuan aku kesini.Begini jeng...menurut informasi yang diberikan oleh Hani, Nanti sore Asri akan berpamitan pada Ferdy. Dan kita harus menghentikannya, aku punya jurus jitu dan juga kartu as untuk membuat gadis itu tak berkutik."


"Benarkah, apa itu?"


"Pokoknya ada.deh. Jeng Anita ikuti permainanku saja, oke!?" Mama Anita pun mengangguk patuh.


"Sip lah, ayo kita bersiap-siap menyusun strategi jangan sampai Asri lepas dari genggaman kita."


"Aih, kamu ini sudah seperti kepala geng saja yang sedang mau perang. Jeng Malika ini ada-ada saja deh. Ayoklah ...semangat!" Mama Anita begitu antusias demi masa depan putra tercintanya. Kedua wanita paruh baya itu pun segera bergegas menuju ke Apartemen Ferdy.


The Langham Residences


Ting tong


Ceklek

__ADS_1


"Dek Asri–tumben sekali sore-sore kamu datang. Masuklah!"


Ferdy juga baru saja pulang kantor, bahkan belum membersihkan diri. Masih memakai kemeja biru navy nya yang telah digulung sampai siku.Sungguh menambah kadar ketampanan seorang Ferdy Wirakusuma salah satu pebisnis muda yang sukses. Asri hampir tak berkedip manatap sosok Ferdy yang tampak cool dan semakin mempesona.


"Hei–hallo, dek Asri...ada apa,kenapa malah bengong?"


"Eh, Ma–maaf om. Ada yang ingin saya bicarakan pada om soal kontrak perjanjian kita. Emm...begini, berhubung kondisi om Ferdy sudah sehat. Maka, dari itu saya rasa saya tidak perlu lagi menjalankan kewajiban untuk merawat om. Dan saya harap urusan diantara kita cukup sampai disini saja. Saya akan menjalani kehidupan sehari-hari dengan normal kembali seperti sebelum kejadian itu."


"Duduklah dulu, kenapa sih seperti terburu-buru sekali. Apa sebegitu inginnya segera pergi meninggalkanku?"


"Hah–maksud om Ferdy apa? Kan kita tidak ada hubungan apa-apa hanya sebatas pertanggung jawaban atas perbuatan saya yang telah membuat om hampir celaka. Untuk yang terakhir kalinya saya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya."


Asri menangkupkan kedua telapak tangannya didada memohon maaf dengan senyumnya yang manis dan tulus.


"Enggak–siapa yang bilang kalau tanggung jawabmu sudah selesai? bukankah tante Malika bilang kamu harus menikahiku. Kamu yang akan memastikan si joni masih berfungsi atau tidak."


Mata bulat Asri terbelalak mendengar perkataan ambigu Ferdy. Bisa-bisanya pria itu akan menjadikannya percobaan uji kelayakan alat reproduksinya itu. Asri jadi bergidik ngeri membayangkannya.


"Berfungsi, maksudnya saya harus tidur dengan om, begitu?" Upss...Asri.menutup mulutnya yang bicara tanpa filter.


"Itu kamu loh yang bilang, bukan aku. Bagaimana, kita akan segera menikah dan setelah itu...kamu pasti sudah mengerti kan apa yang kumaksud?"


Tiba-tiba Ferdy berpindah duduk tepat disebelah Asri bahkan tubuh mereka sampai saling berdempetan seperti didalam angkot.


"Om, mau apa?I–itu saja ya om yang ingin aku sampaikan. Saya harap om Ferdy mau memaafkan perbuatan tidak disengaja saya dengan tulus. Kalau begitu saya permisi."


GREPP


"Kyaaa–!'


"Mau kemana? Siapa yang mengizinkanmu pergi, hemm–?


"Bukankah sudah kubilang tanggung jawabmu belum selesai, kita akan menikah secepatnya. Dek Asri mau kan menjadi pendamping hidupku dan menjadi ibu dari anak-anak kita kelak, sampai maut memisahkan ." Ajip...puitis banget si om Ferdy.


"Ayo jawab? Mau atau tidak?"


Kini tubuh mungil Asri sudah berada dalam kekuasaan Ferdy. Laki-laki itu mengungkung tubuh sang gadis di bawahnya. Bahkan jarak diantara wajah mereka hanya sekitar 5 cm saja dan dapat merasakan hembusan nafas masing-masing.Posisinya saat ini sungguh terlihat erotis dan sangat intim. Siapa pun yang melihatnya pasti akan berpikiran yang iya iya.


"Ti–Mau–."


"Jawab yang jelas, katakan sekali lagi!"


"Aku mau menikah dengan om Ferdy."


Mendapatkan tatapan mematikan dari wajah tampan Ferdy membuat Asri yang tadinya ingin menjawab tidak malah berubah jadi mau. Terlena oleh pesona Ferdy membuat pikiran Asri langsung oleng.


"Good girl, terima kasih mau menerimaku untuk menjadi calon pendamping hidupmu."


CUP

__ADS_1


" Woww–so sweet!"


Bersambung


__ADS_2