
Usai menerima telepon dari mama Malika, Abisek segera meluncur pulang. Dari nada suara sang mama, ia yakin kalau ada yang tidak beres. Sepanjang perjalanan Abiseka terus berpikir akan kemungkinan masalah apa yang kini tengah terjadi. Setahunya semua baik-baik saja. Perkerjaan kantor, Perusahaan lancar jaya dan pernikahannya juga sudah berjalan normal selayaknya pasangan suami istri lainnya.
"Kira-kira ada apa ya? Mama ini selalu saja bikin jantung deg deg kan. Faiha perlu diberitahu tidak, ya?ah...aku rasa jangan dulu, belum tahu juga apa yang terjadi." Abiseka masih berpikir keras dan bermonolog sendiri.
Sampai di teras depan rumah, Abiseka sudah bisa melihat sang mama yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang dengan ekspresi wajah tak bersahabat. Abiseka gegas turun dan segera menghampiri mamanya. Perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak, ia bahkan sampai kesusahan menelan salivanya saking gugupnya.
Mama Malika adalah sosok yang paling di takutinya nomer 1, tak tertandingi jika berdebat dengan wanita paruh baya itu semua pasti akan langsung tak berkutik dibuatnya.
"Assalamuallaikum, Ma." Mencium punggung tangan sang mama
"Wa'allaikumsalam. Masuk!" Perintah mama Malika masih dengan ekspresi datarnya.
Abiseka melangkah membuntuti dari belakang.Setelah sampai di ruang tengah, Mama Malika yang sudah duduk menyender sambil memangku satu kaki jenjangnya. Wanita paruh baya itu tak lepas menatap putranya penuh intimidasi dan Abiseka jelas melrasakan aura gelap disekitarnya.
"Oke, mama akan to the point saja."
"Siapa OG itu? Sejak kapan kamu bermain gila dengan perempuan itu? Apa otakmu sudah tidak waras, hah...menikah saja masih seumur jagung sudah berulah kamu, ya.Kurang apa coba istrimu itu."
"Tu-tunggu dulu, ma! Mama menuduh Abi berselingkuh dari Faiha, siapa yang mengatakan hal itu pada mama?" Abiseka benar-benar tak menyangka jika apa yang dilakukan mereka akhirnya terendus juga sampai ke mamanya.
"Jangan mengelak kamu, mama punya mata-mata di sana dan dia adalah orang yang paling bisa di percaya."
"Siapa? Apakah dia–"
Abiseka mencoba menebak siapa mata-mata itu. Namun, belum juga ia menyebutkannya mama Malika sudah memotong ucapannya.
"Sudahlah, kamu itu ya Bi. Ingat, umurmu sudah tidak muda lagi...bukannya fokus bikinin mama cucu sama istrimu, malah ingin menebar benih kesembarang orang.
Glekk
"Mama ini ya, kalau ngomong suka ngadi-ngadi. Mana ngatain anak sendiri sudah tua lagi, umur Abi ngak tua juga kali ma. Tapi, dewasa...baru juga 36 tahun sudah dibilang tua. Dan satu lagi, siapa yang menebar benih sembarangan? Abi cuma menanam benih pada lahan milik sendiri, hanya sama Faiha...istriku." Kesalnya dikatakan sudah ujur...eh, tua oleh mamanya.
Bukannya marah, mama Malika malah terkekeh geli melihat wajah cemberut sama sekali tidak ada unyu-unyunya malah terlihat lucu
"Mama malah tertawa sih?"
"Heheh–iya iya, maaf.habis wajahmu itu bikin bgak tahan."
"Ekhem, baiklah...kalau kamu tidak mau mengaku juga. Mama akan mencari tahu sendiri."
__ADS_1
"Terserah mama, sudah kan interogasinya? Aku mau kembali kekantor, Faiha pasti menungguku."
"Faiha sekarang ada perusahaan, kenapa kamu ngak bilang sama mama. Kalau begitu mama akan ikut denganmu. Ada yang mama ingin bicarakan dengan Faiha."
Sepertinya mama Malika tidak menyadari Abiseka yang leceplosan bicara dan bersyukur sang mama tidak menyadarinya.
"I–itu ma, sepulang dari kantor nanti kami mau ke suatu tempat. Jadi, please ya ma...jangan ganggu kami dulu.Kan mama yang menyuruh kami agar lebih banyak menghabiskan waktu berdua saja.Mama ngerti kan apa yang Abi maksud?"
"Hufh, iya ya...ya sudah, cepat sana pergi.Kasihan Faiha!"
"Asiapp ibu ratu Malika." Memberi gerakan hormat.
"Hei, tunggu dulu...urusan kamu sama mama belum selesai ya. Mama akan tetap menyelidikinya, awas saja kalau gosip itu benar." Mama Malika masih belum mempercayai Abiseka yang katanya tidak pernah ada main di kantor dengan seorang OG.
Dari dalam lubuk hatinya,Mama Malika berharap kalau berita itu tidak benar hanya gosip tak mendasar. Kalau di pikir-pikir sih tidak masuk akal juga kalau seorang Abiseka berselera dengan seorang OG.
"Ck, dasar anak bodoh. Kalau sampai itu benar. Berarti otaknya si Abi perlu di laundry dulu biar bersih dari segala macam gangguan dan godaan para wanita di luar sana. Jauh lebih baik Faiha kemana-mana."
Keesokkan harinya mama Malika sama sekali tak membahas masalah tentang gosip panas skandal Abiseka dan seorangn OG di kantornya. Karena mama Malika ingin menjaga perasaan menantunya.
"Hari ini ke kantpr kan, sayang?" Tanya mama Malika pada sang menantu.
"Mama bertanya sama siapa?" Abiseka
Faiha agak bingung dengan sikap mama Malika yang tampak ada sesuatu, sebab tumben-tumbenan mengajaknya ketempat perawatan kecantikkan. Kenapa? Apa karena Faiha terlihat kurang cantik dan terawat. Itulah yang saat ini ada di benak Faiha.
"Kenapa ya? Apa memang aku terlihat kurang cantik, karena tidak pernah ke tempat perawatan kecantikkan seperti itu?mas Abi tidak pernah komplain macam-macam deh? Apa perlu aku melakukannya?" Monolog Faiha didalam hati.
Beda dengan Abiseka, laki-laki itu malah menaruh curiga pada sang mama. Ia takut mamanya akan menceritakan gosip murahan tentang dirinya di kantor. Tapi ia juga penasaran apa Faiha sudah mendengar hosip panas itu. Tapi, kan OG yang dimaksud itu ialah Faiha,istrinya sendiri.
"Faiha kira-kira tahu tidak ya masalah gosip itu? Tapi, sejak pulang dari kantor ia sama sekali tidak membahas masalah itu, nanti akan aku tanyakan langsung saja." Abiseka.
"Emm, gimana ya ma. Faiha sih mau-mau saja.Tapi, kan Faiha harus bekerja. Lain waktu saja ya ma kalau Faiha sedang libur." Jawab Faiha.
"Betul apa yang dikatakan istriku, ma.Lagi pula Faiha itu sudah sangat cantik kok bagi Abi.Cantik luar dalam, iya kan sayang?" mengedipkan matanya genit pada Faiha.
"Ish–dasar suami mesum." Faiha melirik suaminya.
"Kalau urusan itu gampang, sayang. Mama bisa meminta izin langsung sama boss mu itu. Andre pasti tak akan menolak permintaan mama."Tak menggubris omongan Abiseka.
__ADS_1
"Ma, ya ngak bisa gitu juga kali ma. Memangnya Andre itu anak mama yang bisa diatur semau mama sendiri apa? ya ngak enak." Abiseka semakin ketar ketir kalau sampai mamanya itu mendatangi Andre ke perusahaannya dan tak menemukan Faiha di sana. Bisa runyam urusannya.
"Apa sih kamu Bi, sepertinya tidak senang kalau mama ingin mempercantik Faiha? Sesekali boleh lah, masa' setiap hari cuma kerja kerja saja. Ya kan, sayang. Ikut mama oke!"
"Faiha manut mama saja, deh." Jawabnya sambil tersenyum meringis.
"Tuh, istrinya saja mau.Suaminya yang malah keberatan.Nanti mama atur ya sayang, tenang saja!" Faiha pun mengangguk mengiyakan keinginan mama mertuanya itu.
Gedung Mendiza Group
Benar saja, siangnya mama Malika benar-benar mendatangi Andre.
"Permisi Bu, apa ada yang bisa saya bantu?" Seorang resepsionis bertanya tentang kepentingan mama Malika yang datang berkunjung.
"Apa Tuan Andre Mendoza ada? Saya ingin bertemu dengannya?"
"Maaf ibu, apa anda sudah membuat janji dengan beliau?"
"Belum.Tapi, tolong sampaikan kalau Malika Jayendra ingin bertemu. Katakan itu saja!"
"Baik, ditunggu sebentar ya Ibu!" Mama Malika mengangguk.
Dan sang resepsionis itu pun segera menghubungi langsung ke sekretaris Andre.
"Maaf bu, ini ada tamu yang ingin bertemu dengan Mr.Andre. Nama nya Nyonya Malika Jayendra."
"Oh iya, Mr.Andre bilang suruh langsung ke atas saja!" Jawab sang sekretaris.
"Maaf ibu, anda di persilahkan langsung ke ruangan Mr.Andre." Tersenyum ramah.
"Oke, terima kasih ya mbak."
"Sama-sama, Ibu."
Baru saja mama Malika akan memasuki lift, tiba-tiba ada suara seseorang yang menyapanya.
"Tante Malika?"
Bersambung
__ADS_1
Hayo, siapa itu yang menyapa mama Malika?
Maaf kemarin ngak update, ada suatu halangan. Biasa emak-emak. Hehehe