Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
78. Nyonya Boss


__ADS_3

Pagi itu Andre sedang berada dalam perjalanan menuju ke perusahaannya. Tetiba pandangannya menangkap sosok gadis manis bertubuh mungil dengan seragam sma nya tengah berdiri disebuah halte bis. Andre pun berhenti tepat di depannya.


"Hai Hani, selamat pagi. Mau kesekolah ya, ayo mari aku antar!" Andre tidak turun, ia hanya membuka kaca mobilnya.


Hani agak membungkukkan badannya agar bisa melihat orang yang berada di kursi kemudi. "Oh, om Andre. Selamat pagi juga. Tidak usah om, terima kasih.Aku akan naik bis saja. Sebentar lagi juga akan lewat, kok. Silahkan om Andre duluan saja." Hani mengangguk dan tersenyum ceria.


Sesaat Andre terpana meihat senyum manis si gadis belia yang masih berdiri ditempatnya tak merespon ajakannya.Andre sudah tak sabar, ia pun segera turun lalu menghampiri Hani, tanpa berkata apapun Andre langsung menarik tangan Hani dan menggiringnya untuk masuk kedalam mobil.


"Eh, om mau apa?"


"Kan sudah aku katakan mau mengantarkanmu ke sekolah." Andre menyalakan kembali mesin mobilnya dan segera berangkat menuju ke sekolah Hani.


Ketika sampai di perempatan lampu merah, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat keberadaan Hani yang berada didalam sebuah mobil mewah. Ya orang itu adalah Faiha kakak dari Hani. Tentu saja berbagai praduga dan pertanyaan yang berkelebat di pikirannya. Apakah gadis berseragam sekolah itu adalah sang adik ataukah Faiha hanya salah lihat.


Sedangkan Abiseka berbeda, ia tentu saja sangat mengenali mobil tersebut. Sang pemilik Maybach Exelero itu adalah Andre.


Namun, tak berapa lama terdengar dering dari dalam tas ransel Hani. Gadis itu pun segera mengambilnya lalu menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari sang kakak.


" Assalamuallaikum. Iya mbak Fai, ada apa pagi-pagi sudah telepon aku?"


Mendengar Hani yang memanggil si penelpon dengan sebutan Mbak Fai, tentu saja Andre tahu kalau itu adalah Faiha. Andre sontak menoleh kearaha samping dan menajamkan pendengarannya menyimak perbincangan kakak beradik tersebut.


"Dek, apa tadi kamu kesekolah diantar oleh seseorang? Tadi, sepertinya mbak melihat kamu ada didalam sebuah mobil mewah. Tapi, mbak tidak melihat dengan begitu jelas siapa laki-laki yang ada bersamamu ."


DEG


"Oh, i–itu... Hani menoleh kesamping meminta pendapat apa yang sebaiknya ia katakan pada sang kakak. Andre menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara dan Hani paham ia pun mengangguk.


" Mbak salah lihat kali, itu bukan Hani. Sekarang Hani sudah sampai disekolah sejak dari setengah jam yang lalu." Bohongnya.


"Begitu, o ya sudah. Berarti tadi mbak yang salah lihat. Kamu baik-baik dan belajar yang rajin, sebentar lagi mau ujian akhir, kan."


"Iya mbakku yang cantik, aku pasti akan belajar dengan serius agar lulus dengan hasil terbaik. Sudah ya mbak, aku mau masuk kekelas dulu. Assalamuallaikum."


"Wa'allaikumsalam."


"Ish–ni anak main tutup aja, mbak nya belum selesai ngomong juga." Kesalnya karena teleponnya langsung ditutup oleh adiknya.


Abiseka melirik sekilas dan melihat wajah manyun sang istri. "Ada apa sih, pagi-pagi sudah cemberut gitu. Memang apa yang di bilang sama Hani? Benar kan apa kata mas kalau itu bukan Hani, kamu yang salah lihat."

__ADS_1


Didalam hati Abiseka merasa lega karena Faiha tak mengenali Andre dan untungnya lagi Andre mengendarai mobil barunya. Jadi, tentu saja Faiha belum mengetahuinya.


Jayendra Group


Pasangan calon orang tua baru itu pun akhirnya telah sampai di depan gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Abiseka membukakan pintu mobilnya untuk Faiha, setelah itu mereka berjalan berdampingan dengan Faiha yang bergelayut manja dilengan Abiseka.


Ketika langkah mereka mulai memasuki lobby kantor, seluruh pasang mata menatap kearah pasangan tersebut. Para karyawan tampak begitu terkejut karena untuk pertama kalinya dapat melihat sosok sang nyonya boss.


"Eh, itu nyonya boss kita ya. Cantik banget ya. Tapi, kok wajah sama postur tubuhnya agak familiar ya? Seperti kenal?" Salah satu karyawan berbisik pada rekan kerjanya.


"Hush–jangan sembarangan bicara lo, mau nanti dipecat jadi pengangguran baru rasa."


"Iya iya, maaf."


"Makannya hati-hati dalam berucap, nanti kalau sampai Pak Heru dengar baru nyaho lo." Sang rekan kembali memperingatkannya.Dan mereka pun tak lagi saling berkasak kusuk. Begitupun para karyawan lainnya tak berani berkomentar apapun. Mereka malah mengangguk hormat ketika sang boss dan nyonya dengan mesranya berjalan melewati mereka menuju ke lift khusus para petinggi perusahaan.


"Mas, sepertinya para karyawan sedang membicarakanku deh, apa jangan-jangan mereka mengenaliku ya?" Ketika sudah berada didalam lift Faiha baru berani mengungkapkan kegundahannya. Ia takut jika akan mendapatkan cemoohan karena pastinya mereka menganggap Faiha yang mantan seirang OG kini menjadi nyonya muda Jayendra.


"Selamat pagi boss...nyonya." Sang sekretaris langsung berdiri dari kursinya memberikan salam hormat pada sang atasan beserta istrinya.


Ya, Dini sekretaris Abiseka telah mengetahui kalau istri dari boss nya itu adalah Faiha. Dan sikapnya pun sekarang telah berubah 180 derajat yang tadinya meremehkan namun, sekarang sikapnya penuh rasa hormat. Tentu saja ia tak ingin di pecat jika masih bersikap tak ramah pada Faiha sang nyonya boss.


"Kayaknya aku kepingin minum lemon tea deh, mas. Sama itu...em, nasi kuning pakai perkedel kentang." Faiha mengatakan apa yang diinginkannya.


Kening Abiseka mengernyit, " Kamu masih lapar? apa sarapan tadi kurang?" ups, sepertinya kali ini Abiseka salah berucap dan seketika wajah Faiha berubah cemberut dan menatap sinis Abiseka


"Kenapa meemangnya, mas ngak suka aku makan lagi. Ya sudah tidak apa-apa. Huh–"


BRAKK


Dengan kesal Faiha langsung melangkah masuk kedalam ruangan Ceo dan menutupnya kasar membuat Abiseka sampai kaget dan mengusap dadanya. Namun, ketika ia sadar kalau sang istri yang tengah berbadan tiga itu segera menyusulnya masuk. Sambil komat kamit berso'a semoga Faiha tidak marah yang berkelanjutan.


"Sayang, maafin mas ya. Sayang-sayangnya daddy...maafin daddy juga ya? Kalian masih lapar, mau nasi kuning tunggu sebentar ya."Abiseka langsung merebahkan kepalanya.dipangkuan Faiha dan mengelus lembut sambil mencium perut sang istri yang mulai tampak menonjol. Faiha mengulum senyumannya melihat tingkah manja Abiseka. Rasa kesalnya pun berangsur hilang.


Sementara itu di ruang pantry. Para OB dan OG tengah bergosip ria tentang nyonya boss.


"Apa kalian sudah melihat sosok nyonya boss? aku jadi penasaran banget deh. Dari apa yang ku dengar tadi di toilet, kalau nyonya boss itu sangat cantik dan imut." Lia yang selalu blak-blakkan dalam berbicara.


"Imut? Memangnya anak kecil apa.Hati-hati jangan sembarangan bicara kalian. Nanti bisa kena batunya loh." Itu Susan yang berbicara memperingatkan Lia yang selalu berbicara asal njeplak.

__ADS_1


"Iya iya, sorry."


"Yuhu–Nasi kuning plus perkedel kentang pesanan khusun nyonya boss datang!" Ardi yang ditugaskan untuk membeli nasi kuning pun akhirnya tiba dan langsung menyerahkannya pada Susan.


Setelah siap, Susan pun menyuruh Ardi lagi yang mengantarkan ke ruangan Ceo." Yah, kok gue lagi sih yang harus mengantarkannya?"


"Ya kan sekarang tugas di lantai 15 itu bukannya lo ya, Ar. Udah cepetan sana anterin! Lo ngak mau kan kena damprat boss?" Menyerahkan nampan yang sudah tersusun rapi pesanan sang nyonya boss.


Tok tok tok


"Masuk!"


"Permisi boss, ini pesanan anda–"


"Fa–faiha?" Ardi tampak begitu terkejut melihat sosok Faiha yang berada didalam ruangan sang boss sedang duduk manis bersender di sofa.


"Ekhem– apa yang barusan kamu katakan?"


"Eh, ti–tidak boss.Maafkan saya. Silahkan nyonya, saya permisi."


"Iya, terima kasih ya kak Ardi." Faiha tersenyum manis dan ramah pada Ardi. Abiseka sontak menoleh dan menatap Faiha lalu, beralih menatap tajam Ardi yang langsung ciut dan segera kekuar dari ruangan itu.


"Kamu panggil dia apa? Kak–"


"Lah, memangnya ngak boleh.Dari dulu aku biasa memanggilnya begitu kok, malah biasanya mas bukan kak. Nanti kalau aku memanggilnya mas. Ada yang ngambek. Bagaimana pun dia itu dulunya adalah rekan kerjaku, mas."


"Iya, tapi jangan terlalu akrab dan bersikap manis seperti tadi, mas ngak suka."


"Uluh uluh, daddy kalian ngambek tuh nak.Lebih baik kita makan saja yuk.' Faiha mulai menyantap nasi kuning yang tampak menggiurkan itu. Abiseka hanya tersenyum melihat Faiha yang makan begitu lahapnya.


"Mungkin pengaruh kehamilannya yang kembar jadi, Faiha selalu merasa lapar. Yang penting istri dan calon anak-anakku sehat dan selamat." Monolog Abiseka didalam hati.


"Di, mukamu kenapa abis dari ruangan boss kok kusut gitu?" Susan bertanya ketika Ardi.yang kembali dengan wajah yang berubah suram.


"Apa kalian tahu siapa sosok istri boss kita?" Susan dan Lia pun serempak menggeleng.


"Faiha‐ya, nyonya boss kita adalah Faiha Arsyana –."


"APA!?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2