Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
81. Mommy Diandra


__ADS_3

Sepersekian detik kedua manik mata mereka saling beradu pandang. Lalu, terjadilah begitu saja...kedua bibir mereka sudah saling bersentuhan dan bergerak lembut. Hingga suara pekikkan seorang wanita menghentikan kegiatan uwu keduanya.


"Heiii–apa yang sedang kalian lakukan? ANDREE...!!"


"Mom–mommy!? Kok, mommy sudah sampai, katanya nanti malam?" Bukannya ketakutan, dengan santainya Andre berkata demikian pada mommy nya.


Berbeda dengan Hani, gadis belia itu bersembunyi dibalik tubuh besar Andre dan tanpa sadar menempelkan wajahnya di dada bidang pria itu.


Nyonya Diandra Hapsari Mendoza, adalah ibu kandung si om tampan Andre Mendoza. Kedua orang tuanya tinggal di negara Spanyol tepatnya di Barcelona. Seharusnya beliau baru akan sampai sekitar satu jam-an lagi. Namun, ternyata mommy Diandra tiba lebih cepat dari yang di rencanakan.


Dan apesnya lagi, beliau bertandang langsung ke Apartemen tempat sang putra tinggal. Betapa terkejutnya ia melihat Andre sedang bersama.dengan seorang gadis di dalam kamar mandi dengan posisi yang cukup intim dengan keadaan tubuh keduanya yang basah kuyup.


"Andre–siapa gadis itu dan apa yang sedang kalian lakukan...hah?" Mommy Diandra memelototi sang putra sambil berkacak pinggang.


"Ish, kenapa sih mommy pakai teriak-teriak segala. Sebaiknya mommy keluar dulu, kasihan Hani jadi ketakitan sama mommy!"


Aduh‐aduh, sakit mom–!"


Mommy Diandra menjewer kuping Andre dan menggeretnya keluar dari dalam kamar mandi , menyisakan Hani yang menggigil kedinginan dan juga ketakutan.


Hani sama sekali tak berani keluar, gadis itu terduduk dilantai sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Nak, kenapa kamu masih terdiam disana? Ayo bangunlah dan gantilah pakaianmu yang basah itu!" Mommy Diandra mendekat lalu, membantu Hani untuk berdiri.


"Kenakanlah ini dulu!"


Hani mengangguk dan menerima bathrobe yang di berikan oleh mommy Diandra." Terima kasih, tan–te."


Beberapa menit kemudian Hani keluar dari dalam kamar dan melihat Andre dan ibunya yang sudah menunggunya. Dengan langkah perlahan ia pun menghampiri keduanya.


"Duduklah!" Mommy Diandra menyuruh Hani untuk duduk dengan menunjuk salah satu sisi sofa.


"Disini Han!" Itu Andre yang juga ikut memberi perintah Hani untuk duduk tepat di sebelahnya. Hani menatap bergantian kearah Mommy Diandra dan Andre. Kening Hani mengernyit melihat mata Andre yang kdap kedip memberi kode agar ia lebih menuruti keinginannya.


"Apaan sih om Andre itu, lihat tatapan ibunya saja sudah bikin bergidik ngeri karena kejadian dikamar mandi tadi. ini malah menyuruh aku untuk duduk di dekatnya–" Bukannya segera duduk, Hani malah melamun dan asik dengan pikirannya sendiri.


"Ekhem–kenapa masih berdiri dan malah bengong, cepat...duduklah di sini!" Mommy Diandra menepuk sisi kosong di sebelahnya dan mau tak mau Hani pun menurut saja.

__ADS_1


Mommy Diandra menatap sang putra lalu beralih pada Hani. " Baiklah, aku tidak perlu basa basi lagi. Hanya satu yang ingin aku dengar dari kalian. Sudah berapa lama hubungan terlarang ini berlangsung?"


Mata bulat Hani terbelalak tak menyangka akan pertanyaan yang di lontarkan oleh mommy Diandra. Berbeda dengan Hani, sikap Andre malah tampak biasa saja sama sekali tak memperlihatkan keterkejutannya akan perkataan sang mommy.


"Hubungan terlarang, kenapa mommy bisa berspekulasi seperti itu? Apa mommy diam-diam telah mengutus mata-mata untuk mengawasiku?" Andre berbalik memberikan pertanyaan pada sang mommy.


"Zivanya–ya, beberapa waktu lalu dia memberitahu mommy kalau kamu mempunyai kekasih gelap dan yang lebih parahnya lagi gadis tersebut masihlah dibawah umur. Dan kini mommy sudah membuktikannya sendiri. Andre...Andre, apakah sudah seputus asa itu sampai kamu harus mencari kekasih simpanan. Lihatlah...dia masih sangat belia!" Mommy Diandra menunjuk Hani.


Andre menggelengkan kepalanya, menghela nafas panjang dan menjelaskan kesalah pahaman sang mommy.


"Ckk–lalu, mommy begitu saja percaya padanya? Zivanya itu wanita licik dan penuh ambisi. Mommy belum tahu wajah Zivanya yang sebenarnya, bukan?"


"Apa maksudmu? Jelaskan pada mommy jangan sampai ada yang kalian tutup-tutupi. Jujur sama mommy, kamu dan gadis ini sudah...mengerti kan maksud mommy?"


Hani yang sejak tadi hanya menyimak perbincangan ibu dan putra nya itu jadi semakin bingung dan tak mengerti. Namun, perasaannya mengatakan kalau ada yang tidak beres dan itu juga menyangkut tentang dirinya.


"Maaf, nyonya...apa–"


Baru saja Hani ingin mengungkapkan pendapatnya, mommy Diandra langsung menyelanya.


"Aku rasa kamu mengerti kan apa yang kumaksud?" Mommy Diandra terus menyidutkan Hani yang tak mengerti apapun.


"Om–aku mau pulang. Maaf, nyonya. Anda sudah salah paham. Aku dan om Andre sama sekali tidak–"


"Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang. Tunggulah sebentar, aku sudah memesan baju ganti untukmu. Setelah itu baru kamu boleh pulang. Apa kamu mau pulang dengan mengenakan bathrobe itu?"


" Jadi kalian ingin melarikan diri , begitu. Ndre...sudah berapa lama kamu memakainya?"


DEG


"APA–?" Jeritan dari dalam hati Hani. Di hina dan dituduh sedemikian rupa membuat kepalanya terasa pening.


"Om, maaf aku izin untuk masuk kekamar om. Aku akan berganti pakaian dengan seragam sekolahku saja. Kepalaku sangat pusing."


Belum makan sejak pulang sekolah tadi ditambah berbagai tuduhan yang tidak benar dan menyakitkan. Sungguh, Hani sama sekali tidak menyangka jika ini benar-benar terjadi.pada dirinya. Mimpi ia tadi malam.


Saat ia melangkah tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung hampir terjatuh pingsan. Untung saja Andre bergeeak cepat menahan tubuh mungil Hani.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak apa-apa?" Tanya Andre khawatir.


"Jangan-jangan dia hamil? Ndre...apa selama berhubungan dengannya kamu tidak memakai pengaman? Ceroboh sekali kamu."


"MOMMYYY–!"


"Loh, kenapa kamu malah membentak mommy? apakah tebakan mommy benar? Gadis simpananmu ini sedang hamil, kan."


Karena sudah tidak tahan mendengar semua tuduhan tersebut. Dengan sigap Hani meraih tas nya yang tergeletak diatas sofa lalu, menambil ponselnya. Gadis manis bertubuh mungil itu pun mengotak atik untuk menghubungi seseorang.


"Semua tuduhan mommy itu sama sekali tidak benar. Janya karena omongan ngawur.Zivanya lalu, mommy telan mentah-mentah begitu saja. Tanpa mommy mengkonfirmasikan langsung kepadaku, putramu sendiri."


"Kamu mau menelpon siapa, Han?"


"Mas Anwar atau mas Abiseka, om. Aku akan minta di jemput saja."


"Untuk apa menelpon mereka,kan aku sudah bilang kalau aku yang akan mengantarmu pulang. Apa kamu merasa.tersinggung dengan.semua perkataan mommy yang sama sekali tak mendasar itu.Jangan ya? Aku masih ingin hidup. Kalau sampai Anwar dan.Abi tahu, apalagi sampai ke telinga Faiha bisa bertambah kacau pastinya.


Hani menatap Andre yang masih setia menahan tubuhnya dengan merangkul pinggang kecil Hani. "Tidak usah om, terima kasih. Lebih baik om menemani nyonya...eh, ibu om." Tanpa menunggu jawaban.dari Andre, Hani pun melangkah pergi menuju kekamar laki-laki itu.


"Tunggu! Baiklah, maafkan semua perkataan burukku terhadapmu. Sebaiknya kita makan dulu saja.Tunggulah sampai pakaianmu datang."


Tak lama setelah mereka selesai makan kurir yang mengatar pakaian untuk Hani sudah.datang. Hani pun bergegas mengenakannya.


"Kalau di lihat-lihat, ternyata kamu manis juga. Pintar masak lagi. Ndre...pintar juga kamu ya."


"Mommy–"


"Kenapa? Memang kenyataan kok, benar-benar calon istri dan menantu idaman. Oke,kalau begitu mommy juga akan ikut mengantarkan Hani pulang. Mommy ingin mengenal keluarganya."


"Untuk apa mommy pake ikut mengatar Hani pulang segala?" Tanya Andre


"Untuk melamar Hani untuk menjadi istrimu tentunya.Memangnya untuk apa lagi." Ternyata mommy Diandra bar-bar tak jauh beda dengan mama Malika. To the point.


UHUK


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2