
Abiseka menutup telinganya dengan kedua telapak tangan. Suara cempreng Mama Malika memekik sempurna membuat kupingnya sampai pengang. Ia pun berbalik menghampiri kedua wanita cantik berbeda generasi itu.
"Apa lagi sih,Ma. Jangan bikin ribut dong, malu sama tamu-tamu hotel yang lain.Dikira nanti ada huru hara di kamar ini."
"Ish–kamu itu ya, dasar anak ngeyel. Cepat gendong Faiha! Malah selonong boy langsung mau kabur saja.Sayang tidak sih sama istrinya." Mama Malika gemas dengan sang putra.
Kedua pasangan pengantin baru itu berpandang lalu, detik berikutnya saling membuang muka. Mama Malika menangkap ada kejanggalan dari sikap dan gerak gerik anak dan menantunya itu.Apakah mereka sedang marahan lagi.
Akhirnya Faiha pun pasrah dan menuruti perintah ibu mertuanya. Abiseka menggendong Faiha dengan wajah datarnya seperti biasa sedangkan Faiha, jangan di tanya , gadis itu begitu malu karena sepanjang jalan semua pasang mata menatap mereka. Faiha menyembunyikan wajahnya di dada bidang Abiseka.
Setibanya di kediaman keluarga Jayendra, Abiseka membawa Faiha ke kamarnya itu pun atas perintah sang Mama.Mereka telah sah menjadi pasangan suami istri, tentu saja harus tidur dalam satu kamar. Jika tidak, pasti akan menjadi satu pertanyaan bagi seluruh anggota keluarga.
Malam harinya, semua telah bersiap untuk santap malam.Hanya Faiha yang tidak tampak di sana, ya karena pinggangnya masih terasa nyeri. Akhirnya ia akan makan malam di kamar saja.
Ceklek
"Permisi non, saya mengantarkan makan malam untuk non Faiha."
Salah satu art datang membawakan makan malam untuk Faiha atas perintah Mama Malika. Wanita paru baya itu lalu meletakkan nampan yang berisikan makanan dan minuman itu di atas nakas meja.
"Mari saya bantu,nona." Art yang bernama Romlah itu pun berinisiatif menawarkan bantuan ketika Faiha hendak turun dari atas tempat tidur. Tampak begitu kesulitan, mungkin karena masih merasakan nyeri pada pinggangnya.
"Terima kasih ya, bi Romlah." Faiha menerima uluran bantuan dari sang art dan ia pun mulai menikmati makan malamnya.
Tak berapa lama Abiseka masuk kedalam kamar sedangkan Faiha belum menyelesaikan makannya. Laki-laki yang berstatus sebagai suami Faiha itu langsung naik ke atas tempat tidur tanpa menegur Faiha sama sekali.
Namun, Itu tidak masalah bagi Faiha dan tidak penting juga. Mau apapun yang dilakukannya sama sekali bukan urusannya. Karena sejak semula mereka hanyalah orang asing yang kemudian terlibat dalam hubungan yang rumit karena keterpaksaan. Tepatnya Abiseka yang memaksanya untuk masuk ke dalam kehidupan keluarga kaya raya tersebut.
Faiha masa bodo dengan sikap angkuh yang selalu di tunjukkan Abiseka kepadanya. Lebih baik ia menikmati hidangan nan lezat yang ada di hadapannya.
"Kenapa lagi dia? Huh...masa bodo lah, makanan ini lebih menarik dan menggugah selera di banding melihat wajah kaku si kanebo garing."
Selang lima belas belas menit kemudian, bi Romlah datang kembali berniat ingin mengambil piring dan gelas kotor bekas Faiha makan.
__ADS_1
"Nona, apa anda memerlukan bantuan saya untuk rebahan di atas tempat tidur?" bi Romlah kembali menawarkan bantuannya.
"Tidak perlu bi, saya bisa sendiri. Lagi pula saya masih ingin duduk di sofa ini dulu. Terima kasih ya,bi Romlah."
"Iya, sama-sama nona. Itu sudah menjadi tugas saya untuk melayani anda, nona Faiha. Kalau begitu saya kembali ke dapur. Permisi. Tuan dan nona."
"Abiseka sama sekali tak menanggapi, hanya Faiha yang mengangguk dan tersenyum ramah pada bi Romlah.
Faiha perlahan bangkit untuk berdiri, ia ingin ke kamar mandi. Dengan susah payah berusaha menguatkan tubuhnya.Melangkah pelan sambil mencoba mencari pegangan agar bisa menopang tubuhnya. Abiseka yang ternyata belum tertidur memperhatikan gerakan Faiha yang sangat lambat seperti keong ketika berjalan. Bahkan sebelah tangannya memegang pinggangnya.
"Mau kemana?"
"Mau ke kamar mandi, Tuan." Jawab Faiha tetap melangkah hanya menoleh sekilas pada Abiseka.
"Kenapa tadi kamu tidak mau di bantu sama bi Romlah? Kan, kau tidak akan kesulitan seperti sekarang ini." Berdecak dan menggelengkan kepala tak mengerti akan pikiran gadis itu.
Sejenak, Faiha menghentikan langkahnya. Ia menatap Abiseka dan menjawabnya.
"Saya tidak ingin merepotkan orang lain dan lagi pula saya merasa tak pantas karena saya tak ada bedanya dengan bi Romlah yang hanyalah seorang bawahan. Bukankah saya masih tercatat sebagai karyawan di Jayendra Group.Maka, saya harus selalu ingat siapa diri saya yang sebenarnya."
"Apakah anda sudah selesai bicaranya, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Faiha malas membalas ucapan Abiseka yang sungguh menusuk, menurutnya laki-laki itu sama sekali tak mempunyai rasa simpati sedikitpun pada dirinya yang sedang sakit.
Akhirnya dengan bersusah payah, Faiha sampai juga di depan pintu kamar mandi. Ia pun bergegas masuk dan menutup pintunya.Lalu, mulai melakukan rutinitasnya sebelum beranjak tidur. Namun, tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar mandi dengan cukup keras. Bodohnya Faiha, kenapa ia sampai lupa menguncinya.
Brakkk
Sontak, Faiha langsung menoleh ke arah pintu. Untungnya ia hanya ingin mencuci wajahnya bukannya mandi jika, iya sudah bisa di bayangkan betapa malunya ia.
"Tu–tuan, apa-apaan anda ini? Bisa sabar tidak sih, sebentar lagi saya juga akan selesai dan anda bisa bergantian memakai kamar mandinya."
"Dasar‐selalu saja berbuat semaunya. Mentang-mentang dia bossnya dan aku cuma bawahannya." Hanya bisa di ungkapkan di dalam hatinya saja.
Mata Faiha membulat sempurna ketika Abiseka melangkah mendekat dan tanpa ba bi bu langsung membopongnya keluar dari kamar mandi.Mendapatkan perlakuan secara tiba-tiba dan tak menyangka kalau sang boss melakukan hal yang sungguh tidak mungkin di lakukannya.
__ADS_1
Mimpi apa.coba si Faiha dalam satu hari di gendong oleh.orang yang sama dan mustahil.Abiseka Jayendra si boss pemaksa. Faiha ingin memberontak namun, apa daya jika.ia bergerak terlalu over maka, pinggangnya akan semakin terasa nyeri. Al hasil, ia hanya diam tak berkutik. Tapi, bibirnya terus mengoceh.
"Tuan boss, tolong turunkan saya. Saya bisa berjalan sendiri."
Namun, sayangnya si boss Arogan sama sekali tak menggubris ucapan Faiha yang meminta untuk di turunkan.
Sampai di dekat ranjang, Abiseka langsung membaringkan tubuh mungil Faiha di atas tempat tidur king size milik bossnya yang kini sudah berubah status sebagai suami sahnya, baik di mata agama dan hukum negara.
"Sudah, jangan kebanyakan protes. Kalau bukan karrna Mama mana sudi aku menyentuh tubuh jelekmu itu. Kalau sampai kamu terpeleset lagi dan jatuh maka, aku yang akan di persalahkan dan terkena amukkan Mama.Mengerti,kamu. Jadi, jangan kege-eran ya."
"Ish–sombong sekali. Siapa juga yang senang di gendong olehnya. Sok iya banget,sih." Faiha mendengus sebal
"Apa kamu bilang?"
"Tidak ada. Iya, saya mengerti Tuan boss. Terima kasih anda sudah bersusah payah menggendong dan membantu saya sampai ke atas tempat tidur. Seharusnya saya tidur di sofa itu saja, bukan. Anda pasti juga tidak akan sudi tidur di ranjang yang sama dengan saya yang tidak pantas ini."
"Tepat sekali, kalau bukan karena Mama, Papa dan Eyang. Aku tidak akan pernah melakukan hal yang tidak pantas sama sekali. Aku hanya menjaga jangan sampai rahasia kita terbongkar. Jika, Mama dan yang lain tahu kita tidur terpisah maka kita akan terkena masalah. Kamu mengerti kan apa maksudku?"
"Hemm–"
"Jawaban macam apa itu? Sangat tidak sopan."
"Iya Tuan boss Abiseka. Saya sudah sangat-sangat mengerti. Kalau begitu apa boleh saya meminta izin untuk tidur sekarang?"
"Iya, boleh. Tapi, awas jangan berbuat macam-macam ya kamu. Mencari kesempatan dalam kesempitan. Ingat, kita tidur seperti ini sampai kamu sembuh, setelahnya kamu bisa tidur di sofa itu."
Apa si Abiseka itu sadar akan ucapannya yang aneh itu. Bukankah harusnya Faiha yang berkata seperti itu. Memang aneh bin ajaib laki-laki yang satu ini.
"Hah–bukankah yang harusnya bilang seperti itu, aku ya. Dasar aneh." Bergumam pelan agar si kanebo garing.tidak mendengarnya.
Tok"
"Nah, itu. Sang pengawas sudah datang untuk mensidak kita."
__ADS_1
Bersambung
Maaf, agak telat update nya. Selamat membaca. Jika, berkenan. Jangan lupa like dan komen nya para readers yang baik hati. Terima kasih.